Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Apa itu Seru?



Sepulang Jio dari kampus, dia mengabari Chika kalau dia sudah di rumah. Setelahnya dia bersantai di toko ayahnya. Membantu ayahnya menunggui toko masa senja orang tuanya. Ayah jio pensiunan BUMN. Daripada berdiam diri ayahnya membuka toko kecil menjual sembako di ujung gang rumah mereka. Karena ayahnya yang sudah berusia senja, Jio lebih sering menjaga warung daripada ayahnya. Bukan tanpa alasan, Jio bebas mengambil rokok yang dia mau.


Sore hari toko itu cukup ramai. Ramai oleh teman teman Jio yang berkumpul disitu, mereka merokok sambil bersenda gurau. Toko itu sudah seperti markas bagi mereka, di depan toko ada beberapa kursi untuk mengobrol. Asap mengepul dimana mana. Di antara mereka hanya Arif yang tidak ikut ikutan. Dia sibuk sendiri di pojokan.


Menghabiskan sebatang rokok, Jio menghampiri Arif. "Rif, apa kadar ketampananku sudah berkurang?".


Seketika alis Arif terangkat mendengarnya.


Kau tidak setampan itu Jio. Berhentilah memuji diirimu sendiri.


"Tidak semua orang menyukaimu hanya karena kau tampan wahai anak muda".


Sekarang giliran alis Jio yang terangkat.


"Apa kau titisan Mario Teguh?".


Arif bersandar menatap Jio sok serius. "Entahlah aku rasa Chika memang tidak seperti gadis gadis yang selalu kau dekati, kali ini kau mendekati orang yang benar."


"Sampai detik ini pun dia tidak percaya padaku. Aku sudah mengeluarkan semua tipu muslihatku. Tidak kali ini aku sungguh tulus, anehnya kenapa tetap terlihat aku orang brengsek."


"Apa karena dia gadis kampung jadi tingkat kewaspadaannya sangat tinggi, bagaimanapun kau tetap seorang predator kan. Ah, apa kau berniat merenggutnya?? Sangat mudah memperdaya gadis kampung."


Jio sedikit terbawa emosi mendengarnya. "Kau gila? bahkan sampai detik ini aku hanya menyentuh jemari tangannya."


Di sambut tawa Arif. Lalu hening.


Apa rencanamu Jio mengapa sepenting itu kepercayaan dari gadis itu. Tidak akan ku biarkan kau merusaknya.


"Ya Chika memang sangat aneh, aku yang baik baik gak di percaya, kau yang brengsek malah di pacari."


Jio kesal mendengarnya.


Harusnya aku memang tidak bertanya padamu sialan.


"Tidak penting dia percaya atau tidak kepadaku, aku hanya kesal dia tidak menurut seperti gadis gadis lainnya. Lucunya aku malah tertarik karena dia begitu."


Kurasa ini hanya rasa penasaran. Memang tidak ada kan gadis baik di dunia ini kan.


Jio semakin kesal karena lawan bicaranya yang tidak ada tanggapan, seperti bicara dengan tembok saja. Arif sibuk main game puzzel di ponselnya.


"Yang ini bodoh", Jio merapat ke sebelah Arif membantunya bermain game. Arif spontan mengikuti saran Jio sambil tertawa.


"Jadi kau tidak mendengarkanku?".


Arif masih fokus pada gamenya tapi terasa tatapan orang di sebelahnya bisa membakar tubuhnya dia angkat bicara.


"Aku bosan mendengar ocehanmu yang sebenarnya kau tahu itu hanya pembelaan untuk dirimu sendiri. Kau tahu kan Chika gadis yang baik. Berhentilah memberinya tes, kau menyebalkan."


Giliran Jio yang diam saja.


"Lakukan apa yang kau mau, tapi jika kau ingin merusaknya berhentilah! Dia pantas mendapatkan yang lebih baik."


Percakapan mereka terhenti disitu. Ponsel Jio berdering, chat dari Chika yang sejak tadi di tunggu Jio.


Jadi sekarang kau sedang apa?


Jio membalas pesan itu dengan sejujur jujurnya.


Tentu saja memikirkanmu.


Benarkah? Entah kenapa sepertinya itu benar.


Aneh sekali dia tidak membantahnya. Chika Chika apalagi yang kau pikirkan.


Apa ada yang ingin kau ketahui? Jio


Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa memahamiku secepat ini. Tapi ya ada yang ingin sekali ku tanyakan. Chika


Apa kau bagian dari dunia malam? Chika


Pertanyaan macam apa ini Chika, apa aku memang seburuk itu di matamu, tapi ya kau benar aku juga bukan laki laki yang baik.


Tentu saja, aku tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku yang hanya sekali.


Itu juga bukan sekedar bualan, nyatanya Jio memang pernah terlibat dunia malam ketika berpacaran dengan Lita. Minuman keras, wanita hanya narkoba yang tidak disentuhnya.


Apa itu seru? Chika


Pertanyaan yang benar benar tidak di duga Jio. Awalnya dia pikir jika Chika tidak suka dengan kejujurannya dan memilih putus dia akan menyetujuinya.


Aku tidak akan mengajakmu kesana.


Di kosannya Chika dengan serius menatap layar ponselnya. Dia tidak sendiri. Eva mengintip isi chat itu dari belakang. Mereka duduk di tangga jadi sangat mudah bagi Eva membacanya dari belakang Chika.


"Aku pikir dia akan mengajakmu kesana karena kau bertanya begitu. Sudahlah Chika jangan terlalu tinggi membangun tembok di antara kalian, kalau kau tidak bisa dengannya putuskan saja."


"Aku takut menyesal hanya karena perasaan takutku, lagi pula dia sangat keren". Chika menghela nafas.


Ya aku tahu kau laki laki yang baik, lagi pula aku tidak bisa melepas kerudungku untuk masuk kesana. Teruslah menjagaku, terimakasih Jio.


Jio tertegun membaca pesan itu. Entah dia bisa melakukannya atau tidak.


Hari sudah mulai sore, tidak ini sudah hampir malam. Jio melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 6 sore. Arif masih bermain game di sisi Jio.


"Kau tidak pulang? ibumu sudah menunggu di depan pintu!."


"Aku sudah besar Jio, jangan mengungkit masa kelamku di waktu kecil."


Orangtua Arif sangat tegas dan disiplin. Tapi didikan itu juga yang membuat Arif menjadi anak yang sesuai dengan namanya. Berbeda dengan Jio. Ibunya acuh tak acuh dengannya, tapi selalu ada ayahnya yang perhatian padanya.


"Apa kita jadi pergi di akhir pekan ini? Aku sudah lama tidak ke pantai, ayo lah ajak saja Chika, ini jalan jalan pertamanya bersama kita."


"Bukankah Chika membencimu?", Jio kembali mengisap rokoknya.


"Dia pasti menyukaiku, kau tak percaya?"


Arif seperti tertarik pada Chika sejak awal. Tidak seperti mantan kekasih Jio yang sudah sudah Arif sangat peduli dengannya.


"Katakan padaku, apa kau menyukai Chika?"


Pertanyaan itu mencuat begitu saja dari mulut Jio. Memang tidak ada batasan dalam persahabatan mereka.


"Tentu saja, dia manis."


Wajah Jio berubah masam mendapati jawaban itu. Arif tidak menjelaskan apapun. Jawabannya mengandung banyak arti. Dia berhenti main game dan bersiap pulang.


Dasar bodoh, bagaimana bisa aku menyukai pacar sahabatku, aku hanya ingin kau mengubah cara pikirmu yang payah itu, masih ada gadis yang baik di dunia ini.


"Ajak Chika akhir minggu ini dan suruh dandan yang cantik, ini pasti seru."


Malam hari pun Chika dan Jio terus bertukar pesan. Hanya membahas hal hal yang tidak penting.


Akhir minggu ini ikut denganku ke pantai bersama teman temanku. Mereka ingin mengenalmu.


Chika membaca pesan itu sambil membaca novel yang dia pinjam dari Nala. Seketika dia menutupnya. Pergi dengan Jio sangat menakutkan karena Chika di hantui rasa tidak percaya. Karena kenyataannya ini bukan kotanya. Kalau dia mengajak Nala, percuma juga malah menyusahkan.


Awalnya Chika enggan ikut jika Nala tidak ikut. Chika bermaksud agar Sean membonceng Nala ke pantai, nyatanya Sean juga membawa pasangannya.


Lalu untuk apa dia menunggu gadis di parkiran waktu itu, dasar buaya.


Aku jemput jam 7 pagi di kosmu. Aku pasti menjagamu.