
Chika masuk ke kamarnya di sambut Eva. Eva bisa menebak kalau Chika sedang marah, tinggal bersama selama hampir 2 tahun membuat mereka kenal satu sama lain. Apalagi mereka tidak pernah berselisih sekalipun.
"Cemberut lagi, apasih?". Eva mencoba mengorek ngorek informasi. Eva duduk bersandar sambil melanjutkan makan mie instannya yang belum selesai. "Udah makan belum? Mau gak?". Eva menyodorkan mie itu ke hadapan Chika. Mereka kini duduk bersebelahan di depan televisi.
Tanpa menjawab apapun dan masih berwajah sedih Chika mengambil mangkok itu dan pelan pelan memasukkan mie goreng pedas itu ke mulutnya. Setelah sensasi cabe itu menggerutu di mulutnya barulah jiwanya seperti kembali pada tempatnya. Kamar itu di penuhi teriakannya.
"Hoek, mie rasa cabai."Segera Chika menarik lembaran tisu di sebelahnya dan memuntahkannya. Chika sangat tidak tahan dengan pedas, itu salah satu hal yang tidak bisa di lakukannya.
Rasakan, siapa yang menyuruhmu mengabaikanku.
Eva menarik kembali mangkok itu dan makan. Dia diam saja mendengar omelan Chika yang sedang menelan air sebanyak banyaknya. Bahkan dia tidak mendengarkannya sama sekali, perhatiannya fokus pada mie dan televisi.
Chika sudah bersiap untuk tidur. Dia hanya makan beberapa keping biskuit dan susu. Dia tidak berselera untuk makan. Pikirannya bertumpu pada hal memalukan yang dilakukannya hari ini.
Bukankah ini salah? berciuman adalah hal yang dilakukan oleh suami istri, harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku menepisnya, harusnya aku menghindar. Bukan diam saja seperti batu. Harusnya aku membicarakan batasan itu dengan Jio. Harusnya harusnya harusnyaa aaaa.
Chika mengacak mengacak rambutnya seperti orang gila. Lalu menghempaskan badannya ke ranjang. Bergerak tidak beraturan seperti orang kesurupan.
Apa apaan gadis ini, kerasukan apa.
Eva menghentikan aktivitasnya, memandangi heran terhadap Chika. Ingin sekali berkomentar tapi mungkin percuma saja, berusaha tidak perduli tapi tidak bisa.
Sudahlah aku tidak tahan lagi.
"Kau gila? Katakan apa yang terjadi padamu? Kau putus dengannya?", tebakan Eva di sambut tatapan Nanar dari Chika. Dia berhenti menggelinjang.
Setidaknya itu bisa menghentikan tindakan bodohmu.
Chika duduk bersandar di ranjangnya, merapikan rambutnya yang tidak beraturan. Kata kata Eva terus menggema di telinganya.
Setelah dia mengambil ciuman pertamaku, enak saja mau putus denganku.
"Eva".
Chika meraih tangan Eva. Bernada memelas menyebut namanya. Diam, dia hanya mengusap ngusap tangan itu. Eva terus menunggu dengan wajah kesalnya.
Apa apaan sih, cepat katakan.
Eva tidak tahan lagi, segera dia menghempaskan tangan itu dan mengeluarkan ancamannya.
"Katakan atau ku bedah otakmu!".
Yang ada aku mati, kau kan bukan anak kedokteran.
Dengan berat hati akhirnya Chika bicara juga sambil membuang wajahnya ke sembarang arah. Dia sangat malu.
"Jio menciumku".
Alis Eva terangkat. Kesal.
Anak ini sedang pamer atau bagaimana, lalu masalahnya dimana.
"Lalu?". Eva berjalan mencari wajah Chika. Kemanapun Chika membuang wajahnya dia akan berdiri di depannya.
Ditanya seperti itu membuat Chika jengkel. Dia tidak mau bicara lagi, di tekuknya kedua lututnya lalu menenggelamkan wajahnya disana.
"Aku tidak mengerti apa yang salah, berciuman dengan pacar bukan hal yang anehkan. Aku juga melakukannya."
Mendengar itu Chika mengangkat wajahnya kembali. "Kau tidak marah?".
"Untuk apa? Aku menyukainya, namun hanya sebatas itu."
"Tapi kau akhirnya putus dengannya, apa tidak masalah?."
Rasanya seperti bicara dengan anak TK.
"Memangnya kenapa? Orang juga tidak akan tahu aku sudah berciuman dengannya. Tidak ada bekasnya."
"Memangnya kau tahu suamimu tidak mencium orang lain juga sebelum kau?". Eva sudah jengkel, dia kembali ke ranjangnya menarik selimut menutupi semua badannya termasuk kepalanya. "Matikan lampu, aku mau tidur saja, semakin mendengar ceritamu semakin aku ingin punya pacar sekarang."
Ya tuhan tolong lepaskan aku dari kejombloan ini.
Chika kembali berbaring di ranjangnya. Mencoba tidur dan melupakan apa yang terjadi hari ini. Tidak bisa. Dia kembali duduk berfikir keras.
Yang dikatakan Eva terasa benar, tapi juga terasa salah. Apa aku saja yang kampungan ya. Tapi mengapa rasanya salah? Aku aku aku aaaaa
Chika gila sendiri karena hatinya bahagia mengingat kembali momen itu. Lalu sedih merasa itu salah. Dia menepuk nepuk kasur. Eva di balik selimutnya menggerutu di dalam hati.
Sinting.
Nada penanda pesan masuk di ponsel Chika berdering. Chika sangat berharap itu bukan Jio. Tapi harapannya tidak terkabul.
Ya tuhan kenapa hari ini kau tidak mau mendengarkan doaku.
Terimakasih untuk hari ini, aku senang. I love You.
Chika tidak bisa membohongi perasaannya. Dia senang juga untuk hari ini. Tidak pernah sesenang ini. Cinta memang bisa mengubah apa saja, termasuk pendirian seseorang.
Tidak tahu harus balas apa, Chika menjauhkan ponsel itu dan memilih tidur. Semoga besok akan lebih menyenangkan, itulah harapannya.
Hari ini Jio dan Chika sama sama ada kelas. Walau jamnya berbeda, Jio memilih datang lebih cepat agar bisa menjemput Chika. Chika sudah menolak berkali kali tapi tidak bisa menang melawan Jio. Ketika dia turun dari kamarnya Jio sudah di depan pagar kosan menantinya. Entah sejak kapan dia ada disitu.
Awalnya Chika berniat menghindari Jio sampai dia siap untuk bertemu. Rencana itu harus batal karena separuh jiwanya ingin bertemu Jio. Memang susah jika hati dan pikiran tidak sejalan. Chika sudah mengambil keputusan hanya boleh sebatas ciuman saja dan ini harus segera di bicarakan dengan Jio. Tidak bisa di tunda tunda lagi. Ketika melihat Jio di ujung pagar dia menggenggam erat kedua tangannya ke atas.
Harus bisa, harus bilang.
Jio tersenyum seperti biasanya menatap Chika. Kali ini Chika tidak menanyakan warna bajunya. Chika menutup kembali pintu pagar dengan pelan. Pelan untuk mengulur waktu dia merangkai kata kata memulai percakapan serius dan penting ini.
Aduh kenapa harus senyum senyum begitu, membuat orang berdebar saja. Aku tidah boleh lengah lagi.
Chika berdiri di samping sepeda motor Jio. Memilin milin tali tas selempangnya. Tidak berani menatap Jio.
"Maafkan aku kekanak kanakan semalam. Aku aku".
Jio menunggu akhir dari kalimat itu, namun tidak ada, Chika hanya mengulang ulangnya terus. Jio jadi gemas dengan tingkahnya.
Jio mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Chika. Mata Chika membola seperti biasanya. Chika mendorong Jio. Bagaimana jika ada yang melihatnya, begitu pikirnya. Dia melihat ke sekitar. Tidak ada siapapun.
"Kau gila? apa apaan, jika ada yang melihatnya tamatlah riwayatku."
"Kau sangat menggemaskan, Ayo ke kampus kau bisa terlambat." Jio mengenakan kembali helmnya.
Menggemaskan katanya?
Chika belum juga naik ke boncengan Jio. Jio mengerti, pembicaraan ini belum selesai.
"Aku tidak ingin lebih dari ini, maksudku aku tidak mau melakukan itu, hanya ini saja."
"Ini ? Itu?". Tentu saja Jio berpura pura polos tidak mengerti. Sangat menyenangkan menggoda Chika.
Mengerti saja kenapa sih! Kau kan ahlinya urusan begitu.
Chika belum juga naik. Ini sebuah pemogokan.
"Maksudku aku tidak mau melakukannya."
Jika dia terus begitu lama lama aku juga tidak bisa menahannya, dia sangat menggemaskan. Jio
"Baiklah aku mengerti, tidak akan tanpa seizinmu, ok?."
Chika berfikir sejenak ada yang janggal di antara kalimat Jio itu. Tapi dia tetap menggangguk setuju. Dia menaiki sepeda motor itu.
Jadi dia akan meyakinkanku untuk mengizinkanya? Laki laki ini sungguh berbahaya.