Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 21: Menjemputku



Mei mendekati Ibu angkat yang sudah lebih dari berminggu tidak dijumpainya lagi. pikiran Mei berkata pergi, tetapi hati yang penuh rasa cinta membawa Mei bertemu sang Ibu angkatnya.


“Ibu, apa yang anda lakukan di sini?” tanya Mei dengan berhati-hati. Ia berdiri tepat didepan sang Ibu yang memandang dirinya.


“Mei, mari pulang....”ucap Ibu angkat dengan tangan terulur didepan Mei.


Mei terdiam melihat apa yang ia dapatkan. “A-apa ini?” dengan wajah bingung Mei berucap.


“Ibu datang menjemputmu, apa lagi yang kamu tunggu?”Roy datang menatap tajam kearah Mei, lirikkan matanya membuat Mei menunduk seketika.


“Kak Mei, pulanglah bersama kami! Kami sudah mencari Kakak di mana-mana loh, Ibu sangat khawatir, bahkan Ayah pun tidak bisa beristirahat dengan tenang di rumah.” Mia mendekat dengan mengenggam tangan Mei.


Mei tidak bisa melawan bahkan menolak ajakkan Mia. Ia melangkah bersama Ibu angkat yang memanggil taksi untuk mereka.


“Naiklah Kak Mei!” Ajak Mia dengan membukakan pintu terlebih dahulu. Mei menatap ragu dengan kursi belakang Taksi. Ada rasa penolakkan yang harus ia lakukan, tetapi tubuhnya sudah didorong oleh Roy hingga duduk dengan terpaksa.


“Ibu sudah menjemputmu, jadi jangan menolaknya.” Ucap Roy dengan amarah yang tertuju ke pada Mei. Mei diam tidak berucap apa-apa, ia hanya menuruti apa yang diinginkan oleh keluarga angkatnya.


“Menjemputku?... terasa tidak mungkin.” Benak Mei.


Perlu memakan waktu untuk tiba di desa, hingga akhirnya mobil terhenti dengan sangat tenang. Mei melangkah keluar melihat sekelilingnya.


Desa yang pernah menjadi tempat berteduh dengan kesedihan hati dan kebahagiaan yang menjadikan hatinya mati. Sekarang, ia kembali di sini secara tidak terduga.


“Masuklah Mei,” ucap sang Ibu dengan mengenggam tangan Mei. Mei mengikuti langkah di mana sang ibu membawanya.


Kaki yang menginjakkan lantai rumah, memberikan kenangan yang teringat dibenaknya. Bayangan ia diusir dengan wajah kebencian yang tampak didepan Mei, membuat langkahnya terhenti seketika.


Mia dan Roy yang ada dibelakang terkejut dengan Mei. “Apa yang terjadi Kak?” tanya Mia dengan nada khawatir.


Hati yang sudah pernah tersakiti, sudah menerima banyak kelembutan membuat Mei belajar tentang keseriusan seseorang dan sesuatu yang dilakukan dengan paksa.


Mei tahu, ia sudah salah melangkah. Seharusnya, Ia kabur dan tidak mengikuti mereka. tetapi, apa yang bisa ia lakukan. Sudah ada disini, ia harus mencari celah agar bisa pergi tanpa sepengetahuan semua orang.


“Ah, engak kenapa-napa Mia. Aku hanya tidak enak masuk kembali, ayah pasti....”


“Mei!”


Mei membulatkan matanya. Ia dipeluk sang Ayah dengan pelukkan yang sangat erat, terasa begitu dihargai dengan kehadirannya.


Mei menekan perasaan senang didalam diri, ia harus tahu bahwa saat ini ada sesuatu yang salah dari keluarganya.


“Akhirnya kamu kembali, kemana saja hm?” tanya Ayah yang jarang memberikan perhatiannya, kini tampak sekali kebahagiaan diwajah sang Ayah angkat melihat kedatangan Mei.


“A...Itu,” Mei bingun merespon semua kejutan yang didapat olehnya. Ia ditarik sang Ibu untuk duduk dikursi kayu ruang tamu.


“Duduklah, Kamu pasti lelah...Ibu akan memasak makan malam.” Ucap sang Ibu.


Mei sudah terbiasa dengan keadaan disekitarnya, ia dengan cepat bangun dan menahan sang Ibu. “Ibu, biar Mei yang memasak, Ibu istirahat saja.”


“Tidak Mei, kamu baru kembali... Ibu akan memasakkan makan malam untuk menyambut kedatanganmu, sayang.” Ibu angkat membelai lembut wajah Mei.


“Kak, Ayo kita mengerjakan tugas... aku melihat kakak bengong pada pelajaran akhir.” Mia menarik tangan Mei menuju kedalam kamarnya.


Seharian itu, penuh akan kejutan yang membuat Mei tidak mempercayainya. Ia mendapatkan makan malam dengan seluruh keluarga yang duduk bersama-sama.


Kehangatan yang dulu diimpikan kini terasa oleh Mei, ia bahkan tidak bisa tidur memikirkan apa yang terjadi.


“Kenapa semua sangat baik kepadaku?” benak Mei. Ia menatap atap kamar Mia yang kini membagi tempat tidur padanya.


“Seharusnya mereka membenciku, aneh sangat aneh... apa telah terjadi sesuatu hingga mereka berbuat baik kepadaku?” Benak Mei semakin berpikir liar.


Malam yang biasanya dilalui dengan cepat, kini terasa lambat bagi Mei. Ia tidak bisa tidur semalaman hingga pagi menyambut dengan udara dingin berembun.


Mei bangun dari tempat tidur, di jam seperti ini ia terbiasa mengerjakan sesuatu, Seperti sebelumnya. hanya saat tinggal di rumah Findre, Mei selalu kesiangan bahkan alarm yang sudah diatur tidak akan berdering, karena Findre selalu menjaga pola tidurnya.


Mengingat Findre, hati Mei merasa sedih karena ia belum bisa mengajak kekasihnya berbaikkan. Kemarin adalah salahnya, karena tidak meminta izin dan meninggalkan Findre di kamar utama.


“Aku akan meminta maaf padanya disekolah.” Benak Mei.


Mei melangkah keluar kamar meninggalkan Mia yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia menuju kedapur untuk melihat persediaan yang ada, lalu membuat sarapan yang bisa ia masak.


Saat melangkah menuju ke dapur, Mei mendengar suara berbisik tidak jauh darinya. ia menajamkan pendengaran untuk mengetahui siapa yang sedang berbicara.


“Aku sudah katakan, bertingkah dengan baik kepadanya.”


“Cih, kamu itu gila ya... Aku sangat jijik ketika membelai anak itu, tanganku jadi gatal karenanya.”


“Apa yang kamu inginkan, kamu mau uang bukan? Maka lakukan dengan baik.”


“Mia dan Roy sudah cukup membantu, biarkan diriku seperti biasanya. Bertingkah dengan normal....”


“Kamu bodoh! Mei akan curiga jika kita tiba-tiba marah kepadanya. Pokoknya sebelum jam 10 pagi, jangan ada yang membuat keributan...Mei akan pergi jika mengetahuinya.”


“Agh, seandainya bukan karena uang sebesar 40 juta itu...aku tidak akan sudi membelai wajahnya, baiklah...apa yang harus ku lakukan?”


“Bangunlah lebih pagi, buat dirinya nyaman bersama kita.”


“Baiklah...Aku akan membuat sarapan lima menit lagi, sudah sana jangan menganggu tidurku.”


Mei bersandar di dinding, ia merasa dadanya sesak hingga naik turunnya nafas secara tidak beraturan. Mei perlahan memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari kamar Orang Tua.


“Apa yang kamu lakukan Mei?”


Mei membalikkan tubuhnya menghadap kearah Roy yang keluar dari ruang dapur. Perasaan tidak tenang semakin menjadi ketika kamar orang tua angkat terbuka dan terlihat Ayah dan Ibu.


“Katakan, apa yang kamu dengar Mei?” tanya Mia yang berdiri di pintu kamar.


Ke empat orang tengah memandang serius kepada dirinya. Mei tanpa berpikir dua kali, melangkah pergi melalui pintu samping yang langsung keluar dari rumah.


“Tangkap dirinya ROY!”