
Chika naik ke lantai atas. Bersusah payah menaiki tangga dengan sisa sisa tenaga yang ia miliki. Terdengar sayup sayup percakapan orang dari kamar bawah. Tidak itu bukan percakapan itu mirip perkelahian. Chika berusaha tidak peduli karena dia sangat lelah hari ini. Bukan hal yang aneh juga ada yang berkelahi di kosan ini. Tinggal bersama dengan latar belakang yang berbeda pasti banyak memiliki perbedaan.
Chika menghempaskan badannya di kasur tanpa membuka kerudungnya. Memejamkan matanya. Berharap bisa mengusir rasa lelahnya sedikit. Tidak bisa. Suara makian itu terlalu keras sampai ke lantai atas.
Ya tuhan aku hanya ingin istirahat, apasih yang di permasalahkan lagi, kenapa harus berteriak begitu.
Sepertinya ibu kos tidak ada. Mereka bahkan bergantian berkata kasar dan lebih kasar lagi. Chika enggan ikut campur karena mereka itu senior. Umur tidak bisa mengukur tingkat kedewasaan seseorang. Ya itu memang benar. Chika memijat kepalanya sambil melepas kerudungnya.
Seseorang seperti sedang berlari ke arah kamar Chika. Langkah itu sangat tergesa gesa. Di lantai dua hanya ada kamar Chika dan kamar anak ibu kos kak Tia. Kak Tia jarang tidur di kamarnya, dia lebih sering menemani ibunya. Jika ibu kos tidak ada berarti kak Tia juga.
Apa kak Nia datang ke kamarku?
Chika bangkit dan membuka kunci pintu. Tapi dia tidak membuka daun pintu itu. Tidak ada yang terjadi. Dia tidak salah dengar memang langkah kaki itu semakin dekat tapi tiba tiba diam dan hilang. Apa apaan apa kosan ini sudah menjadi kosan hantu batinnya. Chika ingin kembali berbaring tapi pintu itu terbuka.
"Eva? Kenapa pulang dengan cara dramatis seperti ini mengagetkan saja".
Itu Eva. Dia masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu. Nafasnya tidak teratur. Dia meminum banyak air.
Sepertinya ada bom yang meledak hari ini.
"Kau tidak tahu kan Chika. Kak Nia bertengkar dengan selingkuhan pacarnya. Dan parahnya itu sahabatnya sendiri." Eva duduk di kursi belajarnya sambil memakan camilan.
Chika kembali berbaring memijat dahinya sambil menutup mata mendengarkan ocehan Eva, "untuk apa mempertahankan laki laki seperti itu. Lelaki tukang selingkuh itu sama saja seperti sampah. Bukankah sampah harus dibuang pada tempatnya?".
"Ya harusnya begitu, tapi apa kau tau?" Eva mendekati Chika dan berbisik "kak Nia hamil".
Chika membuka matanya terkejut. Dia menatap Eva tidak percaya.
"Jangan mengatakan yang tidak tidak, kak Nia sangat baik dan santun. Aku bahkan tidak pernah melihatnya melepas kerudungnya, itu tidak mungkin. Dimana dia bisa melakukan perbuatan hina seperti itu?".
Eva memutar bola matanya. Kesal dengan Chika yang selalu tidak peka dengan sekitar. Bahkan seisi kosan juga sudah tahu wajah kedua seorang Nia.
Nia dulunya anak pesantren. Dia kuliah jurusan Agama sesuai keinginan orangtuanya. Nia gadis yang manis. Tapi dia sangat tertutup. Beberapa temannya mengatakan dia hanya berkelakuan baik di sekitaran kampus dan binal di luar. Dunia malam sudah makanan sehari hari untuknya. Nia hanya mengenakan kerudung demi menuruti aturan kampus.
"Chika, aku rasa hanya kau yang berpura pura tidak tahu siapa Nia. Warga kosan sudah paham betul kelakuannya di luar sana. Kemarin juga aku lihat wajahnya pucat dan mual mual. Benarlah dia itu sedang hamil, apalagi."
Tidak ada sanggahan dari Chika Eva melanjutkan teorinya.
"Kosan kita tidak melarang anak kos untuk tidak pulangkan? tidak ada aturan seperti itu. Aturannya hanya perlu melapor jika tidal pulang. Masalah ada dimana dengan siapa itu bulan urusan ibu kos."
Semua kosan seperti itu. Tidal ada satu peraturan di dunia ini yang bisa mencegah manusia untuk tidak bergelut dengan dunia malam. Sebagai manusia yang mempunyai pikiran, pasti akan ada seribu satu jalan untuk melakukannya. Tidak peduli harus sebanyak apa berbohong jika memang ada kemauan, hal itu akan terlaksana. Sayangnya keinginan yang keras ini bagi sebagian orang hanya di lakukan untul hal hal yang tidal baik.
"Sudahlah biarkan saja dia menjalani hidupnya. Kita tidak bisa menilai kehidupan seseorang. Hanya dia yang tahu hidup seperti apa yang di jalaninya. Tidak baik membicarakan orang di belakangnya. Berharap saja dia tidak hamil, harusnya dia lulus tahun ini kan"
"Ya kau memang benar tapi entah kenapa bergosip itu adalah bagian dari jiwaku."
Eva melenggang ke kamar mandi membawa setumpuk pakaian kotor miliknya. Hari ini jadwalnya mencuci. Bukan, dia memcuci karena ****** ******** sudah habis. Lagi lagi.
Chika mengganti pakaiannya. Mengenakan daster kuning bergambar beruang. Ada lubang berbentuk segitiga di punggungnya. Entah apa yang di pikirkan tukang jahit daster ini. Kosan itu tertutup dan tidak ada lelaki jadi mereka aman berpakaian bagaimana pun. Tidak akan ada yang melihatnya kecuali mereka.
Apa benar kak Nia hamil. Apa kota besar ini segitu mengerikannya. Bisa mengubah orang baik menjadi liar seperti itu.
Chika duduk bersandar di tangga dekat jemuran. menemani Eva menjemur pakaiannya yang memenuhi semua jemuran. Bahkan sudah penuh sesak.
"Chika, jangan sampai kau mengalami kejadian serupa dengan kak Nia. Ya aku percaya padamu, aku hanya takut kau terbawa arus. Kau paham kan maksudku. Jangan sampai mengecewakan orangtua kita di rumah".
Chika tersenyum menanggapi nasihat Eva.
Tidak aku tidak akan menghancurkan hidupku seperti itu. Bukan untuk orang tuaku, juga untuk diriku sendiri. Tunggu. Apa Eva juga berfikir kalau Jio juga termasuk lelaki brengsek. Ah kenapa semua berfikir begitu.
"Eva, apa menurutmu Jio bukan orang baik?".
Eva menghentikan kegiatannya. Bukan karena Chika tapi memang tidak ada lagi ruang untuk menjemur ****** ********. Masih tersisa 5 helai lagi dengan warna yang berbeda beda.
"Kau bercanda? Bagaimana aku bisa tahu, aku tidak mengenal Jio". Diam sejenak. Duduk di sebelah Chika. "Kau juga tidak mengenalnya, jadi berhati hatilah."
Ya itu juga benar aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu kehidupan apa yang di jalaninya di kota besar ini. Apa dia juga bagian dari dunia malam itu?. Apa aku tanyakan saja?.
Chika memang sedang bertukar pesan dengan Jio sejak tadi. Niat untuk bertanya semakin mencuat, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Jadi sekarang kau sedang apa?
Chika mengetik balasan pesan Jio yang sedari tadi di biarkannya. Bahkan pertanyaan Jio tidak di gubrisnya.
Tentu saja memikirkanmu.
Kenapa dia ini selalu begini, apa dia menelan sekilo gula sehari nya, mulutnya sangat sangat manis.
Benarkah? Entah kenapa sepertinya itu benar.
Tidak perlu menunggu lama ponsel itu berdering balasan dari Jio.
Apa ada yang ingin kau ketahui?
Apa? Kenapa dia ini peka sekali. Apa di kehidupan sebelumnya dia ibuku. Baiklah apa ku tanyakan saja.
Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa memahamiku secepat ini. Tapi ya ada yang ingin sekali ku tanyakan.
Katakanlah akan ku jawab sejujurnya.
Ragu ragu akhirnya Chika mengetik pesan itu.
Apa kau bagian dari dunia malam?.
Selang lima menit ponsel itu beedering lagi.
Tentu saja, aku tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku yang hanya sekali.