
Sepasang mata itu terus memperhatikan Chika dari kejauhan sambil berbincang dengan kak lilis penjaga kantin. Sayup-sayup Chika mendengar pembicarakan mereka yang sesekali menyebut namanya.
Apa mereka membicarakanku.
Kak Lilis kembali ke meja Chika dengan semua pesanan Chika dan Nala sambil tersenyum sumbringah seperti mendapat lotre. "cie adek kakak ada yang nanyain", godanya. Chika menatap Kak Lilis heran. "cowok itu ya?", tebak Chika santai. Kak Lilis tersenyum mengangguk penuh arti seakan meyakinkan Chika ayo dong dia kan ganteng. "kakak kenal kok namanya Jio, Jio Pratama, dia sama seperti Chika anak semester 3 juga jurusannya juga sama, masih jomblo ganteng lho". Dengan hebohnya kak lilis promosi.
ya emang ganteng sih tapi seperti playboy kelas kakap, aku kapok di ceramahi Doni si gondrong cerewet.
"kasih nomor ponselnya gak ni Ka?"
"tidak perlu lah kak, dia cuma main main aja kok"
"ya gak mungkin lah, Kakak dulu curiga dia tidak normal soalnya lengket terus sama temannya yang kriting itu, baru hari ini dia minta nomor cewek di kantin".
"ya kan kalo di luar kakak gak tahu berapa banyak ceweknya", balas Chika ketus.
"yakin Chik, ganteng lho, bisa di pamerin", sambar Nala.
"memangnya mau pamer kemana? mamaku? belum kebelet ah, sudah kak bilang saja tidak punya ponsel anak kos."
"bohong banget." keluh kak lilis dan langsung pergi melapor ke Jio.
Chika lanjut mengajari Nala beberapa soal lagi sambil setengah emosi karena Nala yang tulalit. "ih La kok gak ngerti ngerti sih?", keluhnya.
"permisi, Chika kan? kita 1 kelas waktu semester satu."
ini cowok namanya Abi, dia yang pernah pinjam catatanku tapi gak di kembalikan sampai aku teror, mau apa dia.
"ah iya, kenapa mau pinjam catatan lagi?"
Abi tersenyum kikuk menjelaskan bahwa dia teman sekelas Jio. "nomor yang lama sudah tidak aktif ya Chik?."
"iya ponselnya sudah di jual" jawab Chika acuh tak acuh.
sudah sekitar 15 menit Abi meminta nomor ponsel Chika, tapi yang dia dapat hanya nomor palsu jadi dia memutuskan kembali ke meja Jio.
Beberapa menit Chika dan Nala belajar bersama, Ira relator kelas datang terburu-buru sambil menyerahkan selembar kertas soal.
"nih dapat bocoran soal buat ujian nanti, semoga aja sama, bantu kerjain ya Chik." Chika menyanggupinya, dan Ira pergi membeli minuman untuk melegakan tenggorokannya.
sekembalinya membeli minuman, Ira langsung menyalami Chika. "ciee yang nomor ponselnya di mintai cowok ganteng". Chika yang bingung langsung menoleh ke arah Jio yang senyum sumbringah sambil menelpon seseorang. ponsel Chika pun berbunyi, di sertai 1 pesan singkat.
simpan nomor ku, Jio
seketika sepasang mata pembunuh melotot ke Ira.
Flashback
"halo, temannya Chika?", tanya Jio sambil menunjuk Chika dari kejauhan. "kenapa? mau nomor ponsel?". Jio tersenyum atas pengertian Ira. "terimakasih ya, biar saya yang bayar minumannya".
end
"tidak boleh dikasih ya? sorry Chik. bukannya kemaren kamu minta di kenalin cowok?"
Chika tidak menjawab matanya tertuju pada pesan singkat yang masuk ke ponselnya.
Jangan cari cowok lagi, aku saja cukup kan?
Ira terus meminta maaf memberikan nomor Chika sembarangan dengan satu tarikan nafas. "sudahlah", balas Chika.
pulang dulu ya good luck ujiannya.
Rombongan Jio meninggalkan kantin dengan hebohnya, beberapa dari mereka mengolok ngolok Chika. Chika acuh, dia mengerjakan soal yang di berikan Ira tanpa memperdulikan mereka.
"gak suka Chik, beneran?", tanya Nala dan Ira penasaran.
Chika mendesah kasar menyandarkan tubuhnya di kursi "gak liat dia mukanya ok gitu? apa normal suka aku? kelihatankan main main aja? daripada sakit hati, malas lah kuliah aja yang benar."
"iyasih dia ganteng, agak aneh juga, Chika kan standar ya", seru Nala.
Chika menatapnya dengan sinis "entah kenapa kejujuran itu menyakitkan".
"siapa tahu dia suka beneran Chik, coba aja". Ira.
"buat hati kok coba coba". Chika.
Di tengah kehebohan mereka, Ofi lewat dengan temannya, dia tersenyum dan manyapa Chika tanpa rasa bersalah seakan kejadian kemarin tidak ada yang salah.
ah si brengsek ini lagi, jangan nyapa jangan nyapa.
Ofi berbasa basi sebentar dengan Chika dan pergi, Chika membalas sekenanya saja agar Ofi cepat pergi.
"Chik, pacarin aja itu si Jio biar Ofi gak sok ganteng gitu, menyebalkan", keluh Nala.
Chika terlihat memikirkan saran Nala, akan menyenangkan membalas Ofi yang sok ganteng, apalagi Jio lebih ganteng dari dia. Main main sedikit tidak apa apa kan? kan masih muda.
"jangan Chik, nanti kamu yang terjebak baru nyesal, Jio itu ganteng lho baik lagi, ni aku di traktir minum kasih nomor kamu", ceplos Ira sambil menutup mulutnya.
"jadi demi sebotol air ni? sini jawabannya, ini soalnya belajar aja sendiri", Chika menarik kertas jawaban sambil pergi berlalu dari kantin.
"Chikaaaaa jangan gitu dong".
Nala tersenyum menunjukkan foto pada Ira, foto kertas jawaban tadi. Biarkan saja Chika, batin mereka.