Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Gadis Berpendirian



"Kenapa menyuruh mereka pulang? aku belum selesai bicara." Ibu Jio sangat marah karena keputusan sepihak ayah.


"Jangan menjebak anakku dengan gadis pembohong hanya untuk kepentinganmu. Sudah sangat jelas Jio tidak melakukan hal yang tidak patut begitu."


Ayah Jio meninggalkan restoran dan kembali ke rumah. Tinggal ibu yang terpaku menatap makanan yang tersisa. Gagal sudah rencana ibunya. Jika Lita dan Jio tidak bisa bersama, Lita pasti membujuk ayahnya untuk tidak memakai jasa katering restoran Ibu Jio lagi untuk semua acara yang ditanganinya.


Chika yaa, semua akan lebih mudah jikalau dia tidak ada seperti dulu.


Ibu Jio sangat ambisius dengan karirnya. Walau hidupnya sudah berkecukupan dengan penghasilan ayah Jio, dia masih haus akan kariernya. Ketika dia tahu dia mengandung Jio sewaktu kariernya sangat bagus, Ibu Jio berniat menggugurkan kandungannya jika tidak dihentikan ayah.


Sewaktu melahirkan Jio, Ibu harus cuti untuk 2 bulan dan kehilangan kesempatan untuk menangani proyek penting yang dapat membuat kariernya melejit. Lalu dia mulai sakit sakitan karena memaksakan diri untuk bekerja ketika hamil dan dimasa pemulihan pasca melahirkan. Akibatnya dia harus mengambil cuti panjang dan pada akhirnya dia dipecat dari perusahaan. Barulah dia memulai bekerja lagi ketika Jo dan Jio sudah masuk sekolah.


Karena hal inilah Ibu tidak pernah menyayangi Jio sebagaimana dia menyayangi Jo. Menurutnya jika saja Jio tidak ada pasti kariernya sudah secemerlang yang dia harapkan. Namun secercah cahaya datang ketika Jio dekat dengan Lita. Jadi menurut Ibu akan lebih baik jika mereka bersama. Anggap saja sebagai balasan karena dia kehilangan kesempatan akan kariernya dulu.


Tidak berselang lama Lita menghampiri meja Ibu Jio. Rupanya gadis ini lah yang ditunggunya sejak tahi hingga dia belum beranjak dari meja itu walau semua makanan dan minuman telah dibersihkan. Gadis itu duduk di sebelah Ibu dengan akrabnya. Jika orang melihat mereka pastilah mengira mereka ibu dan anak kandung.


"Jadi bagaimana tante? mereka sudah putus?."


Ibu Jio tersenyum penuh arti. " Belum, tapi tidak lama lagi. Tante sudah menyiramkan bensin, tinggal kau memercikkan api saja."


Lita tidak mengerti arah percakapan itu. Dia diam saja hanyut dalam pikirannya sendiri.


"Chika adalah gadis yang berpendirian teguh, sementara Jio adalah laki laki yang selalu cemas dengan masa depannya. Jadi kita bisa menggunakan celah ini, kau mengerti kan?"


Barulah Lita tersenyum lebar mendengar penuturan itu. Sekarang dia mengerti dan tahu apa yang harus dilakukannya.


Tamatlah sudah kau Chika. Jio hanya milikku.


Hari ini adalah hari terakhir ujian. Dari awal ujian pikiran Chika selalu terganggu dengan pertemuan waktu itu. Jio berhasil meyakinkannya bahwa Lita lah yang berbohong. Sean dan Arif juga ikut ikutan meyakinkan Chika. Walau ada rasa tidak percaya hati kecil Chika mengakui kalau Jio memang tidak berbohong. Namun entahlah jalani saja, begitu pikir Chika.


Chika sedang mengikuti ujian untuk mata kuliah Akuntansi Perbankan. Jio juga sama. Chika sudah hampir selesai dengan ujiannya hanya tinggal 1 soal lagi. Beberapa temannya sudah keluar karena sudah selesai, memang waktu untuk mengerjakan ujian juga hanya tinggal 30 menit lagi. Waktu itu di maksimalkan Chika untuk merincikan jawabannya.


Ketika sedang memikirkan jawabannya, seseorang diambang pintu itu merusak konsentrasinya. Adalah Jio yang berdiri disitu bersama Sean, memberi isyarat agar Chika segera menyudahi ujiannya seperti mereka. Tidak tahu bagaimana wajah mereka sangat puas akan ujian yang baru saja berlangsung, seakan mereka menjawab semuanya dengan benar.


Chika memberi isyarat bahwa dia belum selesai dan tinggal 1 soal lagi. Jio memaksa dan mengatakan ini sangat penting, tentunya dengan isyarat tangan. Sebenarnya Chika sudah tidak nyaman karena mahasiswa lain yang masih di kelas juga mulai terganggu dengan kehadiran Jio diluar pintu itu. Namun ujiannya lebih penting.


Sialnya Jio bukan orang yang mudah menyerah, dia mengetok pintu dan membuat dosen pengawas berbicara padanya. Ibu Dosen itu berjalan ke arah pintu dan membelakangi mahasiswanya. Jio menanyakan beberapa hal pada dosen itu, lalu mulai membuat kegaduhan.


"Bu saya lihat sendiri, yang di ujung sana menyontek bu, wah bukankah itu tidak benar Bu?."


Tanpa bertanya apapun, Ibu pengawas segera memeriksa lembar jawaban Chika, mencari contekan namun dia tidak menemukan apapun. Dia tidak bertanya apa apa, langsung saja dia menyita lembar jawaban itu. Tidak ada alasan bagi Chika untuk mengelak sebab ketika dosen itu menoleh padanya, Chika memang sedang berbicara dengan orang yang didepannya.


Sial harusnya aku tidak perlu membantunya saja, awas kau Jio.


Chika keluar dari kelas itu sambil menggerutu di dalam hati. Jio sudah meninggalkan tempat Chika ujian dan bersantai di kantin bertemu Arif. Jio sudah mengirimkan pesan singkat agar Chika menemuinya disana.


Chika duduk tepat di depan Jio, dia menatap sinis Jio sambil melipat tangan didadanya. Huh. Jio hanya tertawa melihatnya, dia juga tidak berusaha membujuknya.


"Ayo Chika putuskan saja laki laki brengsek ini, lelaki macam apa yang membuat pacarnya dikira menyontek?." Sean mulai memanas manasi.


Kini tatapan sinis Chika berpindah ke Sean. "Kau, kau kan yang memberinya ide begitu?."


Sean terkejut tapi dia masih tersenyum. "Aku? Haha, Kau tidak tahu Jio ini ahli dalam hal menjahili orang. Wah apa saja sih yang kalian lakukan selama pacaran, Jio memangnya kau baru ini menjahilinya?", Sean menyandarkan tubuhnya. Sangat seru membuat Chikaa marah dan Jio terpojok.


Jio mengetuk ngetuk meja, mengingat ingat, nyatanya memang baru ini dia menjahili Chika. Sebenarnya dia sangat takut jika Chika marah atau merasa tidak nyaman dengan sifat jahilnya lalu pergi dari sisinya.


"Ya, kau lihat saja dia sangat mengerikan kalau marah begitu, aku takut terbawa mimpi."


Chika bergantian menatap sinis dia orang itu dia kesal bukan main. Dia diam saja sementara Sean dan Jio sibuk bercanda. Menyebalkan. Namun kekesalan itu semakin bertambah melihat kedatangan Arif dengan senyum mengejek diwajahnya.


Kenapa aku harus tersesat diantara orang gila ini.


"Ayo liburan hari minggu ini, kita mendaki gunung saja." Arif duduk di sebelah Chika, dia mengatur nafasnya karena berlarian kekantin.


Chika sangat tertarik dengan ajakan Arif, tapi dia sudah katakan pada Ibunya dia akan pulang dihari minggu nanti. Pasti Ibu akan marah jika lewat 1 hari saja.


"Aku harus pulang, aku sudah bilang orangtuaku aku akan pulang dihari minggu ini."


Semuanya menatap Chika, mereka diam saja. Bagaimanapun tidak akan seru jika Chika tidak ada, Jio juga tidak akan mau jika Chika tidak ikut.


"Arif, kita pergi hari sabtu saja!". Jio menimpali sambil menatap Chika meminta persetujuannya.


"Hanya dibuka untuk hari minggu, kita juga tidak diizinkan berkemah karena akhir akhir ini gunungnya sering aktif."


"Baiklah Arif kau atur saja nanti akan ku pikirkan caranya", Chika mengakhir diskusi liburan itu. Jio diam saja namun dia memperhatikan raut wajah Chika yang sendu.