
Diruang keluarga yang tengah sepi. Seseorang melangkah masuk dengan memandang sekelilingnya.
Greb!
“Tuan Muda,apa yang anda lakukan dengan mengendap-gendap seperti ini?”tanya Pelayan yang bernama Bi Ta. Pelayan ini menatap Tuan Muda yang ada didepannya.
Tanpa basa basi, Tangan Bi Ta ditarik untuk membawanya pergi.“Tuan Muda...apa yang anda lakukan?”
Wanita yang sudah berumur 60 tahun menatap panik dengan seketika. Ia mengikuti langkah orang yang menariknya.
“Bi Ta! apa yang kamu lakukan?” perlahan turun Wanita dengan pakaian cantiknya. Pandangannya penasaran dengan tingkah Bi Ta.
Mendengar panggillan seseorang, Bi Ta langsung melepaskan tangannya dari genggaman Tuan Muda. Ia lalu menundukkan kepala untuk menghormati Wanita yang tidak lain adalah Nyonya Besar.
“Apa yang kau lakukan?”tanya Wanita itu lagi. Bi Ta menjawab “Itu Nyonya,Tuan muda mengajak saja kesuatu tempat,”
Jawaban yang diberikan oleh Bi Ta menghadirkan kerutan diwajah Nyonya Besar.
“Tuan muda,Tuan muda yang mana?”Tanya Nyonya Besar dengan wajah bingung.Bi Ta kembali menjawab “Tuan Muda Findre.”
“Findre?...Bi Ta apa yang kau pikirkan. Sudah jangan memikirkan hal aneh. Bi Ta,kamu akan mendapatkan libur beberapa hari, karena Kamu pasti telah lelah dan perlu beristirahat.” Ucap Nyonya besar dengan melangkah pergi meninggalkan Bi Ta.
Mendengar ucapan Nyonya besar, Bi Ta menghentikan langkahnya. “Nyonya, saya tidak sakit...saya hanya kurang enak badan saja.”
Bi Ta merasa ia tidak sakit, tubuhnya masih kuat untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.
“Bi Ta, Anda memang tidak sakit. Tetapi, tidak enaknya badan dapat mempermudah penyakit itu datang. Maka dari itu, Aku menyuruhmu untuk beristirahat beberapa hari, setelah mendingan BI Ta bisa kembali.” Nyonya Besar menyentuh pundak Bi Ta. “Tidak Apa Bi Ta, kesehatan itu penting.”
Bi Ta hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan dari Nyonya Besar. Helaan nafas Bi Ta berhembus dengan tenang, ia berbalik badan untuk beristirahat.
“Tuan Muda,anda masih disini?!” kaget Bi Ta melihat Tuan Muda masih ada dibelakangnya. Ia tidak tahu bagaimana bisa Nyonya Besar tidak menyadari keberadaan dari Tuan Mudanya ini.
“Bi Ta,bisa Bibi ikut denganku? Aku akan membayarmu.” Ucap Tuan Muda yang tidak lain adalah Findre.
Bi Ta menatap aneh kearah Tuan Mudanya. “Tuan Muda, anda sudah membayar Bibi. Sudah, Apa keinginan Tuan Muda? Bi Ta ada waktu luang untuk membantu.”
Findre menarik Bi Ta menuju keluar Mansion. Tidak ada jawaban dari Findre untuk pertanyaan Bi Ta. Bi Ta juga menuruti keinginan dari Tuan Muda yang sudah dijaga dari kecil olehnya.
Dari kejauhan, pelayan yang lain melihat kearah Bi Ta yang melangkah aneh meninggalkan halaman Mansion.
“Apa yang terjadi kepada Bi Ta...apa ia tengah sakit?”tanya seseorang.
“Iya sepertinya begitu. Kasihan, dia sudah tua...seharusnya sudah pensiun dari sini.”
“Kamu benar, yasudah nanti kalian bantu Bi Ta untuk beristirahat.”
“Baik!”
...°°°...
Tiba dirumah yang megah, Bi Ta kaget dengan apa yang dilihatnya.
“Tuan Muda...ini rumah Ibu mu kan?” Tanya Bi Ta.
Yang ditanya mengangguk dengan tenang sambil melangkah kedalam Mansion.
Bi Ta menatap tenang melihat Mansion yang tampak bersih. Matanya melirih kearah ruang tamu, dimana ada gadis muda yang terlelap dalam tidurnya. Ada kertas origami yang tersebar diantara Gadis muda itu.
“Tuan Muda, Siapa gadis muda ini?” tanya Bi Ta sambil menatap Findre mengendong Gadis yang ditanya olehnya.
“Kekasihku.” jawaban singkat yang didapat oleh Bi Ta. Mendengarnya menghadirkan senyum kecil diwajah Bi Ta.
“Tuan Muda ternyata memiliki kekasih.” Benak BI Ta yang menatap pungung Tuan Muda.
Bi Ta menunggu Tuan Muda setelah mengantar Gadis yang merupakan kekasihnya. Bi Ta mengambil tempat untuk menyimpan kertas origami. Berbagai macam hewan yang telah dibuat oleh Gadis muda itu, BiTa yang melihatnya merasa kagum.
Ehem!
Deheman seseorang berhasil mengembalikkan diri BI Ta, ia langsung berdiri dan melihat Tuan Muda yang duduk didepannya.
“BI Ta,tinggalah disini.Aku juga meminta kepadamu untuk menjaga Gadis itu.”ucap Findre dengan tenang.
“Rawat lukanya dalam waktu seminggu, dia akan kembali bersekolah. Selama itu, Aku tidak akan ada dirumah, jadi Bi Ta bisa menjaganya mulai esok hari.”
Bi Ta mengangguk mendengar ucapan dari Tuan Muda yang kini pergi meninggalkannya.Bi Ta memutuskan untuk membersihkan ruangan terlebih dahulu.
“Mansion ini sudah dibersihkan, pasti Gadis itu yang membersihkannya.” Bi Ta menyimpan Origami yang telah ia kumpulkan.
Bi Ta menuju dapur untuk melihat persediaan, siapa tahu ada yang bisa dibeli, dan benar ada beberapa bahan yang tak ada. Bi Ta mencatat apa yang diperlukan.
Ia menatap kearah meja yang terhidang dua porsi makanan. Bi Ta menyimpan dua porsi makanan itu, siapa tahu akan dicari oleh Tuan Mudanya.
Setelah semua mendata selesai, Bi Ta memutuskan untuk pergi membeli semua bahannya.
...°°°...
Mei mengerjab-ngerjabkan matanya. ia merasakan bahwa saat ini, Ia tengah berbaring ditempat yang empuk. Bukannya tadi ia berada dilantai tengah, sedang bermain dengan tumpukkan origami?
“Siapa yang mengangkatku?”benak Mei yang melihat kedua tangan memeluk pingangnya. Mei tersenyum seketika, melihat apa yang didapati olehnya. Tanpa di cari tahu, Mei sudah bisa menebak bahwa kekasihnya yang mengangkat dan memindahkannya.
Mei berusaha tenang agar tidak menganggu tidur Kekasihnya. Mei memerah ketika tahu bahwa kepalanya saat ini begitu dekat dengan kepala kekasihnya. Tanpa sadar Senyumnya muncul dengan pikiran lucu untuknya.
“Apa yang kau senyumkan?” tanya sang Kekasih dengan tiba-tiba.
Mei seketika bungkam mendengar pertanyaan dari sang Kekasih, ia menundukkan kepala karean merasa malu. Terlihat sekali ia terciduk telah berbuat sesuatu. “Tidak ada”jawab Mei dengan gugup.
Pria yang menjadi kekasihnya ini membalikkan tubuh Mie untuk menatap kearahnya. Karena hal itu, keduanya saling bertatap dengan getaran mata hitam mereka
“Kamu pasti berpikir kalau diriku seperti anak kecil?” tanya Findre yang menyentuhkan hidung mancungnya kehidung Mei.
“Darimana kau tahu aku memikirkan hal seperti itu?” tanya Mei kembali. Ia tak berbohong, hampir saja Ia memikirkan hal itu.
“Tentu saja aku tahu, karena yang ku hadapi saat ini adalah anak kecilnya.” Jawab Findre dengan mengucap wajah Mei.
Wajah Mei cemberut mendengar jawaban Findre.“Bukannya kamu yang anak kecil...”ucap Mei.
Cub
Mei membelakkan matanya, ia langsung menatap Findre dengan wajah kaget.
“Lihat...anak kecilnya sedang menatapku sekarang.” Findre berbicara dengan senyum menghiasi bibir merahnya.
Mei terdiam melihat apa yang ada didepan mata. Ia merasa tidak akan bisa menang melawan Findre, kekasihnya ini.
“Sudahlah, jangan kaget gitu. Bangun dan ikut denganku, ada sesuatu yang ingin ku beritahu kepadamu.”ucap Findre yang kini duduk ditepi kasur. Mei ikut duduk menghadap kearahnya.
“Apa itu?”tanya Mei.
“Mari ikut dengan aku.” Findre mengulurkan tangannya untuk mengajak Mei turun. Mei pun menyambut uluran tangan itu.
Mereka berdua melangkah keluar kamar dan menuju keruang tamu yang saat ini terlihat seseorang masuk melewati pintu.
Setelah menuruni tangga, mereka melangkah mendekati seorang Wanita tua yang mengangkat barang belanjaan.
Melihat hal itu, Mei seketika ingin menolong wanita yang ada didepannya. Tetapi, Findre menahan gerakkan Mei.
“Tubuhmu belum sembuh dari luka. Jangan banyak bergerak!”ucap Findre melarang Mei. Mei mengangguk mendengarnya.
Bi Ta yang melihat perhatian dua orang anak muda didepannya tersenyum.
“Tuan Muda,ada yang bisa saya bantu?”tanya BI Ta. Mei yang mendengar hal itu memandang kearah Findre.
“Tuan Muda?”Benak Mei.
“Mei...kenali ini Bi Ta.dia pelayan yang merawatku dari kecil, dan Bi Ta...ini Mei Dia kekasihku.”ucap Findre memperkenalkan dua Wanita yang ada didepannya.
“Salam Nona Mei, saya Bi Ta. Panggil saja sesuka Nona.”ucap Bi Ta dengan begitu lembut. Mei mendengar ucapan itu mengangguk.
“Kalau begitu salam kenal Bi Ta,saya Mei.”Sapa Mei kembali. Ia tersenyum sambil mencoba membantu membawakan beberapa kantung belanjaan. Meski membantu, pada akhirnya Findre yang mengangkat semua belanjaan itu.