Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Ada yang Lebih Kusukai



Ketika Chika pergi mandi, Nala mengirim pesan singkat pada Doni, menyuruhnya untuk ke rumahnya karena sepertinya Jio tidak akan datang menjemputnya. Jadi Doni bisa mengantarnya sembari menghabiskan waktu bersama. Bukan tanpa alasan, Nala tidak percaya kepada Jio. Tentu saja kalau Doni, Nala sudah sangat mengenalnya dengan baik. Nala tidak ingin sahabatnya itu terluka lagi. Tapi tetap apapun pilihan Chika, Nala akan mendukungnya.


Doni yang menerima pesan itu, buru buru datang ke rumah Nala. Jelas kedatangannya yang sangat rapi lengkap dengan sepatu sneaker bukan seperti kedatangan tetangga di tanggapi aneh oleh Chika. Sayangnya mak comblang yang mengatur pertemuan itu malah tertidur dengan lelap.


Cukup lama Chika, Ibu Nala dan Doni mengobrol. Doni terus memperhatikan Chika yang gelisah sejak tadi. Dia tahu penyebabnya, hanya enggan untuk menerimanya.


Ya terus saja khawatirkan lelaki brengsek itu.


Ibu Nala pamit ke kamar untuk beristrihat. Jadi hanya ada Doni dan Chika dalam suasana canggung itu. Suara televisi saja yang bergema di ruang tengah itu. Di tengah kecanggungan itu, suara sepeda motor berhenti di halaman depan. Chika sudah sangat yakin kalau itu Jio. Dia sigap berdiri dan membuka pintu.


"Jio". Chika menyapanya sembari membuka pintu. Jio tersenyum, tapi bukan senyumnya yang seperti biasa. Lalu kepala Doni mengintip dari balik pintu itu.


"Siapa sih?".


Senyuman paksa Jio lenyap begitu saja. Dia memperhatikan Doni dengan wajah datarnya. Chika membuka lebar pintu itu mempersilahkan Jio masuk, dia harus mengambil tas dan berpamitan dulu pada orangtua Nala.


Sedang apa lalat itu di rumah ini.


Doni dan Jio duduk bersama di ruang tengah. Mereka sibuk dengan ponsel masing masing seperti tidak mengenal satu sama lain. Ada rasa kecewa di hati Doni, mengapa Jio harus datang menjemput Chika.


Setelah berpamian kepada semua orang Jio dan Chika meninggalkan rumah Nala. Nala tadi sudah bangun dan mengobrol dengan Doni.


Sikapnya sangat berbeda ketika melihat Jio. Melihatku dia syok seperti melihat hantu, lalu wajahnya cerah berseri seri seperti melihat malaikat ketika bertemu Jio.


Melihat wajah Doni yang kecewa Nala merasa iba padanya. "Aku sudah katakan berulang kali akui saja perasaanmu, kau malah berlagak sok keren dan menyebalkan", Nala mencibirnya.


"Kau tidak lihat Chika menjaga jarak denganku sekarang, aku yakin kok dia sudah tahu perasaanku. Untuk apa lagi ku ungkapkan kalau ujung ujungnya akan ditolak Chika, memalukan", Doni selonjoran sambil memijit kepalanya.


Benar juga sih, Chika memang tidak tertarik dengan Doni, bahkan hanya ujung kukunya pun tidak.


"Aku kan menyuruhmu kemarin sebelum dia kenal Jio, kalau sekarang ya sudah terlambat. Chika sudah mulai menyayangi Jio."


Hening. Mereka saling diam lelah berdebat. Tiba tiba Doni menatap ke salah satu foto yang tergantung di dinding dengan bingkai coklat bermotif kayu. Dia menatapnya lekat lekat seolah mengenali foto itu.


"Bukankah ini fotoku?, apa Chika melihatnya?", tanyanya dengan sangat antusias.


Itu adalah foto sewaktu mereka SMA, di ambil ketika sekolah mengadakan camping. Difoto itu tergambar Doni sedang tidur dengan iler di mengalir di sekitar mulutnya, lalu Nala bergaya metal di sebelahnya.


"Ya aku rasa Chika sudah melihat foto itu sejak pertama kali ke rumah ini". Nala menjawab dengan santai tanpa menperdulikan reputasi Doni. Segera Doni mengambil paksa foto aibnya dan memusnahkannya.


Sial.


Jio dan Chika hanya diam saja selama perjalanan. Chika ingin memulai percakapan tapi tidak tahu harus bicara apa. Jio akan berbelok ke jalan alamat kosan Chika barulah Chika mendekatkan diri ke telinga Jio.


"Jio aku belum mau pulang".


Jio bingung maksudnya bagaimana menepikan sepeda motornya untuk berhenti.


"Lalu mau kemana? Apa mau membeli sesuatu?"


Chika menggeleng perlahan.


Bagaimana mengatakannya ya. Aku hanya ingin menemaninya saat dia sedih.


"Ayo nonton bioskop denganku, aku yang traktir hari ini." Chika memeluk pinggang Jio dari belakang pertanda dia siap berangkat. Namun Jio masih membatu.


Dia pasti tahu aku tidak baik baik saja.


Jio tersenyum lalu berbelok ke arah yang diinginkan Chika. Sesampainya di bioskop Chika hendak membeli tiket tapi tidak di izinkan Jio. "Biar aku saja". Chika tidak mau menurut dia terus memaksa karena merasa tidak enak Jio terus mengeluarkan uang untuknya.


"Kau beli popcorn saja sana." Chika menunjuk bagian makanan. Akhirnya mereka mencapai kesepakatan juga.


Chika memilih kursi di bagian tengah, sebenarnya tidak ada film yang benar benar ingin di tontonnya. Ini hanya untuk menghibur Jio saja, jadi Chika memilih sembarang film saja yang dia pilih berdasarkan covernya di depan bioskop tadi.


Tidak terlalu banyak orang yang menonton film ini, lampu sudah di matikan dan film di mulai. Dalam hati Chika berharap agat tidak dapat film yang membosankan. Jio duduk santai sambil memakan popcorn. Moodnya sudah lebih baik dari awal berjumpa tadi.


Chika memilih film genre komedi romance. Mereka tertawa sepanjang film dan salah tingkah setiap adegan romantis.


Dari tadi Jio sama sekali tidak fokus menonton film, dia sibuk menonton Chika yang sangat menikmati film itu. Baginya Chika lebih menghiburnya daripada cerita film itu. Tentu saja Chika tidak menyadarinya.


Aku rasa aku tidak bisa menahannya lagi.


Jio terus saja menatap Chika hingga Chika menoleh sendiri tanpa di panggil.


"Ada apa? Kau tidak suka filmnya?."


"Ada yang lebih ku sukai." Jio mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir mungil yang sejak tadi menggodanya itu.


Tidak ada penolakan dari Chika. Secepatnya Jio membenamkan bibirnya lagi, kali ini lebih lama dari yang tadi, meski tidak ada balasan dari Chika.


Chika mematung tak bergerak. Sangkin terkejutnya matanya membulat sempurna. Di tatapnya mata Jio yang berjarak hanya beberapa senti dari matanya.


Apa kami sedang berciuman? Disini, di antara keramaian ini?


Tidak peduli dimana sesaat Jio hanyut di dunianya sendiri. Ciuman itu seperti obat penenang akan jiwanya yang sedang terluka oleh kata kata kasar ibunya.


Setelahnya Chika membelakangi Jio karena malu, wajahnya serasa panas terbakar. Dia mengumpat didalam hati kenapa harus berciuman di tempat orang ramai begini.


Apa ada yang memperhatikan kami tadi, ini memalukan.


Menunggu film itu habis seperti menunggu waktu sebulan bagi Chika. Berbeda dengan Jio yang terlihat santai seakan itu hal yang biasa baginya.


Selesai menonton film, kini mereka sedang di parkiran mall bersiap untuk pulang. Jio mengajak Chika untuk pergi makan dulu tapi Chika menolaknya. Sejak ciuman itu, Chika lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya.


Kau marah lagi Chika, lalu hal apa yang bisa kulakukan denganmu? Sunggu aku tidak mengerti.


Sepeda motor Jio sudah mengantarkan mereka ke kosan Chika. Berhenti tepat di depan pagar kosan itu. Tidak ada siapa siapa di luar atau di sekitar kosan. Chika turun dari motor dan langsung membuka pagar. Tidak seperti biasanya dia pasti menunggu Jio pergi dulu. Seperti ada perasaan marah di dadanya. Jio juga menyadarinya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya." Hanya itu yang di ucapkan Jio sambil tertunduk menatap tanah. Dia tidak berani menatap Chika.


Chika berhenti lalu berbalik. "Aku mengerti Jio, tapi aku butuh waktu untuk menerima ini, maafkan aku."


Hening.


"Pulanglah ini sudah larut."


Larut apanya ini kan baru jam 8 malam.


Ayo like dan komen yaaaa.....