
Jio sudah sampai di halaman rumahnya, memarkirkan motor di sebelah motor Jonathan. Ada rasa malas untuk kembali ke rumah itu. Ibunya yang bersikap acuh tidak acuh membuatnya tidak betah.
Hanya ada Jo di rumah mereka. Ayahnya pasti ada di warung. Sementara ibunya yang merupakan manager sebuah restoran mewah membuatnya jarang berada dirumah.
Jio masuk ke kamarnya. Kamar Jo sudah selesai di renovasi jadi dia tidak jadi benalu lagi di kamar Jio. Jio membuka baju dan celananya. Hanya mengenakan celana pendek saja dia rebahan di ranjangnya. Mengambil ponselnya dan mengabari Chika tentang keberadaannya.
Sepintas terlihat kembali pesan yang Lita kirim seminggu yang lalu, diabaikan begitu saja oleh Jio.
Kau tahu, mulai minggu depan kita akan kembali belajar bersama. Aku sungguh tidak sabar.
Jio menghapus pesan itu. Tidak lupa Kontaknya juga. Jio sungguh tidak menyangka Lita benar benar melakukannya.
Pintu kamar Jio dibuka Jo tanpa diketuk seolah itu masih kamarnya.
"Kau salah kamar?", Jio melirik Jo dari balik ponselnya.
"Aku membuat spagetti, ayo makan bersama!." Tanpa jawaban dari Jio, Jo meninggalkan kamar itu menuju meja makan. Jo punya hobi memasak. Karena Ibu mereka jarang dirumah jadi Jo lah yang sering memasak. Masakan Jo sangat enak layaknya chef profesional, bagaimana tidak dia kuliah di bidang itu. Sungguh aneh jika makanannya buruk.
Jio tidak punya pilihan, Selain lelah dia juga lapar. Segera dia mengambil kaos dari lemari dan memakainya berjalan menuju meja makan.
Mereka makan tanpa suara selama 5 menit. Dari tadi Jo ingin memulai percakapan, tapi bingung memulainya. Jio juga menyadarinya, sangat berharap Jo hanya diam dan makan saja.
"Kemarin sewaktu kau pergi Lita kesini."
Jio menghentikan aktivitas makannya. Terkejut seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Berusaha tidak perduli tapi tidak bisa. Itu hanya semakin membuatnya penasaran.
"Untuk apa?," Jio meletakkan sendoknya. Dia berhenti makan. Hanya tersisa beberapa suap lagi.
"Aku tidak tahu dia hanya bicara dengan mama, aku tidak suka gadis palsu seperti itu."
Ya sejak awal hanya mama Jio yang menyukai Lita di rumah itu. Itupun karena orangtua Lita rekan bisnis mama Jio. Lita mendapat tempat yang spesial di hati mama Jio. Bahkan karena Lita Jio mendapat sedikit perhatian ibunya.
Jio tidak bertanya lagi. Dia sudah selesai makan. Tanpa berpamitan dia pergi ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang.
Apalagi Lita. Apa mama adalah senjata terakhirmu?
Tidak ada gunanya juga memikirkan rencana Lita. Apapun itu Lita tidak bisa lagi masuk ke kehidupan Jio. Semuanya telah usai. Jio memilih menelpon Chika saja.
"Kau sudah makan?", tanya Chika di seberang sana. Bukan tanpa alasan, suara Jio sangat lemah seperti orang belum makan.
"Kenapa kau selalu tahu aku tidak baik baik saja?."
"Kau saja yang bodoh, mana mungkin aku tidak menyadarinya." Eva yang berada dekat Chika mengangkat alisnya mendengar obrolan mereka.
Benarkah mereka sepasang kekasih yang berciuman??
"Kau sedang apa, apa aku menganggumu?".
"Eva sedang mencuci rambutku. Kami bergantian. Tentu saja kau tidak mengganggu ku, mau bertemu?".
"Kenapa tidak ke salon saja? Mau ku antar?".
"Ada hal yang tidak ku dapatkan jika aku pergi ke salon, sungguh kau tidak ingin bertemu denganku?".
"Tentu saja aku mau. Kau selalu tahu apa yang ku butuhkan. Tunggu aku di depan jam 7 malam."
Chika sudah bersiap menunggu Jio menjemputnya.
Dia mengenakan celana jeans dan kaos panjang berwarna hitam di tambah outer warna cream untuk menutup lekuk tubuhnya. Chika duduk di kursi teras menunggu kekasihnya itu. Padahal hari ini Chika sangat lelah kuliah namun ada hal yang mengganjal di hatinya tentang Jio.
Semua harus jelas kali ini.
Tepat jam 7 malam Jio tiba di depan pintu pagar kosan. Jio memandangi Chika yang sedang kesusahan menutup pagar. Pagar itu sudah tua jadi engselnya sudah macet.
Walau tubuhnya tidak proposional penampilannya selalu manis dan sopan.
"Tidak, manis kok, ayo naik." Jio memasangkan helm Chika.
"Tunggu, kita mau kemana?". Chika belum juga menaiki sepeda motor itu, masih berdiri tepat di sebelah Jio.
"Kau akan tahu nanti". Jio melajukan sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi. Mau tidak mau Chika harus memeluknya karena takut jatuh.
Dia ini, kenapa membawaku ugal ugalan begini.
"Peluk aku, apa kau mau mati dengan keterangan jatuh dari motor?". Jio tersenyum ketika kedua tangan Chika melingkar di pinggangnya.
Dia sengajaaaa aaaaa
Setengah jam berlalu mereka tiba di tepi danau. Tempat ini hanya ramai dipenghujung minggu. Cukup sepi hari ini. Hanya ada beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya.
Chika turun dan melepaskan helmnya di bantu Jio. Jio juga sudah memarkirkan motornya itu.
"Kau ingin bertemu seseorang disini?". Chika berlagak bodoh sambil duduk di tepi danau buatan itu.
"Tidak, aku hanya bingung harus pergi kemana."
"Lalu kau ada kenangan indah disini?".
Jio mengikuti Chika duduk di sebelahnya, bersandar memposisikan diri senyaman mungkin.
"Kenapa kau terdengar seperti mengorek informasi dariku? Aku memang akan punya kenangan indah disini, hari ini denganmu."
Tidak jangan terlena, mungkin saja ada maksud jahat di balik kata katanya itu, inikan tempat sepi.
Chika berwaspada celingak celinguk. Sepi hampir tidak ada orang di sekitar sini.
"Apa lagi? Tidak ada orang disini." Jio menyadari gelagat aneh Chika. Dia duduk tengak di samping Chika menatap serius ke arahnya. "Apa kau berharap aku menciummu?".
Apa? Aku bahkan tidak sedikitpun memikirkan itu.
"Aku tidak akan mengizinkanmu". Chika membuang pandangannya dari Jio. Jawaban itu di balas tawa sumbang dari Jio.
Memangnya aku perlu izin? Gadis ini aneh sekali.
Hening. Tidak ada yang berbicara satu sama lain, hanya terdengar suara kendaraan yang lalu lalang. Chika sangat ingin menanyakan apa yang mengganjal di hatinya namun takut membuat suasana hati Jio buruk kembali.
Aku harus menanyakannya laki laki ini sungguh tidak bisa tebak.
Jio menyandarkan kembali tubuhnya. Kali ini dia memejamkan matanya. Seolah keheningan ini dapat menenangkan hati dan pikirannya. Chika diam diam menatap Jio. Chika bisa melihat jelas raut wajah lelah Jio.
Sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
Chika diam saja mematung. Pandangannya lurus ke depan ke arah danau. Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Jio mengamatinya. Pelan pelan dia mendekat dan menghirup udara di dekat kepala Chika. Aroma shampo Chika tercium dengan jelas.
"Jadi apa yang tidak kau dapatkan jika pergi ke salon?."
Chika tersentak dari lamunannya karena suara Jio. Bahkan Jio mendekatinya pun dia tidak sadar. Hanyut dalam lamunannya itu.
"Daripada itu, katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan?."
Jio menghela nafas panjang.
"Kemarin Lita datang ke rumahku. Dia hanya bertemu dengan mama, aku tidak mengerti apalagi yang diinginkannya."
"Jika kau terus menghindarinya kau tidak akan pernah tahu. Apa ada masalah kalian yang belum selesai?."
Awalnya Jio tidak menjawabnya, melihat raut Chika yang gelisah dia memberikan jawabannya. "Ya ada, tidak pernah ada kata putus antara kami."