
Mei mengelengkan kepalanya, dia menatap Mia yang berpenampilan buruk. “Apa yang harus ku kembalikan Mia? Aku tidak bisa mengembalikan keluargamu.” Ucap Mei.
Mia merasa kesal mendengar ucapan Mei. “Ini semua karena mu, karena mu! Kenapa saat itu kamu tidak meninggal saja. Kenapa saat itu kamu harus hidup, kenapa!” pekik Mia.
Mei yang kehilangan pikirannya, seketika sadar. Dia menatap Mia yang kini meringkuh dengan pandangan menunduk.
“Mia, katakan sekali lagi ... dua tahun yang lalu, seharusnya aku meninggal?” tanya Mei.
Mia yang tersalut emosi menatap tajam kearahnya. “Iya! Seharusnya kamu meninggal saat itu. tetapi, entah bagaimana ... takdir begitu baik kepadamu, kamu hidup kembali!”
Bayangan kecelakaan terlintas dipikiran Mei, dia memejamkan mata sambil memegang kepalanya.
“Mei! Apa yang kamu lakukan sayang?” tanya seorang wanita yang melangkah mendekat.
Seorang gadis dengan rambut panjang tersenyum melihat kedatangan wanita itu. “Ibu!” teriak gadis yang di panggil Mei.
“Hm, kamu sudah siap sayang ... kita ada perjalanan bisnis bersama Ayahmu, karena kamu berusia 14 tahun ibu tidak bisa meninggalkanmu di sini. Jadi, mari bersiap!”
Mei mengangguk, dikenakannya gaun cantik yang telah tersedia didalam kamarnya. Rambut panjang itu terikat rapi hingga tampilannya tambah menarik.
“Nona Muda tampak cantik.” Puji pelayan kepada Mei.
Mendengar pujian itu, Mei hanya tersenyum. Dia tidak suka pujian dan tidak suka seorang penjilat. Dalam hidupnya, hanya ada satu hal. Jika orang berbuat baik, maka balaslah dengan kebaikkan. Jika seseorang berbuat jahat, maka berdoalah semoga dia mendapatkan balasannya.
Semua itu ada didalam pikiran Mei. Tetapi, apa yang berbuat baik harus dibalas dengan kebaikkan. Nyatanya, saat ini mata Mei melihat orang tuanya tergeletak di jalan.
Mereka baru saja berjalan menikmati hari untuk menyelesaikan bisnis Ayahnya. Tetapi, mereka tertipu. Sekumpulan mobil mengepung mereka, menyudutkan jalan hingga Ayah Mei membanting stirnya.
Mengingat ingatan lama yang sudah di lupakan oleh Mei, amarahnya memuncak hingga Mia tertindih karenanya.
Mei menatap dengan pandangan emosi, di cengkram erat leher Mia. Mia tampak kesulitan bernafas, hingga dia menangis dengan suara tersiksa.
Semua pandangan murid menjadi tegang melihat apa yang terjadi. Mei, gadis yang mudah di tindas membalas balik apa yang di lakukan Mia.
“Bagaimana dia bisa melakukannya?”
“Gadis itu, me-mengerikan!”
“Apa kita hanya menonton mereka saja, Mia sepertinya tidak akan bisa bertahan.”
“Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah mereka. kamu tidak lihat, para guru saja terdiam disana. mereka pasti bingung untuk bertindak.”
Semua murid memandang dari kejauhan, kumpulan guru hanya mematung di halaman sekolah.
Fandra dan Fandri menjadi kesal melihat para guru yang tidak bisa bekerja sama sekali. “Apa yang kalian lihat, tahan Mei!” teriak Fandra kearah para guru.
Namun, ketakutan lebih menguasai dari pada keberanian. Semua guru tidak berani berbuat apa-apa.
Mia menarik tangan Mei untuk lepas dari lehernya. Perlahan Mei mengendurkan cengkraman yang dia buat.
“Mia, aku yang salah?” tanya Mei dengan pandangan kosong.
Mia terteguh mendengarnya, dia tidak bisa menjawab apa yang Mei ucapkan. Nafasnya belum kembali dengan benar dan sesak di dada membuatnya kesakitan.
“Ayahmu mengatakan bahwa ada halaman yang bisa menjadi tempat membangun usaha Ayahku. Saat itu, Ayahmu menjanjikan semua hal hingga acara ulang tahunku tertunda. Aku sebenarnya tidak memperdulikan semua itu ... Mia, menurutmu kenapa bisa Aku mengalami kecelakaan saat itu?”
Mia semakin bingung mendengar penjelasan dari Mei, dia mengerut alisnya setelah nafasnya kembali normal. “A-Apa yang kamu katakan?” tanya Mia dengan suara seraknya.
Mei tersenyum, senyum yang jarang dia tampilkan. Semua yang melihatnya terkejut hingga mata mereka tidak berkedip beberapa saat.
“Mia, yang salah itu adalah keluargamu. Janji manis yang ayahmu katakan kepada Ayahku, membuatku kehilangan segalanya. Aku mengingat masa lalu yang terlupakan. Alasan kenapa orang tuamu mengangkatku menjadi putri kalian, karena aku adalah penerus keluarga Mei. Kamu pernah mendengarnya bukan, Keluarga dengan marga anaknya, Mei?”
Lestari, Putri,Fandra dan Fandri terkejut mendengar apa yang Mei katakan. Semua orang tahu, ada keluarga yang selalu menciptakan kehangatan di sekeliling mereka. keluarga tidak memiliki marga, tetapi setelah melahirkan anak perempuan dan menjadi anak satu-satunya. Mereka membuat Marga keluarga dari nama anak itu, keluarga itu adalah Keluarga Mei.
Namun, keluarga Mei menghilang tanpa jejak. Rumor juga mengatakan putri mereka menghilang entah kemana. Siapa yang menduga, kalau ternyata penerus keluarga Mei berada di sini. Bermain bersama dengan mereka semua.
“Mia, kenapa kamu tidak mengetahuinya ... Roy saja tahu.” Ucap Mei. Mengingat dua tahun bersama keluarga angkat, perlakuan mereka memang penuh akan dendam. Mei tidak memikirkan semua itu, dia hanya berpikir selama ada tempat tinggal untuknya. Tempat untuk berteduh, itu lebih baik dari pada menjadi gelandangan di jalan.
Namun, takdir sudah tertulis untuknya. Lihatlah dia, hidupnya penuh akan penderitaan setelah kecelakaan itu di mulai. Benar apa yang Mia katakan, seharusnya dia tidak hidup kembali. Seharusnya dia sudah meninggal disana.
Suara mobil berhenti tepat di halaman sekolah, beberapa pengawal bergegas mendekati Mei dan menangkapnya.
Putri yang mengenali pengawal itu terteguh. “Si-Siapa yang menyuruh kalian?”
Putri bergegas mendekati kearah pengawalnya. Tetapi, Lestari menghentikan langkah yang Putri lakukan.
“Putri, sepertinya mereka datang bukan karena keinginan sendiri.” ucap Lestari.
Putri melihat seorang wanita keluar dari mobil bersama Pria yang di lihat olehnya tadi pagi. “I-Ibu?” guman Putri.
Lagi-lagi sekolah gempar dengan kejadian yang begitu tiba-tiba. Guru yang kehilangan konsentrasi mereka segera sadar dan memutuskan untuk memulangkan para siswa.
Hal semacam ini sudah menyangkut urusan para keluarga, tidak ada yang boleh ikut campur.
“Dire, aku sudah menangkapnya. Bawa dia dan jauhkan dari anakku.” Ucap Ibu Putri.
Mendengar ucapan Ibunya, Putri pergi dengan melepaskan diri dari perlindungan Lestari. “Putri?” kaget Lestari.
“Ibu, apa ini? apa yang ibu lakukan?” tanya Putri, dia menatap kearah ibunya.
Sang Ibu hanya memandang datar. “Kamu sudah melanggar janjimu Putri, kamu membohongi Ibu. Ibu tidak akan melakukan kesalahan lagi.”
Putri terkejut mendengar ucapan Ibunya, dia mengenggam tangan sang Ibu. “Ibu dengar, Mei tidak bersalah ... Ibu, ini salahku. Aku yang berteman dengannya, aku yang memaksanya.” Ucap Putri dengan nada memohon.
Mendengar semua perkataan sang Anak, membuat Ibu Putri mengerutkan alisnya. “Inilah, inilah alasan aku tidak ingin kamu berteman dengannya. Kamu penerus keluarga Kita Putri ... jangan berteman dengan seorang anak rendahan seperti it-,”
“TIDAK! ... dia bukan rendahan Ibu, dia adalah perempuan dan sahabat yang baik. Ibu....” Putri ingin kembali melanjutkan ucapannya. tetapi, panggilan Mei membuatnya terdiam seketika.
“Jangan melawan kepada orang tua mu. Mereka melakukan semua itu demi kebaikan Putri. Jadi, jangan membentaknya.” Ucap Mei.
Ibu Putri menutup matanya, “Bawa dia pergi dari sini Dire.”
Dire mengangguk. “Pengawal, bawa dia dan jangan sakiti dirinya.”
Para pengawal bergegas membawa Mei kedalam mobil. Disaksikan seluruh siswa, Mei hanya terdiam dan mengikuti kemana dia akan pergi.