
Dering ponsel pertanda chat masuk daritadi di biarkan Jio begitu saja. Dia sibuk bermain video game yang sejak tadi dimainkannya. Maksudnya sejak tadi pagi sampai malam ini. Seharian. Dia berhenti hanya untuk makan dan ke kamar mandi. Entah apa serunya game itu, daritadi dia kalah terus.
Jio sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan gamenya. Ya apalagi kalau bukan Chika isi pikirannya. Dia menyerah.Di hempaskannya stik video gamenya dan mengusap kasar wajahnya. Jio bersandar di pinggiran tempat tidurnya. Diamatinya kamarnya yang sangat berantakan. Ruangan itu gelap. Jio malas untuk mengidupkan lampu. Diraihnya ponsel penuh chat dari seseorang yang sudah bisa di tebaknya. Chika memenuhi kotak pesannya. Semua pesannya berisi perhatian untuk Jio.
Kenapa kau tidak menyerah saja padaku Chika. Bukankah aku sudah keterlaluan padamu?.
Ponsel itu berdering kembali. Pesan masuk dari Lita. Jio malas membukanya, tapi dibukanya juga.
Apa kalian sudah putus, ayo kembali padaku sayang.
Jio menyesal membukanya semakin menambah frustasi saja.
Tidak, terimakasih.
Jio berbaring di ranjangnya dan menatap langit langit kamarnya berwarna biru pekat. seperti langit saat sedang badai. Entah ide darimana dia buat seperti itu. Jio tersenyum mengingat Chika kala dia memuji langit langit kamarnya yang unik. Lalu senyumnya sirna saat teringat kejadian waktu itu.
Apa benar apa yang dikatakan Lita ya, dia tidak mencintaiku, suatu hari dia akan meninggalkanku. Kalau begitu kenapa tidak sekarang saja.
Jio sudah membuat keputusan untuk menyudahi hubungan mereka tapi diurungkannya. Tidak seperti gadis gadis lain yang diputuskannya begitu saja, kali ini dia takut menyesal pada akhirnya. Dia juga tidak mau ditertawakan Lita. Pertemuannya dengan Lita di pesta pernikahan rekan bisnis orang tua mereka waktu itu, Lita sudah menyindirnya berulang kali.
Lita tahu kalau hubungan mereka tidak baik baik saja. Sudah pasti dia menjadi orang yang paling bahagia untuk itu.
"Benarkan dia tidak mau hubungan kalian lebih dekat?, jika kau butuh aku telfon saja aku siap kapanpun."
Sungguh suara Lita masih bergema ditelinga Jio. Lita bahkan tidak malu mali memposisikan dirinya menjadi wanita penghibur untuk Jio.
Tidak tahu lah aku tidur saja.
Ketukan pintu yang tidak beraturan dan memekakkan telinga memaksa Jio untuk bangun dari tidurnya. Siapa yang menggedor membabi buta seperti itu.
"Aku sudah bangun pergilah sana!."
Jio berteriak dari ranjangnya. Dia tidak membuka matanya sama sekali.
"Ini aku kekasihmu, cepat buka atau akan ku hajar kau."
Kekasih?
Jio sangat mengenali suara itu. Sean Dinata. Matanya langsung membelalak mendengar suara itu. Tapi dia masih belum berniat membuka pintu itu. Yang dilakukannya hanya berteriak saja.
"Kekasihku hanya Chika, enyah kau !."
Terdengar suara tawa sumbang dari balik pintu.
"Chika yang mana? yang kau telantarkan itu?."
Jio tidak tahan lagi. Dia bangkit dan membuka pintu itu. Sean masih bersandar di pintu hampir terjatuh saat dibuka. Dia tidak menyangka Jio akan membukanya juga. Tanpa disuruh masuk Sean langsung berbaring di ranjang Jio. Jio menatap kesal.
"Kalau mau tidur pulang sana!."
"Tidak ada orang di rumahku, Tia juga sedang ada kegiatan ekstrakurikuler, aku bosan."
Sean bangkit karena melihat video game berserakan di sekitar ranjang itu. Dan berakhir bermain bersama sampai siang.
Sambil main game mereka bercerita banyak hal. Selain Arif Sean juga sangat mengerti jalan pikiran Jio. Sean berkunjung karena permintaan Chika yang khawatir karena tidak dapat kabar dari Jio. Chika juga memintanya untuk mengatakan alasan aksi diamnya.
"Kau sangat menyukainya ya?", menatap Jio dalam dalam. "Aku rasa dia juga merasakan hal yang sama, apa harus melakukan hal itu baru kau percaya padanya? Tidak bisakah kau rasakan dengan hatimu saja?."
Jio diam saja tidak menjawab. Menurutnya hati seseorang bisa berubah kapan saja. Tapi kalau sudah terikat dia tidak akan kemana mana.
"Entahlah, aku tidak bisa memutuskannya atau pun melanjutkannya."
"Dasar payah, entah mengapa aku harus berteman dengan sampah sepertimu. Jika kau suka kejar saja, untuk apa menyerah begini. Pergi dan yakinkan dia."
Bukan hanya itu yang mengganggu Jio, dia juga ragu dengan perasaannya. Dia mengejar Chika karena perasaannya atau hanya karena tidak mau yang diucapkan Lita menjadi kenyataan.
Aku memang menyukainya kan, tidak mungkin aku jadi orang bodoh begini karena dia.
Jio meraih ponselnya diantara tumpukan sampah makanan ringan mereka. Sengaja dikuburnya agar tidak berniatcmembalas peaan yang Chika kirim.
Jio melongo tidak percaya, dia langsung menatap Sean seolah menunjukkan reaksi penolakan dari Chika.
"Kau gila, tidak ada gadis yang langsung memaafkanmu setelah hampir 2 bulan kau campakkan."
"Aku tidak mencampakkannya", Jio menelfon ulang. Tersambung. Senyum sumbringah diwajahnya.
"Halo."
Bingung harus berkata apa,
"Halo Jio."
Mengatakan maaf tapi tanpa suara. Sean yang menguping di sebelahnya memberi tatapan intimidasi.
"Maaf", tertunduk seakan dia sedang dihadapan Chika
"Hanya itu?".
"Maaf, maafkan aku."
Jio mendengar alunan musik lembut seperti di kafe.
"Kau sedang apa?."
"Makan es krim."
"Bersama siapa? apa itu sebabnya kau menolak telfonku tadi?", duduk tegak bersiap berkelahi.
"Emm sendirian."
"Benarkah kenapa ragu ragu begitu menjawabnya?."
"Es krim ku sedikit lagi, aku akan segera pulang."
Jio sedih mendengarnya, sangat jelas kalau Chika kesepian tanpanya.
"Apa es krim mu bisa menungguku sampai disana?."
Tidak perduli Sean yang bermain video game di kamarnya, Jio bersiap untuk menemui Chika. Awalnya dia mengenakan kemeja dan celana jeans tapi karena ejekan Sean mengatainya seperti akan melamar, buru buru ditukarnya dengan t-shirt saja.
Tidak sampai 30 menit Jio sudah duduk dihadapan Chika dengan 2 jenis es krim yang berbeda tersaji di meja mereka.
"Benarkah kau makan sendiri? sebanyak ini?."
Chika menghindari tatapan mata itu. "Es krim ku sudah meleleh. Aku takut kau tidak akan datang karena es krim ku yang tidak bisa menunggumu."
Hening lagi. Canggung karena sudah hampir 2 bulan mereka tidak bertatap muka seperti hari ini.
"Maafkan aku."
Ya katakanlah alasan sikap bodohmu itu.
"Aku kesal karena kau menolakku dihari itu."
Sekejap wajah Chika sangat terkejut. Secepat kilat disembunyikannya ekspresi itu untuk tahu yang sebenarnya. Pikirannya salah selama ini. Dia terus beranggapan Jio hanya perlu waktu sendiri karena bosan dengannya, nyatanya ini lebih sensitif dari itu. Chika menatap tidak percaya, tapi masih dibungkusnya dengan senyuman.
"Harusnya aku tidak memintamu hari itu, hubungan kita belum sejauh itu. Maafkan aku sudah bersikap bodoh dan mengacuhkanmu."
Chika mendengarkan dengan seksama. Masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bayangan wajah Doni yang mengatakan Jio itu brengsek semakin jelas dipandangan matanya.
"Aku sempat berfikir kau tidak benar benar menyukaiku dan menunggu kau meninggalkanku karena aku tidak bisa melakukannya."
Jio meraih tangan Chika diatas meja, menggenggamnya lembut. "Maafkan aku."
Chika kehilangan kata katanya. Perasaannya sudah membuat akalnya tidak sehat. Dimatanya Jio sungguh sungguh mengakui kesalahannya dan benae benar sayang padanya.