
Chika sangat terkejut mendengar jawaban jujur dari mulut Jio. Tidak pernah di bayangkannya situasi semacam ini akan menimpanya. Ragu ragu dia bertanya juga.
"Jadi apa kita ini sedang berselingkuh?." Pandangan Chika lurus kedepan. Tidak mau melihat Jio sedikitpun.
"Tidak, kau pacarku satu satunya. Bagiku, aku dan Lita sudah lama berakhir, hanya dia yang berfikir sebaliknya."
Chika mengerutkan keningnya menoleh ke Jio yang disadarinya menatapnya sejak tadi. Sama sekali tidak mengerti dia terseret dalam lingkaran cinta yang seperti apa.
"Lita adalah siswa baru dikelasku sewaktu SMA. Tapi aku sudah mengenalnya lebih dulu karena orangtuanya adalah rekan bisnis restoran mama. Lita dicap sombong oleh semua orang karena dia suka memilih milih teman. Karena mama menyuruhku untuk menjadi teman baiknya, jadi hanya aku temannya."
Chika mendengarkan dengan seksama. Tidak ada tanggapan darinya.
"Lita selalu menbantuku menyingkirkan gadis gadis yang mengejarku. Entah bagaimana kami jadi berpacaran."
"Kau tidak menyukainya?."
"Aku menyukainya, pada waktu itu aku sangat menyukainya. Aku selalu menurutinya walau aku tidak suka dan dia tidak pernah mendengarkanku."
Untuk apa menyukai gadis egois seperti itu.
Jio beranjak dari duduknya merapikan bajunya yang kusut.
"Kau mau kemana?, kita pulang sekarang?"
"Tidak, aku haus. Tunggu disini akan kubelikan sesuatu untukmu juga."
Chika juga berdiri merapikan outernya. "Aku ikut, suara katak itu sungguh mengerikan jika kudengarkan sendirian saja disini." Chika bergidik ngeri.
Mereka membeli minuman dan beberapa makanan ringan. Chika memilih untuk duduk disisi lain danau saja. Dia tidak mau kembali ke tempat yang tadi lagi.
"Ayo lanjutkan ceritamu lagi", pinta Chika seraya membuka permen kapas yang sejak tadi menggodanya.
Ada rasa aneh dihati Jio. Semua gadis yang di pacarinya tidak pernah mau tahu hubungan masalalunya, tapi yang satu ini malah sangat antusias.
"Sehari setelah lulus SMA, bersama teman temanku kami pergi menginap di sebuah vila. Malam itu Lita mengajakku untuk melakukan hal itu dengannya dengan alasan agar hubungan kami bertahan sampai kami menikah nanti."
Chika sibuk dengan permen kapasnya. Jio merasa tidak yakin Chika mendengarkan ceritanya merebut permen kapas itu dan memakannya.
"Kau tidak mendengarkanku?."
"Tentu saja, lalu bagaimana kau menolaknya?."
Chika kembali merebut permen kapasnya.
"Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak pernah berfikir dia adalah yang terakhir untukku, aku tidak mau merasakan penyesalan karena merusak seorang gadis."
"Kalau memang berniat putus dengannya, untuk apa kau memacarinya?", Chika sangat tidak setuju dengan pendapat Jio.
"Aku kan memintanya menjadi pacarku bukan istriku."
Benar juga. Susah sekali untuk menang dari laki laki ini.
"Lalu kenapa kau sangat membencinya?".
"Malam itu juga akhirnya aku mempercayai omongan teman temanku. Semua temanku termasuk Arif sudah mengatakan kalau Lita selingkuh, namun aku tidak pernah mendengarkan mereka. Karena aku menolaknya, dia pergi ke kamar temannya. Ponselnya tertinggal di kamarku, dan karena ibunya yang terus memaksa untuk berbicara dengannya aku menyusulnya. Yang kudapati di balik pintu kamar itu bukan Lita dan teman perempuannya melainkan Lita dan selingkuhannya, mereka sedang berciuman."
Rahang Chika serasa jatuh ke lantai. Tidak habis fikir dengan apa yang sudah dilalui Jio.
"Kau membiarkan mereka?".
Jio hanya mengangguk. Chika memberikan permen kapasnya pada Jio. Jio tidak mau, tapi dia menyuapinya.
"Aku memutuskan hubungan dengan Lita ketika dia menemuiku dikamarku. Tapi dia bilang baginya aku tetap kekasihnya sampai kapanpun."
"Ya aku memang sudah tahu dia egois, tapi aku tidak bisa menerima sebuah penghianatan. Dari Lita aku belajar bahwa tidak semua orang pantas dipercaya tidak perduli seberapa dekat kau mengenalnya."
"Sudahlah lupakan saja semuanya. Aku tidak mau dengar lagi Jio." Chika menutup kedua telinganya dengan tangannya, sengaja menutup masa lalu Jio itu karena hanya akan kembali membuka luka lama Jio.
Setidaknya aku sudah mengerti apa masalah mereka.
Jio tersenyum menatap Chika yang sedang menghabiskan minumannya.
"Maafkan aku Chika jam malammu sudah lewat 15 menit yang lalu."
Bbbrrrrrr. Chika menyembur air yang diminumnya. Segera melap sisa air dimulutnya lalu melirik jam di pergelangan tangannya. 22.16. Sial umpatnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?."
Jio menggenggam tangan Chika. Menatap matanya dalam dalam. Sesekali dia mengusap lembut jemari tangan Chika.
"Aku hanya ingin bersamamu saat ini."
Berbeda dengan Jio yang sangat tenang, pikiran Chika kacau balau, tidak tahu harus apa. Sudah pusing duluan memikirkan omongan orang jika dia tiba di kosan pagi hari bersama laki laki nanti. Bagaimana dia akan menjawab pertanyaan yang mengerikan dari ibu kos.
"Lalu kita tidur dimana?."
Jio berlagak terkejut mendengarnya. Kali ini dia sangat ingin menjahili gadis itu.
"Kau ingin tidur denganku?."
Chika membuang bola matanya ke sembarang arah, Kemana saja asal tidak bertatapan dengan Jio. "Kau gila."
Dia bersikap manis seperti itu, aku tahu kau pasti ingin menciumku lagi kan, lihat saja aku akan terus menghindarimu.
Setelah mendengar cerita Lita, muncul sebuah pertanyaan baru di benak Chika. Walaupun tidak akan dijawab dengan jujur, dia hanya penasaran saja.
"Jadi apa kau percaya padaku?".
Jio masih menggenggam tangan Chika. Pertanyaan yang baru dilontarkan Chika ditanyakannya lagi pada dirinya sendiri. Apakah akhirnya dia menemukan seseorang yang dapat diberikannya kepercayaan.
"Sejauh ini aku percaya padamu, setelah Lita kau gadis yang paling lama berpacaran denganku. Lalu apa kau sudah percaya padaku?."
Ragu ragu Chika menatap sepasang mata Jio. "Aku percaya padamu Jio, jadi jangan mengecewakanku. Kau tahu rasanya dikecewakan."
Tanpa menunggu lama Jio segera ******* bibir merah itu. Chika tidak lagi terkejut seperti pertama kali, dan untuk kali kedua ini Chika membalas ciuman itu. Seolah dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Rusak sudah usahanya untuk menghindari mereka berciuman.
"Tidak buruk, benarkah kau baru pertama kali berciuman?". Jio masih memeluk tubuh mungil Chika di pelukannya. Saling menatap.
Chika mencibir. "Aku profesional tanpa latihan", jawabnya dengan bangga. Jio ingin menciumnya lagi namun di tolak Chika. Cukup.
Chika mulai merengek dan menyalahkan Jio. Hari sudah semakin malam dan tidak tahu harus tidur dimana. Ponsel yang dibawanya juga kehabisan baterai, dia tidak bisa menghubungi temannya untuk menginap.
"Ayo akan ku bawa ke tempat yang seru."
Sebelum dia menyetujui ajakan itu, beribu pertanyaan keluar dari mulut Chika. Terang saja ini pertama kalinya Chika masih berada di jalanan pada jam segini di kota besar. Apalagi dengan laki laki yang baru di kenalnya 4 bulan yang lalu.
Setelah 20 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah tempat ramai. Berbagai makanan tersedia disana. Meski sudah hampir tengah malam tempat itu malah semakin ramai.
"Wisata kuliner malam", Chika membaca nama tempat itu yang terpampang dipintu masuknya. Mereka melangkah masuk dengan bergandengan tangan.
"Kau ingin membuatku gemuk?, aku tidak bisa menghitung berapa jumlah kaloriku yang akan bertambah jika aku makan disini."
Jio melepas genggaman tangannya dan merangkul Chika. "Tenang saja, aku akan tetap menyukaimu aku janji, ayo!."