Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Perlakuan Khusus



Sudah 3 hari ini Ibu Chika selalu menelfonnya. Bukan untuk menanyakan dirinya, hanya untuk berkeluh kesah tentang kak Jihan yang tidak pernah sepaham dengannya lalu berakhir dengan Ibu yang mengalah. Ketika Chika bercerita perihal dirinya, Ibu selalu memotongnyo seakan itu tidak penting untuk di bahas. Dia hanya memperingati jangan membuat masalah jika ingin terus kuliah.


Karena ini bukan kali pertama Ibu seperti itu, Chika sudah memakluminya. Yah pokoknya ibu masih ingat bahwa dia masih berada di dunia yang sama dengan Ibu, bukan hilang di telan bumi.


Makan es krim kemarin sangat menyenangkan. Mood Chika langsung berubah ketika es krim itu menyentuh tenggorokannya. Walaupun harus melawan gurauan dari Sean dan Arif, tidak masalah. Itu tetap menyenangkan.


Hari ini Chika akan pulang dari rumah Nala. Semalam Chika menginap di rumah Nala atas permintaan orangtua Nala. Semalam Chika ikut merayakan hari ulangtahun ibunya Nala. Karena Chika sering ke rumah Nala ibunya jadi akrab dengan Chika.


Rencananya Jio akan menjemput Chika, tapi hingga jam 10 pagi ini Jio belum menampakkan batang hidungnya. Chika sudah menunggunya sejak tadi. Berkali kali dia keluar masuk kamar Chika sudah seperti setrika saja.


"Berhentilah membuatku pusing, ayo kita nonton drama korea saja, hari ini kan tidak ada kuliah untuk apa pulang ke kosan mu", Nala mengeluarkan laptop bersiap menonton drama korea yang di downloadnya menggunakan wifi perpustakaan kampus kemaren.


Hari ini memang tidak ada jadwal kuliah besok juga tidak ada. Tapi Chika merasa tidak enak jika berlama lama di rumah Nala. Ibunya akan sibuk menyiapkan makanan mahal dan bergizi, katanya untuk perbaikan gizi karena Chika setiap hari makan sesuka hari tanpa memperdulikan asupan gizinya.


Wah ibuku saja tidak perduli aku makan apa, bahkan aku sudah makan apa belum.


"La, aku pulang naik taxi saja deh".


"Apa apaan begitu, tidak bisa kau di rumahku saja, ini perintah putri Nala", Nala beranjak mengunci pintu kamarnya memaksa Chika duduk berhadapan dengan laptopnya.


Mau tidak mau akhirnya Chika menurut. Sedang asyik mereka menonton, ponsel Chika berdering panggilan masuk dari Jio. "Halo", kata Jio memulai percakapan mereka. Nada suara itu terdengar sendu.


Sepertinya Jio tidak baik baik saja, apa yang terjadi?


"Halo Jio, apa kau baik baik saja?."


"Ya aku baik, maaf aku tidak bisa menjemputmu sekarang. Tapi aku pasti menjemputmu nanti sore jadi aku mohon tunggu saja di rumah Nala, dan jangan berpikir untuk pulang tanpaku". Jio tidak sedang bernegosiasi, itu sebuah perintah yang tidak boleh di bantah.


"Ya baiklah Jio, aku dan Nala menonton drama korea saja, kau kabari saja kalau akan menjemputku nanti." Chika memilih menurut karena khawatir dengan Jio. Mereka mulai menonton di atas kasur.


Di rumahnya Jio sedang mendengarkan ceramah panjang dari Ibunya. Bukan tanpa alasan, Jio harus bertanggung jawab untuk sebuah kesalahan yang bahkan tidak di lakukannya. Tidak ada gunanya membantah malah akan memperkeruh suasana.


Kehidupan keluarga Chika dan Jio hampir saja sama, bedanya hanya pada ayahnya, jika ayah Chika memilih diam, ayah Jio selalu ada untuknya. Apapun yang di lakukan Jio ibunya selalu menunjukkan rasa tidak suka terhadap Jio. Jonathan adalah anak kesayangannya. Entah kenapa orangtua jaman sekarang suka sekali membeda bedakan anaknya. Walau dia mengaku kesemua orang semua anak sama saja, nyatanya perbedaan itu sangat nyata.


Tadi pagi Jio bermaksud menggunakan mobil untuk menjemput Chika karena cuaca mendung, namun naas mobil itu lecet. Tentu saja yang di salahkan adalah Jio tanpa mendengar bagaimana cerita yang sebenarnya. Rasanya Jio ingin sekali berteriak kalau Jo lah yang memakai mobil itu semalam.


Jo juga bukan kakak yang baik, meskipun kesalahan ada padanya dan orang lain yang bertanggungjawab, dia tetap akan diam pura pura tak bersalah. Anehnya dia tetap bersikap biasa saja dengan Jio seolah tidak ada keretakan dalam persaudaraan mereka. Tapi Jio tidak bisa begitu. Menyakitkan untuk menerima semua kesalahan yang bahkan tidak pernah dilakukan.


Jio tidak bisa menjemput Chika karena dia di larang keluar rumah oleh ibunya sebagai hukuman. Tentu saja Jio tidak perduli. Nanti sore ketika Ibunya keluar rumah, dia pasti akan menjemput Chika.


Jika kalian tidak mendengarkanku, jangan salahkan aku melakukan hal yang sama.


Waktu menunjukkan pukul 3 sore, Jio sudah bersiap siap menjemput Chika, celana jeans sobek di beberapa bagian dan baju kaos menjadi pilihannya hari ini. Disambarnya jaket jeans yang tergantung di balik pintu dia menutup pintu kamar perlahan. Sayangnya tetap saja ada yang mengetahuinya.


Jio tersenyum mengejek dengan perkataan Jo, "kenapa tidak kau akui saja perbuatanmu".


"Apa kau tidak mengerti juga, bagaimanapun aku mengakuinya, kesalahan itu tetap saja akan menjadi milikmu, hanya dengan seperti ini aku bisa membujuknya untuk tidak keterlaluan denganmu."


Sudah berulangkali Jo meyakinkan Jio jika semua yang dilakukannya untuk Jio, Jo juga sudah menyadari perlakuan khusus ibu mereka untuknya.


Jio berbalik badan menatap tajam Jo, "Kalau begitu, cobalah untuk tidak membuat masalah yang berujung menyulitkanku."


Jo hanya menatap sedih pada Jio, dia sangat menyayangi adiknya itu, hanya saja keadaan membuat mereka tidak pernah akur. Jio meninggalkan rumah dengan sepeda motornya.


Chika sudah bersiap siap sejak Jio mengabari akan menjemputnya sore ini. Rasa khawatir itu tetap saja ada di hati Chika. Jio pernah bercerita kalau ibunya tidak berlaku adil padanya. Chika sangat mengerti perasaan itu karena dia juga di perlakukan begitu.


Setidaknya aku bisa menghindari suasana buruk itu ketika meninggalkan rumah.


Nala tiduran di kamarnya karena lelah menonton sejak tadi. Mereka menonton sejak pagi tadi. Ketika di tinggal Chika mandi, dia malah tertidur.


Terdengar suara sepeda motor tiba di beranda rumah Nala. Chika sudah sangat bersemangat bertemu Jio, buru buru dia berlari ke depan.


"Nala tolong buka pintu ada tamu", Ibu Nala berteriak dari dapur. Ibu sedang menyiapkan bahan bahan makanan untuk seminggu. Karena Ibu Nala adalah seorang wartawan yang tidak punya waktu tetap di rumah, jadi dia selalu menyiapkan bahan makanan di rumah, sehingga anak anaknya bisa memasak dengan mudah jika dia belum pulang.


"Chika saja tante Nala tidur", Chika menyahut setengah berteriak. Dia membuka pintu dan sedikit kecewa karena yang datang adalah Doni bukan Jio.


Doni duduk di kursi teras menunggu tuan rumah membuka pintu. Dia sangat senang ketika melihat Chika di balik pintu yang dia ketok tadi.


"Kau, sedang apa?."


Doni menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, mencari alasan yang masuk akal untuk ke rumah Nala. Tidak mungkin dia mengatakan untuk bertemu Chika.


"Aku aku hanya lewat saja kok." Doni mengabaikan Chika yang sama sekali tidak mempersilahkannya masuk, dia masuk menerobos tubuh Chika yang mungil. Wajar saja, rumah ini sudah seperti rumah Doni juga.


Karena penasaran Chika menanyakannya juga. "Don, untuk apa kau menggunakan motor rumahmu kan hanya berjarak 2 rumah dari rumah ini?."


Doni duduk di depan televisi yang tidak menyala, "Aku malas saja berjalan, lagi pula itu lebih cepatkan."


"Gunakanlah kakimu, sebelum menggunakan kaki itu di larang."


Nasihat macam apa seperti itu.


Tiba tiba Ibu Chika muncul dari dapur membawa camilan. Doni menyapanya dengan sopan. Chika pun ikut mengobrol sembari menunggu Jio.