Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Dia Suamiku



2 minggu telah berlalu, liburan semester sudah selesai, kecuali bagi mahasiswa yang mengikuti kelas semester pendek, tidak ada libur sama sekali. Chika juga sudah kembali dari liburannya di kampung. Kemarin malam dia melakukan perjalanan kembali, pagi ini dia masih pengar di kasurnya. Dia muntah semalaman. Mabuk darat Chika memang yang paling mengerikan. Mencium bau mobil saja dia sudah mau muntah apalagi menaikinya.


"Chikaaa ada nak Jio di bawah, dia menunggu diteras depan", terdengar suara ibu kos meneriaki Chika dari tangga lantai bawah.


Hah sial kenapa tidak telpon dulu Jio aku bahkan tidak sanggup berdiri.


Dengan langkah Gontai Chika meraih ponselnya dan menelpon Jio. Telpon itu di speaker, sambil berbincang dengan Jio, Chika mencuci muka memakai lipstik berwarna bibir untuk menghilangkan raut kusam di wajahnya. Lalu memakai hijab yang sesuai dengan piyama lengan panjang yang di kenakannya.


"Sudah dulu aku segera turun", Chika menutup telpon dan menemui Jio.


Jio menutup telpon itu sambil tersenyum sumbringah. Dia tidak melepas jaketnya hanya melepas helm dan memangkunya. Duduk di kursi teras tempat biasa teman lelaki penghuni kosan menunggu karena kosan itu hanya untuk perempuan, laki laki di larang masuk,tapi tidak berlaku juga bagi abang abang pengantar galon air. Penghuni kosan lantai dua mengeluh harus mengangkat galon air yang berat ke atas. Bisa kurus penyok ketimpa galon air.


Bagaimana dia bisa mengerti aku bahkan tanpa kuberitahu. Chika Chika


"Kenapa senyum senyum begitu? kamu gila?", umpatan Chika menyadarkan lamunan Jio.


Jio terkejut mendapati Chika yang masih mengenakan piyama. Wajahnya sedikit pucat. Power of make upnya belum bisa menipu Jio. Terang saja lingkaran hitam di matanya sangat jelas terlihat.


"Aku pikir kamu ke kampus hari ini".


Chika tidak memberitahu Jio dia mabuk perjalanan dia terlalu malu.


"Em relator kelasku bilang pembagian kelasnya jam 11, aku ambil konsentrasi jurusan yang sama dengannya, dia akan mengurus administrasiku juga. Jadi aku bisa istirahat dulu, aku baru sampai jam 5 pagi tadi Jio, ini baru jam 8", terang Chika sembari duduk di sebelah Jio. Helem itu sudah tidak di pangku Jio, helm itu menjadi pembatas di antara mereka.


Jadi tadi dia sedang tidur, dia menelponku karena tak bisa segera turun dan harus membuatku menunggu dia bersiap.


"Maafkan aku mengganggu tidurmu. Harusnya kau katakan saja tadi di telpon tidak perlu turun menemuiku," Jio sedikit merasa bersalah.


"Jio aku menelponmu sembari aku siap siap karena aku juga bukan orang yang suka menunggu sendirian, menurutku tidak ada yang suka begitu, dan jika pacarku sudah datang setidaknya aku harus melihat wajahnya dulu kan? Ah ya aku ingin menepati janjiku", Chika memberikan sekotak cupcake redvelvet buatannya. "Berikan yg hijau pada Sean."


"Tidak mau semuanya untukku."


Jio seperti anak kecil merampas kotak kue itu.


"Jadi dimana hadiahku?", tanya Chika tersenyum.


"Harusnya aku tidak bisa memberikannya disini, apalagi", Jio menghentikan kalimatnya dan memberi kode pada Chika bahwa ibu kosnya sedang menguping pembicaraan mereka lewat jendela. "Tapi karena kamu menepati janjimu, sini berikan tanganmu."


Ragu ragu Chika mengulurkan tangannya, mengabaikan ibu kos yang masih saja menguping. Jio mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.


"Cincin? apa kita bertunangan hari ini? dan aku mengenakan piyama bahkan belum mandi?", Chika mengusap kasar wajahnya.


Melihat reaksi Chika, Jio kesal sendiri.


Bukankah seharusnya dia terharu aku sematkan cincin dijarinya, apa apaan dia malah begitu.


Jio hanya tersenyum menyembunyikan rasa kesalnya. Chika memandangi cincin di jarinya, tersenyum berseri seri.


Cantik, bagaimana dia tahu ukuran jariku. Tidak, bukan itu yang harus aku pikirkan, apa dia serius denganku?.


"Jio terimakasih untuk cincin ini, aku akan menjaganya aku janji, tapi aku minta hadiah lagi, apa boleh?."


"Bisakah kita berbicara dengan santai, maksudku seperti aku, kau. Bagiku sangat aneh mengatakan kamu, aku sungguh risih".


Jio hanya melihat lurus ke arah Chika yang terlihat tidak enak dengan permintaannya.


"Aku pikir kau akan menyuruhku mengambilkan bulan, kau suka aku bicara seperti ini kan? Baiklah lakukan saja."


Chika tersenyum senang dengan semua hadiahnya. Jio meninggalkan Chika untuk kembali tidur, dia ke kampus mengurus administrasinya, awal semester baru yang sibuk.


Jio menemui Sean dan Arif di kantin menenteng kotak kue cupcake buatan Chika. Dia menjaganya dengan sangat hati hati takut creamnya rusak. Chika kan sudah menghiasnya untukku.


"Jadi Chika adalah sekotak kue?", tanya Arif berlagak bodoh.


"Berhentilah bicara omongkosong, ini dibuatkan Chika khusus untukku".


"Khusus untukmu? Chika memberitahuku dia juga membuatkannya untukku yang berwarna hijau". Sean merampas kotak kue itu dengan paksa. Jio masih mematung tak ingin mempercayai kenyataan bahwa Sean dan Chika seakrab itu.


Apa tidak ada bedanya baginya antara aku dan Sean.


Sean membuka kotak kue itu dengan sangat hari hati sesuai perintah Jio. Alangkah terkejutnya mereka cupcake itu tidak seindah foto yang di kirim Chika, creamnya sudah lumer kemana mana. Jari jemari Sean yang membuka kotak itu terkena cream saat membukanya. Hilang sudah senyum dari wajah dua orang yang menantikan kue itu.


"Wah wah aku sungguh penasaran seperti apa pembuat kue ini". Arif.


Jio maaf ya cupcake itu terbalik kemarin saat aku tertidur di perjalanan, tapi tenang saja rasanya tetap enak kok, nikmatilah.


Sean dengan senang hati mengembalikan sekotak kue berlumuran cream itu pada Jio yang sibuk bertukar pesan. Dia sudah hilang selera melihat rupa kue kue itu.


"Hei apa kau sepenasaran itu? Dia diparkiran belakang sekarang". Jio duduk memakan kue itu. Dia tidak tega membuangnya meski tangannya harus kotor karena cream.


Benar, tetap enak.


Berbekal foto dari Jio, Arif berjalan menuju parkiran. Arif sudah berulangkali mengirim Chika pesan gombal, tapi gadis itu menganggapnya orang iseng dan tidak menggubrisnya sama sekali. Belum sempat Arif keluar kantin, Chika sudah masuk dan matanya mengitari orang orang di kantin mencari Jio.


Haha dia sangat imut, kau serius Jio?


Chika yang tidak menemukan Jio di tengah keramaian, memilih jalan pintas menelpon Jio menanyakan keberadaannya. Saat itulah kepala Arif di miringkannya tepat kehadapan Chika membuat gadis itu sontak terkejut.


"hai nona manis". Yang di sapa hanya melihat sebentar dan kembali menatap ponselnya serius. lalu matanya mengitari orang orang di kantin itu lagi. Chika tersenyum mendapati Jio yang juga twngah melihat ke arahnya. Ya arif yang sok akrab di cueki Chika. Chika hendak berlalu tapi arif mencegatnya dengan menarik tangannya. Jio dari kejauhan hanya menonton saja.


"Aku sedang bicara padamu, setidaknya beritahu namamu".


"Aku tidak mengenalmu, penggangu". Chika menghempaskan tangan Arif. "Jangan menyentuhku sembarangan, kau lihat laki laki di sudut sana?".


"Ya dia sedang tersenyum melihat kita seperti laki laki bodoh".


Kening Chika berkerut mendengarnya, meninggalkan kesan tidak suka di mata Arif. Arif hendak tertawa tapi dia tahan. Dengan suara jengkel Chika membalas Arif.


"Tanyakan saja padanya, dia suamiku", sembari meangangkat tangannya Chika memamerkan cincin barunya.


Chika menyadari sikapnya sngat berlebihan, hanya saja dia sangat muak dengan Arif yang terus saja mengganggunya sejak 2 minggu lalu, rasanya seperti di teror penagih hutang. Chika berlalu meninggalkan Arif. Jio tertawa di ujung sana, menatap Arif lalu mengacungkan jari tengahnya.