
Suara benda tajam mengiris sayuran terdengar di telinga. Mei sudah bisa bergerak dengan bebas, ia mengunakan kesehatannya untuk berbalas budi dengan Pria yang sudah memberikan bantuan.
Mei tidak punya uang untuk membayar, dia merasa tidak cukup hanya mengucapkan Terima kasih. Jadi Mei memutuskan untuk membuat sesuatu sebagai balasan dari apa yang di berikan.
“Setidaknya, aku membalas kebaikkan seseorang. Manusia saling menolong merupakan hal wajar, tetapi balas budi adalah hal baik yang patut kita berikan.” Guman Mei sambil menata masakkannya.
Tanpa disadari, seseorang berdiri di pintu dapur dengan tangan bersedekap di dada.
Jika Mei tidak membalikkan badan untuk mengantar masakkan yang sudah siap disantap. Dia tidak akan tahu kalau Fandri berdiri di dekat pintu.
“Eh! Fandri?” Mei bergegas mengantar napan yang berisi masakkannya. Dia sajikan dengan rapi bersama hidangan penutup untuk makan malam.
Fandri mendekat ke arah meja makan,dia menarik kursi utama dan duduk dengan santai.
Mei merasa gugup mendapati Pria asing itu melihat seluruh tingkahnya, dia mengingat sang kekasih yang dulu juga mendapati dirinya tengah memasak tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Maafkan Aku, memasak tanpa meminta izin dari mu. Ah, ini semua ku lakukan untuk mengucapkan terima kasih karena sudah mengizinkan ku berada di sini hingga malam tiba.” Mei berbicara panjang lebar tanpa ada jeda di setiap kalimatnya.
Fandri yang mendengar Mei berucap demikian, membuatnya tersenyum. “Mei, seandainya aku bertemu denganmu lebih awal. Sudah ku pastikan yang akan ku nikahi adalah dirimu.”
Mei bengong mendengar apa yang Fandri ucapkan. Mereka baru bertemu, bahkan baru beberapa jam berlalu. Pria di depannya sudah memikirkan masalah pernikahan, Sungguh di luar nalar Mei.
“Hahaha, tapi aku sudah punya tunangan spesial yang sulit di takluhkan.” Lanjut Fandri dengan menatap ke arah Mei.
Mei berkedip berkali-kali,dia merasa ucapan Fandri tidak bisa dipercayai. Dan lagi, mereka seharusnya tidak membahas hal seperti ini.
“A-aku rasa membahas hal itu, ti-tidak bagus untukku....” ucap Mei berhasil membuat Fandri bingung kepadanya.
“Begini, aku seorang siswi yang perlu belajar, dan ku rasa tidak baik untukku membahas hal pernikahan ini.” lanjut Mei dengan nada hati-hati, ia tidak ingin Pria di depannya tersinggung.
“Oh, apa kamu tidak pacaran? Maksudku, biasanya seseorang yang memiliki kekasih pasti akan memikirkan hal seperti ini... ah-,” Fandri menepuk tangannya dengan tiba-tiba.
Mei kaget hingga mengenggam erat sandaran kursi yang ada di depannya. “A-ada apa?” tanya Mei.
Fandri memainkan jari tangan untuk mengubah suasana yang tegang menjadi santai.
“Apa kamu gadis yang suka jatuh cinta dalam pandangan pertama? Lalu, kamu tidak ingin berpacaran, lebih memilih untuk menikah tanpa perkenalan?”
Pertanyaan Fandri membuat Mei jadi bingung, dirinya memahami kata pacaran dan menikah. Dengan otak yang cepat bekerja, Mei mengambil kesimpulan dari apa yang ditanyakan Fandri.
“Ku rasa menikah belum terpikirkan. Tetapi, memiliki kekasih, aku sudah mendapatkannya. Dia pria yang baik dan perhatian.” Ucap Mei dengan senyum yang tampak di wajahnya.
Melihat Mei tersenyum, Fandri terteguh hingga diam sesaat. Suasana seketika sunyi dan waktu terasa berhenti.
Mei yang menyadari Fandri terdiam menatap dirinya, dengan perlahan menyadarkan Fandri. “Fa-Fandri!”
“Uh, Iya....” Fandri tersadar setelah Mei memanggil dirinya.
“Maaf, aku melamun. Memperhatikan tingkahmu, mengingatkanku kepada tunangan yang tidak lama lagi akan menjadi istriku. Hanya anehnya, Tunanganku sangat jarang tersenyum.”
Mei mengangguk mendengar apa yang Fandri katakan. “Kalau boleh tahu, kapan kalian bertunangan?” tanya Mei.
Fandri langsung menjawab tanpa rasa ragu. “Kami bertunangan tidak lama, kalau tidak salah beberapa hari yang lalu, kami juga sudah saling bertukar cincin.” Fandri menampakkan jari manis kanannya. Cincin yang berkilau menyilaukan mata Mei.
“Oh, jadi bertunangan seperti itu ya.” Mei kagum melihat hal-hal yang tidak pernah dirinya ketahui.
“Hm, jari manis kanan untuk tanda seseorang sudah bertunangan sedangkan di jari manis kiri untuk seseorang yang sudah menikah.” Jelas Fandri dengan memainkan cincin pertunangannya.
“Agh, Mei tahu... saat bertemu dengan calon tunanganku, aku merasa gugup karena mendengar gadis itu cuek bahkan menganggap lelaki tidak pantas dicintai jika dia sudah memiliki cinta pertama. Aku mendengar rumor itu merasa tidak percaya diri.”
Fandri menatap sedu kearah makanan yang tersaji. Uap panas mengepul dengan perlahan, aroma masakkan tercium olehnya. Rasa lapar pun hadir, membuat Fandra ragu-ragu mengambil tindakkan.
“Mari makan, jika di biarkan makanan ini akan dingin.” Ucap Mei menghidangkan sebaik mungkin.
“Kalau begitu, Mei makan juga... jangan menolak.”
Mei mengangguk dengan perlahan. Makan malam yang seharusnya di mulai pada pukul 8 malam, kini dipercepat pada pukul 7 lewat 15 menit.
Setelah makan malam selesai, Mei membersihkan piring kotor sebelum ke ruang tamu. Dia tidak ingin menginap di rumah ini, sungguh sangat membantu dengan dirinya bisa berlindung dari kejaran Roy. Setidaknya, dia bisa kembali ke rumah Findre dan bersembunyi di sana.
Mei menatap kearah Fandri yang sibuk dengan buku-buku di tangannya, entah apa yang tengah dia lakukan. Mei memutuskan untuk diam ditempat hingga Fandri selesai mengerjakan kegiatannya.
“Ada yang ingin di katakan?” tanya Fandri yang membuat Mei terkejut.
“Ah, itu... aku ingin mengatakan kalau aku akan pergi malam ini juga, terima kasih dengan apa yang telah kamu berikan.” Ucap Mei. Dia menundukkan kepalanya untuk memberikan sapaan sopan dan keramahan.
Fandri menutup buku yang tengah dia kerjakan. Di rapikan buku itu dan tersimpan rapi olehnya. “Kemana kamu akan pergi? aku tahu, tidak sopan aku membawamu kesini. Seharusnya aku mengantarmu setelah pulang dari rumah sakit.” Ucap Fandri dengan berdiri di depan Mei.
Mei sudah dirawat dengan baik oleh Fandri, dia bahkan di bawa kerumah sakit untuk pemeriksaan lanjut. Untungnya memar Mei tidak parah, dan beruntung lagi Fandri tidak tahu Mei memiliki banyak luka di tubuhnya.
“Tidak apa, justru sangat membantu karena kamu telah menolongku. Maaf juga merepotkan dirimu.” Ucap Mei.
Fandri mengangguk dengan perlahan. “Sudah keberapa kali kamu mengatakan Terima kasih dan Maaf. Sudahlah, aku akan mengantarmu... mari!” Fandri mengambil sebuah kunci yang tidak jauh darinya.
Mei mengikuti langkah orang yang baru di kenal. Dia tidak menduga, mereka menjadi teman baik dalam sekali pertemuan.
Di tempat parkir, Mei melihat sebuah mobil hitam yang sangat mewah. Fandri membuka pintu bagian samping depan dan mempersilahkan Mei untuk masuk terlebih dahulu.
“Masuklah Mei, aku akan mengantarmu hingga selamat... bagaimana pun, Aku ingin bertanggung jawab.” Ucap Fandri dengan begitu serius.
Melihat keseriusan Fandri, Mei teringat sang kekasih yang memiliki raut wajah tidak jauh berbeda dengan Fandri. “Baiklah, Terima kasih.” Ucap Mei dengan masuk perlahan.
Fandri tersenyum mendengar ucapan Mei. “Sama-sama.”
Mobil bergegas dengan perlahan. Mei tidak merasakan gerakkan dari mobil yang dia tumpangi, malah dia tidak sadar kalau mobil sudah bergerak.
“Aku tidak menduga akan bertemu dengan gadis baik sepertimu. Kalau ibuku tahu aku membawa seorang gadis di rumah, dia akan memarahiku.” Ucap Fandri dengan kekehannya.
Mei mengeleng perlahan. “Ku rasa benar, soalnya kamu sudah bertunangan. Tidak baik pria dan wanita berduaan bahkan tinggal bersama.” Ucap Mei.
Mendengar ucapannya sendiri, Mei sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Tetapi, kesalahan itu memiliki alasan dia berada disana.
“Kamu benar... ah, alamatmu?” tanya Fandri. Mei memberikan arahan yang dia ingat. Mei tidak terlalu hapal dengan nama jalan bahkan daerah sekali pun. Jika ingin mengingatnya, Mei harus melalui tepat itu berkali-kali dan menghapal nama jalan.
Empat puluh lima menit mereka berkendara. Akhirnya, Fandri menghentikan mobil di sebuah lampu jalan yang tampak sepi.
“Apa kamu yakin disini tempatnya?” tanya Fandri dengan wajah ragu.
Mei tidak bisa meminta Fandri mengantar langsung ke rumah Findre, bagaimanapun Mei tidak ingin melewati batasannya.
“Iya, tidak jauh di sini... Aku akan tiba di rumah.” Ucap Mei dengan membuka pintu mobil. Dia melangkah keluar dan berdiri tak jauh dari pintu mobil di mana Fandri berada.
“Oke baiklah... Mei senang berkenalan denganmu, semoga kita bisa bertemu kembali.”
Mei mengangguk, dia melambaikan tangan untuk memberi salam perpisahan dengan orang yang sudah menolong dirinya.
“Kamu... dari mana saja Mei?”
Mei membalikkan tubuhnya, tubuh tinggi seseorang tampak didepan mata. Mei terkejut hingga memundurkan diri dengan tiba-tiba.
“Ah, Findre!” guman Mei yang kini berada di dekapan sang kekasih.