Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 48 : Malaikat Maut



Haru terdiam didepan ruang mayat. Dia merasa nasibnya sangat mengerikan. Bagaimana bisa Malaikat Maut berpangkat tinggi malah bertugas seperti ini.


Dia menyesal dengan apa yang dilakukannya saat itu, seharusnya dia tidak menghiraukan Pria asing yang mengajaknya berbicara.


“Nasib malangku.” Guman Haru.


Pintu ruang mayat dibuka olehnya dengan perlahan, terlihat banyak Ruh yang menunggu malaikat maut menjemputnya. Tetapi, Ruh yang berada disini kemungkinan besar menyimpan sesuatu didunia, hingga sulit membawa mereka kembali, kecuali sang penguasa mengijinkannya.


“Mereka pasti lelah berada disini.” Benak Haru.


Saat kakinya melangkah masuk, ruh yang ada didalam menatap kearahnya. Mereka bergegas mendekat dengan paksa, kaki mereka terikat dengan tubuh mereka sendiri. jadi, Haru bisa tenang melihatnya.


“Wahai malaikat, bawalah nyawa ku dan izinkan aku kembali pulang.”


“Malaikat yang bijaksana, bawalah ruhku sudah belasan tahun aku disini. Tidak ada yang bisa ku lakukan disini.”


“Wahai Malaikat baik hati dengan ketampananmu. Tolong, bawalah Ruh ku kembali kepada Penguasa.”


Permintaan yang membuat Haru geli sendiri. bagaimana bisa mereka mengatakan semua itu kepadanya. Dia hanya seorang Malaikat, tidak ada hak mengerjakan itu semua. Yang menahan mereka disini karena keserakahan mereka sendiri.


Haru menulikan pendengarannya dan bergegas mencari seseorang yang akan menjadi misi besarnya. Haru berhenti melangkah dibagian pojok ruangan, dia melihat seorang Pria yang duduk dengan kepala menunduk.


“Apa, Kamu Findre?” tanya Haru.


Pria yang dipanggilnya segera menoleh, wajahnya begitu tampan dengan bola mata hitam. Meski begitu, sikapnya cuek dan terbilang dingin. Tetapi, kebaikan dihatinya membuat Pria didepan Haru mendapatkan cinta dari Penguasa.


“Siapa kamu? Dan bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Findre dengan wajah kaget, dia memundurkan tubuhnya karena merasa tidak tenang berada didekat Haru.


“Aku? Namaku Haru, aku adalah Malaikat Maut. Apa kamu sudah melupakanku?” jawab Haru dengan tangan terlipat didada.


Findre mengerutkan alisnya. “Malaikat Maut? Aku pasti berimajinasi, tidak ada malaikat maut didunia ini.” celetuk Findre.


Haru sudah biasa mendengarkan perkataan orang seperti ini. mereka tidak percaya dengan adanya Penguasa, yang ada dipikiran mereka. hidup ya hidup, mati ya mati, Tidak ada yang lain.


“Kamu adalah Pria pertama yang menyentuhku dan satu-satunya orang yang mengajakku berbicara saat aku bertugas. Apa kamu tidak ingat dengan sabit ini.” Haru mengeluarkan sabitnya. Sabit yang cantik dengan aura kuat disekitarnya.


Findre yang melihat itu berbinar. “Jadi, kamu orang yang ku ajak bicara itu?” tanyanya dengan perasaan kagum.


Haru mengangguk, disimpan tongkat sabit miliknya. dia duduk diranjang mayat milik Findre.


“Kenapa Kamu tidak mengikuti malaikat yang menjemputmu?” tanya Haru, saat dia dibawa oleh atasannya, seorang malaikat berpangkat 9 menjemput Findre.


Findre mengelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, saat ini aku ingin memastikan keberadaan gadis itu.” jawabnya.


Haru mengingat gadis yang dimaksud oleh Findre. “Apa yang kamu tunggu? Dia pasti sudah hidup sekarang.”


“Baguslah, tapi tetap saja ... aku tidak ingin kembali, entah kenapa aku merasa gadis itu akan menderita. Jika kematianku salah, maka aku akan sedih dengan kehidupannya.”


Haru menatap kearah lain dengan wajah bersalahnya. Dia menarik nafas sesaat lalu kembali menatap kearah Findre.


“Kedatangan ku disini karena ingin meminta izin kepadamu. Izinkan diriku mengambil tubuhmu dan membawa Mei kembali kepada Penguasa.” Ucap Haru.


Findre menatap bingung dengan wajah tercenga. “Mengambil tubuhku?”


Findre terdiam sesaat. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan tubuhku ini?”


“Aku akan menjadi manusia sementara waktu, lalu mencari keberadaan gadis itu dan mencabut nyawanya.”


Wajah Findre semakin tidak bisa mempercayai perkataan Haru, dia menatap kearah tubuhnya yang terlelap dengan nyaman.


“Ku rasa akan sulit, tidak lama lagi pemakamanku akan dilakukan. Apa kamu bisa mengambil tubuhku?” tanya Findre.


Haru mengangguk, “Aku hanya perlu meminta izin darimu. Jika kamu mengizinkannya, aku bisa memasuki tubuh itu dan membawanya pergi sebelum orang tuamu memakamkannya.”


Findre terdiam,dia memikirkan segala yang terjadi. Haru yang melihat hal itu menghela nafas dengan pasrah. Dia tahu, tidak akan mudah mendapatkan tubuh seseorang.


“Baiklah,” ucap Findre.


Haru terkejut hingga menoleh dengan cepat. “Hah?”


“Aku mengizinkanmu mengambil tubuhku. Jika memang gadis itu harus pulang, maka aku telah mengambil keputusan yang salah. Aku harus bertanggung jawab. Haru, aku mengijinkanmu mengambil tubuhku!” Findre berdiri dengan tatapan serius. Rantai yang terpasang dikakinya lepas seketika, Malaikat Maut berpangkat 9 datang dengan tiba-tiba.


“Salam, pak Haru.” Ucap malaikat berpangkat 9. Haru menganggukkan kepala menyambut ucapan Malaikat maut didepannya.


Findre mendekat kearah Malaikat Maut yang sudah ditolaknya sebanyak 9 kali. Dia tidak ingin pergi karena merasa kurang dengan keputusannya sendiri. setelah mendengar penjelasan Haru, dia akhirnya memutuskan keputusannya dengan tepat.


“Haru, jika bisa ... tolong, lindungilah gadis itu. entah kenapa, aku malah mencintainya. Aku tidak mengenalnya, bahkan tidak tahu namanya. Tapi, hatiku sakit melihatnya menderita.” Ucap Findre.


Haru menganggukkan kepala. “Hm, akan ku lindungi dirinya.”


Findre tersenyum, dia menatap kearah Malaikat maut yang berwajah tampan, sangat tampan membuat iri hatinya. Mereka menghilang dengan cepat setelah berpamitan.


Haru yang melihat hal itu merasakan perasaan aneh dihatinya. “Apa yang terjadi? Bukannya Malaikat tidak memiliki perasaan selain kesetiaan kepada Penguasa?” benak Haru.


Kepalanya mengeleng dengan cepat, dia bergegas mendekati tubuh kosong milik Findre. Banyak ruh jahat yang ingin menempati tubuh itu, tapi Haru melihat hal yang mengejutkan dirinya.


Tubuh itu begitu dijaga oleh Penguasa, bahkan Ruh jahat tidak bisa mendekat kearahnya. “Penguasa sangat mencintai ciptaannya.” Guman Haru.


Perlahan, wujudnya menyatu di tubuh Findre. Rasa sesak dan kebebasannya menjadi terbatas. Telinganya, perasaan, hingga mata yang berkedip bisa dirasa oleh Haru.


Dia membuka mata perlahan dan melihat posisinya masih diruang mayat. Tidak lama, datang Atasannya dengan pandangan datar.


“Dia pasti masih marah.” Benak Haru.


“Haru, penguasa mengatakan ... jangan sampai kelewatan lagi. usahakan secepatnya kamu membawa gadis itu kepada penguasa.” Ucapnya.


Haru berpikir sesaat. Dia baru bangun, dan baru mendapatkan izin dari pemilik tubuh ini. rasa lelah,luka dan kepala yang pusing terasa olehnya.


“Ku rasa, secepatnya akan sulit.” Ucap Haru. Dia memang merasa sulit dengan hal ini, bagaimana dia bisa bergerak jika tubuh asing ini terluka berat.


“Kamu pikirkan caranya. Penguasa akan menunggu hasil dari pekerjaanmu.” Wujud atasannya menghilang begitu saja.


Haru memandang datar dan melihat dirinya sendiri. perlahan dia mengeluarkan sayapnya, sayap hitam itu terbentang kuat hingga keluar dari ruang mayat.


“Sepertinya aku tidak harus mengunakan sayap ini. tapi, kekuatanku tidak dibatasi oleh Penguasa. Maka,” Haru mengerakkan kakinya dengan cepat, tubuhnya menghilang seketika.