
Di ruang Uks yang beraroma obat-obatan. Tak membuat dua orang yang ada didalam merasa risih.
Seseorang dengan lembut membalutkan luka yang ada diwajah gadis yang tengah tertidur lelap. Bukan, ia tengah pingsan saat ini. Orang yang membalutkan luka dengan telaten memberikan perlindungannya. Ia bahkan tersenyum melihat wanita yang mengerjab-ngerjabkan matanya.
“Ugh”Mei membuka mata menyadari bahwa saat ini ia merasakan sesuatu tengah menyentuh wajahnya. Sambil memindai dan mengembalikan pandangan. Ia memasang pendengarannya untuk mengetahui siapa yang menolongnya.
“Kamu terluka...apa sakit menerima benturan berkali-kali?” tanya seorang Pria yang Membuat Mei membelakkan matanya. Ia bahkan terduduk mendengar pertanyaan itu. sedangkan yang bertanya tertawa melihat tingkahnya.
Pria itu tak lain adalah Pria asing yang baru saja kemarin menjadi kekasihnya. Sekarang ada disini dengan seragam yang sama dikenakan oleh Mei. Membuat Mei memandangnya tanpa berkedip.
“Kenapa,aku tampan?” tanya Pria asing itu kembali, Mei yang mendengarnya mendengus. “Iya” jawabnya tanpa basa-basi.
memang orang didepannya ini tampan. Matanya, hidungnya bahkan tinggi pria ini lebih tinggi dari pria yang ditemui oleh Mei.
Mendengar jawaban yang Mei berikan, membuat Pria asing itu tertawa bebas tanpa hambatan. Ia pun memberikan Mei obat dan air minum setelah tawanya reda.
“Ini minumlah,”ucapnya. Mei yang melihatnya langsung menolak. “Tidak,aku ingin langsung mati saja tadi. kenapa kau menyelamatkanku?”tanya Mei dengan mata yang menatap kearah Pria asing.
Pria asing itu mendengus. “Masih mengharapkan itu? Aku bisa mengabulkannya, tapi yang ku inginkan saat ini adalah membiarkan pacarku ini menikmati dulu indahnya dunia. Setelahnya, akan ku bunuh dirimu.”
Mei yang mendengarnya berbinar. Ia pun langsung meneguk obat dan meminumnya. Membuat Pria Asing itu mendengus.
“Mendengar kata membunuh, kau sangat antusias.hahah baiklah, bagamana kalau malam ini kau bertemu dengan ku ditempat kita pertama bertemu?”ajak Pria asing itu. Mei yang mendengarnya terdiam sesaat.
“Tidak bisa...Malam ini aku pasti akan menerima hukuman, jadi aku tak bisa datang. lagi pula gadis tak boleh keluar malam.”ucap Mei yang menolak ajakkan Pria asing didepannya.
“Hukuman?...siapa yang menghukummu?”tanya Pria asing itu. Membuat Mei langsung terdiam. “Bukan siapa-siapa...sudahlah, kau kenapa bisa ada disini?”tanya Mei mengalihkan pembicaraan.
“Aku memang sekolah disini.”Jawab singkat yang diberikan oleh Pria asing didepannya. Ia menaiki ranjang yang kini ditempati oleh Mei. Membuat Mei memberi jarak tapi sia-sia, karena ranjang yang ditempatinya tidak sebesar kasur empuk.
Pria asing itu tak mengalihkan pandangannya. Ia merangku dan memeluk Mei, membuat Mei terteguh dengan tindakkannya.
“Apa yang kau lakukan?”tanya Mei. Pria Asing itu tak menjawab, ia malah terdiam hingga suara dengkuran pun tiba.
Mei yang menyadarinya langsung terkekeh. “Ternyata ingin tidur ya.”ucap Mei yang kemudian menuntun Pria yang kini diketahui sebagai kekasihnya. Paha mei menjadi bantal empuk untuk Pria yang tertidur pulas.
Pelajaran baru saja dimulai dikelas, ia tak bisa melewatkannya, tapi tak tega juga meninggalkan orang yang kini terlelab dipangkuan. Memandang Pria yang menjadi kekasihnya, membuat Mei tak bisa mempercayai apa yang telah ia dapatkan.
“Apa ini yang nama masa depan?...aku bisa mati dengan dibunuh olehnya. Aku pikir harus menunggu kematian sendiri yang datang.”gumannya. Tanpa menyadari bahwa yang terlelab hanya menutup mata.
-
Malam hari pun tiba. Mei sudah pulang tapi tak terjadi apa-apa. Ia tak mengetahui apa yang terjadi, hanya saja Mia menjadi terdiam didalam kamar. Membuat Ibu dan Ayah angkatnya cemas dengan keadaan Mia.
“Mia...Putriku apa yang terjadi padamu? Ini sudah sangat malam, kau tak makan sayang...”ucap sang Ibu. Ia mengedor-ngedor pintu kamar, berharap dibuka oleh sang anak. Tapi tak ada tanda-tanda ucapan itu mendapat balasan.
Belum sempat ia beranjak bangun, tiba-tiba pintu kamarnya diterobos masuk oleh seseorang. Ia tak lain adalah Ayah angkatnya.
“Ayah!”kaget Mei. Ia ditarik dengan paksa keluar kamar dan dilempar kelantai. Membuat Mei meringis kesakitan.
“Katakan apa yang terjadi pada Mia? Kau pasti tahu bukan?”tanya sang Ayah Angkat kepada Mei. Mereka tak menyadari bahwa wajah yang terperban adalah perbuatan putri mereka sendiri.
Mei yang mendengar pertanyaan itu pun menjawab “Ayah...Mia mengetahui tentang kekasihnya yang sudah bertunangan dengan Putri.”ucap Mei menjawab apa yang dicari oleh Ayahnya.
Belum mendengar ucapan sang Ayah, Mei mendapat tendangan oleh seseorang. Ia tak lain adalah Mia yang keluar sambil menangis.
“Ini salahmu,salahmu!...Kau tak memberitahuku bahwa ia telah bertunangan dengan Sahabatmu itu.”ucap Mia. Ia sambil menunjuk-nunjuk Mei. Mei ingin menjawab tapi tak diberi kesempatan. Ia langsung mendapatkan pukulan dari cambukkan yang terbang kearahnya.
“SIAL! INI ANAK PEMBAWA SIAL...PERGI KAU DARI RUMAHKU. SUDAH KU DUGA SEHARUSNYA AKU TIDAK MENGANGKAT DIRIMU SEBAGAI BAGIAN DARI KAMI,PERGI KAU,PERGI KAU DARI SINI!”teriak sang Ibu yang kini menatap dengan jijik. Membuat Mei menangis dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Ia diseret oleh sang Ayah yang kemudian melemparnya keluar. “Pergi kau dari rumahku...jangan pernah menginjakkan kakimu disini lagi,PERGI!”
Mei terpaksa melangkahkan diri untuk pergi dari kediaman yang sebenarnya menyiksa dirinya. Mental dan fisik selalu diuji. Tapi mau bagaimanapun Keluarga itu pernah memberinya makan.
Ia melangkah terus melangkah sampai akhirnya kakinya tak sanggup lagi melangkah. Ia terduduk disalah satu gang kecil yang disampingnya terdapat pembuangan sampah.
“Ugh...baru saja ini diobati oleh Pria itu, sekarang kembali terbuka lagi.”ucapnya menyentuh jidatnya yang kini mengalirkan darah.
Untungnya ia membawa tas sekolah, jadi ia tak perlu merasa resah jika datang kesekolah besok. Hanya ia punya masalah penting. Yaitu pakaian sekolah dan pakaian sehari-hari, Ia hanya sempat menarik tasnya.
“Oh...Kau datang?”tanya seseorang, membuat Mei langsung bangun tapi kembali duduk karena tubuhnya tak tahan lagi untuk bangun.
Ia mengangkat kepala,melihat siapa orang yang telah berbicara. Mei mendapati sepasang mata biru yang menatap dirinya.
“Kekasihku,apa yang kau lakukan disini...disamping sampah lagi?”tanya Pria Asing yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.
“Aku...ah...aku tak lagi apa-apa.”Mei menjawab dengan seadanya. Ia memalingkan wajahnya untuk tidak melihat langsung wajah pria yang kini mendekat kearahnya.
“Apa kau kabur?”tanya Pria Asing itu sambil duduk disamping Mei. Mei yang mendengar langsung menatap Pria yang duduk tepat disampingnya.
“Apa yang kau lakukan? Bangun itu kotor. Jangan duduk sembarangan.”ucap Mei sambil berusaha membangunkan Pria Asing yang kini memandangnya.
“Kamu dimarahi...dan diusir?”tanya Pria Asing itu tak menghiraukan apa yang dibicarakan oleh Mei.
“Ya...emang kenapa? Lagian ini bukan salahmu,ini salahku.”ucap Mei menjawab Pertanyaan Pria itu. Ia tak bisa berbohong kepada Pria Asing ini. Karena Matanya selalu membuat Mei merasa terintimidasi.
“Sudahlah...ayoh bangun. Hari ini temani aku berburu.”ucap Pria Asing itu menarik tangan Mei untuk berdiri. Tapi Mei tak ada tanda-tanda untuk bangun, ia malah mengaduh kesakitan.
“Apa yang terjadi?”kerutan muncul diantara alis itu, Mei langsung menunduk tak berani melihatnya. Ia bahkan langsung bungkam saat tangannya dilepas oleh Kekasihnya ini.