
“Roy?” Mei menatap Adik angkat yang berhenti didepannya. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, bahkan Roy yang biasanya mencaci maki Mei, kini berlalu tanpa sepatah katapun.
“Apa telah terjadi sesuatu kepadanya?” guman Mei menatap perginya Roy.
“MEI!”
Mei menoleh, ia melihat Lestari dan Putri yang melangkah mendekati dirinya. “Oh, kalian ingin kemana?” tanya Mei.
“Kami mencarimu, dikelas kamu pergi begitu saja, tidak bilang lagi.” Lestari memayunkan bibirnya karena rasa kesal.
Mei mengeleng melihat tingkah Lestari yang tampak seperti anak-anak. Putri merangkul Mei dengan menatap curiga kearahnya.
“Apa yang membuatmu disini Mei?” tanya Putri.
Mei mengingat Findre yang pergi meninggalkan dirinya. “Itu, aku bertemu dengan seseorang. Lalu, aku mengatakan kepadanya jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, bisa saja ada alasan dari masalah itu terjadi. Tetapi, ia marah dan pergi meninggalkan ku.” Mei menjelaskan masalah yang ia alami.
Hubungan dengan niat kematian membuat Mei bingung memahaminya, mereka pacaran bahkan sudah dekat tetapi dirinya belum bisa memahami Findre. Mei bingung dengan hubungannya sendiri, apakah mereka pantas dikatakan sebagai sepasang kekasih?.
“Marah? Emang kamu membahas apa Mei?” tanya Lestari.
Mei tidak ingin sahabatnya tahu apa yang ia alami, dengan helaan nafas Mei mencari alasan lain. “Ah, sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja bertemu seseorang, ia memarahiku hingga membuat temanku ini membalas perbuatannya...Aku sebagai teman tidak ingin dirinya terkena masalah, maka aku menegur tingkahnya.”
Penjelasan yang Mei berikan membuat hatinya menjadi sedih, ia telah berbohong dengan sahabatnya sendiri. Mei jadi tidak enak hati untuk melanjutkan perbincangan mereka.
“Oh... apa teman yang mengendong dirimu waktu itu?” Putri dan Lestari menatap antusias kearah Mei.
Mei mengerutkan alisnya. “Kalian mengenalnya?”
Senyum usil tampak diwajah kedua sahabat. Mei ditarik menuju kehalaman belakang sekolah, Mereka duduk disalah satu kursi yang tersedia.
“Ceritakan, siapa dirinya?” tanya Lestari dengan semangat yang tinggi.
Mei bingung mendengar pertanyaan Lestari. “Hah, apa yang kalian inginkan?”
“Mei jangan pura-pura engak tahu ya, kami melihat temanmu itu...dia laki-laki kan?” Putri menatap Mei dengan serius.
Tatapan yang terarah kepadanya membuat Mei mengalihkan pandangan. “Ah, ya... dia,” Mei menghela nafas dengan cepat untuk menenangkan diri.
“Kami sudah tahu kok Mei, kamu berangkat juga dengan laki-laki itu kan? Aku penasaran dengannya, tapi saat ingin mencari tahu, Aku lupa tentang orang itu.” ucap Lestari.
Mei menatap Lestari dengan pandangan serius. Lestari menceritakan keinginannya untuk mencari Findre, tetapi hasilnya tidak ada. Findre tampak penuh akan kemisteriannya.
“Apa Findre memiliki identitas ganda?” benak Mei berpikir liar.
“Sudah jangan bahas yang itu, aku malah penasaran dengan ucapan Mei, dia bilang temannya marah?...Apa kamu yakin dia marah Mei?” Putri memangku wajahnya dengan kedua telapak tangan. tampak sekali wajah kebahagiaan dan penasaran yang dilihat oleh Mei.
“I-iya... aku yakin dia marah kepadaku, karena aku menegur dirinya.” Mei menunduk meratapi nasib, ia ingin hubungannya baik-baik saja. Tetapi, keinginannya itu hanya sebatas keinginan.
“Menurutku dia tidak marah Mei...,” Lestari berdiri dengan menatap kearah Mei yang kini mengangkat kepalanya.
“Ku rasa juga begitu,” Timpal Putri dengan kepala mengangguk-angguk.
“Apa yang membuat kalian berpendapat seperti itu?” Mei melihat kedua sahabatnya tampak kompak dengan pendapat mereka.
“Aku tidak mengerti tentang cinta, apa lagi hubungan. Tapi sesuatu yang membuat kita marah, bahkan sedih pernah ku alami Mei. Jika mendengar ceritamu barusan, Temanmu itu pasti ngambek dengan kamu yang membela orang lain dari pada memuji tindakkannya.” Jelas Lestari.
“Haha, Mei apa kamu tahu, Lelaki punya sikap yang tidak jauh dengan wanita. Hanya, mereka suka to the point dengan suatu tindakkan, meski kadang mereka tampak misterius. Intinya, Temanmu itu bukan marah tapi ngambek karena kamu membela orang lain bukan dirinya.” Jelas Putri yang semakin membuat Mei bingung.
“Aku benar-benar tidak mengerti, sudahlah...memahami hal ini lebih sulit dari pada matematika.” Mei bangun dari duduknya.
Lestari dan Putri saling bertatap dengan senyum jahil dibibir mereka. Mei yang ingin melangkah pergi, ditarik kembali untuk duduk ke tempat semula.
“Mei, sepertinya Teman itu menyukai dirimu!” Lestari tersenyum senang seakan ia menemukan kejutan yang luar biasa.
“Menyukaiku? Jangan asal ngomong deh... engak mungkin,” Mei mengeleng-geleng kepala menolak ucapan Lestari.
Mei sudah tidak ingin berharap hal yang mustahil. Ia sudah mendapat izin jatuh cinta oleh Findre saja sudah merasa cukup. Jangan memberinya harapan, Mei tidak ingin bertahan lebih lama dikehidupan yang penuh penderitaan.
“Bukan engak mungkin Mei, lelaki itu memiliki perasaan juga. Meski secuek apapun dirinya, ia akan tetap menyimpan rasa yang terdalam dilubuk hati. Mei, sepandai-pandainya orang menutupi rasa, tingkah laku dan perhatiannya yang akan mengatakan kebenaran dari isi hati. Jadi, besar kemungkinan Teman itu menyukai dirimu.” Jelas Putri dengan sangat panjang.
Mei terdiam mendengarnya, pikirannya menjelajah hingga perasaan berharap muncul dihati.
“Jangan Mei, ingat keinginanmu!” benak Mei. Perlahan Mei bangun dari duduknya dan melangkah kembali kekelas.
“Mei! Kamu mau kemana?” tanya Lestari dan Putri bersamaan.
“Ke kelas! kalian jangan memikirkan hal barusan, Itu tidak akan memungkin terjadi, lebih baik memikirkan tentang perasaan kalian. Ku rasa tidak lama lagi, ada yang akan bertunangan,” celetuk Mei yang membuat kedua sahabatnya tercenga.
“Hei Mei, kamu mau menjadi cenayang ya.” Putri dan Lestari bergegas mendekati Mei yang melangkah lebih dahulu dari mereka.
“Apa yang terjadi dikelas?” tanya Mei menganti topik pembicaraan.
“Ada guru, hari ini kan pemeriksaan kelas!” jawab Lestari dengan santai. Mei dan Putri membelakkan mata mereka.
“Lestari, kenapa engak ngomong dari tadi! Kita akan dimarahi oleh Ketua kelas...,”
Ketiganya berlari dengan senyum mereka masing-masing, tanpa ada yang menyadari, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan.
...°°°...
“Huh~” helaan nafas Lestari dan Putri terhembus bersamaan. Mei yang mendengarnya mengeleng kepala.
“Apa dengan mengeluh tugas kalian selesai begitu saja?” tanya Mei.
“Ya engak mungkin Mei, kamu kan tahu kalau kita dihukum sekarang!” jawab Lestari dengan nada kesalnya.
Mei hanya bisa tertawa. Mereka dihukum karena telah melewatkan hal penting disekolah, dan Ketua kelas memberi mereka tatapan marah yang memuncak.
Jikalau Mei yang menjadi inti permasalahan, maka saat itu juga seluruh murid dikelas akan mencacinya. Tetapi, kedua sahabat Mei yang selalu ada didekatnya, membuat Mei aman dari cacian dan makian mereka.
“Sudah yuk, lebih baik kita selesaikan ini...” ajak mei yang membuat Putri dan Lestari mengangguk.
Setengah jam berlalu, kelas bersih dan wangi. Lestari dan Putri pamit terlebih dahulu karena pengawal mereka sudah menunggu.
Setelah kepergian Sahabatnya, Mei melangkah keluar dari gerbang sekolah. Pandangannya melirik kekanan dan kekiri, mencari keberadaan sang kekasih yang pergi entah kemana.
“Di mana Findre?” Mei menunggu sang kekasih di gerbang sekolah, ia menduga kalau Kekasihnya belum pulang.
“Aku akan menunggu disini,” Mei berdiri dengan bersandar dipagar.