
Liburan kemarin berakhir dengan pesta kembang api pergantian tahun di halaman belakang vila. Semuanya baik baik saja. Jio tidak bersikap dingin atau cuek seperti saat Chika menolaknya sebelumnya. Mungkin dia sudah mengerti keinginan Chika. Ya semoga saja.
Saatnya kembali menjadi mahasiswa. Awal tahun berarti sudah waktunya ujian semester pertama. Minggu depan kampus akan mengadakan ujian. Minggu ini adalah batas terakhir pengumpulan tugas. Syukurlah Chika sudah menyelesaikan semua tugasnya sebelum berlibur kemarin jadi dia bisa fokus ke ujian minggu depan.
Hal itu berbeda dengan Jio, masih banyak tugasnya yang terbengkalai. Chika memang membantunya tapi hanya sebatas mencarikan materi atau buku yang dibutuhkannya. Status pacar tidak memudahkan jalan perkuliahan Jio.
"Chika, ayo berikan saja copyan tugasmu, kan sama saja kita 1 jurusan", Sean mulai bosan mengerjakan tumpukan tugasnya. Dia bersandar menutup buku yang dibacanya.
Jio diam saja dia sudah tahu Chika tidak akan bergeming kalau menyangkut soal tugas. Tapi tetap menunjukkan wajah penuh harap juga.
Jangan menatap matanya Chika, dia harus belajar.
"Kalian hanya perlu membaca buku yang sudah ku berikan ini, jawabannya ada disana. Ayo semangat."
Mereka sudah ada di perpustakaan sejak habis makan siang tadi. Kalau dihitung sudah lebih dari 3 jam mereka berkutat dengan tugas. Wajah Sean sudah sama kusutnya dengan kertas yang baru saja di remasnya.
"Aku menyerah, biar saja aku tidak lulus mata kuliah ini, aku akan mengikuti semester pendek saja."
Seakan menular, Jio juga ikut ikutan. Dia menutup laptopnya dan semua buku bukunya. Namun sorot mata tajam menghentikan mereka.
"Setidaknya berusalah lebih dulu, jangan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Kalian kan masih punya pilihan. Jika menyelesaikan tugas masih punya kesempatan untuk lulus. Cih apa apaan laki laki lembek begitu?", mencercah dengan semangat tanpa memfilter ucapannya.
Sean dan Jio memasang wajah tidak suka. Tapi dalam hati mereka membenarkan ucapan Chika.
Chika merebut laptop di hadapan Jio dan menyambungkan flashdishnya. Mengcopy beberapa file dan menatap tidak suka pada dua orang itu.
"Aku berikan jawaban untuk tugas yang itu. Selesaikan sendiri tugas lainnya. Semangatlah."
Chika mengemas barangnya dan membawa beberapa buku dia siap untuk meninggalkan dua orang yang menyedihkan itu.
"Kau mau pergi?", Jio penasaran.
Chika hanya mengangguk mengiayakan. Melihat wajah Jio yang meminta kejelasan dia mulai membuka mulutnya.
"Aku mau bertemu Eva untuk berbelanja bulanan. Hampir tidak ada lagi stok makanan di kosan kami."
"Aku bisa menemanimu". Jio menutup laptopnya ikut ikutan bersiap penuh semangat untuk menyudahi mengerjakan tugas yang sama sekali tidak ia mengerti.
Chila menggeleng. Sorot matanya menjelaskan dia tidak mau. "Kerjakan tugasmu, aku tidak mau punya pacar yang tidak lulus mata kuliah mudah begini."
"Ya ya pergi saja sana kau menyebalkan."
Sean mengusir Chika karena sudah sangat kesal. Apa apaan perlakuan buruknya itu. Harusnya dia membantu pacarnya bukan mencaci seperti itu. Begitu yang ada di pikirannya.
Berbeda dengan Sean yang menggerutu kesal layaknya wanita, Jio diam saja wajahnya 1 tingkat lebih cerah dari awal tadi.
"Apa kau sudah mendapatkan jawaban untuk tugas ini."
Jio menggeleng tapi tidak menatap Sean. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tidak punya pilihan ya.
Tadi menggeleng sekarang Jio mengangguk angguk tidak jelas. Sean masih setia memperhatikan sahabatnya itu.
Apa dia sudah gila.
Sean sudah siap mengemasi barang barangnya dan bersiap untuk meninggalkan perpustakaan yang penuh sesak. Namun Jio menghentikannya, dia baru saja mendapatkan rencana gila untuk mendapatkan Chika. Benar benar mendapatkannya.
"Kau memang gila, kau mau memperkosanya?."
Sibodoh ini.
"Aku tidak akan memaksanya sedikitpun, aku hanya akan membuatnya tidak punya pilihan. Seperti ucapannya tadi"
Walau agak lama akhirnya Sean memahami juga rencana buruk Jio. Dia benar benar tidak mendukungnya kali ini. Tapi Jio bahkan tidak mengharapkan dukungannya. Laki laki itu sudah buta dengan nafsunya. Itu bukan lagi untuk mempertahankan cintanya, melainkan obsesi untuk membuktikan dirinya.
Benar. Memang Jio seperti itu karen kata kata yang disuntikkan Lita di kepalanya. Bahwa Chika akan meninggalkannya bahwa Chika akan membuangnya seperti Jio membuang Lita begitu saja.
"Lakukan sesukamu Jio, kau juga pasti tidak akan mendengarkanku."
Kau pasti menyesalinya nanti.
Jio tersenyum penuh kelicikan. Jelas dia sangat yakin kali ini dia akan bisa menakhlukkan Chika. Tidak perduli resikonya.
"Sudah nanti saja lanjutkan khayalanmu itu. Ini bagaimana dengan ini?", Sean menghempaskan tugas tugas itu di atas meja.
Jio tidak peduli dengan tugas itu. Dia sudah mendapatkan solusi sejak kemarin. Karena Sean hampir menggila diapun memberitahu rencananya. Ada seorang gadis di kelas Jio yang sejak dulu menyukainya. Dia selalu mengerjakan tugas dan mengirim copyannya ke email Jio tanpa diminta. Tentu saja Jio memanfaatkannya dengan baik tanpa perduli siapa nama gadis itu. Jio juga tidak tahu yang mana orangnya meski mereka berada di kelas yang sama.
"Pantas saja kau tidak pernah memusingkan apapun selain soal Chika. Hanya dia yang tidak bisa kau dapatkan. Hah, wajah tampan memang memudahkan hidup ini". Sean mulai meratapi wajahnya yang pas pasan.
Chika sudah meninggalkan perpustakan setengah jam yang lalu. Dia berjalan kaki ke swalayan di sekitar kampus mereka untuk menemui Eva disana. Eva tidak kuliah hari ini. Tadi pagi dia pergi berkencan dengan Anrez.
Beberapa hari ini Eva sering terlihat murung. Seminggu setelah liburan di villa itu dia baik baik saja, sangat berbeda dengan saat ini. Chika tahu Eva tidak baik baik saja, dia hanya berpura pura tidak tahu sampai Eva mengatakannya. Bukankah beberapa orang memerlukan waktu untuk terbuka atas masalahnya?.
Chika sudah 15 menit berdiri di depan swalayan. Berulangkali melihat kekiri dan kanan mencari keberadaan kawan sekamarnya itu. Tidak ada. Tidak mungkin Eva tidak datang, tadi dia sudah bilang dia sudah dalam perjalanan.
Apa bukan ini swalayan yang dia maksud?.
Chika sibuk sendiri memeriksa kembali chat nya dengan Eva. Mengecek nama swalayan itu untuk memastikannya.
Benar kok.
Chika duduk di kursi kosong di depan supermarket itu. Tidak cukup ramai sore ini karena bukan akhir minggu. Setengah jam berlalu. Yang ditunggu tidak kunjung menampakkan dirinya. Chika memutuskan untuk menelfonnya saja.
"Halo."
Suara Eva terdengar sendu diujung sana. Seperti orang yang baru saja menangis. Niat Chika untuk menceramahi Eva sirna sudah karena mendengar suaranya.
"Kau dimana? Apa masih jauh?", tanyanya pada akhirnya.
"Taxi yang ku tumpangi terjebak macet. Kau berbelanja saja duluan."
Ada hal aneh yang di tangkap Chika. "Anrez tidak mengantarmu?"
Hening. Eva membisu di seberang sana.
"Dia sibuk akhir akhir ini."