
“Apa kamu yakin dengan hal ini?” tanya Jimto kepada seorang Lelaki yang tidak jauh dari usainya.
“Aku sangat yakin, jadi ku katakan kepada kalian. Aku tidak ingin terkena masalah jika terjadi sesuatu, maka lakukan dengan benar.” Ucap lelaki yang menatap serius dengan tangan bersedekap didada.
Jimto tersenyum menatap lembar kertas yang berniat jutaan ditangan. “Baiklah, kalau kamu sudah membayar dengan harga yang cukup, kami akan memberikan hasil terbaik untukmu.”
Kesenangan tampak di wajah sang lelaki yang mengangguk puas. Ia akan menyaksikan hasil dari jebakannya untuk seseorang.
...°°°...
Di dalam ruang kelas yang penuh akan kebisingan. Semua siswa sibuk dengan bermain dan bergosip. Tentu gosip tentang Mei tidak ketinggalan.
“Dia ke mana saja selama seminggu ini?”
“Apa dia menjual dirinya?”
“Tidak mungkin, kalian lupa dengan Mia? Saat ini saja Mia tidak menunjukkan batang hidungnya, pasti si Mei itu ikut terkena masalah.”
“Oh ya, kamu benar sekali, kita tidak lupa hari dimana sikap buruk Mia terungkap, sangat mengerikan.”
“Tapi dilihat-lihat, Mei sepertinya tidak terluka, atau mengalami memar-memar. Bukannya saat itu kepalanya terbentur?”
“Eh benar juga, dia juga tampak sehat banget, bahkan ceria gitu.”
Bisikkan orang-orang selalu terdengar ditelinga. Mei tidak merasa sedih, ia malah senang mendengar mereka memperhatikan keadaannya.
Hal yang paling memuaskan hati, Mei mendengar bahwa dirinya tampak sehat. “Tentu saja, kesehatan ku dijamin oleh Findre.” Benak Mei dengan percaya diri.
“Semua, berkumpul di lapangan!” Perintah ketua kelas yang datang dengan kebijaksanaannya.
Semua bergegas mengikuti ketua kelas menuju kelapangan. Ada dua lapangan yang terbagi didua tempat. Di belakang sekolah dan depan sekolah.
Lapangan depan sekolah digunakan khusus untuk upacara pagi dan kegiatan senam dihari Jumat. Sedangkan di lapangan belakang, digunakan khusus untuk praktik, dari bola kecil hingga bola besar.
Semua siswa kelas 11-1 berkumpul di lapangan belakang, disana sudah ada kelas 11-2 dari jurusan lain.
Mei melihat kumpulan mereka merasa khawatir. “Roy, apa ia turun sekolah?” benak Mei.
Mei ditarik oleh Lestari dan Puput ke barisan paling belakang. Mereka memang sudah sangat menyukai hal seperti ini. upacara pagi akan sangat memalukan baris paling depan, dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. setiap ada baris-berbaris, Mei akan mengikuti sahabatnya untuk berbaris di belakang.
“Semua sudah berkumpul, hari ini kita akan bermain futsal. Jadi bagi tim kalian!” ucap Guru olah raga yang menatap kearah murid-muridnya.
Tim futsal terbagi dengan cepat. Mei lagi-lagi mengikuti sahabatnya. Dimana ada Mei pasti ada sahabatnya.
“Oh ya, Putri. Kamu baik-baik saja kan?” tanya Lestari.
Mei menatap sahabatnya Putri yang memiliki penyakit asma. Jika berlebihan dalam berolah raga, sahabatnya itu akan mudah lelah dan sesak nafas.
“Benar, gimana kalau kamu izin saja Putri.” Usul Mei.
Putri menggeleng mendengarnya. “Tenang saja, Aku tidak akan kenapa-napa kok.” Dengan percaya diri Putri berucap.
“Putri, kamu istirahat saja. Fandra sudah meminta izin ke bapak kalau kamu tidak perlu ikut praktik kali ini.” ucap Guru olah raga dengan tiba-tiba.
Semua menatap kearah Putri yang menatap datar mendengar ucapan sang guru.
“Enak banget ya, punya tunangan penerus sekolah ini.”
“Yeah, jangan ditanya enaknya kayak gimana. Sudah pasti harimu penuh akan kebahagiaan.”
Sindir gadis-gadis berwajah cantik dengan pemerah bibir yang mencolok untuk semua orang. Putri yang mendengarnya hanya diam membisu, beda dengan Lestari yang naik darah mendengarnya.
“Hei, kalau ngomong jangan gitu dong, sini berhadapan kita!” pekik Lestari yang ditahan oleh Mei.
Lestari mengangguk dengan cepat, ia bahkan berdiri menjauh dari kerumunan gadis berwajah cantik yang memuakkan mata.
“Sudah semuanya, baiklah...Tim A dan Tim B silahkan bermain. Kita akan bermain selama 20 menit.” Guru olahraga berdiri di tengah lapangan dengan bola dikakinya.
Seluruh tim langsung berkumpul di lapangan, Mei dan kedua sahabatnya ikut berkumpul karena tim Mei adalah Tim B.
Futsal kali ini campuran, lelaki bisa ikut karena kurangnya jumlah kelompok perempuan.
Dengan peluit yang ditiupkan, permainan pun dimulai. Mei dan Lestari sangat menikmati olahraga ini, sikap lelaki mereka muncul ketika melihat bola, berbeda dan Putri yang hanya bisa menonton sahabatnya.
“Mei, sini!” teriak Lestari dengan cepat. Mei langsung menendang bola kearahnya.
Permainan semakin seru karena kecepatan dan ketangkasan dalam bersaing mulai meningkat. Apa lagi lelaki yang ada ditim mulai saling bekerja sama dengan perempuan.
“Hei disana, disana!”
“Itu, bolanya...yeah!”
“Ayo! Ayo!”
Kesengitan yang ada membuat Mei hilang kewaspadaan. Ia tidak menyadari kehadiran lelaki yang ada disampingnya.
Saat rasa kehatian hadir disisinya, Mei dengan cepat menjauhkan diri hingga menubruk seseorang.
“Ah, maaf!” ucap Mei. Ia ingin membalikkan tubuhnya, tetapi Lelaki yang ada didepan Mei sedang mengangkat kaki untuk menginjak kakinya.
Mei memandang tidak percaya, lelaki dari jurusan lain itu ingin mencelakainya.
“Ja-...” ucapan Mei terhenti seketika, tubuhnya tergeser dengan cepat dalam dekapan seseorang. Mei tidak perlu mengetahui siapa yang mendekapnya, ia sudah mengenal tangan itu. tangan yang selalu memeluk tubuhnya ketika tidur.
“Findre!” benak Mei dengan rasa tenang disisinya.
Permainan tidak terhentikan, bahkan penonton tidak menyadari kedatangan Findre disana. Mei yang masih di dekapan tidak diperhatikan.
Setelah lama dalam perlindungan Findre, Mei dilepaskan oleh sang kekasih yang kini mengiring bola.
“Gol!”
“Yeah Gol!”
“Tim B menang, tim b menang!”
Kericuhan terjadi tanpa menyadari siapa yang menendang bola disana. Mei tersenyum melihat sang kekasih melangkah mendekatinya.
“Apa kamu terluka?” tanya Findre dengan berbisik ditelinga Mei.
Mei menggeleng menjawab pertanyaan itu. ia merasa Findre memberinya usapan lembut dikepala sebelum melangkah pergi.
“Mei, kamu lihat...kita menang, yuhu~” Lestari merangkul Mei untuk menghampiri Putri.
Mereka kembali ceria dengan nilai sempurna yang didapat. Mei sendiri merasa senang, karena Findre datang melindungi dirinya.
“Kamu selalu ada disampingku, Findre.” Benak Mei.
Dari kejauhan, seseorang menatap kesal karena kegagalan yang ia dapatkan. Rasa kesalnya dilampiaskan pada kaleng minuman yang ada ditangan.
Berbeda dengannya, ada seseorang yang menggigit kuku jarinya melihat sesuatu yang tidak bisa dipercayai olehnya sendiri.
“Ba-bagaimana bisa, bagaimana bisa dia kembali lagi?” benak Fandra menatap lapangan belakang.