
Mei menatap dengan pandangan terkejut. Dia melihat dua pasang sayap hitam yang terbentang didepan mata.
“Ada apa? Apa kamu takut melihatnya?” tanya Findre dengan menatap kearah Mei.
“Uh, ti-tidak ... aku tidak takut.” Mei kelagapan menjawab pertanyaan Findre, pegangannya mengerat dengan kepala bersandar dibahu sang kekasih.
“Baguslah, kalau begitu ... aku akan membawamu kembali.” Findre mempercepat gerakkan sayapnya.
Mei merasa angin yang deras menerpa dirinya. Meski begitu, dia mendapatkan perlindungan dari sang kekasih.
Tiba perlu waktu lama untuk tiba di rumah Findre. Mereka berdiri dihalaman dengan seluruh cahaya yang menerangi mereka.
Mei menurunkan kaki dengan perlahan, setelah pijakkannya baik-baik saja, dia melihat seluruh orang berkumpul dengan kepolisian.
“Apa yang terjadi?” tanya Mei menatap kearah sang kekasih dengan pandangan terkejut.
Wajah Findre tampak tenang dengan mata yang berubah warna. Biasanya, Findre menatap Mei dengan mata hitam yang begitu pekat. Sekarang, mata itu berwarna biru dengan kilauan disekitarnya.
Mei semakin tidak mempercayai dengan apa yang dilihat olehnya. Perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara Lestari.
“Mei! Kemarilah ... dia bukan Findre!” teriak Lestari.
Mei melirik sahabatnya yang baik-baik saja. “Syukurlah kalian tidak apa-apa.” Benaknya.
Melihat Mei tidak merespon mereka, Putri ikut berteriak. “Mei, dengarkan kami ... Findre sudah lama berada didalam makamnya, dia tidak seharusnya disini. Yang ada didepanmu pasti bukan orang baik.”
Mei tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Lestari dan Putri, dia memilih bertanya tentang hal lain. “Bagaimana keadaan Mia?”
Lestari dan Putri tercenga mendengar apa yang Mei katakan. “Mia?”
Fandra menatap serius dan mendekat perlahan. Saat langkahnya diambil, Sayap Findre menghalangi kedatangan Fandra.
Semua terteguh melihat apa yang Findre lakukan, dia mengurung Mei dalam sayap hitam yang begitu besar. “Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu seorang monser yang menyamar seperti manusia?” ucap Fandra.
Findre hanya diam sambil menatap kearah Mei. Mei yang melihat kegelisahan Findre mengangkat kedua tangannya dan menangkup pipi sang Kekasih.
“Ada apa Findre?” tanya Mei.
Semua semakin tidak percaya melihat kedekatan mereka. Putri dan Lestari ingin mendekat tapi langkah mereka terhenti karena pengawal menghalangi.
“Dengar Mei, Mia sudah dibawa oleh Bibinya. Sekarang, kemarilah.” Ucap Fandri dengan bergegas mendekat.
Lagi-lagi sayap Findre menghalangi mereka. semakin ada yang mendekat, semakin besar Sayap itu menghalangi.
Mei tersenyum melihat Findre melindunginya. Dia merasa disayang dengan penuh perhatian dan cinta. Meski dia tahu, semua ini hanya karena janji yang mereka buat.
“Findre, tidak apa-apa. Mereka tidak akan menyakitiku.” Ucap Mei.
Findre menatap mata Mei, terlihat pandangan tanpa ada kebohongan. Sayap yang terbentang luas itu menyusup seketika.
Tersisa bulu yang bertebaran setelah Findre menyembunyikan sayapnya. Mei mengingat tentang Bulu yang pernah dia lihat.
Digenggam bulu hitam yang ada ditangannya. “Findre, apa kamu bukan seorang manusia?” tanya Mei tiba-tiba.
Findre menangkap tangan Mei dan menciumnya dengan lembut. “Menurutmu?” tanyanya.
“Mei! Apa yang kamu lakukan, kemarilah!” teriak Lestari. Dia merasa sahabatnya sedang kehilangan akal dengan apa yang Pria asing itu lakukan.
“Apa Mei tidak mendengarkan kita?” tanya Putri kepada Lestari. Dengan angkat bahu Lestari menjawab bahwa dia tidak tahu apapun.
Mei menatap kearah sahabatnya, terlihat mereka tampak panik dengan segala yang terjadi. “Semua terima kasih.” Ucap Mei.
Mendengar ucapannya, Lestari dan Putri mengerutkan alis hingga mereka melihat Mei menundukkan kepala.
“Apa yang kamu lakukan Mei!” teriak Lestari.
“Jangan berpikir dan bertindak yang aneh, Mei!” ucap Putri.
Mei mengangkat kepalanya. “Terima kasih, terima kasih sudah berteman denganku. Menjadi sahabatku dan selalu ada jikalau aku susah. Kalian adalah sahabat terbaikku...,”
“Maaf, seharusnya seharian kita menghabiskan waktu bersama. Bermain dan membuat momen terbaik agar kita tidak saling merindukan jika berpisah. Aku ingin bersama kalian lebih lama, lebih dari yang ku bayangkan. Aku ingin, kita berkumpul ditaman, bercerita dan mengisahkan segalanya,” Mei memetakkan air mata setelah mengucapkan segalanya.
“Tapi sayang, Aku hanya anak desa yang tidak bisa bersanding bersama kalian. Orang tua kalian tidak menyetujui pertemanan kita. Mereka akan menyakiti kalian jika aku melakukan itu, maka aku memilih untuk berteman meski tidak begitu dekat. Maafkan aku...”
Lestari dan Putri ikut menangis mendengar apa yang Mei katakan. “Apa yang kamu bilang Mei, kami yang justru tidak pantas berteman denganmu. Kamu orang baik hingga tidak ada yang bisa mendapatkan teman sepertimu. Kamu adalah sahabat terbaik kami.” Ucap Putri dengan tangis pecah. Lestari mengangguk menyetujui ucapan Putri.
Orang tua yang menyaksikan hal seperti ini hanya bisa menatap sedu. Tidak ada yang tahu, bagaimana pertemanan anak mereka. yang ada dipikiran semuanya, hanya untuk kesuksesaan mereka.
Lestari mengeleng. “Mei, kemarilah ... mari kita buat kenangan bersama. Apa yang kamu lakukan disana?” Tanya Lestari.
Mei tersenyum, dia melangkah mendekati Findre dan kembali menatap kearah sahabatnya. “Tidak bisa, aku tidak bisa membuat kenangan lagi bersama kalian. Aku takut, semua yang ku rasakan menjadi sia-sia.” Jawab Mei.
Putri dan Lestari menatap bingung dengan apa yang sahabat mereka katakan. Di tempat Fandra dan Fandri berdiri. Mereka perlahan mendekat dibelakang Mei.
Dalam hitungan detik, Fandra menarik Mei seketika. Mei kaget melihat Fandra menariknya dengan cepat. Tetapi sayang, Findre memeluk pingang Mei hingga tidak ada yang bisa membawanya pergi.
“Lepaskan dia!” teriak Fandra.
Findre tidak berucap apa-apa, dia mengulurkan tangan hingga tiba pada pergelangan tangan Mei yang digenggam oleh Fandra.
Dengan wajah mengerut, Fandra menahan tangannya agar tidak terlepas dari Mei. “Aku tidak akan melepaskannya, dia tidak bersalah.” Ucap Fandra.
Matanya membulat ketika melihat Findre dan Mei menjauh dari tempat Fandra berdiri. Dilihatnya tangan yang jelas-jelas mengenggam tangan Mei. Kini tangan itu hanya mengenggam kekosongan.
“Ba-bagaimana bisa?” Guman Fandri melihat kejadian didepan mata. Hal mustahil seperti ini sangat mengejutkan semua orang.
Lestari dan Putri yang masih berlinang air mata ikut tercenga. Mereka merasa sesuatu yang aneh terjadi. Bagaimana bisa seorang dengan mudah melepaskan genggaman tangan Fandra, tanpa membuat seseorang itu sadar.
“Mei, apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan kepada mereka?” tanya Findre dengan menatap kearah Mei.
Mei menganggukkan kepala. Dia terlepas dari dekapan sang kekasih. Langkah kaki Mei mengarah kepada sahabatnya yang masih ditahan oleh pengawal.
Polisi tampak bersiaga, mereka menunggu aba-aba kapan akan menyerang. Melihat hal itu, Mei mantap kearah Fandra dan Fandri.
“Maaf sebelumnya, bisakah kalian membuat para polisi tidak menembakkan pistol mereka.” ucapnya.
Mendengar hal itu, Fandra dan Fandri tampak ragu. Begitu juga dengan kepala keluarga Altha yang menyaksikan dari kejauhan.
“Aku tahu sulit mempercayai semua ini. tenang saja, tidak ada yang akan terjadi kok. Kalian tidak akan terluka.” Ucap Mei.
Fandra dan Fandri melirik kearah Ayah mereka. Tuan Altha Ryuah mengangkat tangan menyuruh para polisi untuk menurunkan senjata.
Setelah semua aman, Mei membungkuk dan memberikan hormat yang amat tenang. Tampak dia sedang melakukan salam perpisahan.
Melihat hal itu, Lestari dan Putri merasa Mei sedang memberitahukan bahwa dia ingin berpisah dengan semuanya. Tangis mereka semakin mengalir dengan deras.
“Mei, apa yang kamu lakukan?!” Lestari dan Putri sama-sama berucap. Mereka melewati para pengawal dan bergegas mendekat kearah Mei.
Namun sayang, sayap hitam menghalangi mereka. Mei menatap kearah sahabatnya yang menangis dengan suara segukkan.
“Maaf, aku ingin mengatakan, bahwa dia adalah orang yang ku cintai. Aku mencintainya dan berharap dia akan membunuhku.” Ucap Mei.
Pandangan datar seketika tampak diwajah kedua sahabatnya. Setelah beberapa saat, keduanya menjadi panik seketika.
“Apa, membunuhmu?” tanya Lestari.
Mei menganggukkan kepala. Langkah kakinya menuju kearah Findre. Sayap hitam itu berubah warna menjadi tembus pandang.
Semakin Mei mendekati sang kekasih, sayapnya akan menyusut mengikuti langkahnya.
“Mei, jangan bercanda.” Ucap Putri.
Mei mengelengkan kepalanya. “Aku tidak bercanda Putri, apa yang ku katakan barusan itu benar. Aku ingin memilih kematian. Aku ingin lepas dari penderitaan yang ku alami. Makanya, aku memutuskan untuk meminta bantuannya. Sayang, aku malah jatuh cinta kepada Pria ini.”
Semua mendengarkan apa yang Mei katakan. Rasa tidak percaya menghilang karena melihat secara langsung apa yang terjadi.
“Putri, Lestari ... apa yang akan kalian lakukan jika dunia tidak mendukung kebahagiaanmu. Aku ingin mencintai Pria ini, tetapi keinginanku begitu kuat hingga aku memutuskan untuk mati ditangannya.”
Putri dan Lestari mengingat kejadian tadi pagi. Dimana Mei mengatakan bahwa dia sudah berjanji kepada seseorang agar bisa membunuhnya.
Percakapan itu tidak ada kebohongan sama sekali.
Mei menatap kearah semua orang, lalu berbalik kearah Findre. Dengan tangan terbentang, dia memeluk kekasihnya.
“Bunuhlah Aku, Findre.” Ucap Mei. Findre mengusap lembut punggungnya dan salah satu tangannya mengeluarkan tongkat dengan sabit cantik di ujungnya.
Melihat hal itu, mereka merasa semua ini mimpi. Malam yang diterangi bulan ini hanyalah imajinasi mereka. tetapi, melihat tongkat sabit itu menyentuh kepala Mei, Semua berteriak histeris.
“MEI!” Seru semua orang.
Mei memeluk erat kekasihnya, dia menulikan semua panggilan dan teriakkan seseorang. Di ciumnya pipi Findre dan berucap.
“Aku tidak perduli siapa dirimu. Apa kamu seorang hantu, monster atau malaikat sekalipun. Dengar Findre, cintaku kepadamu tetap sama. aku akan terus mencintaimu. Dan jika, kamu bukanlah Findre. Maka aku mencintai kamu yang merasuki tubuh ini. semoga, dikehidupan selanjutnya ... Kita bisa saling mencintai.” Ucap Mei dengan hembusan nafas terakhirnya.