Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 20: Ibu?



Cahaya silau mengenai mata Mei, ia memaksakan diri untuk membuka mata dan melihat, cahaya apa yang menganggu dirinya.


“Uhm.”


Hal pertama yang dilihat oleh Mei hanya sebuah kehampaan yang berhasil membuatnya bingung. “Di mana ini?”


Mei bangun dari duduknya, tempat yang ada dipijakkan hanya kekosongan. Mei bahkan tidak tahu ia berada di mana.


“Apa kamu senang?”


Kerutan dialis terukir dengan rasa kebingungan. Mei menajamkan pendengarannya, ia melirik kekanan dan kekiri untuk melihat siapa yang telah berbicara.


“Waah kamu sangat pintar ya.”


Mei terdiam di tempat, ia menatap lurus hingga melihat cahaya terang yang memecahkan kehampaan.


Tubuh Mei terpaku, melihat kilasan masa lalu yang berhasil mematikan hatinya. Di sana, Mei tampak bahagia dengan baju baru yang dibelikan oleh keluarga angkat.


“Lihat Mia, Ibu membelikanku baju baru!” Mei memutar badan untuk melihatkan betapa indah gaun yang dibelikan untuknya.


“Hm...kamu cocok mengenakan gaun itu Kak Mei.” Mia tersenyum dengan berlalu meninggalkan Mei yang penuh rasa kebahagiaan.


“Waaah, siapa yang punya baju baru?” Ayah Angkat datang dengan menatap Mei.


Mei tersenyum senang menyambut kehadiran sang Ayah. “Ibu yang membelikannya Ayah, lihat warnanya cantik kan?” tanya Mei, Sang Ayah mengangguk dengan usapan lembut untuknya.


“Hm, sangat cantik.”


Mei bahagia mendengar ucapan semua keluarga kepadanya, Kecuali Roy yang beranggapan negatif mengenai gaun yang ia kenakan.


“Hah? Kain itu murah...wajar saja ibu membelikannya untukmu, sudah sana mengangguku saja!” Ucap Roy yang melangkah pergi.


Saat itu, Mei tidak sadar bahwa seluruh keluarga hanya memuji dengan mulut mereka, agar Mei tidak berpikir yang bukan-bukan.


Melihat kenangan yang menggemparkan hati, Mei teisak dengan air mata yang mengalir. Ia meringkuh, merasakan rasa sakit saat pertama kali cambuk menghantam dirinya.


“Ibu, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, Ibu...ku mohon!” Mei memohon dengan wajah yang sudah terluka, rambut panjangnya kusut tidak beraturan. Ditambah tubuhnya sakit karena terjatuh.


Sang Ibu yang mendengar ucapannya berdecih dengan kuat. “APA YANG KAMU BILANG? KAMU PIKIR AKU TIDAK PUNYA MATA MEI, USIA MU SUDAH BERAPA MEI, 14 TAHUN...14 TAHUN, KAMU MASIH IRI DENGAN ADIKMU MIA?”


Mei mengelengkan kepalanya, ia tidak ada niat iri kepada Mia. Semua dimulai karena boneka milik Mia direbut oleh anak gadis lain. Mei tentu membela adiknya, dan pada akhirnya Mei lah yang salah.


“Ibu, tidak bukan seperti itu...ada anak lain yang, yang mengambil, mengambil....”


Mei merasa rasa sakit dari cambuk. Entah dari mana datang cambuk itu, yang pasti rasa sakitnya mengetarkan seluruh tubuh Mei.


Mei meringkuh ketanah dengan berbaring, rasa sakit cambuk itu berkali-kali didapat. Mei merasa seluruh penglihatannya buram, tidak lama ia pingsan ditempat.


Mei mengusap air matanya, ia tidak ingin mengingat rasa sakit yang menyakiti hati, gumpalan amarah dan kesakitan tidak bisa dilampiaskan oleh Mei, semakin hari gumpalan itu semakin menjadi. Entah kapankah Mei bisa melampiaskannya.


Saat semua masa kelam tampak, membuat Mei terbiasa dengan kehadiran mereka, bagai mimpi buruk yang menganggu hari. Mei akan bahagia jika bangun dan melihat cahaya matahari yang menyinari dirinya.


Perlahan Mei menutup mata di alam mimpi, tidak lama Mei membuka mata dan melihat dirinya masih berada di dalam kamar tamu.


“Syukurlah, Aku hanya bermimpi.” Benak Mei dengan senyum yang ia ukir.


Dengan perlahan, Mei ingin membalikkan tubuhnya. Ada genggaman seseorang yang menghentikan keinginan Mei, lirikkan mata Mei tepat kearah tangan yang merangkul pingang kecilnya.


Mei terdiam melihat Findre yang tidur dengan tenang sambil memeluk dirinya. Mei yang mengalami mimpi buruk, merasa tenang dengan hangatnya perhatian dan kasih sayang yang Findre berikan.


“Findre, apa aku salah mengharapkan dirimu mencintaiku kembali?” tanya Mei dalam benaknya. Ia sangat menginginkan hal yang tidak pernah didapatkan. Tapi, keinginan akan kematian sangat tertanam dihati, hingga semua keinginan itu akan padam seketika.


“Emmm....”


Mei mengembalikan sikapnya, ia sebenarnya sudah terbiasa dengan kehadiran Findre yang selalu tiba-tiba ada disamping Mei. Meski begitu, Mei harus tetap mengontrol diri agar batasannya tidak dilampaui.


“Findre? Kamu kenapa bisa ada disini?” tanya Mei dengan suara serak khas bangun tidur.


Sang kekasih yang baru bangun dari tidurnya mengeratkan pelukkan pada tubuh Mei. Mei berusaha menjauhkan diri karena merasa sesak.


“Findre, aku sulit bernafas!”


“Ah, Maaf....” Findre melepaskan Mei dari pelukkannya. Ia menatap kelangit-langit kamar dengan wajah serius. Melihat pandangan kekasihnya, Mei mengatur nafas agar bisa menjawab apa yang akan Findre tanyakan.


“Kenapa kamu tidur disini Mei?” tanya Findre.


Seperti dugaan Mei, Findre bangun ditengah malam dan tertidur disampingnya. “Aku tidak ingin menganggumu tidur Findre, kamu pasti kelelahan.”


Findre mengubah posisi tidurnya, mereka saling berhadapan dengan Findre yang membelai wajah sang kekasih.


“Apa kamu merasa sakit hati karena jawabanku? Mei, jika memang seperti itu, apa yang kamu harapkan dariku. Aku membunuhmu atau aku mencintai mu....”


Mei diam seketika, pembicaraan mereka pagi ini tidak dihiasi dengan kebahagiaan, tapi dihiasi dengan ketegangan.


“Findre, aku tidak merasa sakit hati...hanya tidak enak saja. Aku tahu kok, kalau aku sudah melewati batasanku.” Mei bangun dari berbaringnya, ia menatap sang kekasih yang ikut bangun dengan duduk disisi ranjang.


“Mei dengar, Aku tidak akan pernah mencintaimu, Kapanpun itu. karena, bagaimana pun aku dan kamu hanya sebatas kekasih bersyarat. Aku akan membunuhmu dan kamu akan menjadi target pembunuhanku.” Jelas Findre.


Mei menenangkan hatinya, ia berusaha untuk tidak merasakan rasa sakit dihati, sudah cukup mimpi buruk, jangan pula keindahan dunia memburuk suasana hatinya.


“Dan satu lagi, Aku sudah bangun dari jam 5 pagi, jangan berasumsi bahwa aku tidak bisa tidur tanpamu.” Findre meninggalkan Mei setelah menyampaikan fakta yang berdampak besar untuknya.


Mei tersadar ketika pintu kamar tertutup. Ia terdiam di kasur dengan perasaan berantakkan. “Kenapa kamu mengatakan itu Findre? Aku sudah menganggap itu kenyataan, jangan jadikan semua ini mimpi yang ku harapkan.”


Pagi ini Mei tidak banyak berbicara dengan Findre. Mereka berdua tidak saling bertegur sapa hingga tiba disekolah.


Mei duduk dikursinya dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Ia ingin menuntaskan semuanya dan berbaikkan. Tetapi, sulit mengajak Findre yang memiliki sikap cuek.


“Hei Mei, apa yang kamu pikirkan?” tanya Putri yang baru tiba.


Mei menatap kearah Sahabatnya. “Tidak ada, oh ya di mana Lestari?” tanya Mei.


Putri menghardikan bahunya. Tidak biasanya, kedua sahabat Mei datang diwaktu yang berbeda. Mei tidak ingin berpikir negatif dengan masalah yang terjadi, ia yakin sahabatnya akan bercerita jika ada masalah.


Berjalan waktu hingga pulang sekolah. Mei melambaikan tangannya ke arah Putri yang sudah dijemput oleh Pengawal Pribadi.


“Lestari izin hari ini, ada acara keluarga ya... pasti dia sangat sibuk.” Benak Mei.


Sudah seharian ia berpikir, Mei memutuskan untuk berbicara dengan Findre. Lagi pula, Mei yang salah karena tidak izin kepada Findre, bertingkah semaunya.


“Baiklah, aku akan....” Mei terdiam ditempat, ia menatap seseorang yang berdiri di gerbang dengan menatap dirinya.


“Ibu?”