
Perjalan ke villa keluarga Arif memakan waktu hampir 2 jam. Pemandangan indah dan menyegarkan sepanjang perjalanan sebanding dengan rasa lelah mereka. Menghirup udara segar adalah hadiah saat bepergian ke puncak gunung.
Mereka menggunakan 2 mobil. Anrez, Eva, Chika dan Jio berada di mobil yang sama. Sementara Arif, Sean dan Tia di mobil yang lainnya. Anrez dan Jio bergantian menyetir. Berbeda dengan Sean, dia sama sekali tidak mau bergantian dengan Arif, seakan Arif adalah supir pribadi mereka berdua.
"Kau kan tidak punya pasangan Rif, jadi kau saja yang menyetir Ok?", bermanja manja pada Tia.
Hoek. Awas kau Sean, kau pasti akan menyesalinya. Aku sial sekali di hari terakhir tahun ini.
Eva dan Anrez tidak seperti pasangan baru, seperti pasangan yang sudah 10 tahun bersama, gersang bagai tanaman yabg tidak di siram. Mereka bahkan tidak cocok dianggap pasangan. Sikap Anrez sangat cuek pada Eva, jika bukan karena Eva yang agresif or ang orang akan mengira mereka hanya berteman saja.
Berbeda dengan pasangan aneh itu, Chika dan Jio tampak dimabuk asmara, ya terutama Jio, sejak tadi dia selalu minta dimanja Chika, disuapi, dielapi bahkan minta cium yang dibantah habis habisan oleh Chika.
2 jam telah berlalu, mereka baru saja tiba di villa itu. Vilanya tidak terlalu besar hanya ada 1 lantai tapi sangat asri dan nyaman. Villa ini di dominasi oleh kayu, furniturnya juga.
Arif sudah mengantar kekamar masing masing, hanya ada 3 kamar di villa ini. 1 kamar untuk para gadis, 1 kamar untuk laki laki, dan 1 kamar utama khusus hanya untuknya. Ya iyalah anak yang punya. Sean protes keras namun tidak di gubris Arif. Inilah pembalasan Arif atas kelakuan buruknya tadi.
Rasakan kau tidak bisa berbuat mesum di vila ini.
"Yah, kak Arif menyebalkan, padahal aku sudah siapin baju tidur sexy untuk dipamerkan ke Sean."
Spontan ucapan Tia membuat Eva terkejut. Air yang sedang di minumnya menyembur begitu saja.
Apa apaan bocah kecil ini.
Eva menatap Chika meminta penjelasan. Chika hanya memberi isyarat nanti saja seraya melirik Tia yang sedang menyusun barang barangnya di lemari.
"Tidak apa apalah aku berenang saja bersama Sean", memamerkan baju renang 2 pieces nya dengan bangga.
Lagi lagi Eva terkejut, kali ini menyemburkan makanan yang dimakannya. Begitu juga dengan Chika dia ikut ikutan terkejut, dia tersedak kue itu. Teringat baju renang hadiah kak Jihan.
Ini dunia apa, aku salah alamat?
"Kakak kakak Tia duluan ya, mau bertemu Sean."
Tia sudah keluar kamar. Eva buru buru menarik Chika untuk menceritakan yang dia ketahui.
Beberapa kali Eva menganga tidak percaya dengan yang didengarnya. Tidak percaya bocah kecil itu audah tidak gadis lagi, tidak percaya Sean melakukannya dengan gadis kecil dan tidak percaya dia masuk kepergaulan yang seperti itu.
"Lalu bagaimana dengan ekheem kau dan Ji Jio, apa ka kalian sudah?", menyatukan kedua jari telunjukknya memberi petunjuk tentang maksudnya.
"Kau gila, aku tidak akan pernah melakukannya", Chika membantah dengan cepat. "Kau juga jangan sampai melakukannya."
"Bagaimana mau melakukannya Anrez sama sampai detik ini belum pernah menyentuhku", diam sejenak. "Dia sangat pasif padaku seperti dia tidak benar benar menyukaiku."
Di dalam hati Chika dia membenarkan apa yang dikatakan Eva, sangat jelas memang Anrez cuek padanya.
"Anrez memang seperti itu, dia sangat pendiam. Akupun tidak pernah berbicara padanya. Tapi kalau dia tidak menyukaimu tidak mungkin kalian berpacaran sekarang."
Eva hanya mengangkat bahunya. Entahlah begitu maksudnya. Walau hatinya sedikit gelisah menyikapi Anrez yang sangat dingin.
Para laki laki sedang membantu Arif menyiapkan peralatan memanggang di halaman belakang. Mendadak mereka sangat rajin, entah karena lapar atau pamer keahlian. Seperti Sean yang tidak pernah terduga sangat ahli menyiapkan bahan bahan yang di perlukan, dia sudah memotong beberapa sosis, daging dan paprika lalu menusuknya dengan tusuk sate.
"Ini bisa di makan?", Arif menangkat beberapa hasil karya Sean dan mengamatinya.
Sean menatap kesal. "Aku tahu isi pikiranmu, kau tidak bisa melakukan yang seperti itu kan?", menghunuskan tusuk sate tepat di wajah Arif.
"Kau tidak perlu heran, dia sering menjadi asisten Jo saat acara seperti ini", Jio menimpali.
"Ya kau cukup berbakat", Arif berlalu sambil menepuk bahu Sean.
Entah kenapa itu tidak terdengar seperti pujian.
Tiga gadis manis baru saja memasuki halaman belakang, mereka baru saja kembali dari jalan jalan disekitar vila. Mereka sangay kompak mengenakan dress selutut ya mereka memang janjian sih.
Chika menghampiri Arif yang sedang menyiapkan arang untuk memanggang.
"Apa perlu bantuan?."
Tanpa menoleh Arif pun tahu itu suara Chika. "Tidak perlu Chika, ini akan selesai. kau lihat", bangga memamerkan hasil pekerjaannya. Bara api sudah sangat siap untuk digunakan.
Ketika Arif berbalik badan dia terkejut melihat gadis di depannnya. Dia belum pernah melihatnya sebelumnya. "Kau si siapa?."
Chika memutar bola matanya dan mencibir. "Sungguh tidak lucu."
Sudah pasti Arif tidak mengenali Chika yang hanya mengenakan dress dan cardigan tanpa hijabnya. Mereka selalu bertemu saat Chika berhijab.
"Ya sekarang aku tahu mengapa laki laki di ujung sana sibuk memikirkanmu", menunjuk Jio disudut sana dengan ekor matanya sedang mrngamati mereka sejak tadi.
Memangnya Jio kenapa.
"Yayaya berhenti bicara omong kosong, ayo bakar dagingnya", sibuk menyiapkan daging.
Seperti daging yang dipanggang oleh Arif bersama Chika, begitulah perasaan Jio melihat mereka, terbakar api cemburu. Jio juga bertanya tanya untuk apa Chika melepas hijabnya. Jio tidak bisa lagi berpikiran jernih. Khayalan tentang Chika yang menyukai Arif semakin nyata.
"Kau lihat itu?."
Sean menoleh ke arah yang ditunjuk Jio. Terkejut.
"Pantas saja kursi dan meja ini belum juga selesai kau tata, ternyata kau menata hal lain.
Jio mulai menjelaskan maksud buruknya. Tidak ada lagi keraguan atas keputusannya itu. Lalat lalat yang berterbangan disekitar Chika membuatnya semakin menggila. Melihat Arif yang sangat dekat dengan Chika? atau mengingat laki laki yang mengembalikan laptopnya waktu itu, juga teringat Doni yang selalu ada untuk Chika.
Huh aku tidak tahan lagi.
"Kau yakin ingin mengikat benang merah sepertiku?, maksudku kau tahu kan itu juga bukan hal yang mudah."
Sean tetap berusaha mencegah niat Jio, dia sudah menjalaninya selama ini. Ini bukan hanya tentang hidup Jio tapi juga masa depan seorang gadis.
Mulai malam ini kau hanya akan menjadi milikku Chika, jangan pernah bermimpi untuk lari dariku. Kau hanya untukku.
"Lakukan saja seperti yang aku minta", menatap Chika dari kejauhan dengan penuh ambisi.
Baiklah, Sean hanya bisa mengikuti keinginan gila itu.
Aku harap kau tidak menyesal Jio, sepertiku.