Kill Me Please!

Kill Me Please!
KMP 47 : Haru



Sepasang sayap hitam sedang meringkuh ditebing yang begitu curam. Rambut putih yang tertiup angin membuat wajah tampannya semakin mempesona. Mata biru milihnya begitu jernih memandang kearah jurang kematian. Terlihat banyak roh yang menjerit karena kesakitan.


“Kematian selalu menemani kalian.” Ucap Pria berambut putih.


Lirikkan matanya teralihkan karena kehadiran seseorang. Tampak seorang wanita dengan pakaian putih menutupi seluruh tubuhnya. Hanya mata emas dan rambut panjang berwarna hitam yang bisa dilihat. Sayap putihnya selalu membuat semua orang iri, karena kecantikan sayap itu.


“Haru, apa kamu ingin menjadi malaikat pemalas?” tanya Gadis yang berdiri didepan Pria bersayap hitam.


“Kenapa? Apa aku mendapatkan pekerjaan?” tanya Haru. Mata birunya menatap kearah gadis yang merupakan Atasannya sendiri.


Haru adalah malaikat maut dengan pangkat 10 dan hanya dirinya yang berada disana. masing-masing malaikat memiliki tingkatannya. Dari 1 hingga 10, posisi tertinggi berada di pangkat 10. Sedangkan gadis didepan Haru melebihi pangkatnya. Posisinya diakui oleh Penguasa.


“Iya, kamu harus menjemput dua nyawa seseorang. Anak gadis berusia 14 tahun dan seorang Pria remaja berusia 18 tahun. Bawa kedua nyawa mereka dan selesaikan diwaktu yang tepat!” ucap Sang Gadis yang kemudian menghilang di depan Haru.


Haru menghela nafas dengan wajah malasnya. Pangkat 10 bukan membuatnya bangga malah sebaliknya. Dipangkat 10, tugasnya semakin berkurang, karena mencabut nyawa ada berbagai macam hal yang harus diperhatikan.


Pangkat 6 hingga 10, mendapat tugas mencabut nyawa tanpa menyakiti pemiliknya. Yang berarti, dia adalah pilihan maha kuasa. Nyawanya begitu dijaga hingga mencabutnya pun tidak merasakan sakit.


Haru tidak terlalu menyukai itu, dia ingin mencabut nyawa seseorang dengan teriakkan mereka. memikirkan hal seperti itu saja membuatnya bahagia.


Sekarang, Dia harus menyelesaikan tugasnya segera dan kembali memandang jeritan nyawa yang ada dijurang, Jurang penyiksaan.


“Sampai jumpa lagi.” ucap Haru. Sayap hitam terbentang dengan lebarnya, dalam sekali ayunan sayap, angin berhembus begitu kuat hingga batu yang kokoh akan hancur terkena hembusannya.


Tidak perlu mengerakkan sayapnya berulang kali. Haru hanya perlu dua kali mengerakkannya, Dia pun tiba di tempat kejadian.


Kecelakaan mobil yang mengakibatkan banyak korban. “Sepertinya takdir kalian seperti ini.” ucap Haru.


Matanya melihat Para Malaikat Maut yang berpangkat 2 hingga 4. Mereka tampak begitu hati-hati takut menyakiti sang pemilik Nyawa.


“Mereka begitu mencintai Manusia. Manusia ini saja tidak memperhatikan penciptanya. Mereka semua haus akan nafsu kekayaan, kehidupan. Padahal, kematian selalu ada digaris depan. Huh~” dengan Malas Haru mendekat kearah gadis yang terjepit dijendela mobil.


Mobil itu hancur, hingga tidak ada lagi ruang untuk mengeluarkannya selain menarik paksa tubuh gadis berusia 14 tahun. Suara menangis dan kesakitan terdengar ditelinga Haru.


“Apa yang terjadi kepada gadis ini?” gumannya.


“Dia menderita, kehidupannya juga akan penuh penderitaan. Cabutlah nyawanya dengan lembut, karena penguasa sang mencintainya.”


Haru mendengar ucapan gadis yang memerintahkannya ditempat ini. dia melihat Nyawa yang belum berkeinginan meninggalkan tubuhnya.


“Siapa nama gadis itu?” gumannya lagi.


“Namanya Mei ... sudah cabutlah nyawanya sekarang!”


Haru memandang dengan wajah datar mendengar perintah dari atasannya sendiri. dia mengeleng kepala dan mengeluarkan tongkat sabit yang khusus diberikan kepadanya.


Saat ingin mengayunkan tongkat, baju hitam yang dikenakannya tertarik oleh seseorang. Haru menolehkan kepalanya dan melihat siapa yang menarik bajunya.


“Ma-Maaf Pak Haru, Pria ini tidak mau menyambut tongkat sabit ku. apa yang harus ku lakukan?” tanya Malaikat maut berpangkat 4.


Haru melirik Pria yang berusia 18 tahun. Dia yang mendapatkan tugas untuk mencabut nyawanya. Tetapi, waktu kematian Pria didepannya ini tepat saat dia dibawa kerumah sakit, jadi dia tidak bisa mencabut nyawanya terlebih dahulu.


Namun, lagi-lagi Pria berusia 18 tahun menahannya. “Ada apa?” tanya Haru menatap kearah Pria 18 tahun. Dia bertanya dengan emosi yang meluap membuat Malaikat lain meringkuh karenanya.


Haru menarik nafas untuk menyadarkan bahwa dia adalah Malaikat dengan pangkat tertinggi. Dia tidak boleh mencoreng imagenya sendiri.


“To-tolong, tolong selamatkan gadis itu....” ucap Pria yang ada didepan Haru.


Haru mengerutkan alis mendengarnya. “Hei Atasan, Pria ini bisa melihatku dan mengajakku berbicara. siapa namanya?” tanya Haru dengan benaknya.


Tak lama jawaban datang. “Penguasa mengatakan, kamu tidak perlu tahu siapa dirinya. Kerjakan saja tugasmu dan kembali dengan cepat. Kamu sudah mengulur waktu begitu lama.”


Haru tidak ingin Penguasa memarahinya, dia tidak menghiraukan Pria yang mengajaknya bicara. perlahan kakinya melangkah mendekati gadis berusia 14 tahun.


Namun, Pria asing itu kembali menahan kepergiannya. Haru menjadi kesal dan ingin menancapkan sabitnya tepat dikepala Pria asing yang tengah berbaring terluka.


“De-dengar, dia ... dia ti-tidak ....” ucapan yang terbata-bata membuat Haru semakin kesal mendengarnya.


Dia mengarahkan tangannya dan mereka saling berbicara lewat pikiran. “Apa yang ingin kamu sampaikan.” Tanya Haru dalam pikirannya.


Pria asing yang mendengar itu terteguh, suara Haru begitu keras hingga dia tidak bisa mendengarkan teriakan orang-orang.


“Tolong selamatkan gadis itu. dia tidak bersalah, dia hanya gadis biasa yang tidak tahu apa-apa. Aku yang bersalah, jika tidak bisa menyelamatkan orang tuanya, setidaknya Aku menyelamatkan anaknya. Tolong, selamatkan dia.”


Haru mencabut tangannya dengan cepat, kehadiran seseorang membuatnya menatap tajam. Gadis yang baru saja memerintahkannya, kini datang dengan aura yang mengerikan.


“Aku sudah mengatakan kepadamu, jangan melakukan kesalahan. Sekarang, waktu gadis itu sudah lewat dan Pria ini juga. Haru, apa yang kamu lakukan!”


Haru menatap kearah Gadis bernama Mei, dia sudah ditangani oleh dokter dengan cepat, sedangkan Pria asing itu meninggal dengan nyawa yang bersemayang ditubuhnya.


Tampak keluarga dari Pria tidak terima dengan tindakkan dokter, mereka menangis histeris. Selain itu, Haru melihat wanita yang memeluk putranya.


“Kamu sudah membuat semua hancur Haru, kita kembali.” Ucap Gadis yang kini mengerakan tangannya.


Haru pasrah dengan apa yang terjadi, matanya terbuka perlahan. Dilihatnya tempat yang begitu luas, semakin luasnya tepat itu, dia tidak bisa menentukan ukurannya.


“Haru, apa yang telah kamu lakukan.” Ucap seseorang.


Haru menatap kekanan dan kekiri, tidak ada siapapun selain dia dan atasannya sendiri. “Ya-yang Maha Kuasa.” Ucap Haru dengan membungkuk perlahan, tubuhnya bersujud dengan cepat.


Tidak lama, tubuhnya kembali ditegapkan oleh seseorang. Haru merasakan kekuatan yang luar biasa, saking kuatnya, dia merasa hanya butiran debu untuk membandingkan kekuatan itu.


“Pria yang meninggal begitu cepat bernama Findre. Haru, kamu sudah memberikan kehidupan kepada Manusia yang ku cintai. Aku memberikan tugas untukmu. Pergi dan berbicara kepada Pria bernama Findre, minta izin kepadanya untuk mengantikan posisinya,”


Haru terteguh mendengar perintah yang didapat. Dia tidak bisa mengatakan apa pun karena saat ini yang dihadapinya adalah Penguasa.


“Jika dia mengijinkanmu. Maka, masuklah kedalam tubuhnya dan bawalah Mei kepadaku. Aku tidak ingin orang yang ku cintai terlalu lama di dunia. Apa kamu tahu alasan kenapa aku menyuruh mu menjemputnya?”


Haru mengeleng menjawab apa yang Penguasa katakan.


“Karena, Masa depannya semakin buruk hingga tidak ada lagi senyum dan tawa. Aku ingin kamu menjemputnya dengan lembut dan mengantarnya kepadaku. Lakukan apa yang ku katakan, Haru!”