Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Berusahalah



Semua yang dimasak mereka sudah tersaji dan tertata rapi di atas meja. Berkat kerja keras Sean dan Tia jadilah makan malam yang terbilang mewah di penghujung tahun ini. Mereka sudah duduk berdampingan dengan pasangan masing masing. Kecuali Arif yang jomblo pastinya.


Tak henti hentinya mereka memuji masakan Sean, memang tidak dapat di percaya bisa jadi sangat enak, Arif yang semula mengejek sekarang memuji dengan berlebihan. Sean dengan bangga memamerkan senyumannya.


Wajah bahagia terpancar di semua orang menikmati jamuan malam ini, kecuali Jio sorot matanya sangat tajam sejak tadi. Apalagi saat Arif bercanda dengan Chika, sorot mata itu akan dua kali lipat lebih tajam dari sebelumnya. Arif yang sudah menyadarinya sejak tadi malah semakin bersemangat memanaskan suasana.


Urus saja rasa cemburu berlebihanmu itu, dasar anak anak.


"Sean, kenapa punyaku isinya hanya paprika saja", memamerkan satenya. Sejak tadi Anrez diam saja sibuk memperhatikan sate paprika di depannya, diliriknya piring orang lain yang berbeda dengan miliknya.


"Ehehe iya tadi dagingnya habis", jawab Sean santai.


Eva berinisiatif memberikan bagiannya untuk Anrez dia juga menyuapinya. Berulang kali Anrez menolaknya dengan halus. Entah kenapa sulit sekali bagi Anrez menerima suapan itu. Seperti diberi racun saja. Namun Eva tidak menyerah, dia terus memaksa menyuapi Anrez.


Tidak tahan lagi, Anrez menghempaskan garpu yang dipegangnya ke atas meja. "Aku bilang aku tidak mau, jangan memaksaku", menatap tajam pada Eva.


Eva perlahan mundur, senyuman masih terukir di wajahnya. Jelas dia sangat terkejut dengan sikap Anrez. Eva diam, kembali memakan makanannya. Dia sangat malu Anrez membentaknya seperti itu di hadapan semua orang.


"Aku sudah selesai makan, aku kembali duluan", Eva meninggalkan meja makan dan berlalu. Anrez hanya menatap punggung Eva tanpa mengatakan apapun.


Selanjutnya suasana hening dan canggung menghantui meja makan itu. Semua orang bingung harus bagaimana. Namun tetap memakan makannya.


Apa apaan kau Anrez.


Sudah gila ya.


Kasian sekali kak Eva.


Kenapa sekarang kau menunjukkan dengan jelas kalau kau memang tidak menyukainya brengsek.


Chika menatap tajam pada Anrez. Kesal melihat tingkah Anrez yang tidak memikirkan perasaan Eva. Jio menyadari kemarahan dimata Chika, dia menggenggam tangan Chika di bawah meja, menahan Chika untuk tidak ikut campur. Setidaknya jangan di depan semua orang.


"Emm kita sudah selesai makan, bagaimana kalau kita main kembang api saja."


Sean memecahkan keheningan itu.


"Sekarang belum jam 12 Sean, kau ini bagaimana. Lagipula aku lupa membeli kembang apinya."


Arif memasang wajah tidak bersalah. Tidak berlangsung lama. Sorot mata semua orang mengintimidasinya. Bagaimana bisa merayakan pergantian tahun tanpa kembang api tidak seru bukan.


"Ok ok aku akan membelinya, tenang saja disekitar sini ada kok. Jadi siapa yang ikut menemaniku", tatapan mata Arif berhenti tepat pada Chika. Jio semakin kesal saja melihatnya.


Apa? Kau mau mengajaknya. Sudah bosan hidup ya.


Harapan Arif sirna, Chika malah memberi kode untuk mengajak Anrez dan Eva saja mengunakan ekor matanya. Ini kesempatan bagus untuk memperbaiki hubungan mereka berdua. Arif mengangkat tangannya pura pura tidak mengerti tapi dia tersenyum. Chika memutar kedua bola matanya kesal. Arif mengangguk.


Baiklah Chika.


Semua orang telah meninggalkan meja makan. Chika dan Tia membujuk Eva di kamar. Dia tidak marah dia hanya malu diperlakukan begitu apalagi di depan semua orang.


Sebenarnya salahku juga aku memaksanya berulangkali, tapikan tidak perlu membentakku. Huhuhu.


"Eva."


Terdengar suara Anrez mengetuk pintu kamar. Ketiga gadis itu sontak terkejut. Wajah Eva sumbringah sesaat tapi disembunyikannya. Dasar wanita.


Chika dan Tia bersemangat mendorong dorong Eva untuk segera membuka pintu. Walau masih kesal dibukanya juga. Dia diam saja tidak mau menatap Anrez yang berdiri dihadapannya. Aksi jual mahal harus tetap terlaksana.


"Ayo pergi membeli kembang api bersama Arif."


Kenapa kau tidak pergi saja bersamanya, aku tidak mau cih.


"Sekarang?"


Ya tuhan susah sekali menolaknya.


Laki laki itu hanya mengangguk. Kali ini dia tersenyum menatap mata Eva. Hancur sudah pertahanan diri Eva, deretan gigi putih yang berbaris rapi ditambah lesung pipi yang muncul ketika Anrez tersenyum itu lebih manis daripada setumpuk gula.


"Baiklah, tunggu sebentar aku mengambil jaket dan tasku", Eva menutup pintu itu setelah Anrez mengangguk lagi.


Seketika heboh dari dalam kamar. Gadis gadis itu riuh menggoda Eva yang baru saja berbaikan. Anrez diam saja di depan pintu seakan dia sudah paham apa yang terjadi di dalam.


Sepertinya Eva, Chika dan Tia bersantai di ruang tamu. Tidak tahu harus apa menunggu kembang api yang tak kunjung datang.


"Tia ayo berenang saja!, Arif baru saja mengirim pesan, mereka akan terlambat pulang, mereka terjebak macet", Sean menghampiri. Dia sudah mengenalan celana renang. Dengan sigap Chika langsung membuang pandangannya. Celana Sean keterlaluan.


Laki laki ini pasti sudah gila.


Sebelum mereka pergi, Chika menanyakan keberadaan Jio yang sejak tadi menghilang. tidak mungkin dia pergi ikut membeli kembang api tanpa memberitahu Chika.


"Dia di kamar, katanya tidak enak badan. Kau pergilah temui dia. Atau kau mau berenang bersama kami?"


Cepat cepat Chika menggeleng menolaknya.


Tadi dia baik baik saja kok.




Di kamar laki laki.



**Aku sudah membuat sibuk semua orang, berusahalah**.




"Jio, kau baik baik saja?."



Suara Chika dari balik pintu membuatnya tersenyum senang, segera dia berlari membuka pintu itu.



"Aku hanya mau istirahat sebentar. Ayo temani aku!."



Ada keraguan di hati Chika, tapi melihat wajah Jio dia menurut. Tak. Chika menoleh ke suara itu, suara pintu yang dikunci.



"Kenapa pintunya kau kunci?."



Jio mendekati Chika sampai tersandar ke dinding. "Karena Sean suka masuk sembarangan, kau tahukan dia itu agak", memberi isyarat gila.



"Baiklah", Chika menepis tangan Jio yang menjeratnya lalu berjalan menuju sofa.



Jio kecewa Chika menghindarinya begitu. Tapi semakin tertantang menaklukkan gadis itu.



"Apa aku tidak boleh menciummu?."



Chika berbalik dia menatap Jio. Manatap lurus kedalam matanya.



"Aku tidak pernah mengatakan kau tidak boleh melakukannya, hanya saja jangan lebih dari itu."



Kalimat Chika sangat tegas. Tidak ada keraguan saat dia mengatakannya. Tapi Jio tetap tidak goyah akan niatnya.



Jio mendekatinya. Meraih tengkuk Chika dan menciumnya. Ciuman itu sangat lama dan dalam, Chika hampir saja kehabisan nafasnya.



Wajah mereka saling berdekatan, ciuman yang baru saja mereka lakukan seolah meruntuhkan semua kecanggungan yang ada.



"Aku tidak tahan melihatmu digoda pria lain, pikiranku kacau dan hatiku sakit melihatnya. Aku mohon jadilah hanya milikku saja."



Ciuman panas itu berlanjut, tangan Jio sudah bergerilya di setiap lekuk tubuh Chika, bibirnya juga tidak berhenti beraktivitas.



Perasaan Chika memang tidak berubah sedikitpun walau Jio 2 bulan bersikap dingin padanya. Bahkan dia sudah bergantung pada Jio. Rasanya aneh tanpa Jio di hidupnya.



Semua sentuhan Jio membuatnya dimabuk asmara. Hilang sudah kesadarannya. Dia mengikut saja saat Jio menggiringnya ketempat tidur dan mulai melepas kancing bajunya satu per satu.



Jio menindihnya dan berusaha mencium titik titik sensitifnya, tangannya sudah hampir menelusup menyentuh daerah sensitif Chika. Chika menghentikannya.



*Ini salah ini salah, ayo kita hentikan*.



Kesadaran gadis ini telah kembali.



"Aku masih tidak bisa melakukannya, maafkan aku. Masih ada banyak cara untuk membuat kita tetap bersama, percayalah padaku".



Chika menarik selimut untuk menutup bagian dadanya yang sudah banyak tanda merah dari Jio.



*Damn*.