Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 45 : Maaf, Aku terlambat menjemputmu



Mei berbaring dengan pandangan datar. Seorang dokter memeriksa tubuhnya, dari atas hingga kebawah. Dokter cantik dengan suara lembut dan ucapannya yang santun.


Begitu baik hingga membuat seseorang iri melihatnya.namun, bagi Mei, semua itu sia-sia saja. Dunia tidak mengijinkannya bahagia, dia bahkan harus tersiksa di waktu-waktu akhir hidupnya.


Sebenarnya Mei tidak tahu, apakah sudah waktunya dia di bunuh. Apa mungkin dia harus menunggu lagi.meski begitu, Mei sudah mengatakan dia engan untuk menunggu. Dia tidak bisa menahan diri lagi, hatinya, perasaannya dan jiwanya, semua sudah mati hingga dia tidak ingin banyak berekspresi.


Sayang, semua itu tidak berlaku jika dia bersama sahabatnya, bahkan kekasihnya. Findre mampu membuatnya tersenyum, membuatnya tertawa hingga membuatnya menangis bahagia.


Mengingat sang kekasih, Mei menatap kearah Tuan Dire yang tersenyum kepadanya. “Findre, kapan kamu akan menjemputku.” Benak Mei.


“Hm, semua kondisinya baik-baik saja. Rahimnya juga baik ... hanya, sepertinya Tuan Dire tidak bisa melakukan aktifitas berlebih kepada gadis ini. dia belum kuat untuk menampung semuanya.” Jelas Dokter yang kini menatap kearah Dire.


Dire mengerutkan alisnya. “Berapa lama aku akan menunggu semua itu?” tanyanya.


Dokter menatap kearah Mei. “Mungkin, sekitar 3 bulan.” Jawab sang Dokter.


Mendengar hal itu, Tuan Dire menatap kearah Mei yang tersenyum kecil kepadanya. Wajah kesal dengar kerutan di alis begitu jelas terukir. “Gadis ini.” benak Tuan Dire.


Mei puas mendengar apa yang dokter katakan. Tidak sia-sia dia mendapatkan seluruh memar di dalam dirinya. Mei tahu, bahwa dia masih perawan. Dia tidak pernah di sentuh oleh siapapun, bahkan dari sang kekasih.


Ada rasa penasaran kenapa sang kekasih tidak menyentuhnya. Mei bahkan akan menyerahkan diri jika Findre melakukan itu kepadanya.


Namun siapa yang menduga, sang kekasih tidak selera melihatnya. Mei mengingat kembali dengan ucapan Fandra.


“Aku tidak perduli, mau dia seorang hantu, atau hal lainnya. Selama dia bisa membunuhku, aku akan tetap mencintainya.” Benak Mei.


Dokter bergegas keluar meninggalkan pesan panjang lebar untuk Tuan Dire. Kepergiannya membuat kesunyian didalam kamar yang kini menjadi tempat sementara untuk Mei.


“Aku ingin tidur.” Guman Mei. Dipejamkan mata itu dan menikmati hangatnya ruangan meski dia tahu, semua yang ada di sini hanya akan menyiksanya.


Malam hari tiba,


Suasana sekitar Mei begitu ramai, Mei membuka mata dan melihat apa yang terjadi.


“Kamu sudah bangun?” tanya Tuan Dire. Pelayan yang ada disampingnya bergegas mendekat.


Mei kaget hingga menjauhkan tubuhnya dari pelayan. Dia menarik selimut karena pelayan ingin menyentuhnya


.


“Tenang saja, mereka hanya akan memandikanmu. Ini sudah malam dan tubuhmu kotor.” Jelas Tuan Dire.


Mei menatap kearah lain. “Tidak perlu, aku bisa membersihkan tubuhku sendiri. Tuan, suruhlah mereka pergi dan anda juga.”


Tuan Dire menatap dengan senyum kecilnya, pelayan yang ada segera keluar setelah dia memberikan tanda. “Kenapa kamu tidak ingin dimandikan oleh Pelayan?” tanya Tuan Dire.


Mei menatap kearah Pria yang sudah beristri. “Aku tidak ingin, seseorang yang baik menyentuh tubuhku. Aku takut, dia akan terkena sial karena hidupku juga penuh akan kesialan.” Jawab Mei dengan santai.


Tuan Dire tertawa hingga giginya tampak dengan jelas. Mei tahu bahwa ucapannya hanya di anggap lelucoan oleh orang didepannya.


Namun, Mei merasa ucapannya itu bukan hanya candaan, melainkan suatu kenyataan yang dia sendiri tidak ingin memilikinya.


“Kalau kamu ingin mandi sendiri, baiklah ... di sini ada pakaian untukmu, lalu kamar mandinya di sana.” Tuan Dire memberikan petunjuk kepada Mei.


Mei hanya melirik tempat yang di maksud, dia hanya diam membisu mendengar ucapan Tuan Dire.


“Sekarang, pergilah mandi dan ... Aku tidak bisa menuruti apa yang dokter katakan, jadi persiapkan dirimu.”


Tuan Dire melangkah pergi setelah berucap. Dia menutup pintu perlahan dan terdengar suara kunci yang di putar.


“Anda ingin mengurungku? Hah... kapan aku bisa tenang.” Benak Mei.


Seperti apa yang di katakan oleh Tuan Dire, Mei menuruti semuanya. Dia bergegas mandi, membersihkan tubuhnya dan setelah semua itu, Dia kembali berbaring di kasur dengan selimut di tubuhnya.


Semenjak kejadian yang tidak di inginkan. Otak Mei seakan dewasa dan mudah menebak apa yang akan terjadi kepadanya.


Meski tahu semua itu, dia tetap terjebak dan sulit melarikan diri. Bagaimana pun, Mei hanya menginginkan satu hal, Ingin kematian menjemputnya dengan Findre sebagai pengantar di tempat kematian itu berada.


“Apa kamu sudah mandi?” tanya seseorang dari balik pintu. Tidak perlu mengetahui siapa dia, dari suaranya saja Mei sudah tahu bahwa dia adalah Tuan Dire.


Mei tidak menjawab apa yang di tanyakan, dia memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam selimut tebal.


Suara pintu di buka dengan perlahan, langkah kaki seseorang menuju kearahnya. Terasa belaian lembut di kepala hingga kasur empuk itu sedikit bergerak karena seseorang duduk di atasnya.


“Aku tidak ingin menunggunya Mei, apa bisa kita mulai saja.” Ucap Dire dengan usapan lembut yang tidak berhenti.


Mei menarik selimut yang menutupi matanya, di liriknya Tuan Dire dengan pandangan datar. “Apa sebegitunya anda, ingin mendapatkan seorang anak dari gadis yang terluka ini?”


Tuan Dire tidak sabar menunggu, keluarga besar selalu menginginkan pewaris. Jika sang Istri tidak bisa memberikannya, maka satu-satunya yang di putuskan oleh keluarga, yaitu mereka harus bercerai. Dire tidak menginginkan hal itu, dia sudah mencintai Istrinya selama 10 tahun ini. hanya karena seorang anak, dia harus meninggalkan Istrinya? Itu tidak mungkin.


Niat awal ingin mengadopsi seorang putra dari panti. Tetapi, seluruh keluarga menentang karena bukan dari darahnya sendiri. Kehabisan akal, akhirnya Tuan Dire mencari tempat untuk menampung benihnya dan melahirkan penerus untuknya.


“Aku tahu kamu menderita. Tetapi, bagaimana denganku. Aku tidak ingin berpisah dari Istriku...,” Tuan Dire menarik selimut Mei dengan paksa.


Wajah Mei yang tampak segar menarik perhatiannya. Tuan Dire tanpa sadar meneguk saliva, melihat apa yang ada didepan mata.


“Aku mohon, jangan lakukan itu kepadaku.” Ucap Mei, dia mencoba untuk bangun dari tempat tidur. Sayang, Tuan Dire menindih tubuhnya dengan cepat.


Pandangan mereka saling bertemu, ada pandangan kelaparan dan pandangan takut.


Mei berusaha untuk mendorong tubuh Tuan Dire. Tubuhnya yang lemah tidak mampu mendorong badan kekar milik Tuan Dire.


“Maaf, maafkan aku.”


Tuan Dire menjauhkan kepalanya dan melakukan apa yang tidak diinginkan oleh Mei. Mei dengan berusaha keras untuk menjauhkan badan Pria didepannya, meski tahu semua akan sia-sia.


“Ku mohon, tolonglah aku.” Benak Mei meminta dengan seruan menyedihkan. Dia tidak ingin di lecehkan, dia tidak ingin keperawaannya di ambil, yang dia inginkan hanya sebuah kematian.


Merasa sudah mengendalikan segalanya, Tuan Dire ingin melangsungkan tindakkan yang sudah di nanti. Tetapi, sesuatu datang menganggu mereka.


Suara kaca hancur terdengar di telinga. Keduanya saling menoleh dan melihat siapa yang menganggu kegiatan mereka.


“Ba-Bagaimana? Bagaimana kamu bisa masuk kedalam kamar ini. kaca itu, kaca itu tidak mungkin bisa kamu hancurkan.” Pekik Tuan Dire dengan pandangan terkejut. Dia bangun dan berdiri menghadap kearah seorang pria.


Pria itu tidak menghiraukan ucapannya, dia melangkah menuju kearah kasur dimana Mei berada.


“Maaf, aku terlambat menjemputmu.” Ucap Findre. Mei meneteskan air mata setelah mendengar apa yang kekasihnya ucapkan.


Tuan Dire terkejut melihat Pria yang datang tiba-tiba mendekat tanpa melewatinya. Dia terteguh hingga tidak berkedip.


“S-Siapa kamu?” tanya Tuan Dire.


Findre tetap tidak menghiraukannya, dia mengendong Mei dengan lembut dan memberikan ciuman singkat di jidat sang kekasih.


Mei mengalungkan tangannya di leher Findre, dia merasa senang dengan Findre yang datang menjemputnya. Dia tidak menduga, kekasihnya tiba di sini tepat saat harapannya hampir punah.


“Lepaskan Dia!” Tuan Dire ingin mendekat kearah Pria yang mengendong miliknya, saat langkah telah diambil. Dire terkejut melihat kekosongan didalam kamar.


Dalam sekali kedipan mata, dia kehilangan Mei dan Pria yang datang tiba-tiba.


Suara pintu terbuka dengan cepat, pengawal bergegas mendekat. “Tuan, apa yang terjadi?” tanya mereka.


Tuan Dire termenung mendengar pertanyaan dari pengawal. “Entah, aku tidak tahu.” Jawabnya. Pengawal hanya saling memandang tidak tahu harus menjawab apa. Semua yang ada disana tidak mengingat apa yang mereka perbuat dan apa yang terjadi di sekitar mereka.