Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Terlalu Dekat



Baiklah sayang, sampai jumpa lusa.


Kau mau mati ya.


Jangan ulangi kata itu lagi, aku tidak mau Jio salah paham.


Walau kesal dengan Arif yang suka menjahilinya, Chika tetap baik padanya. Arif memang seperti itu, lagi pula dia teman baik Jio. Tidak mungkin dia bermaksud lain kan.


Chika sudah dijemput oleh Jio. Mereka berkumpul di rumah Anrez seperti kemaren. Karena rumah Anrez adalah titik tengah dari semua rumah mereka. Kali ini rombongannya cukup banyak, teman teman sekelas Jio juga banyak yang ikut. Tapi hanya Chika dan Tia yang sejenis. Tidak apa apa, mereka sudah akrab bak kakak beradik.


Aku jadi penasaran apa Tia juga akrab dengan Lita dulu.


"Tia, apa baru kali ini mendaki gunung begini?."


Tia tersenyum namun matanya penuh selidik.


"Ya baru kali ini pacar kak Jio ikut, biasanya hanya Tia sendiri perempuannya. Itu yang ingin kakak dengarkan?"


Chika tersenyum niatnya dibaca dengan jelas oleh Tia. Chika duduk di kursi mengeratkan tali sepatunya. Tia juga ikut ikutan duduk.


"Kak Chika, diantara pacar kak Jio kakak Chika paling keren dan paling bisa diajak ngobrol. Apalagi kak Lita, dia super sibuk mana punya waktu untuk ikut seperti ini, sejumlah pemotretan menunggunya."


Aku jadi penasaran aku ini pacar keberapa sih? Benarkah Lita sesibuk itu, aku lihat dia hanya sibuk menguntitku di kampus.


" Kau tahu kakak pacar keberapa?."


Tia memutar bola matanya dan mengetuk ngetuk hidungnya berfikir keras.


"Tidak tahu kak, soalnya beberapa kak Jio tidak perkenalkan. Tapi yang aku tahu dari Sean yang di anggap pacar tu cuma Lita sama kak Chika, sisanya iklan aja."


Haha kau tidak tahu saja awalnya juga aku hanya iklan.


Mereka terus bercerita sebelum berangkat. Semua ini karena Arif yang tak kunjung datang. Dia yang tahu arahnya jadi tidak ada yang bisa dilakukan tanpanya.


Sudah hampir 2 jam menunggu. Akhirnya Arif datang dengan tergesa gesa. Dia memarkirkan motornya ke garasi rumah Anrez.


"Maaf semuanya aku ketiduran main game. Rez aku ikut denganmu ya, aku sangat mengantuk, bahaya."


Karena sang navigator sudah datang, semuanya bergegas siap siap berangkat. Jio dengan senang hati membantu Chika memasangkan helmnya seperti biasa.


"Benar kau sudah dapat izin?", Jio memastikan kembali.


Chika menghindari tatapan mata Jio. "Aku hanya akan terlambat 1 hari, Mama tidak akan menjemputku kesini kan?", tersenyum senang.


Seperti tebakan Jio, Chika tidak mungkin berani membantah Ibunya. Tidak ada yang bisa dilakukannya karena ini pilihan Chika. Dia hanya berharap agar Chika tidak dapat masalah setibanya di rumah.


"Kau sudah siap Chika?", Arif berjalan melewati Chika menghampiri motor Anrez disebelah Jio.


"Tentu saja, aku kan tidak suka main game sepertimu." Jio memperhatikan interaksi mereka yang begitu akrab.


Bergantian, giliran Chika yang membantu Jio mengenakan jaketnya. Jio menatap gadis dihadapannya itu penuh selidik."Kalian ada sesuatu?."


"Ya itu benar." Jio menaiki sepeda motor itu dan siap pergi.


Perjalanan mereka sudah setengah jalan untuk mencapai puncak, cuaca hari ini sangat terik. Sangat tidak bersahabat. Udara bersih di pegunungan membuat semua lebih baik, berada di antara pepohonan begini membuat suasana sejuk walau ditengah terik matahari.


Rombongan itu berhenti karena jalan terjal dihadapan mereka, jalanan itu terlalu berbahaya untuk dilalui sepeda motor dengan 2 penumpang. Sean yang memakai motor bebek bisa melaluinya bersama Tia. Mau tidak mau Jio harus menurunkan Chika. Arif juga diturunkan Anrez.


"Tolong bantu Chika Rif!."


Sekali lagi dengan berat hati juga Jio membiarkan Arif menjaga Chika. Jio memacu sepeda motornya untuk melalui jalan miring itu.


"Ayo aku bantu." Arif mengulurkan tangannya. Sejenak Chika menatap uluran tangan itu. Dia menatap ke depan. Mengabaikan uluran tangan itu dan berjalan duluan.


"Ayo Rif langkahmu lambat." Arif tetap tersenyum menatap punggung Chika yang meninggalkannya.


Ya baiklah terserah kau saja.


Sudah separuh jalan Chika berjalan mendaki jalan miring itu, nafasnya sudah tidak teratur karena tidak terbiasa. Arif tetap di belakang Chika. Dari jauh terlihat Jio berjalan setengah berlari ke arahnya.


"Kau tidak apa apa?, Ayo!." Jio meraih tangan Chika dan menggenggamnya erat.


"Auu." Padahal Jio sudah menggenggam tangan Chika agar dia tidak jatuh, namun batu kerikil yang diinjaknya membuatnya tergelincir. Arif yang bersiaga dibelakang Chika sejak tadi, dengan sigap menangkapnya. Tersirat wajah tidak suka dari Jio melihat Arif yang terlalu dekat, namun di tepisnya, Arif hanya berniat membantu.


Kaki Chika terbentur ke aspal. Tapi tidak apa apa dia masih sanggup berjalan. Tidak ada luka di kakinya hanya nyeri saja jika disentuh. Jio beberapa kali memberi pijatan disana.


Semua rombongan sudah sampai. Sekarang mereka harus berjalan kaki untuk mencapai puncak. Sepeda motor di parkirkan disitu.


Hanya perlu 30 menit berjalan kaki mereka sampai di puncak gunung itu. Semua rasa lelah terbayang dengan pemandangan di sekitar mereka. Wow. Yah gunung ini tidak begitu tinggi, tapi cukup indah disini.


"Chika ayo foto disana." Jio menarik tangan Chika. Mereka berfoto beberapa kali. Kurang puas dengan hasilnya. Jio memaksa Arif untuk mengambil foto mereka berdua.


"Foto yang benar, aku tidak memaafkanmu jika fotonya jelek."


Lihatlah dia, tidak sadar yang jelek itu dia, bagaimana bisa fotonya jadi bagus.


Semua orang berfoto disana, Sean dan Tia juga mengambil beberapa foto mesra. Ya kali ini tanpa foto ciuman seperti waktu di pantai.


Selanjutnya foto bersama. Awalnya Arif akan berdiri di sebelah Chika, Jio dengan sigap pindah dan menggeser Arif jadi di sebelahnya.


Semuanya beristirahat sejenak, memakan beberapa camilan yang mereka bawa. Chika hanya membawa beberapa makanan ringan di tas Jio. Awalnya dia ingin membawa bekal makanan, namun Jio mengomel karena akan merepotkan membawanya mendaki. Ya untung saja Chika menurut kalau tidak pasti dia sudah sangat menyesal sekarang.


"Chika tolong fotokan diriku sebelum kembali dong, aku kan sudah mengambil foto kalian dengan bagus tadi." Arif sudah berdiri mengambil posisi untuk di potret. Dia tudak mau minta toling Jio karena hasilnya pasti jelek seperti yang sudah sudah.


Jio diam saja dia tetap santai memakan makanannya. Chika menurut dan mulai mengambil beberapa foto untuk Arif. Kadang kadang dia mengomel karena lokasi foto yang dipilih Arif sangat aneh tapi dia tetap memotretnya.


"Chika ayo foto denganku", Arif menarik tangan Chika dengan paksa dan langsung memotret lewat ponselnya. Wajah terkejut Chika terlihat jelas dihasil foto itu.


Di ujung sana Jio sudah menahan emosinya sejak tadi. Wajahnya kecut bagai lemon. Dia terus saja menatap Arif yang tertawa bahagia bersama Chika.


Tidakkah kau sudah terlalu dekat Rif?.