
Mia menatap dengan pandangan tidak percaya. Air matanya tak henti mengalir, segukkannya terdengar disetiap tarikkan nafas.
“A-Ayah! I-Ibu! Ka-Kak Roy!” guman Mia. Dia membangunkan tubuhnya secara perlahan. Kakinya begitu sakit untuk di gerakkan, tangannya tidak berdaya menampung tubuhnya, semua ini terjadi karena kedatangan Tuan Dire.
Niat sekeluarga ini tidur dengan tenang. Tetapi, semua terkejut melihat kedatangan mobil yang mereka kenali.
“Tuan Dire, mereka kembali?” benak Mia menatap kearah mobil yang berhenti. Ada tiga mobil disana, seseorang dengan perlahan keluar dari mobil.
Sepuluh penjaga berdiri di dekat pria tinggi dengan pandangan datarnya. Mia menatap sang Ayah yang bergegas mendekat.
“Selamat malam Tuan Dire, ada perlu sesuatu?” tanya Ayah Jakya.
Tuan Dire menatap kearahnya dengan pandangan santai. “Ada, kamu mengkabariku kalau Mei sudah di tangkap. Bawa dia kesini!” perintahnya.
Ayah Jakya diam sesaat. Ibu Mia,kakak Roy dan Mia saling terdiam. Mereka tidak bisa menyembunyikan apa yang telah terjadi, keadaan mereka sudah menjelaskan segalanya.
“A- itu ... maaf,”
“Aku tahu, aku melihat semuanya. Kalian melepaskan buruan kalian sendiri bukan?” potong Tuan Dire. Dia menatap kearah pengawalnya.
Pengawal itu bergegas ke arah gudang dan memeriksa semua yang terjadi. Mia di dekati oleh sang Kakak, dia di jaga dengan kehati-hatian Roy.
Tidak menunggu lama, pengawal itu kembali dengan hasil yang di dapat. “Katakan, apa yang kamu lihat?” tanya Tuan Dire kepada Pengawalnya.
“Tuan, kami melihat hidangan yang tidak di sentuh sama sekali. Lalu jejak kaki seseorang, tapi saya rasa bukan mereka yang memiliki jejak kaki itu.” jawab Pengawal.
Tuan Dire mengangguk. “Kalian membohongiku? Sepertinya Putri kalian sudah memiliki seseorang. Aku tidak akan tinggal diam dalam hal ini, bagaimana cara kita menyelesaikannya?” tanya Tuan Dire.
Jakya tampak bingung untuk menjawab apa yang di tanyakan Tuan Dire. Saat ini, keluarganya terkepung dengan kehadiran para penawal. Tampaknya, Tuan Dire sudah menyiapkan segalanya.
“Ka-kami akan membawa Mei kepada anda Tuan Dire. Ja-jadi, tolong beri waktu...,”
“Waktu?” potong Tuan Dire, “Berapa lama aku harus menunggu, Istriku tidak sanggup lagi bertahan. Begini saja, bagaimana kalau Mei di tukar dengan Mia. Putri kandungmu itu?”
Mia bersembunyi dipunggung Roy, dia merasa takut mendengar ucapan Tuan Dire. “Lelaki tua itu menginginkanku, naif sekali.” Benak Mia.
Sang Ibu dengan cepat menolak apa yang diucapkan oleh Tuan Dire. “Jangan berpikir kalau aku akan memberikan putriku. Sehelai rambutnya pun tidak akan ku berikan.” Ucapnya dengan penuh kekesalan.
Tuan Dire hanya memandang datar mendengar ucapan Istri Jakya. “Lalu, apa yang akan kalian ganti kepadaku? ... nyawa kalian?” tanya Tuan Dire dengan wajah dinginnya.
Semua merinding mendengar apa yang dia ucapkan. Tuan Dire berhasil mengetarkan seluruh keluarga Jakya.
“Ma-maaf Tuan Dire, mohon berikan waktu lagi kepada kami.” Pinta Jakya, dia tidak ingin keluarganya terluka karena masalah seperti ini. Mei masih bisa mereka kejar.
“Sepertinya aku tidak bisa memberikan waktu lagi. kalian ... selesaikan mereka, sekarang!” perintah Tuan Dire.
Malam yang seharusnya sedikit tenang diganti dengan suara tembakkan. Semua warga memilih untuk menutup telinga mereka agar tidak ikut terkena masalah.
Mia mendapatkan perlindungan dari sang Kakak. Saat genjatan senjata terdengar ditelinga. Mia mendapati pandangannya mengelap karena di peluk oleh Roy.
“Kakak Roy ... Ibu, Ayah?!” guman Mia mengeratkan pelukkannya. Ada sesuatu yang dia rasakan, sesuatu yang seperti air di tangan.
“Apa ini?” benak Mia.
Genjatan senjata berhenti setelah beberapa menit berlalu. Mia ingin melihat apa yang terjadi, tetapi Roy mengeratkan pelukkannya.
“Lepaskan dia!” ucap pengawal menarik salah satu tangan Roy. Mia merasakan tangan kakaknya di tarik dengan paksa.
“Ti-tidak! Aku tidak akan melepaskan adikku.” Ucap Roy mengeratkan pelukkannya. Mia merasa perasaan yang meluap, air matanya seketika tumpah membasahi baju kaos sang kakak.
“Tidak! Aku tidak mau!” teriak Mia saat tubuhnya di tarik. Roy bergegas menghempaskan tangan pengawal, dia kembali memeluk adiknya dan menatap kearah Tuan Dire.
“Dengar, aku tahu bahwa kamu berhasil menangkapnya. Jika ada rencana untuk mengantikan adikmu, katakan apa itu.” ucap Tuan Dire.
Roy merasa bahwa ucapan Tuan Dire merupakan sebuah tawaran berkerja sama. jika dia menolak, semua akan meninggal di tangan Tuan Dire.Roy mengeratkan pelukkan kepada adiknya.
“Aku ... aku punya usulan untuk anda, jika berkenang mendengarkannya. Tolong, jauhkan seluruh pengawalmu dari adikku.” Pinta Roy.
Tuan Dire mengangkat tangannya, seluruh pengawal menjauhi Roy dan Mia.
“Terima kasih ... Mei, dia punya seorang teman. Orang tua temannya sangat tidak menyukai putri mereka dekat dengan Mei. Jadi, anda bisa mengunakan bantuan mereka untuk menangkap Mei.” Ucap Roy.
Tuan Dire mengerutkan alisnya. “Anak muda, jangan bermain-main denganku. Katakan saja, kenapa aku harus meminta bantuan mereka?”
“Karena, hanya mereka yang dekat dengan Mei. Jadi, anda tidak akan kehilangannya.” Jelas Roy.
Kerutan alis Tuan Dire berkedut. Dia tidak bisa percaya dengan omongan anak muda di depannya. “Siapa, siapa yang harus aku temui?”
“Putri, Keluarga B.” Jawab Roy.
Tuan Dire yang tadinya merasa kesal seketika diam. “Nak, Keluarga B? Apa Mei memang berteman dengan putri mereka?”
Roy mengangguk, dia tahu kenapa reaksi Tuan Dire seperti ini. keluarga B, merupakan keluarga yang setara dengan keluarga Lestari. Mereka merupakan pengusaha yang setiap keturunannya mendapatkan kekayaan. Dua keluarga ini merupakan bawahan dari keluarga Altha.
Saat itu, Roy kaget ketika Mia berpacaran dengan Fandra, penerus keluarga Altha. Dia marah karena adiknya menjual diri kepada Pria yang suka bermain di sana sini. Tetapi, uang membutakan mata. Mia jatuh kedalam dekapan Fandra, lalu adiknya di hempaskan saat pertunangan Fandra bersama Putri.
Hal itu sempat membuat Roy marah, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk melampiaskan amarahnya, Mei adalah tempat yang tepat. Sekarang, ke siapakah yang harus menanggung semua ini.
“Baiklah ... Ayah dan Ibu mu sudah pergi. tinggal kalian berdua, semoga kalian bisa melanjutkan hidup.” Ucap Tuan Dire. Seluruh pengawal mengikuti langkahnya, hingga mereka pergi menghilang di indahnya pagi.
Cahaya matahari mulai terbit, Roy melepaskan pelukkannya dan menjatuhkan diri di pangkuan sang adik.
“Kakak? Ku mohon, jangan tinggalkan aku!” seru Mia sambil mendekap wajah Roy.
Darah mengalir perlahan di tangan Mia, dia merasa bahwa seluruh tubuh Roy terkena peluru. Warna merah menghiasi tangannya.
“Dengar Mia, pergilah. Pergilah menjauh dan tinggallah di rumah bibi. Mia, Kakak berharap kamu tidak memiliki sikap seperti ibu, jadilah gadis cantik yang dicintai semua orang ... jadi, pergilah!” Roy membelai perlahan wajah adiknya. Tidak lama, hembusan nafasnya berakhir.
Mia dengan pandangan datar melihat mayat Ayah,Ibu dan Kakaknya. Para warga akhirnya menampakkan diri. Mereka membantu tanpa banyak bertanya.
Setelah mengubur semuanya, Mia memilih untuk tinggal di dalam rumah. Rumah yang memiliki sejuta kenangan pahit dan bahagia. rasa hatinya bercampur aduk. Sedih, marah, kesal dan kecewa memenuhi pikirannya.
Ucapan terakhir sang Kakak terganti dengan rasa dendam di hatinya. “Mei, ini ... ini salah mu kan? Iya, ini salahmu. Kehadiranmu di keluarga ini, menghancurkan segalanya. Orang tua ku pergi, kakakku pergi dan cintaku juga pergi. Mei ... Aku akan membunuhmu!”
Pandangan Mia menjadi datar, amarahnya meluap hingga tidak ada senyum yang selalu tampak.Kepalan tangan begitu erat hingga aliran darah mengalir di sela-sela jari. Mia menetapkan di hatinya kalau dia akan membunuh Mei.
...°°°...
“Ouch!” Mei mengaduh kesakitan. Kakinya di oleskan dengan obat oleh Findre.
“Jangan mengaduh seperti itu. kakimu perlu di obati, kapan kamu akan sembuh.” Ucap Findre yang masih fokus dengan kegiatannya.
Mei memandang tenang kearah kakinya. Pagi hari ini, mereka menyambut hari dengan kebahagiaan dan kehangatan. Sarapan bersama, bercerita, hingga bolos bersama.
Namun, di dalam hati Mei. Kebahagiaan dan kehangatan itu menghilang ketika keinginannya hadir. Keinginan ingin di bunuh, Matanya menatap kearah Findre.
“Findre, aku tidak ingin menunggu semuanya sembuh. Besok aku akan kesekolah dan menjalani hari sebelum kamu membunuhku. Aku ingin menghabiskan sisa waktu bersama sahabatku. Saat waktuku tiba, tidak akan ada penyesalan ketika kamu membunuhku.” Ucap Mei, Findre tidak berkata apa-apa saat mendengarnya.