
Pagi hari menyambut dengan kehangatannya. Begitulah yang Mei rasakan dalam dekapan sang kekasih.
Dari awal mereka bangun, hingga bersiap-siap. Findre menarik tangan Mei untuk duduk di balkon bersama. Tidak hanya itu, Mei di dudukkan di depan Findre, dan Findre memeluk Mei dari belakang sambil menikmati indahnya embun pagi.
Merasa keanehan ini, Mei hanya bisa diam tidak bergerak sama sekali. Dia bisa merasakan dada bidang Findre di punggungnya, lalu Mei merasakan dekapan hangat sang kekasih.
Mei memikirkan ucapan Findre semalam. Dia mengerti kenapa Findre mengajaknya berduaan di sini, pasti karena masalah ke pergiannya tanpa berpamitan.
“Findre....” Mei bersuara pelan dengan degupan ragu di hatinya. Dia ingin mengatakan apa yang terjadi, tapi entah kenapa dia menjadi bimbang menjelaskan semua.
“Hm,” Findre berdehem. Dekapan itu mendekatkan keduanya hingga Mei tersentak mendengar balasan Findre.
“Apa ada yang ingin kamu katakan Mei?” tanya Findre dengan suara yang tenang.
Mei mendengar pertanyaan itu, merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Rasa rindu mendengar suara sang kekasih menenangkan hati Mei. Keraguannya menghilang seketika, Mei yang tidak bisa berbohong kepada Findre, memilih untuk menceritakan semua yang dia alami.
“Kemarin, maafkan Aku Findre. Aku sudah membuatmu marah dan kesal kepadaku, lalu maaf dengan perasaan yang membuatmu menjadi ragu...,”
Mei memainkan jemari Findre di telapak tangannya. Dia usap perlahan untuk menenangkan pikiran dan memberi ketenangan agar Mei bisa menceritakan segalanya.
“Saat pelajaran berakhir, aku berniat untuk menunggumu di gerbang sekolah. Tetapi, Ibu angkatku sudah menunggu di sana, tidak hanya itu Roy dan Mia mengajakku untuk kembali. Aku tidak tahu tujuan mereka apa saat itu, jadi aku hanya mengikuti kemauan mereka...,”
Perlahan Mei menundukkan kepalanya, jemari yang bermain di antara jari sang kekasih berhenti seketika. Mei merasa dadanya sesak hingga menunda pembicaraannya.
Findre tidak berbicara apa-apa, malah Mei di tuntun untuk menghadap kearahnya. Hingga pandangan mereka saling bertemu dengan mata yang menatap begitu lekat.
“Jika sulit untuk di ceritakan, maka pendamlah untuk sesaat. Akan ada waktu di mana kamu akan bercerita, jika itu tiba... berbicaralah dan ajak orang yang ada didekatmu. Jangan selalu memendam sendiri, hatimu tidak akan kuat menahannya.” Ucap Findre sambil menuntun kepala sang kekasih untuk bersandar di bahunya.
Mei merasakan perhatian yang Findre berikan, hati yang sesak itu melega seketika. Tanpa Mei sadar air matanya mengalir hingga mengenai kaos yang Findre kenakan.
“Findre ... aku ingin di jual oleh keluarga angkatku sendiri. bagaimana caraku agar tidak tertangkap oleh mereka? aku tidak ingin menjual diri ini, Findre ... kapan kamu akan membunuhku-,”
Mei membelakkan matanya ketika sesuatu menempel tepat di pipi sebelah kanannya. Mei merasakan begitu lama Findre memberikannya sesuatu yang benar-benar berdebar di dada.
“Dengar Mei, jangan mengatakan kata itu jika kamu mengalami masalah. Kematian memang sudah tertanam di benakmu, tetapi ingatlah bahwa ada seseorang yang menunggumu bahkan menantikan kehadiranmu. Contohnya Sahabatmu sendiri,” jelas Findre dengan menjauhkan diri.
Mei menatap sang kekasih yang berhasil menenangkan hati serta pikirannya, meski detak jantung Mei berdegup tidak menentu.
“Te-Terima kasih Findre.” Mei kembali bersandar di bahu sang kekasih. Tidak hanya itu, Mei mengalungkan tangannya dan menghirup aroma parfum yang di pakai oleh Findre.
Suara ketukkan pintu berhasil menyadarkan keduanya. Mei bergegas bangun dan merapikan diri untuk membuka pintu. Tetapi, sebelum itu Mei menyempatkan diri untuk membalas apa yang Findre lakukan.
Mei tersenyum setelah memberikan ciuman kecil di pipi kanan Findre. Ini sudah kedua kalinya Mei mencium kekasihnya, dan Findre adalah orang pertama yang membuat Mei melakukan hal seperti itu.
...°°°...
Mei membantu Bi Ta membersihkan halaman. Semenjak kejadian pagi tadi, Mei merasa malu untuk bertemu Findre. Jadi sebisa mungkin, Dia menghindari sang kekasih yang tanpa sengaja saling bertemu.
“Aku selalu berdegup melihat Findre.” Benak Mei.
Di halaman belakang, Mei menyirami bunga-bunga yang di tanam oleh Bi Ta. “Bi Ta punya waktu untuk menanam bunga ini...,” Mei mengirup bunga yang ada didepannya.
“Sangat cantik.” Mei terteguh melihat tangan seseorang terulur untuk memetik salah satu bunga yang sudah mekar. Tidak hanya itu, bunga yang di ambil terselip pada daun telinganya.
Mei membalikkan badan untuk melihat siapa yang memasangkan bunga itu padanya. “Fi-Findre?”
Findre menampakkan senyum yang sangat tipis. Jika Mei baru mengenal Findre, dia pasti menduga senyum itu hanya garis tipis yang tampak di bibir Findre.
“Ke-kenapa ada disini?” tanya Mei dengan kegugupannya. Hatinya berdegup cepat dengan ingatan yang berlabuh di pikiran. “Aku mengingat kejadian tadi pagi.” Benak Mei.
Findre mengambil kembali bunga yang ada lalu menyelipkan tepat pada bunga sebelumnya. Mei terteguh dengan tindakkan Findre.
“Mei, ada yang ingin ku katakan kepadamu ... apa kamu bisa mendengarkannya?”
Mei mengangguk, dia menaruh bak kecil yang di gunakan untuk menyirami bunga, Lalu Mei melangkah mengikuti Findre.
Setiba di halaman belakang tidak jauh dari kebun bunga. Mei menatap kearah gazebo yang baru pertama kali dia lihat. Tidak di percaya olehnya, ada sebuah gazebo dengan pemandangan alam yang sangat indah.
Mei kagum hingga berlari mendekati gazebo itu, dia menatap kearah indahnya pemandangan alam yang begitu hijau.
“Aku tidak tahu, halaman belakang ada pemandangan seperti ini?”
Pemandangan belakang halaman yang Mei lihat, ada sebuah pagar yang tingginya lumayan untuk anak-anak. Di balik pagar itu, ada kota yang sangat indah, Mei tidak bisa memalingkan pandangannya melihat kecantikkan yang tidak terduga.
“Ternyata sangat indah jika melihat dari atas ya ... apa setelah aku pergi, aku bisa melihat keindahan ini?” guman Mei.
Findre menarik tubuh Mei untuk berdiri di dekatnya, tidak hanya itu Findre menuntun Mei bersandar di dadanya.
“Mei dengar, aku tidak bisa berjanji kepadamu untuk tidak membuat mu menangis seperti pagi tadi. Tetapi, akan ku singgirkan orang yang telah menghadirkan air mata pada dirimu dan jika bisa, aku akan menghancurkan dia hingga maut menjemputnya.”
Mata Mei bergetar mendengar ucapan sang kekasih, dia mengangkat pandangannya untuk melihat ekspresi Findre. Tetapi, sang kekasih menahan kepala Mei agar dia tidak melihat ekspresinya.
Senyum Mei terukir mendapati sang kekasih yang memiliki rasa malu. Mei terkekeh perlahan, Dia mengulurkan tangan untuk memeluk Findre, dan kepala sang kekasih bersandar dikepalanya.
Di senja yang begitu indah, Mei merasa Findre telah berjanji kepadanya. Janji itu sederhana bagi orang lain, tetapi, untuk Mei itu bukanlah janji biasa, melainkan janji yang di ungkapkan dengan ketulusan hati.