
Hentakkan sepatu pantofel berhenti tepat dihalaman depan. Mia menatap tajam kearah gerbang dimana Mei sudah pergi bersama seseorang.
"Sial, dia pergi dengan orang lain?" Mia ingin melanjutkan langkahnya, tetapi seseorang dengan cepat menghentikan dia.
"Mia hentikan! Sebaiknya kita tidak mengejarnya." Ucap Roy sambil menahan bahu Mia.
Mendengar ucapan sang kakak, Mia menghela nafas dengan kasar. "Si-sial! Kenapa kita tidak mengejarnya Kak?" Tanya Mia.
Pandangan Roy menatap kearah buliran keringat diwajah Mia. Sapu tangan yang ada pada sakunya digunakan untuk mengusap wajah sang adik.
"Dengar Mia, sia-sia mengejarnya. Ku rasa, Mei sudah pintar berpikir, dia pasti akan kabur setelah melihat kita...." tutur Roy dengan menatap kearah gerbang sekolah.
Mia mengerutlah alisnya mendengar perkataan sang kakak. "Lalu, bagaimana cara kita mengatasi ini? Kita tidak punya banyak waktu."
"Aku sudah memikirkannya, tenang saja ... besok, kita akan mendapatkannya." Ucap Roy dengan rasa bangga.
Lirikkan mata Mia mengarah kepada sang kakak yang begitu serius. Dia pun memandang datar kearah gerbang.
...°°°...
Kenyamanan yang dirasa membuat Mei engan untuk bangun. Tetapi, mimpi yang ada didalam kenyamanannya berhasil membuka paksa mata yang terlelap itu.
"Di mana?" Tanya Mei setelah melihat apa yang ada didepan matanya.
Kamar yang sama, kasur yang sama, dan selimut yang menghangkatkan tubuhnya juga sama. Mei merasa kelegaan ketika tahu bahwa dirinya berada dikamar utama Findre.
"Berarti Findrelah yang telah menyelamatkanku." Guman Mei dengan perasaan senang.
Suara kamar terbuka mengambil alih perhatian Mei, dia menatap seseorang yang datang dengan membawa segelas susu ditangannya.
"Kamu sudah bangun." Tanya Findre dengan suara yang begitu dingin.
Sudah biasa mendengar perkataan sang kekasih bahkan sikap dan tingkahnya. Mei mengambil gelas yang diberikan kepadanya.
"Minumlah dan ceritakan apa yang terjadi kepadamu." Findre duduk di samping Mei dengan memandang kearah jendela kamar.
Cahaya senja memasuki celah jendela, menerangi bagian yang bisa dimasuki. Mei melihat wajah sang kekasih yang tengelam dalam kegelapan.
Dalam beberapa tegukkan, Mei memangku gelas ditangannya. "Mia mengejarku saat pulang sekolah."
Mei menatap susu yang hanya setengah gelas, hangat dari susu itu mengalir ditangannya. Dia kembali melanjutkan penjelasannya kepada sang kekasih.
"Findre, sepertinya keluarga angkatku masih berkeinginan untuk menjualku."
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Findre. Mei kembali berucap, "Findre, apa menurutmu ... aku lebih baik tidak turun sekolah?" Tanya Mei.
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari sang kekasih, Mei kembali berucap. "jadi, keputusanku be-"
"Pergilah ...."
Mei menoleh dengan cepat, suara sang kekasih tidak mungkin salah dipendengarannya. "Eh?"
"Pergilah kesekolah besok Mei, tidak akan terjadi apapun." Ucap Findre dengan berdiri secara tiba-tiba.
Mei mendongak untuk melihat wajah kekasihnya. Tetapi, hari yang mulai menjelang malam membuat wajah Findre tengelam.
"Yakinlah, mereka tidak akan melakukan apapun kepadamu." Findre mengambil gelas yang ada ditangan Mei.
Perkataan yang Findre berikan membuat Mei bingung. Dia merasa kekasihnya tengah menyembunyikan sesuatu.
Pintu kamar tertutup dengan perginya sang kekasih, Mei diam menatap kepergiannya tanpa mengucapkan apa-apa.
Mei berpikir dengan keanehan kekasihnya, beberapa hari yang lalu mereka masih saling bertukar pikiran dan pelukkan. sekarang, Mei merasa ada yang salah.
"Apa yang telah terjadi, kenapa Findre tampak begitu aneh." Mei berguman dengan perlahan bangun dari tempat tidur.
"Aneh, seharusnya dia memelukku, menenangkanku, atau bisa saja ia berjanji palsu kepadaku. Tetapi, kenapa sekarang berbeda?"
Mei perlahan mendekati jendela, malam hari yang mulai tampak begitu disambut oleh bintang-bintang dilangit. Mereka seakan-akan menantikan kedatangan bulan untuk menerangi malam.
...°°° ...
Diruang tengah, Mei menyibukkan diri dengan merapikan pakaian yang telah kering. Dia tidak ingin mencari keberadaan kekasihnya yang hilang entah kemana.
Seperti biasa, Findre akan pergi tanpa izin. Mei tidak memperdulikan hal itu, karena kepercayaannya selama ini kepada sang kekasih sangatlah kuat.
Namun, memikirkan semua itu membuat perasaan Mei semakin tidak tenang. Kian hari, Findre seakan menjauh darinya. padahal mereka baru saja berbaikkan. Lalu, 3 hari kemarin sang kekasih menjanjikan sesuatu untuk membunuhnya.
Sekarang, Mei tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jika menghilangkan keraguan di hati, dia mampu melakukannya. Tapi, bagaimana jika keraguan itu adalah jawaban yang selama ini diperlukan.
"Apa aku harus pergi ke sekolah?" Mei berguman sambil menyimpan beberapa pakaian yang sudah dirapikan.
Setelah semua pakaian tersimpan, Mei berniat untuk menyiapkan makan malam. Saat tiba di dapur, seorang pria sudah selesai menyantap makan malamnya seorang diri.
"Findre?" Mei kaget melihat kekasihnya bangun tiba-tiba. Dia melihat gerak gerik sang kekasih yang tengah membersihkan piringnya sendiri.
"Apa yang harus ku bicarakan?" Benak Mei.
"Pergilah ke sekolah Mei, tidak perlu memikirkan kejadian tadi pagi." Findre berucap tanpa menoleh kearah kekasihnya.
Mendengar ucapan yang tiba-tiba, Mei seketika mengeratkan genggamannya di sisi pakaian. "A-apa yang kamu katakan Findre?" Tanya Mei dengan hati-hati.
"Pergilah ke sekolah Mei, tidak perlu memikir-"
"Kenapa?!" Mei memotong perkataan sang kekasih, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Kenapa pria yang dicintai begitu ingin membuatnya pergi ke sekolah.
"Kenapa kamu menyuruhku pergi ke sekolah? Bukan kah kamu tahu bahwa aku hampir ditangkap oleh Mia! Findre, jika aku tertangkap lagi, kamu tidak akan bisa melihatku." Mei berucap dengan nada yang tinggi.
Di dapur dengan suasana dingin, suara Mei bergema hingga membuatnya terteguh sendiri. Findre tidak berreaksi, sang kekasih kembali berucap hal yang sama.
"Pergilah ke sekolah Mei."
Mei mengerutkan alisnya, kekesalan didalam diri membuat dia menarik baju Findre dan mencengkramnya.
"Apa kamu melupakan janjimu Findre? Kamu ingin aku di tangkap oleh keluarga angkatku? Luar biasa, apa kamu sekarang tidak bisa memenuhi janji itu." Mei menatap dengan pandangan serius, matanya begitu lekat melihat kekasihnya.
Namun, Mei merasa dia telah berbicara dengan seseorang yang tidak akan mendengarkannya. Dilihat sang kekasih sangat tenang menatap dirinya, Mei memutuskan pergi meninggalkan Pria itu seorang diri di dapur.
"Sial, kenapa aku malah marah kepadanya. Dia sudah banyak membantuku ... seharusnya aku lah yang harus di marahi, bagaimana pun aku telah percaya kepadanya." Mei mengusap air mata yang belum sempat mengalir. Dia melanjutkan langkahnya hingga tiba di kamar utama.
Mei tidak ingin mengulangi hal yang sama, dia tidak ingin kekasihnya marah kembali. Keinginannya, tubuh yang lemah itu bisa di bunuh dengan baik tanpa membuat sang pembunuh marah.
"Ku harap dia tidak marah kepadaku." Benak Mei dengan berbaring di tempat tidur.
Tidak lama dia berbaring, suara pintu terbuka tiba-tiba membuat Mei bangun seketika. Matanya melihat sang kekasih membawa makan malam dengan begitu hati-hati.
Hatinya masih kesal, pikirannya masih belum tenang. Tetapi, melihat Findre seperti ini, keluluhan hatinya menghilang seketika.
Findre meletakkan piring dan gelas di atas meja. "Duduk dengan benar, aku akan menyuapimu."
Seperti perintah tetapi Mei tidak menolak mendengar ucapan Kekasihnya, dia duduk dengan tenang menghadap kearah Pria yang dicintai.
Suapan pertama diterima oleh Mei dengan tenang. Masakkan asam manis sangat enak dikunyah dalam mulutnya, tidak lupa dengan usapan lembut dari tangan sang kekasih.
Setiap Findre menyuapinya, Mei akan menerima usapan lembut untuk menenangkan hati. "Findre, bagaimana aku bisa marah kepadamu, jika kamu memperlakukanku seperti ini." Benak Mei dengan batin yang menangis bahagia.
Rasa cintanya semakin kuat dan keinginannya semakin tertanam. Mei berharap, hari esok tidak akan tiba.
"Tidurlah, besok semua ada di tanganmu. Kamu ingin ke sekolah atau tidak, itu adalah pilihan mu Mei. Jadi istirahatlah...." Findre menatap tenang dengan memberikan hal yang sering didapat oleh Mei.
Ciuman kening yang menjadi penjaga dalam tidurnya, Mei memeluk kekasihnya yang ingin bangun. "Maaf Findre, aku telah marah kepadamu."
Findre tidak mengatakan apa-apa, dia mengusap punggung Mei dengan perlahan dan melepaskan pelukkan mereka.
"Tidurlah."
Mei mengangguk dan melelapkan diri untuk tidur dengan tenang. Dia tidak tahu bahwa seseorang merasakan rasa kesal, sakit dan menderita bersamaan.