
Bel pulang sudah berbunyi, Mei dan kedua sahabatnya berpisah di dalam kelas. Kepergian mereka tidak membuat Mei merasa sedih, dia mengemas tasnya untuk segera pulang.
Mei berpikir, selama dua hari ini dia tidak mendapatkan perlakukan aneh dari Mia dan Roy. Jadi Mei merasa hari ini akan aman untuknya berjalan tanpa ada Findre.
Namun, siapa yang menduga bahwa keamanan itu menghilang saat Mia menghalangi langkahnya. Mei terteguh melihat adik angkat yang memandang dengan wajah serius.
“Kakak, mari ikut aku kembali.” Ajak Mia.
Mei mengerutkan alisnya mendengar ucapan Mia. “Mia, aku tidak akan tertipu dengan ajakkanmu. Pergilah, aku tidak ingin menyakitimu.” Ucap Mei.
Mia tersenyum mendengar ucapannya. “Oh, apa kamu sekarang belajar membela diri Kak Mei? ... jangan lakukan itu, kami sekeluarga masih menyayangimu.” Ucap Mia dengan perlahan melangkah.
Mei memundurkan langkahnya, dia menatap Mia yang semakin mendekat. “Aku tidak akan terjebak lagi.”
Mei mengambil langkah lebar menuju ke pintu kedua di dalam kelas. Kelas mereka memiliki dua pintu, ada pintu depan dan belakang. Pintu yang Mei lewati adalah Pintu belakang.
“MEI!” teriak Mia yang kaget melihat Mei berlari mendekati pintu belakang. Mia bergegas keluar dari pintu depan untuk mengejar Mei.
Mei sudah menduga bahwa Mia akan menghalangi jalan dari pintu depan, karena pintu depan lebih cepat keluar dari sekolah. Sedangkan pintu belakang memiliki jalan yang memutar. Mau tidak mau, Mei harus mengambil langkah memutar untuk menjauhi Mia.
“Mei! Berhenti!” teriak Mia yang ikut mengejar.
Mei tidak mendengarkan teriakkan Mia, dia terus berlari hingga menuruni tangga, ada dua tangga yang harus dia turuni. Mei mengambil dua anak tangga untuk membawanya turun dengan cepat.
Tidak perduli apakah akan ada bahaya, Yang ada dipikiran Mei, dia bisa menjauh dari Mia. Ketukan sepatu fantopel bergema di lorong, Mei dan Mia saling berkejaran hingga tidak memperdulikan beberapa siswa.
“Mia, apa yang kamu inginkan? Apa mereka masih menginginkanku untuk dijual?” benak Mei. Dia mengambil ancang-ancang untuk berbelok.
Setelah Mei berbelok, yang di lihat oleh Mei adalah lapangan tengah tempat upacara. “Aku malah semakin menjauhi gerbang masuk.” Benak Mei.
Lapangan tengah menjadi inti dari sekolahnya, maka Mei akan berputar lagi untuk menemukan jalan keluar. Langkah sepatu Mia masih terdengar, tidak jauh dari Mei sendiri.
“Mei, berhentilah!” teriak Mia dengan suara yang mengema.
Gesekkan dan hentakan sepatu Mei begitu terdengar ditelinga. Mei terus berlari dengan memikirkan jalan agar dia bisa cepat pergi dari Mia.
Beberapa kelas sudah dilewati dan untungnya para siswa sebagian sudah pulang, yang tersisa hanya para anak ekskul. Tidak perduli pandangan siswa yang tersisa, Mei mengambil kesempatan untuk menjauhkan Mia.
Di kerumunan orang, banyak yang sedang sibuk, salah satunya para anggota osis. Melihat banyak yang berkumpul di ruangan mereka, Mei bergegas mengunakan kesempatan ini untuk menjebak Mia.
“Permisi ... permisi.” Mei melewati beberapa anak osis yang sedang rapat.
“Astaga, Apa yang kamu lakukan?”
“Eh, bukannya itu Mei ya ... ngapain disini?”
“Jangan menganggu rapat osis!”
Mei tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, yang terpenting dia bisa keluar dengan aman dari kerumunan.
Berbeda dengan Mei, Mia di tahan oleh salah satu osis. “Hei Mia, bisakah kamu tidak bermain lari-larian seperti ini?” tanya salah satu anggota osis.
“Menjauhlah, aku ada keperluan dengan kakakku.” Ucap Mia dengan menjauhkan salah seorang osis yang menahannya.
“kalau ingin mengejarnya? cari jalan lain sana.” Beberapa osis menghalangi langkah Mia. Karena kesal buruan lepas, Mia mengambil jalan yang lain.
“Sial, para osis ini ... kalau aku melawan, besok bk yang akan menjemputku.” Guman Mia melanjutkan larinya.
Mei menoleh kebelakang dengan langkah yang mulai berjalan, dilihat Mia tidak menyusul dirinya. Rasa puas setelah bebas membuat wajah Mei tampak bahagia.
“A-aku, aku bisa melarikan diri dari me-mereka?” guman Mei. Gemetar ditubuhnya perlahan meningkat seketika.
Mei sebenarnya tidak sanggup berlari hingga sejauh ini. dia juga tidak kuat menghindari Mia, apa lagi Roy. Mei merinding membayangkan dia ditangkap oleh mereka, bagaimana jika tubuhnya di penuhi luka atau kakinya di patahkan oleh Roy, seperti apa yang Roy katakan.
Mei merasa seluruh tubuhnya lemas seketika. Bayangan cambuk kembali menghantui dia hingga Mei bersandar di salah satu pohon dekat jalan masuk halaman utama.
Tubuh yang tidak lagi kuat berdiri membuat Mei perlahan jatuh dari sandarannya. Di mata Mei, dia melihat seseorang memeluknya dan mengendong dengan perhatian lembut yang sama.
“Findre....” Mei berguman dengan pelan, dia mendengar suara deheman yang menjawab seruannya.