
Bagi jempolnya dong kalo gak ngambek ni :'(
Jio duduk bersantai di kamarnya sambil menonton televisi. Sebenarnya televisi itulah yang menonton dirinya. Sejak tadi Jio sibuk dengan ponselnya tidak perduli dengan siaran televisi.
Setiap ponselnya berdering baik telpon atau pesan masuk dia akan tersenyum sumringah dan membiarkannya begitu saja. Dia sangat suka Chika menghantuinya seperti itu.
Mari kita lihat seberapa gigih kau membujukku.
Lalu keadaanya berubah, tiba tiba semua dering telpon yang membuatnya bahagia itu senyap. Chika tidak lagi menerornya. Sekarang giliran Jio yang kalang kabut.
Apa aku sudah keterlaluan?
Jio mengutip kembali ponselnya yang tadi di buangnya sembarangan ke kasur. Menatap serius layar ponselnya berharap ada telfon masuk. Berhasil, ada telfon masuk. Tanpa melihat siapa yang menelpon Jio buru buru menjawab telfon itu.
"Kau dimana? ayo main game online."
Jio diam saja tidak menjawab, mendengar suara bass dari telfon itu membuatnya kesal setengah mati. Tanpa perlu memeriksa penelponnya dia sudah tahu siapa diseberang sana. Sial.
"Halo Jio, kau tuli? Oh aku tahu kau sedih ya bukan Chika yang menelfonmu tetapi aku sahabat karibmu ini."
"Diam kau, jangan menelponku, kau sangat mengganggu."
Mendengar suara tawa Arif yang mengejek membuat kesalnya semakin bertambah saja. Tidak menunggu jawaban dari Arif, Jio langsung memutus panggilan telfon itu.
Diperiksanya beberapa pesan yang dikirim Chika. Jio bisa mengerti kalau Chika sedang sedih.
Huh sudahlah aku telfon saja sebelum aku yang jadi gila.
Jio melakukan video call dengan Chika, dia sangat ingin melihat wajah kekasihnya itu. Tidak menunggu lama panggilan itu tersambung. Chika pun tersenyum senang menatapnya.
Wajah sedih macam apa itu, aku bahkan bisa melihat cahaya menyilaukan disekitarnya. Kau terlalu bahagia untuk bersedih, kau sedang mwmpermainkanku ya?
"Kenapa mengirim pesan seperti itu, apa kau sengaja membuatku khawatir?"
Jio belum menjawabnya, perhatiannya teralihkan oleh jaket Zyan yang terletak disandaran kursi yang diduduki Chika.
"Jaket siapa itu, kau punya adik laki laki."
Jio fokus pada wajah panik Chika, dia menoleh mencari jaket dibelakangnya.
"Ii itu punya Zyan, dia datang ke toko untuk mengembalikan laptopku."
Jio berusaha mengatur mimik wajahnya. "Baiklah bersenang senanglah."
Jio mematikan duluan. Dia kesal. Kesal karena dia jauh, kesal karena tidak bisa menemani Chika saat dia butuh, kesal karena laki laki lain yang melakukannya. Dan semakin kesal karena tidak ada yang bisa dilakukannya.
Jio membanting ponselnya ke kasur. Mengusap kasar wajahnya lalu duduk di tepi kasurnya. Dia mulai bertanya tanya dalam hati, apa benar suatu hari nanti Chika akan meninggalkannya seperti kata Lita? Chika bisa bertemu laki laki lain yang lebih baik diluar sana kan? Sekarang saja dia sedang bercanda dengan laki laki lain. Beribu fikiran buruk sudah menyerang otak Jio.
Aku tidak ingin perempuan sial itu tertawa karena apa yang diucapkannya terjadi padaku. Chika, kau harus terus bersamaku walaupun aku harus mengikatmu.
Chika menutup mukanya sesaat karena Jio memutus video call itu. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi Jio yang sangat posesif. Lalu dia kembali ke Zyan yang menunggunya sambil membuat cupcake sejak tadi. Chika tersenyum senang mendapati semua cupcake sudah dihias cantik.
"Darimana kau belajar membuat kue cantik begini?", Chika mengangkat satu cupcake dan memperhatikan detail hiasannya. Ini sangat rapi untuk seorang pemula.
"Kau kan tahu aku hobi melukis, ini tidak jauh berbeda dengan kuas dan cat", menunjuk cream dan manik manik.
Chika mulai memajang kue kue itu agar pengunjung tertarik untuk membelinya. Zyan memperhatikan Chika banyak diam sejak menerima video call tadi.
"Maaf Chika apa pacarmu salah paham karena jaketku tadi?".
"Tidak mengapa Zyan, sia hanya perlu waktu untuk memahaminya. Oh iya Zyan apa kau tahu hadiah apa yang cocok untuknya? Dia ulang tahun minggu depan."
Zyan serba salah ditanya begitu. Dia bahkan tidak mengenal Jio bagaimana bisa dia tahu hadiah apa yang cocok.
"Emm apa pacarmu mengenakan jam tangan?."
Chika tersenyum senang. Ide yang bagus. "Aku tidak salah bertanya padamu tuan serba tahu."
Zyan tertawa mengejek dengan julukannya.
Andai saja kau belum punya kekasih Chika.
Ibu datang ke toko lagi untuk memberikan Chika lembar pesanan cake yang di pesan beberapa pelanggan dalam minggu ini. Ibu menjelaskan dengan rinci dengan tatapan mata elangnya. Dia menatap Zyan dengan tidak suka. Menurutnya Zyan hanya mengganggu waktu bekerja Chika saja dan lebih baik dia pergi.
"Kerjakan semuanya dengan benar. Dan".Berhenti sejenak melirik ke arah Zyan di sudut sana sedang meminum capucino float nya." Mama tidak menyuruhmu berpacaran disini, kau mengerti kan?".
"Ma, dia membantuku membuat cupcake ini, baguskan?", memamerkan hasil karya Zyain yang berada di etalase. Chika membantah Ibunya kali ini, dia sedang kesal karena lagi lagi tidak diajak bersenang senang bersama.
"Suruh dia pergi jika urusannya sudah selesai denganmu." Ibu tidak perduli dengan cupacake cantik itu. Dia hendak berlalu namun Chika bertanya lagi.
"Ma apa aku bisa kembali ke kota lebih cepat 2 hari, emm ada administrasi yang harus ku urus sebelum kuliah berlangsung lagi", Chika berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan dia harus kembali karena ulang tahun Jio kan.
"Ya kita lihat saja nanti."
Ibu berlalu begitu saja, tidak lupa dia melayangkan tatapan tajam pada Zyan ketika melewatinya.
Deg. Masih semenyeramkan dulu.
Chika memperhayikan dari kejauhan bagaimana susahnya Zyan menelan salivanya ketika mrndapat tatapan tidak suka dari ibunya. Diam diam dia menertawakannya lalu menghampirinya kembali.
"Apa kau sedang takut?."
Berusaha menyembunyikan perasaannya, Zyan menghindari tatapan Chika dan menggeleng sambil mencibir. Chika duduk di depan Zyan dan sibuk dengan ponselnya.
"Pacarmu masih salah paham, apa perlu ku bantu menjelaskannya?." Tawaran yang akan semakin membuat kacau.
"Ah terimakasih, aku tidak yakin itu akan berhasil, biar aku saja."
"Jika tidak berhasil, cari yang lain saja", menebarkan senyum penuh pesona. "Tentu tidak sulit jika itu gadis secantik dirimu Chika."
Chika tertawa mendengarnya, apa apaan kalimatmu itu. "Apa aku secantik itu?."
"Ya dibandingkan dengan sekarang kau jauh lebih cantik dan imut. Well aku ingin bertemu temanku lagi, good luck dengan hadiahmu."
Zyan mengenakan kembali jaketnya dan bersiap pergi. Dia mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya untuk makanan dan minuman yang di makannya.
"Kau tidak perlu membayarnya, aku traktir untuk laptopku, lahi pula kau membantu mrnghias beberapa kue, terimakasih."
"Wah kalau begitu aku akan sering kesini selama liburan ini", Zyan sangat antusias.
"Datang saja jika kau tidak takut dengan ibuku."
Mereka tertawa bersama. Menyenangkan untuk bertemu teman yang sudah lama tidak bertemu. Zyan meninggalkan toko roti itu dengan sepeda motor miliknya.
Chika kembali menyusun kue kue yang sudah cantik di etalasi, setelahnya dia mencuci tangannya yang terkrna cream di westafel. Samvil bercermin teringat kembali kata kata manis dari Zyan, Chika tersenyum.
Apa aku secantik itu? Tidak bukan itu pertanyaannya. Kalau begitu sejelek apa aku dulu?? Iiii aku tidak ingin menjawabnya.