Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Ada Apa Dengan Jio?



Chika baru saja membuka matanya pagi ini. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Perlahan dia membuka matanya yang menyipit karena cahaya dari jendela. Ya pasti Eva yang membukanya. Sebenarnya tidak masuk akal Eva bangun lebih dulu dari Chika. Ini jarang sekali terjadi. Chika meraba raba sekitar bantalnya untuk mencari ikat rambut yang dibuangnya sembarangan tadi malam. Selanjutnya dia memungut ponselnya berharap ada notifikasi yang dia tunggu. Tidak ada. Dia membuang kembali ponselnya ke ranjang.


Masih malas untuk bangkit dari ranjangnya, Chika memperhatikan sekitar mencari keberadaan Eva. Ketemu. Eva sedang berdiri di depan cermin memoles wajahnya. Dia juga mengenakan gaun yang bagus. Gaun itu tidak boleh di pakai kuliah.


Mau pergi kemana perempuan itu di hari minggu begini pagi pagi pula.


"Kau mau kemana?", Chika mendongakkan wajahnya menatap Eva.


Eva tidak menoleh dia hanya melihat melalui cermin di hadapannya. "Mau kencan dong, memangnya kamu jomblo", mencibir seperti ular.


Eva kembali berdandan. Chika masih setia di ranjangnya. Perasaannya sangat dongkol menghadapi Jio yang belakangan ini sangat cuek padanya. Tidak ada lagi Jio yang manis seperti dulu. Berulangkali Chika mengeluh pada Eva rasanya seperti tidak punya pacar saja. Sebagai pakar cintanya Chika Eva bilang terkadang laki laki perlu waktu untuk dirinya sendiri, selagi dia tidak berselingkuh biarkan saja.


"Kau jangan putus dulu ya, kita harus pergi kencan ganda dulu", berkata seenaknya tanpa sadar itu menjengkelkan.


Chika menatapnya sedih tapi juga marah. "Kau tidak punya perasaan." Dia menenggelamkan wajahnya di kedua tekukan kakinya.


Eva tidak hanya diam saja melihat sahabatnya itu uring uringan setiap hari. Dia mencari tahu lewat Anrez apa Jio memiliki selingkuhan. Chika juga mencari tahu lewat Sean dan hasilnya nol. Antara mereka sangat setia pada Jio atau memang tidak tahu apa apa.


"Baiklah aku pergi dulu, kau do'akan saja hari ini kami jadian ya."


Eva berlalu setelah memakai heelnya. Dia setengah berlari karena Anrez sudah menunggu di lantai bawah. Eva sangat gigih mendapatkan hati Anrez walau Anrez masih saja pasif seperti awal perkenalan dulu. Bahkan 2 bulan ini pun dia masih sama.


Hendak meninggalkan ranjangnya Chika melirik kembali ponselnya. Tidak ada apapun. Chika membaca deretan pesan yang dikirimnya kemarin malam. Hanya dibaca saja. Dia mendesah lesu. Chika mengirim pesan selamat pagi. Kali ini dia tidak berharap balasan.


Aku harap kau kembali seperti dulu Jio.


Waktu sudah menunjukkan jam 10 siang, Chika sudah mandi dan sarapan. Dia sangat bosan karena tidak ada yang bisa dilakukannya. Nala juga sedang ada acara keluarga. Chika hanya bisa berbaring di ranjangnya, mengingat ingat kesalahan apa yang dibuatnya pada Jio. Tidak mungkin dia seperti itu tanpa alasan kan.


Apa aku pergi makan es krim saja ya.


Chika masuk ke grup chat anak kosan, berharap ada yang bisa diajak pergi makan es krim. Hampir setengah jam dia menunggu balasan, namun tidak ada yang berniat pergi dengannya.


Baiklah daripada sendirian disini, rasanya lebih baik sendirian ditengah tengah keramaian.


Chika bersiap siap untuk pergi ke mall yang paling dekat dengan kosannya. Dia berdandan casual hari ini. Overal jeans dengan t shirt panjang berwarna kuning muda menjadi pilihannya.


Film yang ditonton Chika agak membosankan, dia salah memilihnya. Niatnya ingin melupakan masalahnya, malah semakin puaing karena cerita film itu yang mirip kisah cinta Chika, sayangnya pasangan kekasih di film itu berakhir putus, menyebalkan.


Dia meninggalkan bioskop dan memasuki beberapa toko baju, membeli beberapa kemeja untuk kuliahnya. Walau ibu tidak berlaku adil padanya, tapi ibu tidak pernah membatasi uang untuk Chika. Sekarang Chika berakhir di meja restoran es krim. Tujuan awalnya dia datang kesini.


Melihat beberapa pasangan yang sedang makan es krim bersama malah membuatnya merasa lebih buruk.


Ya tuhan, ternyata sendiri dalam kesendirian lebih baik.


Chika menatap perih pada es krimnya, tidak selera lagi pada es krim itu, disendoknya beberapa kali pun terasa pahit di lidahnya. Es krim wafel yang di pesannya mengingatkannya pada Jio sewaktu mereka makan es krim bersama.


I wish you were here. Damn.


Ponsel Chika bergetar menghentikan lamunannya. Secepatnya dirogohnya ponsel itu dari tas kecil yang masih disandangnya. Tersenyum senang membaca nama yang tertera di layar ponsel itu. Buru buru ditekannya tombol hijau, namun jarinya tergelinjir malah menolak panggilan itu.


ah siaaal.


Chika memplototi jarinya kesal. Ponsel itu berdering lagi, dia tersenyum riang kembali.


"Halo."


Tidak ada jawaban dari seberang sana, Chika menatap layar ponselnya, masih tersambung.


Hening.


"Maaf."


Air mata Chika mengalir begitu saja, tidak tahu dia sedih atau bahagia.


"Hanya itu?". Berharap ada penjelasan tentang semuanya.


Lagi Jio mengulang kata maaf. Hanya itu yang bisa dikatakannya. Chika mengerti bahwa Jio tidak mau membahasnya. Chika diam saja sampai Jio berhenti berkata maaf berulang kali.


"Kau sedang apa?."


"Makan es krim."


"Bersama siapa? apa itu sebabnya kau menolak telfonku tadi?."


Chika mengaduk aduk es krimnya sambil tersenyum. Dia sangat merindukan sikap sok tahu Jio seperti ini. Belakangan ini dia hanya menjawab iya atau tidak. Tidak ada perhatian apalagi kecemburuan.


"Emm sendirian."


"Benarkah kenapa ragu ragu begitu menjawabnya?."


"Es krim ku sedikit lagi, aku akan segera pulang."


"Apa es krim mu bisa menungguku sampai disana?."


Mata Chika berbinar cerah. Hampir sebulan mereka tidak bertemu, Jio selalu menghindari Chika di kampus. Merasa dihindari Chika juga tidak berusaha mencarinya, dia memilih menunggu.


"Ya aku rasa begitu."


"Baiklah, katakan padanya tunggu aku."


Telfon itu terputus. Chika masih belum berhenti tersenyum, dia sangat bahagia hari ini.


Tunggu, seharusnya aku marahkan padanya.


Chika menghela nafas panjang. Jika dia membahas semuanya mereka akan berkelahi lagi. Jio saja tidak ingin menjelaskan apapun tadi. Chika menguatkan hatinya, diluapkannya semua amarahnya seolah tidak pernah terjadi. Lupakan saja.


Ponsel Chika berdering kembali, segera diterimanya.


"CHIKAAAA KAU DIMANA, AKU INGIN SEKALI MEMELUKMU."


Tangan Chika reflek menjauhkan telfon itu dari telinganya. Eva menjerit di seberang sana dengan segenap tenaganya. Chika sudah bisa menebaknya. Anrez pasti sudah membuatnya menjadi kekasihnya. Benar, tidak ada penantian yang sia sia. Entah itu berakhir buruk atau indah.


"Apa kau mengajaknya duluan?."


"Sembarangan, tentu saja dia yang memintaku. Ya walau dengan beberapa pancingan."


Sudah kuduga.


"Aku senang untukmu, selamat ya. Ayo kita kencan ganda."


Eva terkejut mendengarnya, dia langsung menebak kalau Chika sekarang sedang bersama Jio dan sudah baikan. Sayangnya tebakan itu aalah tapi akan segera terjadi.


"Cepatlah pulang kita harus merayakan hari ini kan?"