Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 36: Gudang (1)



Sekolah yang tenang membuat Putri dan Lestari terdiam di depan gerbang. Pagi hari ini mereka berniat untuk menemui Mei. Tetapi, tampaknya sahabat mereka tidak bersekolah hari ini.


“Ini sudah jam 7, Mei tidak kunjung tiba.” Ucap Lestari menatap penjaga gerbang.


“Silahkan masuk, bapak akan menutup gerbangnya.” Ucap Pak Penjaga yang berdiri di antara gerbang.


Lestari dan Putri mengangguk mendengar ucapan penjaga gerbang. Mereka tidak ingin membuat masalah yang akan berimbas kepada Sahabatnya. Jadi mereka berdua memutuskan kembali ke kelas.


Setiba disana, Lestari dan Putri menatap kearah kumpulan gadis yang tengah membicarakan sesuatu. Keributan itu sedikit terdengar ditelinga mereka.


“Aku dengar, ternyata Fandri itu adalah saudara Fandra. Bisa dibilang tuan muda ketiga dari keluarga Altha. Kyaaa! Aku jadi ingin ketemu dengannya.”


“Eh? Beneran, ku rasa tidak ada yang namanya Fandri loh.”


“Ada loh, tapi dia tidak di jurusan kita. Dia satu jurusan dengan Fandra. Aku sempat melihat wajahnya, tapi aku masih merasa kurang yakin dengan penglihatanku.”


“Kyaaa, jika benar bagus dong ... dengar-dengar kalau tuan muda ketiga itu tidak seperti tuan muda kedua. Aku jadi ingin mendekatinya, siapa tahu aku bisa menjadi menantu keluarga Altha.”


“Jangan bermimpi, kamu akan tertampar dengan kenyataan.”


“Hei! Jangan mengatakan fakta seperti itu.”


“Aku tidak salah kan?”


Lestari menatap kearah kursi kosong milik Mei. “Sepertinya, dia tidak datang hari ini.” ucapnya.


Putri mengangguk. “Ku rasa juga, Mei belakangan ini tampak gelisah. Semoga tidak terjadi sesuatu padanya.”


Keduanya ingin duduk di kursi masing-masing, tetapi seorang wakil ketua kelas datang berdiri didepan Lestari. “Bisa bicara sebentar?” tanyanya.


Lestari mengerutkan alis melihat apa yang telah terjadi. “Hm, silahkan.”


“Maaf sebelumnya, tetapi Lestari apa kamu tahu. Kemarin, ibumu kembali menegur Mei. Kali ini pengawalmu ikut menghalangi hingga Mei dibawa entah kemana. Ah, saat itu juga ada Mia dan Roy di samping Mei....”


“Aku menyampaikan ini karena merasa kelas kita menjadi perhatian, ku harap orang tuamu tidak melaporkan sesuatu hingga kelas kita terkena masalah.” Jelas wakil ketua kelas.


Putri yang mendengarnya bergegas mendekat. “Apa yang sebenarnya terjadi?”


Lestari menatap kearah sahabatnya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, kemarin supir langsung mengantarku pulang. Memang mencurigakan karena pengawalku tidak bersamaku. Baiklah, aku akan bertanya kepada Ibu setelah pulang sekolah.”


Dalam ingatankan Lestari. Kemarin pengawalnya tidak menjemput bahkan menemui dia. Sang supir yang bertugas menyampaikan kalau pengawalnya tengah bertugas, jadi tidak bisa datang menjemput.


Dengan anggukkan wakil ketua kelas menjawab segalanya. “Ku rasa hanya itu saja Lestari. Kalau begitu maaf menganggu.”


Lestari menatap datar setelah mendengar semua yang disampaikan oleh wakil ketua kelas. “Sebenarnya apa yang terjadi?” benaknya.


...°°°...


Jika bukan karena suara bising, Mei tidak akan membuka matanya. Di lirik oleh dia ruangan yang ada di depan mata.


Tumpukkan barang tak berguna ada disana, Mei seketika terkejut melihat apa yang telah terjadi. “ke-kenapa aku ada disini?”


“Oh, sudah bangun?” tanya Mia. Langkah kakinya terdengar ditelinga hingga membuat Mei menatap kesal kepadanya.


“Bagaimana tidurmu, sangat menyenangkan?” tanya Mia lagi. nampan berisi sarapan ditaruh tepat didepan mata Mei.


“MIA!” Mei berucap dengan nada kesal. Dia merasa semua ini telah di rencanakan oleh adik angkatnya ini.


Seolah paham dengan ucapan Mei, Mia duduk didepan kakak angkatnya. “Dengar Kakak, aku tidak melakukan apapun. Apa kakak melupakan sesuatu, Lestari dan Putri tidak seharusnya berteman denganmu kan?”


Mia memilih untuk membaringkan tubuhnya. Gudang yang berdebu itu tidak membuatnya risih. Mei mengenal adik angkatnya. sang adik tidak menyukai hal-hal yang menjijikkan, tapi siapa yang menduga malah seperti ini.


“Aku hanya tidak ingin membuat Kakak masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Akan berbahaya jika berurusan dengan keluarga kaya kan? Jadi ya, berterima kasihlah.” Dengan senyum Mia duduk didepan Mei.


Mei menarik nafasnya lalu menatap kearah Mia yang menatapnya juga. “Dengar Mia, apa pun yang terjadi. Lestari dan Putri tidak akan melakukan hal seperti itu.”


“Oh, percaya diri sekali ... sudahlah, kakak lebih baik makan untuk mengisi perutmu itu. soalnya hari ini kita akan kedatangan tamu.” Ucap Mia.


Mei mengepalkan tangan. “Apa yang sebenarnya kalian rencanakan. Aku sudah jelas menolak semua yang telah kalian berikan kepadaku. Katakan kepada Ayah, aku tidak ingin menjual dirik....”


Sebuah tangan melayang tepat di depan Mei. Pipinya terasa sakit ketika hempasan tangan itu mengenainya. Wajah yang tidak memiliki tanda kini berbekas dengan warna yang sangat jelas. Pandangan Mei semakin kesal melihat siapa yang telah menamparnya.


“Sadar dirilah, kami sudah merawatmu. Setidaknya, berterima kasih dengan baik. Ah, jika kamu bisa memberikan uang kepada kami. Ku rasa Ibu dan Ayah akan melepaskanmu.” Ucap Roy dengan mengkibaskan tangannya.


Tamparan Roy begitu menyakitkan, membuat air mata Mei mengalir perlahan. Meski begitu, kedua saudara kandung sedarah tidak menghiraukannya.


“Makanlah, setelah itu istirahat dan sambut tamu untukmu.” Perintah Roy dengan menutup pintu gudang.


Mei merasakan dirinya kembali didalam gudang dengan ingatan yang tidak enak dipikiran. Dia ingin kabur, tetapi kaki kanannya terikat dengan kuat hingga sulit melepaskannya.


“Ah ... aku ingin pergi.” benak Mei.