
Kepergian Mei membuat ketegangan sediki mereda. Tetapi, tidak dengan Putri yang memandang kesal kearah Ibunya.
Putri ingin mengatakan semua yang ada dihati, tapi mengingat perkataan Mei, dia hanya bisa membungkam mulutnya.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang. Tidak perlu bertanya milik siapa mobil itu, karena semua orang tahu siapa yang ada disana.
“Ayah?” kaget Fandra dan Fandri.
Pintu mobil terbuka dengan perlahan. Keluar sang Ayah dan seorang wanita paru baya. Fandra dan Fandri bergegas mendekati mereka.
“Ayah!” panggil keduanya.
Tuan Altha Ryuah mengangguk melihat kedatangan kedua putranya. Dia mengusap kedua kepala sang putra secara bergantian.
“Bagaimana? Apa kalian sudah menangkapnya?” tanya sang Ayah.
Fandra dan Fandri mengelengkan kepala. “Tidak ayah, tetapi Mei mengatakan kalau dia bersama Kakak Findre.” Jawab Fandra.
Tuan Altha mengangguk mendengarnya. “Kalau begitu Bi Ta tidak berbohong kepada kita.”
Fandri mengerutkan alis mendengar ucapan sang Ayah. “Bi Ta? Apa yang membuat Bi Ta berbohong kepada kita, Ayah?”
“Bi Ta, beberapa bulan lalu bertemu Findre di rumah, dia datang dengan membawa Bi Ta bekerja di kediaman Sorai.” Jawab Tuan Altha.
Fandra terkejut mendengarnya. “Ke-kediaman Ibu Sorai? Apa Ayah yakin?” tanya Fandra dengan perasaan tidak percaya.
Kediaman Sorai, Ibu Findre. Meski masih terawat, tempat itu tidak pernah di kunjungi lagi oleh seluruh keluarga. Bukan karena tempat itu buruk, tetapi kenangan yang tersimpan di tempat itu. sewaktu-waktu Tuan Altha yang akan mengunjungi tepat kediaman istri pertamanya.
Kenangan yang sangat menyayat hati membuat Tuan Altha memutuskan untuk tidak menganggu kediaman itu. dia lebih memilih merawat dan menjaganya.
“Mungkin, Bi Ta bisa menjelaskan segalanya.” Ucap Tuan Altha.
Bi Ta menganggukkan kepala. “Benar Tuan Muda. Waktu itu, Bi Ta terkejut dan tidak percaya bisa melihat Tuan Muda Findre. Dia datang mencari keberadaan Bibi, hingga Bibi di bawa kekediaman utama.Bibi bertemu dengan seorang gadis, dia bernama Mei.” Jelas Bi Ta.
Fandra dan Fandri tidak bisa lagi berkata-kata. Sudah jelas, Mei dekat dengan Kakak Pertama mereka.
“Kita akan membahas itu nanti. Pertama, kita lebih baik menyelesaikan masalah yang ada disini. Bukankah begitu, Ibunya Putri?” tanya Tuan Altha dengan pandangan tajam kearah Ibunya Putri.
...°°°...
Mei diam didalam mobil. Matanya menatap kearah jalan raya yang tengah mereka lewati. Tangannya saling mengenggam erat dengan perasaan tidak tenang di hatinya.
Bodoh, dirinya sangat bodoh. Kenapa mau ikut dengan orang yang dia sendiri tidak kenali. Seharusnya hari ini dia menikmati waktu bersama sahabatnya, membuat kenangan indah sebelum Findre memenuhi janjinya.
“Aku benar-benar menyedihkan.” Benak Mei.
Mei engan menjawab apa yang Tuan Dire katakan, tetapi rasa penasaran di hatinya mengalahkan keinginannya.
“Tuan ... Apa benar anda membunuh keluarga Mia?” tanya Mei.
Tuan Dire mengangguk tanpa hambatan. “Benar, mungkin anak lelaki mereka juga ikut menyusul orang tuanya.”
Mei menghela nafas mendengar jawaban Pria di sampingnya. “Lalu, apa tujuan anda membawaku?”
“Aku telah membelimu. Jakya sudah mendapatkan uang muka dari ku, dia harus membawamu kepadaku. Jadi, aku tidak ingin barangku menghilang begitu saja.” Jelas Tuan Dire.
Mei memandang datar kearah jendela mobil. “Kenapa anda memilihku? Banyak wanita lain yang bisa memenuhi keinginan anda.”
“Jawabanku tetap sama, karena aku telah membelimu.” Tuan Dire menjawab dengan cepat.
“Lalu, apa alasan anda membeliku?” tanya Mei dengan menatap kearah Pria dewasa disampingnya.
“Karena aku ingin memiliki seorang anak. Istriku tidak bisa memberikannya, jadi aku perlu seseorang sebagai tempat untuk penerusku.” Jawab Dire ikut menatap kearah Mei.
Mei hanya tersenyum pahit mendengarnya. Kenapa hidupnya begitu sulit, bernafas pun sepertinya sulit. Apa dirinya harus membayar semua itu terlebih dahulu?.
“Tuan, jika menginginkan sebuah tempat untuk melahirkan seorang penerus. Bukankah lebih baik mengangkat anak dari panti. Anda adalah orang yang berada, pasti kehidupan mereka akan tercukupi.” Celetuk Mei kembali menatap kearah jendela.
Tuan Dire terdiam sesaat, dia berpikir dengan pikiran yang tidak di ketahui oleh Mei.
“Em, ucapanmu itu benar juga, tetapi seorang penerus harus memiliki darah Ayahnya. Jadi, aku tidak bisa mengangkat anak panti.”
Mei hanya diam tidak melanjutkan percakapan mereka. dia menatap kearah jendela dan melihat hari yang mulai tampak cerah.
Tiba di tempat tujuan, Mei melihat sebuah vila yang begitu besar. Meski, tidak sebesar kediaman Findre. Pintu di samping terbuka oleh seseorang.
Mei engan untuk turun dari sini, tetapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya. jika, dia tidak menuruti Pria di sampingnya ini.
“Tuan, ada yang ingin ku katakan ... mungkin, keinginan anda tidak akan bisa terwujud.” Ucap Mei yang melangkah keluar dari mobil.
Tuan Dire hanya tersenyum simpul, dia merasa tertantang mendengar apa yang di katakan oleh seorang gadis yang sedang terpuruk.
“Selamat datang Tuan.” Sapa seluruh pelayan yang ada bersama para pengawalnya.
Tuan Dire mengangguk dan melihat Mei yang berdiri di sampingnya. “Panggilkan dokter, aku ingin Wanitaku ini segera membaik.” Perintahnya dengan lembut. Pengawal bergegas pergi setelah mendengar perintahnya.
“Mari masuk, Mei.” Uluran tangan diberikan oleh Tuan Dire.
Mei yang melihatnya hanya memandang datar, dia melangkah tanpa menyambut uluran tangan itu.