Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Abaikan Saja Kalau Bisa



Meninggalkan Nala dan Ira, Chika berjalan ke mushola kampus untuk beribadah. Belum selesai membuka sepatu, ponselnya berdering. Panggilan dari mama. Secercah senyum terbit di wajah Chika.


Lima belas menit berlalu, mama menutup sambungan telpon itu. Senyum cerah itu hilang berganti tatapan sendu dan senyum di paksakan.


Mama mengeluh tentang kak Jihan yang tidak mau mengangkat telponnya, dan mengeluhkan anak laki lakinya yang selalu minta uang lebih. Juga tentang papa yang tidak mau tahu urusan tokonya.


Sekali saja tanyakan apa yang ku lalui disini di kota orang, jangan hanya mengeluhkan anak anak kesayangan mama padaku, aku juga punya masalah yang tidak ada satu orang pun mendengarnya.


Di tengah lamunan Chika ponsel itu berdering kembali. Kali ini hanya pesan singkat.


Semangat ujiannya.


Chika semakin kesal, dia menginginkan perhatian ibunya, yang di dapat malah perhatian seorang playboy.


Berhenti mengganggu ku, anggap saja kita tidak pernah bertemu.


Selesai sholat dan merapikan hijab nya, Chika kembali ke kelas bersiap untuk ujian, Nala sudah memilihkan kursi tepat di sebelahnya, memudahkannya untuk mencontek. Chika hanya geleng geleng kepala melihat sahabatnya itu.


Abaikan saja kalau kamu bisa.


Ya balasan yang membuat semakin jengkel. Kamu menantangku? Baiklah, batinnya.


Sepuluh hari berlalu sejak hari pertemuan Chika dan Jio, nyatanya walaupun Chika berusaha mengabaikan Jio, pesannya selalu di balas Chika dengan acuh tak acuh yang malah membuat Jio semakin tertantang. Sulit bagi Chika mengabaikan perhatian yang di carinya.


Ah ya ucapan Rindy yang waktu itu juga bukan sekedar sogokan, Rindy memang mengenalkan Chika dengan Gani. Gani sudah bekerja, 4 tahun lebih tua dari Chika, cukup dewasa untuk di ajak serius. Tapi bagi Chika dia membosankan. Berbeda dengan Jio yang lebih banyak bercanda, Gani sangat kaku.


Kenapa badboy selalu lebih menarik.


Ujian semester sudah selesai, akhir minggu ini Chika akan pulang ke rumahnya karena kampus libur dua minggu. Sebenarnya enggan untuk pulang tapi tidak ada yang bisa di lakukannya di kosan sendirian, Eva juga pulang ke rumahnya. Nala ada acara keluarga, jadi lebih baik pulang.


Sebelum pulang ayo nonton dulu Chik, bebas mau nonton apa. Gani


Malam minggu aku culik yok, aku kembalikan sebelum kosan tutup, janji. Jio


Chika menghela nafas panjang setelah membaca pesan itu, duduk di beranda kosan selonjoran. Sore itu angin berhembus sepoi sepoi menerbangkan rambut Chika menerpa wajahnya, sesekali di selipkannya rambutnya di belakang telinga. Di tengah lamunan itu Eva mengejutkannya dengan suara kencang, Chika terperanjat hingga badannya terangkat di sambut gelak tawa Eva mengejeknya.


"Udah ngelamunnya, cari makanan yok lapar". Chika diam saja lalu Eva melanjutkan ceritanya "besok aku pulang naik kereta siang". Chika menoleh menatap Eva.


"Eva, lebih suka goodboy apa badboy?"


Eva diam sejenak, memandang Chika lalu mencibir. "Aku pilih goodboy deh, aku gak siap terluka, aku suka hidup lurus lurus aja, pacaran, jalan jalan, nonton makan, gak ada selingkuh, terluka, sakit hati. Ya walaupun sedikit membosankan setidaknya dia gak balalan nyakitin aku, memang gak ada jaminan sih, tapi lebih beresiko sama badboy. Gimana kalau baru jadian eh tau nya pacar ke sepuluh".


Betul juga kata Eva, tapi kenapa rasanya aku gak tertarik sama Gani.


"Nih nih ganteng mana?", Chika menyodorkan 2 foto profil, Gani dan Jio.


Eva bolak balik melihat foto Gani dan Jio, dia menatap kedua foto itu lekat lekat. Eva mengetuk ngetuk hidungnya dengan jari telunjuk seperti orang berpikir keras. Ekspresinya berubah rubah.


"Gimana ya, Jio aja deh".


Chika menghela nafas kasar, "katanya tim goodboy".


"Gani ganteng juga sih, tapi membosankan, aku baca chatnya, apa karena sudah bekerja ya, jadi kaku gitu".


Lihat dia, harusnya gak perlu curhat.


"Jio aja deh, asik, ganteng juga, sepertinya baik, nanti kalau galau aku temenin deh", sambung Eva sambil tersenyum menghibur. "Siap jatuh cinta siap terluka juga kan?".


"Preeeeeeet", seru Chika meninggalkan Eva.


"Chika pesona badboy memang susah di abaikan, kalau gak mau buat aku saja."


Chika masuk ke kamar di buntuti Eva sambil terus mengoceh memuji muji Jio yang bahkan dia tidak mengenalnya. Mereka rebahan di kasur, Chika mengambil ponselnya dan mengetik pesan. Eva mengintip dari belakang.


Sabtu, jam 4 sore di kampus.


"Cie yang kencan, kenapa gak jam 7 aja, kan siang masih ke kampus, kamu apa gak mandi dulu".


"Seram kalau malam, bagaimanapun, kami baru kenal kan. Biar aja biar dia illfell".


"Di tinggal nyesel".