Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP : Ekstra (Findre dan Pria asing)



Suara sendawa terdengar ditelinga. Meria tersenyum melihat Sasha yang begitu bersemangat merayakan kemenangannya.


“Ayo, Meria! Jangan cuma melihat doang, hari ini kita rayakan kemenanganmu.” Ucap Sasha yang sibuk dengan daging didepan mata.


Meria lagi-lagi tersenyum melihat tingkah temannya, dia melihat kearah jendela restorant yang mengarah ke jalan raya.


Setelah jam kerja mereka selesai, keduanya bergegas ke restorant dan merayakan keberhasilan Meria. Dia juga memberikan pesan kepada Tunangannya bahwa saat ini dia makan malam bersama Sasha.


“Hei, Meria!” panggil Sasha dengan mulut penuh makanan. Meria mengangguk dan menyantap makan malam mereka.


Tidak lama menikmati makan malam itu, suara langkah kaki mendekat membuat perhatian keduanya teralihkan.


Meria dan Sasha melihat dua pria tampan yang datang ke meja mereka. dua pria itu memiliki tinggi yang sama, sekitar 180 cm. Lalu, mereka berdua sama-sama mengenakan ke meja.


Untuk membedakan keduanya dari rambut dan raut wajah. Di sebelah kanan terdapat Findre yang memiliki tatapan dingin dengan rambut hitamnya. Di sebelah kiri terdapat Pria Asing berwajah ramah dengan rambut putihnya.


“Siapa, Siapa Pria asing ini?” tanya Sasha dengan wajah penasaran. Di tatapnya Pria berambut putih yang memberikan senyuman manis kepadanya.


“Findre.” Sapa Meria dengan bangun dari duduknya, di tarik salah satu kursi untuk menyambut kedatangan sang Tunangan.


Findre dengan wajah datar mengangguk, diusap kepala Meria dengan kecupan singkat di jidatnya. “Malam.” Ucap Findre.


Sasha menganggukkan kepalanya. “Sikap dan perhatiannya romantis, tetapi bisakah raut wajahnya itu sedikit ramah.” Benak Sasha.


“Duduklah!” ucap Findre dengan menarik kursi disampingnya. Meria dan Sasha menatap kearah Pria berambut putih.


“Perkenalkan, dia teman yang menjadi seketarisku di kantor. Namanya, Haru.” Findre menunjuk Haru disampingnya. “Lalu, ini tunanganku, Meria dan gadis ini temannya, Sasha.” Lanjut Findre.


Haru mengangguk dan menatap kearah dua gadis yang ada didepannya. “Salam kenal.”


“Salam kenal juga.” Balas Meria dan Sasha bersama-sama.


“Kalian ingin pesan sesuatu?” Meria memberikan buku menu kepada Findre. Sang tunangan mengambil apa yang diberikannya.


“Selamat untuk keberhasilanmu.” Celetuk Findre tiba-tiba.


Sasha yang meneguk minuman sodanya, seketika menyembur apa yang ada dimulut. Semburannya tepat mengenai Findre yang membaca buku menu.


Melihat hal itu, Meria segera mengambil lap tangannya dan membersihkan wajah Findre dengan hati-hati.


“Ah, maafkan aku. Maafkan aku!” ucap Sasha berulang kali, dia tidak ingin Meria yang dimarahi karena perbuatannya.


Findre menangkap tangan Meria, diambil lap tangan itu dan dia mengelap sendiri wajahnya. “Lain kali, makan dan minum dengan tenang.” Ucap Findre menatap kearah Sasha.


Melihat hal itu, Sasha ingin membentak Pria yang sombong didepannya. Dia tahu, bahwa dirinya hanya seorang gadis biasa yang tinggal di kampung, sama seperti Meria. Hanya bedanya, Meria memiliki keluarga sedangkan Sasha anak panti.


Sasha menahan emosinya, dia tidak ingin Meria terkena masalah. Waktu itu, saat pertama kali bertemu, Sasha terlalu banyak bicara hingga di tegur oleh Findre.


“Gadis jangan terlalu banyak ngomong, mulutnya digunakan pada saat yang tepat.” Ucap Findre kala itu.


Sasha masih mengingat jelas setelah ucapan itu, Dia memberikan umpatan yang menusuk hingga Meria terkena imbasnya.


“Jangan berteman dengannya, kamu akan menjadi sampah seperti dia.” Lanjut Findre setelah ucapan menusuknya pada pertemuan pertama mereka.


Mengingat semua itu, Sasha hanya tersenyum pahit dan menganggukkan kepala. “Terima kasih, atas sarannya.” Ucap Sasha.


Findre mengangguk dan bergegas memanggil pelayan. “Aku pesan coffee dan jus alpukat.”


“Findre, aku rasa sikapmu terlalu berlebihan. Dia tidak salah, dia hanya terkejut.” Ucap Haru setelah suasana tenang.


Findre yang mendengar hal itu mengerutkan alisnya. “Hah? Haru, wanita itu juga punya yang namanya Attitude. Jadi, mereka harus memperhatikan hal itu, jika ingin orang lain menghargai mereka.” lirikkan mata Findre mengarah kepada Meria.


Meria sedari tadi diam menatap kearah Haru, dia merasa mengenali pria itu. pandangannya bahkan lirikkannya tidak pindah dari Pria berambut putih.


Findre yang melihat lirikkan tunangannya, menyusuri kemana kah pandangan itu tertuju. Dia melihat Haru yang saat ini berbicara dengan Sasha.


“Oh, benar kah? Jadi kau berkerja di toko buku.” Ucap Haru.


Sasha mengangguk, dia menikmati basa basi ini. meski saat ini, dia tidak tenang karena hatinya sudah terluka. “Iya, aku berkerja disana.”


Hidangan tiba dengan mengubah suasana yang berbeda. hanya ada sesuatu yang membuat raut wajah Findre berubah.


...°°°...


“Sampai jumpa, Meria dan semuanya!” Sasha melambaikan tangan sambil meninggalkan tiga orang yang ada di perempatan jalan.


Meria membalas lambaian temannya, setelah Sasha menjauh, dia melihat kearah Findre yang kini menatap kepadanya.


“Mei, katakan kepadaku. Apa kamu menyukai, Haru?” tanya Findre tiba-tiba.


Haru yang ada disana terkejut, dia segera menjadi penengah diantara keduanya. “Hei Findre, apa yang kau katakan?”


Findre yang mendengar seketarisnya menengahi segera memandangnya. “Aku hanya memastikan saja. Selama ini, aku selalu mengatakan cinta kepada dirinya. Tapi, dia tidak membalas cintaku, bahkan tidak mengatakan tentang cinta kepadaku...,”


Findre menatap kearah Meria, dia pun melanjutkan ucapannya. “Dia melihat kearahmu, bahkan matanya tertuju kepadamu. Apa yang kamu pikirkan jika tunanganmu melirik pria lain? yang ada dipikiranku hanya satu, dia tidak menyukaiku dan tertarik dengan yang lain.”


Haru yang mendengarnya segera mengeleng kepala. “Hei, jangan berpikir yang bukan-bukan. Meria, dia sudah menerimamu sebagai tunangan. Mengatakan hal seperti ini akan menyakiti hatinya.” Tegur Haru.


Findre terdiam, dia melihat Meria yang tidak berkata apa-apa. “Jika memang tidak ada tempat untukku. Katakan saja, Meria. Aku akan melepaskanmu.” Ucap Findre dan melangkah terlebih dahulu.


Meria segera menyusul langkah kaki Findre, dia bergegas mengenggam lengan jas yang dikenakan oleh Tunangannya. “Maaf, aku tahu bahwa aku salah. Tapi, jangan seperti ini.”


Findre mengangguk, wajah datar tidak menutupi perhatiaannya. Diusap kepala Meria dengan lembut dan tidak lupa kecupan tepat setelah mengusap kepala.


Haru terdiam menatap dua orang yang ada didepan mata. Dia menundukkan kepala dan melangkah mengikuti pasangan yang saling berpegang tangan.


Tidak lama berjalan, Findre dan Meria menatap kearah Haru. “Terima kasih Findre, sudah mengajakku makan malam bersama, dan salam kenal untukmu Meria.” Ucap Haru.


Findre dan Meria mengangguk bersama. “Hati-hati dijalan.” Ucap Meria.


Haru mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan kedua pasangan yang kini menjaga jarak.


“Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Findre dengan melangkah lebih dahulu.


Meria menatap punggung tunangannya, dia tersenyum dengan perasaan didalam hati yang tidak biasa. Meria tahu, bahwa Findre mencintainya. Tetapi, hati yang beku itu tidak mau menyambut kedatangan Findre.


Findre pun tahu, sia-sia mengejar Meria. Dia tidak akan bisa mendapatkannya. 1 bulan lagi, keputusan akhir akan mendekatkan mereka.


Langkah kaki Findre berhenti secara tiba-tiba, dia melihat ke arah Meria yang berada dibelakangnya. “Meria, 1 bulan lagi, pikirkan semuanya sebelum kita menikah.”


Meria terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh calon Suaminya.