
Sesampainya di rumah, Jio duduk menyantap cupcake buatan Jo. Ujian hari ini membuatnya cukup lelah dan lapar. Makan cupcake itu membuatnya teringat Chika yang pernah membawakannya cupcake juga.
"Cupcake mu payah Jo, lebih enak buatan pacarku", jempol terbalik di arahkan Jio pada pandangan Jo.
Mana mungkin begitu kau saja yang gelap mata karena cinta, ya walaupun aku tidak ahli soal pastri tapi tidak mungkin bocah ingusan lebih baik dariku kan.
"Aku jadi penasaran dengan kekasihmu itu." Jo duduk di sebelah Jio mencicipi cupcake buatannya. Memastikan apa rasanya memang sangat mengerikan.
Ini lezat kok.
"Nanti aku kenalkan. Atau jika Mama sedang keluar kota aku bawa dia ke rumah kita untuk membuat cupcake."
Aku juga sangat ingin melihatnya membuat kue.
Jio tersenyum berseri membayangkan semua itu terjadi. Jo mulai membantu Jo menghias cupcake cupcake itu, ya walaupun lebih banyak menyusahkannya daripada membantu. Begitulah meski terkadang ada rasa benci dihati Jio, jauh di hatinya dia sangat menyayangi Jo, lagi pula dia saudaranya satu satunya.
"Kenapa harus tunggu Mama keluar kota?Bukankah Mama sudah bertemu Chika?". Pandangan Jio berubah mendengar nama Chika disebut. "Aku tahu dari pegawai restoran, semua membicarakannya, ya beberapa tentu saja membandingkannya dengan Lita."
Jio diam sebentar. Tidak tahu harus menjawab apa. "Mama lebih menyukai Lita, aku tidak ingin Mama memuji muji Lita di depan Chika dan membuatnya berkecil hati, lebih baik mereka tidak bertemu."
"Ya aku rasa itu lebih baik, nanti ku kabari kapan Mama keluar kota."
Jio tidak mau lagi menghias cupcake itu, dia menyerah. Pasalnya tidak ada 1 pun yang terlihat enak di pandang. Jo juga sudah tidak mengizinkannya lagi menyentuh cream.
Pergi sajalah kau pengacau.
Sebenarnya Jio tidak suka hal hal seperti ini, namun kalau berhasil dia ingin pamer pada Chika. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Semuanya mengerikan, bahkan cupcake itupun seperti ingin berlari dari Jio, tidak ingin dihias olehnya. Jio beranjak dari duduknya dan bergegas pergi.
"Kau menyerah? dasar payah!." Ada rasa sedih ketika Jio meninggalkan Jo, Meski lebih banyak senangnya. Bagi Jo waktu seperti ini dengan Jio adalah hal yang jarang terjadi, jadi dia sangat senang jika adiknya itu tidak membangun tembok diantara mereka berdua.
Baru sejenak Jio di kamarnya, ponselnya berdering. Segera disambarnya ponsel itu. Melihat angka angka yang tertera di layar ponsel, ponsel itu dibuangnya kembali ke kasur. Dia sangat mengenali siapa pemilik nomor ponsel itu. Menghapus daftar kontaknya percuma saja jika masih saja lekat diingatan.
Kali ketiga ponsel itu berdering akhirnya Jio menyerah juga.
"Kau mau apa lagi Lita?."
"Ah Jio aku sangat suka kau menyebut namaku. Kau ada waktu? ada yang ingin aku katakan."
"Aku sibuk."
"Aku menunggumu di cafe dekat rumahmu sekarang, sampai jumpa."
Tut. Panggilan itu sudah terputus. Lita dengan percaya dirinya berfikir Jio akan datang padanya. Jio duduk di kasurnya menimbang nimbang haruskah dia datang atau tidak.
Apa ini soal Chika, pasti dia dan Mama merencanakan sesuatu. Sial
Jio mengusap kasar wajahnya dan bersiap menemui Lita.
"Kau tampan seperti biasanya. Duduklah aku sudah pesan jus melon, jus favoritmu." Lita menyambut kedatangan Jio dengan senyuman terbaik yang dia punya. Sangat yakin Jio masih menyukainya.
"Kau saja yang minum aku sudah tidak menyukainya lagi." Duduk berseberangan dengan Lita. "Langsung saja aku tidak punya banyak waktu."
"Jika kau hanya ingin membicarakan hal yang tidak penting lagi, aku pulang saja." Jio beranjak dari kursinya dan akan segera pergi.
"Kau tahu beberapa hari yang lalu aku bertemu Chika di kelasnya", Jio sangat terkejut karena Chika tidak bercerita apapun. Dia duduk kembali di kursinya tadi.
"Ya dia sangat menyebalkan, setiap kata katanya bagai pisau yang menikamku perlahan, seperti preman saja. Huh kampungan sekali."
Wajah Lita berubah masam mengingat kembali kekalahannya hari itu. Jio masih diam saja mendengarkan, seulas senyum terlihat jelas dibibirnya karena cerita sedih Lita.
"Haha kau senang aku kalah?", Lita mulai bertopang dagu memasang senyum menyebalkan. "Dia menyuruhku mengantri karena dia belum selesai denganmu. Apa maksudnya suatu hari dia akan meninggalkanmu seperti kau meninggalkanku?." Tersenyum semakin menyebalkan.
Deg. Benarkah Chika berkata begitu.
Jio tersenyum menutupi rasa takutnya. "Tentu saja dia bilang begitu, dia bukan orang yang memaksakan segalanya sesuai kehendaknya sepertimu. Jika Tuhan mengatakan kami tidak berjodoh apa yang bisa kami lakukan?."
Sialnya Lita sudah mengenal Jio sejak lama, dia bisa membaca raut cemas di wajah Jio mendengar perkataannya tadi.
Sesuka itu kau padanya Jio.
"Apa itu tidak berarti dia tidak ingin berjuang bersamamu?." Lita santai menyuap makanannya dengan elegan. Jio hanya menatapnya saja, minuman yang di pesankan Lita pun tidak disentuhnya.
"Terserah kau saja Ji, tapi aku akan mengantri untukmu, aku sangat menyukaimu, kau tahu itu kan?. Kembali padaku jika kau sudah selesai dengannya."
Jio sudah kembali dari cafe itu. Dia pergi ke toko ayahnya. Dia hanya duduk saja memperhatikan para pegawai ayahnya menyusun barang barang toko. Tatapannya kosong, entah melayang kemana pikirannya.
Benar, apa yang dikatakan Lita tadi sungguh mengganggunya. Jio tidak mengerti sejak kapan dia sangat menggilai Chika. Rasanya semuanya akan buruk jika mereka tidak lagi bersama.
Kau harus terus bersamaku Chika, semua yang dikatakan Lita tidak akan pernah terjadi.
"Sedang apa?", Arif menghampiri Jio di depan toko ayahnya. Tempat ini memang sering jadi tempat bertemu mereka.
Jio tidak menjawab apa apa dia masih tenggelam dalam lamunannya. Arif duduk saja di sebelahnya.
"Aku sudah memastikan pada Chika soal liburan nanti, dia bilang sudah meminta izin pada Ibunya."
Barulah Jio sadar setelah mendengar nama Chika disebut. Tidak juga, karena sejak tadi hanya Chika isi pikirannya. Dia menoleh pada Arif. "Dia bilang begitu? Aku pikir dia tidak punya keberanian membantah Ibunya."
Arif membuka chatnya dengan Chika memperlihatkannya pada Jio. Jio membaca dengan seksama, tidak ada satu kata pun terlewat dimatanya. Arif tidak bohong Chika memang menyetujuinya.
"Aku hanya tidak mau dia dapat masalah nanti. Dia pernah bercerita beberapa kali soal Ibunya. Aku rasa dia tidak punya hubungan yang baik dengan ibunya, sama sepertiku."
"Sepertinya dia lebih berani daripada kau." Arif mencoba mengambil ponselnya dari tangan Jio, namun Jio penepisnya.
Jio fokus pada kata sayang yang ada di chat Chika dan Arif. Raut kesal di wajahnya bertambah 2 kali lipat.
Sejak kapan mereka sedekat ini.
"Jangan memanggilnya begitu walau hanya bercanda, kau mau aku mencabut nyawamu?." Jio meletakkan ponsel itu di meja dan menggesernya ke Arif.
Arif memasang wajah polosnya. "Kau sekarang menggantikan tugas malaikat?."