
Hari ini gantian giliran Chika yang menunggu Jio pulang dari kampusnya. Dia menunggu di sekitar parkiran bersama Maya. Maya teman sekelas Chika yang sedang menunggu jemputan pacarnya. Teman teman di kelas Chika sangat baik dan ramah, tidak ada saling menjatuhkan. Itulah sebabnya Chika tidak ingin memenuhi tawaran Jio untuk pindah kekelasnya. Sebenarnya akan mudah bagi Jio jika sekelas, dia hanya perlu menuruti jadwal sesuai kelasnya. Tidak seperti sekarang, dia juga harus ke kampus sesuai kelas Chika. Walau bagaimanapun Chika menolak, karena tahu itu menyusahkan Jio, tetap saja di pagi hari dia sudah berada di depan gerbang kos.
Jadwal pulang juga sama, aturan yang aneh itu tetap berlaku, padahal jarak kosan Chika ke kampus hanya 10 menit saja berjalan kaki. Kata Jio menyebalkan jika seseorang menatapmu tanpa ada aku. Bagi Chika itu hanya gombalan saja, nyatanya tidak bagi Jio, dia tidak suka pacarnya di goda seseorang. Karena untuk sampai ke kosan Chika harus melewati kosan para laki laki dulu.
15 menit lagi kelas Jio akan berakhir. Maya juga sudah pulang duluan karena di jemput pacarnya. Chika menunggu sambil membaca komik punya Doni. Ya walaupun Doni gondrong dan sangar dia adalah kolektor komik. Tentu saja komik horor sesuai dengan wajah Doni haha.
15 menit sudah berlalu namun Jio atau Sean belum juga terlihat. Beberapa teman yang sekelas dengan Jio juga sudah ada yang melewati Chika. Lalu dimana Jio?
"Permisi, apa kau melihat Jio? ". Orang yang di tanyakan tentu saja mengenal Chika kekasih Jio. Sayangnya Chika salah memilih orang untuk bertanya, bukannya menjawab seperlunya dia malah memanas manasi Chika. Dia adalah gadis yang tidak menyukai Chika karena Chika biasa saja.
"Kau menunggu disini hingga sore begini sementara pacarmu sedang bersama gadis lain selama di kelas, ckckck kasian sekali."
"Baiklah terimakasih." Memilih untuk tidak meladeninya. Gadis itu segera melenggang pergi karena tidak ada perlawanan.
Apalagi ini? Hidup ini sulit sekali.
Setelah berfikir cukup lama Chika memutuskan untuk tetap duduk dan menunggu saja. Toh tidak ada juga yang bisa dilakukan selain mempercayai Jio. Jio sudah seringkali mengatakan untuk lebih percaya padanya daripada oranglain, karena selalu ada orang yang tidak suka padamu apapun yang kau lakukan. Chika melanjutkan saja komiknya.
Selang 10 menit dari kejadian buruk itu Jio dan Sean menghampiri Chika. Mereka langsung duduk di kedua sisi Chika. Jio langsung menarik lengan Sean agar berpindah kesebelahnya saja. Sekarang Jio lah yang di apit di tengah.
Chika tidak bertanya apapun. Bersikap seperti biasa. Namun semuanya sangat jelas sekarang. Seorang gadis tiba tiba saja menghampiri dengan sok akrab. Jika saja Jio tidak di tengah dia pasti sudah merapat ke sebelah Jio
"Kenapa belum pulang Jio, kau bisa kena masalah kalau terlambat pulang hari ini kan?."
Oke, mereka sangat akrab.
Chika hanya memperhatikan cara gadis itu dan Jio berkomunikasi, jelas mereka sudah sangat lama kenal. Tidak, sepertinya gadis ini sudah sangat mengenal Jio, tahu apa saja tentang Jio. Walau Jio hanya menjawab iya atau tidak gadis itu tetap saja mengoceh tidak berhenti.
Chika memberi kode kepada Sean, namun Sean hanya mengangkat bahunya dengan senyuman aneh.
"Kenalkan ini pacarku Chika."
Jio tiba tiba memotong pembicaraan gadis itu. Jio merangkul Chika. Gadis yang berdiri di depan Jio itupun memperhatikan tangan Jio dengan seksama. Sangat jelas dia tidak suka, namun dia tetap tersenyum.
"Aku Lita mantan pacar Jio. Oh iya sekarang aku sekelas dengan Jio, aku baru saja pindah kelas hari ini." Senyuman genitnya sangat menghanyutkan. Lita mengulurkan tangannya. Dia tersenyum ramah. Jelas itu hanya pura pura saja.
Baiklah mari kita lihat apa yang kau inginkan. Chika
Chika menjabat tangan itu dan tersenyum. Canggung. Tapi Lita tidak kehabisan akal untuk terus menarik perhatian Jio, dia bahkan minta ujtuk di antar pulang karena rumah mereka searah.
"Hari ini aku bawa motor, aku harus mengantar pacarku." Sejak tadi Jio tidak pernah sekalipun melakukan kontak mata dengan Lita. Dia melihat kesembarang arah, seringnya menatap Chika. Seperti ada rasa tidak suka.
Akhirnya Lita pergi juga. Lucu sekali dia bahkan membawa mobil sendiri lalu untuk apa minta diantarkan. Mereka bertiga menyaksikan sendiri bagaimana Lita dan temannya meninggalkan kampus.
Kebohongan macam apa itu? Sungguh gadis yang aneh.
Bagaimanapun anehnya Lita di mata Chika, tidak menapik bahwa dia sangat cantik. Nyaris sempurna. Wajahnya pun sangat terawat. Chika lalu memandangi Jio dengan tatapan aneh.
Aku jadi penasaran, apa saja yang sudah dilakukannya bersama gadis secantik itu?
Mungkinkah?
"Aku tidak merasakan apapun padanya lagi, kami hanya berteman saja."
"Aku tidak melihat hal yang sama dimatanya. Nyatanya tidak pernah ada pertemanan antara laki laki dan wanita."
Kali ini Sean hanya menjadi penonton budiman. Sepertinya Chika dan Jio melupakan keberadaannya.
Aku butuh popcorn.
"Dia juga menganggapku seperti itu, dan harus seperti itu."
Hanya itu penjelasan Jio, Chika juga tidak membahasnya lagi. Ada rasa luka dari nada suara Jio. Lagipula tidak tepat untuk membahasnya disini. Jio menggenggam tangan Chika dan menariknya pelan untuk segera pulang. Hari ini sudah lelah dengan semua jadwal kuliah, saatnya pulang untuk istirahat.
Begitu banyak pertanyaan yang sudah tersusun di kepala Chika selama perjalanan ke kosnya. Bahkan jika bukan karena di beritahu Jio sudah sampai dia tidak menyadarinya. Melihat mereka benar benar sudah tiba, Chika turun dari sepeda motor itu. Setidaknya dia harus menanyakan 1 pertanyaan saja tidak 2 pertanyaan.
"Katakanlah!." Jio sudah sangat hafal jalan fikiran Chika.
"Apa itu alasanmu menyuruhku pindah kelas?."
"Tidak, aku tidak tahu dia pindah ke kelasku." Kebohongan yang sangat tidak bisa di percaya.
Selain karena Chika menyukai teman teman sekelasnya, akan sangat membosankan jika sekelas dengan pacar. Pasti membosankan, begitu fikiran Chika. Kali ini Chika tidak mengerti apa maunya Jio. Untuk apa sekelas dengannya hanya untuk pamer ke Lita. Menurut Chika, Lita bukan hanya sekedar mantan pacar.
Lanjut pertanyaan kedua.
"Apa hubunganmu dengannya sama dengan hubungan Sean dan Tia? Maksudku kau tahukan Tia adalah tempat kemana Sean harus kembali." Chika membubuhkan tanda petik dengan menggerakkan jarinya ketika dia mengatakan kata kembali.
Tidak ada senyum seperti biasa di wajah Jio. Tidak tahu karena lelah atau karena ulah Lita.
"Aku masih perjaka Chika, aku tidak melakukan **** bebas dengan sembarang wanita."
Chika terkejut dengan jawaban itu. Alisnya ikut terangkat mendengarnya.
Lucu sekali, apa itu mungkin, gadis sesempurna itu hanya di pandang saja? Tunggu, jadi dia perjaka?
"Benarkah?." Tidak percaya namun ada rasa senang menggelitik dihatinya.
Jio mengangguk perlahan. Pertanyaan kedua di jawab dengan jujur oleh Jio.
"Masuklah hari ini sangat melelahkan."
Bagitu perintah Jio sebelum meninggalkan Chika di kosannya. Jawaban Jio membuat hati Chika sangat lega.
Aku tahu dia bukan laki laki brengsek.