Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 50 : Mei, Aku mencintaimu!



Wajah Haru menjadi datar ketika melihat gadis didepannya. Niat membunuh menghilang seketika. “Ah, gadis ini.” benak Haru.


“Bunuh Aku!” ucap Mei dengan wajah bahagia.


Haru menatap kearah lain. ada perasaan tidak enak dihatinya. Pertama, dia baru saja menghempaskan gadis didepannya ke dinding. Kedua, dia berlebihan dalam memerangkan karakternya sendiri.


“Aku pasti akan dimarahi olehnya,” benak Haru. Dia memikirkan Atasannya.


Niat membunuh yang telah padam membuat konsentrasi Haru hancur. Dia memilih pergi dengan alasan bersekolah.


Setelah pergi meninggalkan Mei yang merupakan targetnya sendiri. Haru beristirahat di kediaman pemilik nama Findre.


“Huh, Sial ... astaga, aku tidak boleh mengumpat.” Haru menutup mulutnya dengan cepat. Dia meratapi segala kesalahan yang dilakukannya hari ini.


“Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak tahu tempat gadis itu berada. Apa yang harus ku lakukan?”


Haru bangun dari tepat dia beristirahat. Diliriknya jendela kamar yang menampak anak-anak muda sedang bersekolah.


Sambil menompang dagu, Haru menemukan ide baik untuknya. “Dia baru berusia 16 tahun. Pasti diusia itu dia sedang bersekolah kan? ... oke! Aku akan menjadi salah satu siswa disana dan menangkapnya.”


Keputusan yang sangat langka untuk Haru. Tidak ada pemikiran tentang resiko yang harus dia terima. Haru, bergegas mencari sekolah dengan menghilangkan wujudnya. Terbang mengunakan sayap hitam yang terbentang luas itu, dia menyusuri berbagai macam sekolah.


Pijakkan Haru terhenti, matanya berbinar melihat orang yang dikenalinya. Dengan cepat Haru meniru pakaian yang dikenakan oleh mereka.


Berhenti di depan Gerbang, Haru melangkah masuk tanpa ragu. Dia tidak mengijinkan siapapun melihatnya kecuali Mei. Gadis yang menjadi target pekerjaannya.


“Kali ini, aku tidak akan melepaskannya. Setidaknya, dia tidak membuat perasaanku menjadi buruk, hingga tidak bisa membunuhnya.”


Haru tidak mengerti dengan apa yang ada disekitarnya, dia mengamati sambil meneliti apa yang mereka lakukan. Tanpa sadar, dia ikut bergabung bersama semua yang ada. meski wujud Haru tidak tampak, dia tetap berada disekeliling Siswa.


“Jadi seperti ini para siswa belajar. Semua pelajarannya begitu mudah dipahami. Tapi, kenapa mereka semua tampak kesulitan?” Haru menatap penjelasan guru tentang soal matematika. Dalam sekali penjelasan, Haru bisa menyelesaikan semua soalnya.


Namun, tidak dengan Siswa yang begitu pusing hingga menyerah mengerjakan semua itu. melihat tingkah mereka, kebaikkan dihati membuat Haru membantu dengan menunjukkan buku yang dia kerjakan.


Semua siswa menyontek dibuku itu. mereka begitu bahagia hingga tidak sadar kalau pemilik buku itu tidak berwujud.


“Hari ini aku sangat senang. Melihat manusia yang bermacam-macam. Ada yang pantang menyerah, ada yang begitu semangat dan mudah putus asa. Mereka sungguh ciptaan Penguasa.” Guman Haru.


Bel pulang berbunyi, dia melirik kearah jalan yang terlihat sepasang anak muda saling berpegang tangan.


“Apa yang Anak muda ini lakukan?” benak Haru. Dia mendekat dengan wujud yang sama. tidak ada yang tahu keberadaannya.


“Ah, jangan begitu ... kita baru jadian, kamu mengajakku pacaran tapi malah ingin hal-hal yang dilarang.”


“Eh? Tidak apa sayang, lagian kita hanya berpelukkan. Apa masalah dengan semua itu?”


“Tentu saja ada. kamu tidak tahu, ada pepatah mengatakan jika menyentuh tangan wanita. Wanita itu akan hamil.”


“Haha, itu hanya perkataan orang tua. Tidak ada yang seperti itu, Nyatanya sekarang kita berpegangan tangan. apa kamu hamil?”


Haru tercenga mendengar apa yang dikatakan pasangan ini. tidak habis pikir olehnya, anak muda jaman sekarang begitu mengerikan.


“Mereka tidak tahu, ada wanita yang hamil tanpa disentuh oleh siapapun. Selama dia percaya dengan adanya Penguasa, maka dia akan tahu bahwa hidup di sini hanya sementara.” Guman Haru.


Haru melangkah pergi, dia tidak ingin mendengarkan anak muda berbincang hal yang tidak seharusnya diperbincangkan.


“Mereka terus berpacaran, seperti Lem. Lengket mulu.”


“Begitulah, kalau kamu ingin menjaga wanita yang kamu cintai. Kamu harus selalu berada disampingnya. Sebisa mungkin, jangan terlepas dari genggamanmu.”


Langkah Haru terhentikan setelah mendengar perkataan para siswa. dia mendapatkan ide bagus agar tidak kehilangan Mei.


“Bagaimana kalau, kamu menjadi pacarku, Mei?” ajak Haru setelah mendapatkan perhatian Mei. Niat membunuhnya menghilang karena gadis didepannya ini sungguh ingin bertemu kematian.


Haru tidak bisa mencabut nyawa jika melihat kebahagiaan. Jadi, dengan mengambil tindakkan seperti ini. Dia berharap bisa mencabut nyawa Mei tanpa perlu keraguan.


“Aku tidak setuju! Nanti Kau tak akan membunuhku. Aku tahu bahwa jika laki-laki telah jatuh cinta, maka ia tidak akan tega membunuh wanita yang dicintainya.”


...°°°...


Setelah lama bermain dengan hubungan Pacaran ini. Haru merasa tersiksa disetiap harinya, dia melawan perasaannya, melawan niat membunuh dan melawan nafsunya.


Menjadi Manusia ternyata banyak godaan yang harus dilewati. Haru tidak tahu seperti ini jadinya. Dia ingin menolong Mei, ingin mengobatinya hingga sembuh. Setelah semua itu, Haru akan menjemput Mei dengan sabitnya.


Namun, Nafsu melihat tubuh Mei membuatnya menderita. Haru memutuskan untuk menjaga jarak dari Mei dan membawa pelayan keluarga Altha.


“Ku harap, dengan menjauh darinya. aku bisa mengendalikan semua masalahku sendiri.” itu yang dipikirkan oleh Haru.


Hari demi hari, kedekatan semakin menjadi. Haru menyerah, Haru merasa sia-sia menahan semua itu. dia memberanikan diri mencium pipi Mei, memeluk Mei dan menenangkan Mei hingga rasa asing muncul dihatinya.


Karena hal itu, Haru dipanggil oleh Atasannya sendiri. “Apa yang telah kamu lakukan Haru?”


Haru menatap kearah lain. “Aku tidak melakukan apa pun.”


“Bohong, sejak kapan Malaikat memiliki sifat itu. Haru, kamu ingin Penguasa yang menemuimu?”


Helaan nafas Haru begitu panjang, dia menundukkan kepalanya. “Aku rasa, aku tidak bisa membunuhnya.”


Angin berhembus dengan cepat, di lantai atas Vila tempat dia tinggal. Haru melihat dua puluh Malaikat datang dengan pangkat melebihinya.


“Haru, jangan menunda apa yang Penguasa katakan. Jika sampai itu terjadi, Kami yang akan menjemput Mei.”


“Dengar Haru, kamu adalah Malaikat Maut yang disayangi oleh Penguasa. Jangan mengecewakan hatinya.”


“Kamu sudah menjadi manusia, sikap dan sifatmu sama seperti mereka. Haru, jika kamu terus seperti ini ... Kamu akan menjadi manusia seutuhnya.”


“Haru! Kami akan memberikan waktu seminggu kepadamu. Bawa Mei dan antar dia kepada Penguasa. Untuk mengingatkanmu, sayap yang ada dipunggungmu itu akan gugur dengan perlahan. Jika, kamu melewati waktu kesepakatan ini, kamu akan menjadi manusia seutuhnya.”


Haru menundukkan kepala, Dia merasa kepergian para Malaikat yang pernah berada diposisinya. Tetapi, kasusnya berbeda. Dia telah jatuh cinta kepada gadis yang sedang menderita.


Apa yang Mei katakan benar, dia tidak bisa membunuh wanita yang dicintainya.


“Huh~ akulah yang membuatnya seperti ini.” benak Haru.


Seperti apa yang diputuskan, Haru sebisa mungkin membuat Mei bahagia dan dia juga berjanji akan membunuh siapapun yang berhasil membuat Mei menangis.


Meski begitu, Harulah yang seharusnya dibunuh. Dialah yang membuat Mei menangis disetiap harinya. Penderitaan Mei semakin menjadi, Haru tidak tahan lagi dengan semua itu.


Sekarang, disinilah dia. Memeluk Mei dan menancapkan sabit diatas kepalanya. Dengan lembut Haru menarik ruh Mei yang tersenyum.


“Ah~ Penguasa ... apa yang kamu takdirkan kepadaku.” Benak Haru. Dilihatnya wajah Mei pada Ruh yang masih bersemayang ditubuh.


Perlahan dan perlahan, Ruh itu tercabut hingga Mei berhenti bernafas. Ruhnya berdiri disamping Haru sambil terus tersenyum bahagia.


“Maaf Mei, seharusnya aku sudah menjemputmu dari awal. Maafkan aku yang selalu menunda kematianmu. Maafkan aku yang bertindak sendiri. maafkan aku.” Guman Haru.


Ditatapnya Roh yang kini mengulurkan tangan. Haru tahu, bahwa sudah saatnya Mei dibawa kehadapan Penguasa. Bagaimana Pun, Penguasa begitu menanti kedatangannya.


Seluruh alam seketika terang benerang. Malam yang diterangi bulan kalah dengan kedatangan dua puluh Malaikat termasuk Atasan Haru.


“Haru, Penguasa menyuruhmu untuk membawanya.”


“Kamu mengerjakan tugasmu dengan baik, Haru.”


“Selamat untukmu....”


“Kami akan membuat memori indah untuk mereka yang melihat wujudmu.”


Haru terdiam sesaat, diliriknya Lestari dan Putri yang menangis dengan raut wajah jeleknya. “Bisakah, bisakah kalian membuat kenangan kepada Sahabatnya. Seharusnya mereka tidak pernah bertemu, tapi setidaknya ada sesuatu yang bisa mereka kenang.”


Dua puluh malaikat itu mengangguk dan memberikan jalan luas untuk Haru. Haru menatap kearah Mei yang tersenyum kepadanya.


“Karena senyummu, karena kebaikkanmu, Aku jatuh hati kepadamu. Mei, Aku mencintaimu” benak Haru.