Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Pertemuan Dadakan



Chika masuk ke kamarnya dengan perasaan kecewa. Meski ini bukan urusannya tapi nyatanya ini mengganggunya. Jika Lita terus menguntit mereka, perasaan tidak nyaman itu pasti akan menghantui Chika. Selama beberapa bulan ini Chika hanya berpura pura tidak terganggu, agar tidak mengundang amarah Jio.


Sudahlah tidak ada apapun yang bisa kulakukan untuknya.


Melihat tumpukan baju yang sudah menggunung, Chika memutuskan untuk mencuci baju saja setelah beristirahat sebentar. Segera dia memakai baju yang nyaman untuk bekerja. Baru saja ia hendak mengangkat keranjang yang penuh baju kotor itu ponselnya berdering kencang. Diliriknya nama yang tertera di layar ponsel itu. Jio.


Cepat sekali dia merindukanku.


"Hallo sayang, kau sedang apa?."


Chika menatap pakaian kotor yang dijinjingnya. "Aku ingin membongkar tabungan cucianku", jawabnya jujur.


"Lupakan saja cucianmu, ayo mandi dan bersiap aku akan menjemputmu setengah jam lagi."


"Sekarang? Mau kemana?".


"Kau akan tahu nanti, bersiaplah aku menunggu."


Apa apaan laki laki ini, selalu seenaknya sendiri.


Di rumahnya Jio juga sedang bersiap siap ingin menjemput Chika. Dia mengenakan kemeja dan celana chino dengan warna senada. Kalau saja Lita tidak membuat masalah dengan Ibu Jio dia bisa beristirahat sambil menikmati pizza buatan Jo.


Akhirnya kau menggunakan kartu terakhirmu juga Lita.


Sebagai balasan hinaan di perpustakaan tadi, Lita meminta bantuan Ibu Jio agar dia bisa kembali pada Jio. Apapun yang dikatakan Ibu Jio bak perintah ratu yang tak dapat di bantah di rumah ini. Tapi kali ini, Ibu Jio juga tahu kesalahan ada di tangan siapa jadi Ibu Jio memberikan kesempatan pada Jio untuk memberikan pendapatnya.


Sebenarnya ada lebih banyak pekerjaan yang lebih penting untuk di urus daripada sekedar mendengerkan rengekan Lita, namun mengingat orangtua Lita adalah rekan bisnisnya, Ibu jio tidak bisa menolak rengekannya itu begitu saja.


Ibu Jio meminta Jio bertemu di restoran yang dikelolanya. Membawa Chika tidak termasuk dalam perintah Ibunya, itu hanya inisiatif Jio pribadi. Setidaknya jika ada Chika, Lita tidak bisa sembarangan menempel nempel padanya. Jio juga ingin menunjukkan kalau Lita hanya masalalunya dan sudah menemukan penggantinya.


Aku sangat berharap mama mendengarkan ku kali ini.


Jio memacu sepeda motornya menuju kosan Chika. Tidak begitu lama dia tiba di gerbang kosan Chika. Sepi tidak ada orang seperti biasanya. Hanya Chika yang duduk manis menantinya di balik gerbang itu. Mendengar suara sepeda motor Jio, Chika bersiap keluar dan mengunci kembali gerbang itu.


"Jadi kita mau kemana? apa penampilanku cocok?."


Jio memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah. Chika mengenakan rok dengan motif kancing di tengahnya, dan ada ruffle di bawah rok berwarna ungu tua itu. Sangat cocok dipadu dengan turneckle lengan panjang berwarna lilac. Hijab polos senada, heels dan slingbag menjadi pemanis tampilannya. Jio hanya mengisyaratkan sempurna lewat isyarat jarinya.


"Mama pasti akan menyukaimu."


Sekarang Chika menyesali pakaiannya karena roknya dia susah untuk naik ke motor Jio. Lalu dia diam sejenak.


Bukankah barusan dia bilang mama? apa dia mau membawaku bertemu ibunya?


"Kita akan bertemu mama? maksudnya Ibumu?", tanya Chika kikuk, ada rasa tidak siap di hatinya.


"Ya, aku akan mengenalkanmu, ayo kita pergi ke restorannya, dia sudah menunggu."


"Apa dandananku berlebihan? kenapa kau tidak bilang mau bertemu Ibumu", tanpa sadar Chika mengayunkan telapak tangannya ke bahu Jio.


"Auuu sakit, kau cantik Chika, pas tidak berlebihan, ayo cepatlah dia tidak suka orang yang tidak tepat waktu".


Chika duduk serba salah di hadapan Ibu Jio saat ini. 5 menit yang lalu mereka telah tiba di restoran yang di kelola Ibu Jio. Ayah Jio juga ada disana. Beberapa hidangan dan minuman sudah tersaji dimeja mereka. Chika di persilahkan makan.


Mengapa jadi seperti pertemuan keluarga begini sih. Harusnya aku menolak sejak awal.


Tidak tampak penolakan dari orangtua Jio baik ayah maupun ibunya. Ibu hanya berbicara basa basi sebentar lalu bersiap menikmati hidangan. Chika kesusahan menelan makanannya sejak awal, tidak pernah terbayangkan dia akan ada disituasi seperti ini, sejak mengenal Jio banyak hal yang dilakukannya untuk pertama kalinya.


"Aku tidak tahu apa yang dikatakan Lita pada mama, tapi mama lihat aku sudah melupakan Lita dan sekarang ada Chika disisiku." Jio memulai percakapan kali ini. Chika diam saja mendengarkan sesekali dia menelan makanannya. Sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak membuat suara dari sendok dan garpu yang digunakannya. Dia tidak mau suasananya terganggu karenanya.


Ibu berhenti makan dan menatap Jio lalu matanya fokus pada Chika. "Bukankah Lita lebih baik?."


Deg. Apa aku adalah objek perbandingan itu?


Jio menyadari Chika sudah tidak nyaman. Dibawah meja dia menggenggam jari jemari Chika.


"Bagiku tidak begitu Ma, seperti yang Mama tahu dialah yang menghianatiku. Lagi pula tidak ada alasan bagiku untuk terus bersamanya, aku tidak melakukan apapun padanya."


"Tapi dia mengatakan sebaliknya Jio." Kali ini Ayah angkat bicara. Ada tatapan marah tersirat dimata Ayah. Kecewa dengan Jio.


Kali ini kau melewati batas Lita.


Chika menarik tangannya dari genggaman Jio. Keraguan dihatinya muncul lagi untuk Jio. Menurut Chika tidak mungkin Lita berani berbohong pada orangtua Jio.


"Mama menyukai Chika, dia gadis yang santun dan manis. Namun jika kau sudah melakukan apa yang dikatakan Lita kau harus bertanggung jawab padanya." Ibu diam sejenak lalu bergantian menatap Chika. "Apa dia juga melakukannya denganmu Chika?"


"Ti tidak tante. Kami tidak melakukannya dan saya juga tidak akan melakukannya jika saya belum menikah." Chika sangat menegaskan kalimatnya.


"Bagus, tante suka prinsipmu pertahankan itu."


"Jadi mama percaya aku atau Lita?", Jio menatap tajam Mamanya. Sungguh dia kecewa jika Ibunya berpihak pada Lita.


"Mama tidak tahu keuntungan apa yang didapatkan Lita jika dia berbohong, tapi jika kau yang berbohong tentu saja itu akan mencoret nama baik keluarga kita."


"Dia memang berbohong mama, aku tidak mau menghabiskan hidupku dengan gadis seperti dia, aku." Ayah memotong ucapan Jio


"Sudah Jio, ini sudah malam, antarlah Chika pulang hari ini pasti melelahkan untuknya." Ayah menepuk bahu Chika mempersilahkan mereka pergi.


Chika berpamitan pada orangtua Jio dan meninggalkan restoran itu. Di jalan mereka hanya diam saja. Begitu sampai Chika langsung masuk tanpa mengatakan apapun pada Jio. Helm yang dikenakannya juga di bawa masuk bersamanya. Tadinya Jio ingin menegurnya, mengingat situasinya tidak baik di urungkannya. Begitu Chika sudah menaiki tangga dan tidak terlihat lagi dia berlalu dari sana.


Baiklah kau pasti kembali meragukanku lagi. Tunggulah Chika aku akan membiktikan aku tidak salah.