
"Bolehkah aku lebih jauh dari ini?."
Chika diam saja, tangannya masih melingkar manis di leher Jio. Walau tidak dapat persetujuan Jio melanjutkan kembali ciuman panas itu. Sambil berciuman Jio mengarahkan Chika ke ranjangnya.
Tangannya sudah mulai bergerilya membuka resleting dress itu. Ciuman itu juga sudah berjalan sampai ke leher dan bagian dada Chika.
Chika juga menikmati sentuhan Jio yang belum pernah dirasakannya. Sangat menghanyutkan. Namun hati kecilnya tetap menjerit bahwa yang dilakukannya ini tidaklah benar dan harus disudahi sebelum terlambat.
"Henti hentikan Jio."
Menarik kembali dressnya untuk menutup dadanya yang masih terbungkus bra. Jio berada di atas Chika. Menatap serius wajah Chika yang bersemu merah, semakin membuatnya berapi api.
"Aku suka langit langit kamarmu, kau yang membuatnya?", mencoba mengalihkan keadaan.
Jio hanya tersenyum bangga. Pengalihan itu tidak cukup untuk meredam nafsunya.
"Ada apa? aku akan melakukannya dengan lembut", bisiknya pelan. ******* nafas ditelinga Chika bahkan membuatnya bergelora kembali.
Tidak, aku tidak ingin berakhir seperti ini.
Chika menghindari tatapan Jio dan merubah posisi tubuhnya untuk segera duduk agar pergumulan ini berhenti. Jio mengerti, dia berpindah kesamping Chika.
"Aku tidak bisa melakukannya."
Jio tidak patah arang, tangannya mulai melingkar di pinggang Chika dan memeluknya dari belakang. Bibirnya menyusuri kembali ceruk leher itu. Hembuaan nafasnya membuat tubuh Chika meremang.
Kau harus menjadi milikku Chika, selamanya. Lita tidak boleh menertawakanku.
"Kau tidak mencintaiku?, sekarang hanya kau tempatku kembali", terus berusaha bahkan meraih bibir Chika kembali.
Chika menghindar dengan halus, tangannya mendorong Jio tubuh Jio yang hanya mengenakan celana jensnya dengan halus.
"Ini bukan hanya tentang cinta Jio, aku tidak siap untuk melakukan hal ini", membuang pandangannya sejauh mungkin. Chika sangat sadar hal ini membuat Jio kecewa.
Jio menyerah, dia menarik tubuhnya menjauh dari Chika. Duduk di pinggiran kasur meraih baju kaos yang dikenakannya tadi.
"Aku mengerti, bersiaplah aku akan menunggu di depan."
Chika menatap punggung Jio sampai hilang dibalik pintu. Chika memijat kepalanya yang tidak sakit. Berdiam diri sebentar diatas ranjang Jio.
Benar, apa yang aku lakukan ini adalah hal yang paling benar. Masih banyak hal yang bisa kulakukan untuk membuktikan aku mencintainya.
Chika memungut hijab dan jaket jeansnya, bersiap seperti saat datang kerumah ini. Meninggalkan kamar itu dan menemui Jio di halaman depan.
Eva melambaikan tangannya di depan wajah Chika, menyadarkan Chika dari lamunannya. Chika melamun sejak tadi mengingat kejadian hari itu.
"Ada apa??, kenapa wajahmu sendu begitu, kau kan sudah berbaikan dengan pujaan hatimu?", Eva datang membawa makanan dan minuman yang di ambilnya dari lemari es umum. Ya kosan Chika bukan hanya ada dapur dan toilet umum, lemari es umum juga ada.
Chika hanya mengeleng menjawab Eva, tidak tahu harus menjawab apa. Terlalu malu untuk mengatakannya, walau Chika yakin Eva sudah tahu saat menyadari Eva memperhatikan tanda merah disekitar dada Chika hari itu.
Cerita ini akan ku bawa sampai ke liang kubur, memalukan.
Mereka menghabiskan malam itu dengan bercerita tentang apa yang dilalui mereka hari ini. Hari yang sangat indah bagi Eva, rapi tisak bagi Chika, karena hari ini dia mengetahui hal yang mengejutkan baginya. Sebenarnya sejak tadi dia tidak sungguh sungguh mendengarkan cerita Eva, pikirannya masih tertuju pada permintaan maaf Jio yang di penuhi keluhan tadi.
Apa yang penting baginya hanya mendapatkan keperawananku saja?.
"Kau tahu aku sangat kesal saat dia menyatakan perasaannya tadi, aku fikir ketika aku mengatakan iya, dia akan menciumku seperti di film film, dia malah hanya mengatakan terimakasih."
Chika tertawa. membayangkan bagaimana kesalnya Eva saat itu.
Gadis ini sangat agresif, seharusnya dia saja yang jadi pacarnya Jio.
"Eva, apa bagimu pacaran harus dengan sentuhan fisik?."
"Tidak, aku senang jika pacarku selalu ada untukku, tapi aku juga senang jika dia menciumku di sini di keningku."
Chika tertawa lalu memutar bola matanya. Dia menertakan pikirannya. Eva hanya mengharapkan ciuman di keningnya bukan di bibirnya. Sungguh pikiran Chika sudah tercemar dengan hal hal mesum.
"Kenapa kau tertawa?", Eva menatap kesal. Chika tidak menjawabnya.
Eva menyinggung soal liburan saat tahun baru nanti. Ternyata Chika juga sudah tahu. Jio menceritakannya saat mereka makan menghabiskan es krim tadi.
Wajah Eva sudah berseri seri membayangkan mereka berdua akan pergi bersama. Menginap di Villa menghabiskan malam bersama pacar dan sahabatnya. Dia sungguh tidak sabar.
Tidak dengan Chika pikirannya sudah kemana mana. Bagaimana jika Jio kembali mencoba melakukan hal itu, bagaimana cara menghindarinya nanti tanpa membuat salah paham. Tapi mengingat Eva yang akan ikut bersamanya hantinya sedikit tenang. Dia tahu Eva tidak akan membiarkannya melakukan hal buruk.
"Chika aku sangat senang kau bersama Jio?."
"Kenapa?", Chika tidak mengalihkan pandangannya dari buku yang di bacanya.
"Karena aku bisa bertemu jodohku."
Hah sesuka itu kau padanya Eva, aku harap dia juga sama.
Perhatian Chika beralih pada ponselnya. Sekarang kotak pesannya sudah dipenuhi perhatian dari Jio lagi. Jio yang perhatian dan lembut sudah kembali.
Selamat malam sayang. Sampai bertemu besok di kampus.
Jio sedang bersama teman temannya di sebuah kafe. Asap rokok mengepul di sekitar mereka. Jio juga aesang mengisap rokoknya. Chika pernah memintanya untuk berhenti merokok, tapi hanya dilakukannya saat bersama Chika.
Arif juga sudah menyusun semua rencana berlibur ke villa. Villa tempat mereka berlibur adalah milik keluarganya. Walau dia yang tidak memiliki pasangan dia tetap antusias.
"Kau sudah berbaikan dengan Chika?."
Jio tidak menjawabnya tapi dia mengerti dari ekspresi bahagianya.
"Kau akan menyesal jika putus dengannya."
"Kenapa?, apa kau berniat memilikinya?", Jio masih mencurigai Arif yang menyukai Chika.
Arif tertawa. "Tidak ada gadis yang sabar menghadapi sifat kekanak kanakanmu selama dua bulan selain dia."
Dasar anak kecil
Jio tidak perduli pikiran Arif. Yang penting baginya saat ini adalah misi menjadikan Chika miliknya untuk membungkam mulut besar Lita.
Kau harus menjadi milikku di malam tahun baru nanti Chika, apaoun yang terjadi kau milikku, lihat saja.
Epilog.
Haccuuh haccuuh.
Chika bersin sejak tadi. Entah sudah berapa kali dia bersin. Sangat aneh tiba tiba bersin berkali kali seperti itu.
"Chika kata nenekku jika tiba tiba bersin berkali kali seperti ini pasti ada yang sedang membicarakanmu."
Apa apaan gadis gila ini.
Haccuh.
Chika tidak berhenti bersin.
"Kau tidak percaya, sini biar ku telfon saja nenekku", meraih ponsel.
Chika merebut ponsel itu lalu bersin lagi. Di sela sela bersinnya dia mengomel jangan menelfon nenek nenek di tengah malam begini.
"Tidak ada nenek yang maaih tergaja di jam begini", menghempaskan ponsel itu ke ranjang Eva. "Kau ini cucu durhaka, mengganggu tidurnya saja."
"Salah sendiri kau tidak percaya". Tidak mau kalah.