Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Dibandingkan



Syukurlah nilai semester 2 Chika baik baik saja meski dia lagi patah hati. Walaupun gak ada yang perduli setidaknya Chika bangga untuk dirinya sendiri. Orangtua Chika tidak pernah bertanya apa dan bagaimana Chika hidup di kota orang sebatangkara, papa hanya mengirim uang untuk kebutuhan Chika, tidak pernah bertanya cukup atau tidak. Chika tidak pernah protes bisa kuliah saja dia sudah bersyukur, hanya jika Evi menerima telpon dari mama nya, dia sering merasa iri.


Chika tengah menghabiskan liburan semesternya bekerja di toko roti ibunya. Chika sedang menunaikan misi yaitu meminta laptop pada orangtuanya. Ya Chika butuh laptop untuk mengerjakan tugas tugas kuliahnya. Sedari dulu jika Chika menginginkan sesuatu dia harus bekerja ekstra untuk menyenangkan ibunya, baru dia bisa meminta. Tidak ada yang gratiskan? Tapi tidak bagi saudara Chika yang lain, mereka mendapatkan tang mereka mau bahkan tanpa memintanya, ya mama mengerti saja seperti telepati.


Apa ada yang salah ya dengan kelahiran ku.


Terkadang Chika masih memikirkan Ofi, Ofi juga masih mengirimkan pesan singkat sekedar menyapa tapi Chika membalas sekenanya.


Sewaktu ujian kemarin Chika tak sengaja bertemu Ofi dan Icha di kantin, Chika ingin menghindar tapi Ofi menyapa lebih dulu bertanya tentang mata kuliah. Chika menjelaskan seadanya tetapi sesuatu yang tidak boleh terlihat malah terlihat oleh Chika. Ofi mencatat apa yang Chika jelaskan, sewaktu membolak balik buka catatan itu, tidak sengaja terbaca Chika tujuan hidup Ofi kira kira seperti ini.


Kuliah - Kerja - Bahagikan Orangtua - Menikah dengan Intan.


Sejak awal memang aku tidak masuk dalam hidupnya, hanya iklan.


Sudah 2 kali Chika bertemu orang yang salah, berharap untuk yang ke tiga kali nya bertemu orang yang benar. Bukankah harus bertemu dengan orang yang salah dulu baru yang benar kemudian?


"Lho Chika disini ya, lagi libur kuliah?"


"Oh iya tante, lagi libur semester."


"Kakak kamu yang cantik itu mana?"


"Chika punya kakak yaa, kok tante gak pernah lihat?"


"Kak Jihan lagi liburan sama temannya tante."


"Kalian kok gak ada mirip miripnya Chika yang satu cantik yang satunya....


"Chika beritahu mama aku pergi sama Lisa ya"


Jihan datang ke toko di saat yang tidak tepat. Jihan hanya ke toko saat ingin menitip pesan ke Chika. Jihan tidak pernah membantu di toko seperti Chika.


"Lha ini orangnya datang, calon mantu tante."


"Lho kok beda banget yaa."


Apa aku mati saja ya sekarang, sampai orang tua juga ikut ikutan ngebully.


Dari dulu memang Chika selalu di bandingkan dengan kakaknya, Chika di bandingkan kakaknya memang sangat jauh, dari segi wajah ataupun badan. Jihan cantik dan tinggi, sementara Chika memiliki wajah dan badan yang standar. Hanya Chika lebih pintar dari Jihan, Chika selalu juara kelas. Tapi bagi kebanyakan orang penampilan yang lebih penting, sisanya bisa di atur.


"Chika kamu dandan dong biar cantik sepeti kakakmu!"


"Kan Chika gak kemana mana tante, oh iya tante menurut tante aku sama anak tante cantikan mana? Aku kan? Aku yang gak dandan aja masih lebih cantik. Lebih baik tante urus aja anaknya bawa ke salon gak perlu banding bandingin aku sama kakak, toh kami sudah sama sama cantik dengan cara pandang kami masing masing. Ini belanjaannya tante terimakasih."


Chika meninggalkan meja kasir dan teman teman mama, dia ingin menangis tapi sebisa mungkin dia tersenyum. Chika cukup puas dengan apa yang dia katakan tinggal menunggu amarah mama karena berlaku tidak sopan. Masa bodohlah.