Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Cowok Gondrong



"Nalaaa, aku rindu."


Ah apa aku pacaran saja dengan Nala ya, dia kan cowok.


Awal semester 3 sudah datang, kuliah sudah aktif. Chika menyelesaikan misi mendapatkan laptop karena mama sudah lebih dulu membelinya sebelum teman teman mama mengadu. Sebenarnya Chika di hukum tidak boleh memakainya karena kejadian itu, tapi sebelum ke kota, Chika diam diam mengambilnya. Mama tidak mungkin kan datang ke kos cuma mau ngambil laptopnya, dia sibuk. Sepertinya juga dia tidak tahu kosan Chika dimana. Aman.


Chika sudah menjaga jarak dengan Icha, Nala juga sama, dia kecewa dengan Icha. Doni? Ya mereka masih berteman. Menurut pengakuan Nala, Doni memang suka Chika tapi dia tidak mau lebih dari teman, lebih santai berteman, tidak perlu ada hubungan yang retak suatu hati nanti.


Baiklah mari kita kuliah dengan benar tanpa pacaran. Apa hebatnya orang pacaran buang buang waktu saja. Iya kan Don?


"Chika, ada yang mau kenalan lho, mau kan, aku kasih nomor kamu yaa."


Rindy mulai menggoyahkan niat baik Chika. Nala dan Doni hanya menatap Chika dengan tatapan serius? Gak kapok? Itu Rindy lho yang kenalin gak tahu cowok kayak apa. Rindy memang punya catatan sejarah yang hitam, dia terkenal karena sering gonta ganti pacar, mabuk, dan pergaulan bebas.


"Ee, ganteng gak?"


Tatapan Nala dan Doni berganti menjadi tatapan membunuh tidak tidak bahkan lebih mengerikan lagi. Ehehe baiklah baiklah.


"Aku sudah kasih kok nomor kamu, ganteng lah orangnya, baik lagi, pasti aku kasih yang baik dong sama kayak Chika yang baik. Oh iya Ka, sudah buat tugas, pinjam dong."


Makin seram kan tatapan Nala, apalagi Doni.


Seperginya Rindy dengan tugas Chika, Doni pindah duduk di sebelah Chika.


"Segitu inginnya Chik kamu pacaran? Yaudah pacaran sama aku saja !"


"Apa? Gak kok pacaran sama kamu nnti yang ada pacar rasa teman, no no no, dengarnya aja udah gak enak apalagi di jalani."


"Aku akan cari cowok baik kok, nnti kenalin ke kamu deh."


Lagi nunggu jam kuliah, Chika dan Nala duduk santai di kantin. Nala yang dari tadi senyum senyum sendiri membuat Chika bertanya.


"Woii, gila ya?"


"Apasih, emang kamu jomblo, sudah gitu gak ada yang mau lagi, bukan sengaja jomblo."


"Wah cari masalah ini anak, cerita dong!"


"Kamu sudah ketemu? Apa dia manusia??"


"Maksud kamu?"


Chika hanya tertawa, membayangkan lelaki seperti apa yang suka pada Nala yang jauh dari kata wanita.


"Kamu kenapa tolak Doni?"


Chika mengatakan kalau dia tidak suka lelaki gondrong, gak rapi. Lagi dia juga gak serius kan ngajakin pacaran kayak ngajak ngemall.


"Trus kamu mau nya gimana harus nembak di atas kapal pesiar gitu?"


"Gak juga sih lebih ke sudah nyaman sama Doni jadi teman aku."


"Ka tadi kamu bilang cowok gondrong gak rapi kan?, apa aku tolak aja cowok ini ya?"


"Eh jangan dong itu kan selera pribadi, aku gak akan ngela dia kok beneran."


"Gak ah, aku gak percaya."


"La, la, mata indah bola pimpong masih kah kau kosong."


Kabuuur


Tak terasa sudah memasuki akhir semester 3. Memasuki masa masa ujian, Chika dan Nala sibuk belajar di kantin. Chika menggerutu kenapa harus di kantin, Nala bilang karena bisa sambil makan, sudah gitu bebas mau teriak gak seperti di perpus.


"Kamu sudah mengerti yang ini kan?"


"Belum."


Chika kesal minta ampun karena menjelaskan 1 soal sampai 3 kali namun gak ada hasil.


"Udah lah La, capek makan dulu, kak Lilis boleh pesan."


Kak Lilis mencatat pesanan Chika dan beralih ke meja di sebelah Chika, rombongan anak lelaki, kelihatannya 1 angkatan Chika. Salah satu dari mereka sudah memperhatikan Chika sejak tadi, Chika juga menyadarinya hanya pura pura tidak merasa, padahal jidatnya panas.