
Minggu minggu ujian segera berlalu, bahkan Eva sudah lebih dulu selesai ujian, siang ini dia akan kembali ke kampung halamannya. Kemarin dia sudah membeli tiket kereta untuk keberangkatan siang ini.
Perasaan Eva belum baik baik saja, dia masih belum terima akan kandasnya hubungannya. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya selain menerimanya, tidak mungkin memaksakan perasaan seseorang. Lagi pula sampai saat ini Anrez masih belum menampakkan batang hidungnya dia seperti di telan bumi saja.
Waktu itu, sepulang dari berbelanja mereka begadang semalaman. Eva menumpahkan segala keluh kesahnya terhadap Anrez. Mengapa Anrez memintanya menjadi kekasihnya, atau mengapa Anrez harus membohongi perasaannya?, ataupun mengapa harus mencampakkannya hanya melalui pesan singkat?.
Chika memberikan pembelaannya pada Anrez. Bukan, dia tidak benar benar membelanya. Menurut Chika pilihan Anrez untuk mengakhiri semuanya adalah hal yang tepat. Akan semakin menyakitkan jika dia tidak melepaskan Eva, hanya saja seharusnya dia menemui Eva dan mengatakannya dengan gentle.
Eva kesal saat Chika membenarkan putusnya hubungan mereka. Tapi sebagian kecil hatinya mengakuinya. Hubungan mereka tidak akan pernah berhasil jika hanya dia yang jatuh cinta. Sebaliknya Eva akan terus tersiksa dengan sikap dingin Anrez padanya.
"Kau beruntung Chika, Jio sangat baik padamu. Aku bisa melihat dia tulus kepadamu".
Kalimat itu terus menggema ditelinga Chika. Dia bertanya tanya apa benar apa yang diucapkan Eva padanya. Ya Chika bisa merasakan ketulusan Jio sendiri. Tapi bukankah jika dia tulus dia harus menjaga Chika, bukan terus menerus mencoba menodainya dengan dalih yang tidak masuk akal.
Seperti pagi ini. Mereka baru selesai berc*mbu rayu di kamar Jio. Semalaman mereka belajar bersama untuk ujian besok. Hujan deras membuat Chika tidak bisa pulang ke kosannya dan terpaksa menginap di rumah Jio. Hanya ada kak Jo di rumah, dan dia juga mengijinkan, tentu saja di kamar yang berbeda. Saat pagi kak Jo pergi ke restoran disitulah Jio mulai melancarkan aksinya.
Entah apa yang ada dikepala Chika dia menurut saja walau dia tidak suka dengan apa yang mereka lakukan itu. Untuk Jio dia tidak bisa bersikap tegas sama sekali. Selagi Jio menuruti permintaannya untuk tidak melewati batas yang dia berikan dia tidak menolaknya.
"Kau benar benar tidak mau melakukannya? Aku sangat ingin Chika", bujuknya sambil menciumi ceruk leher Chika. Tampaknya aktivitas ini masih akan terus berlanjut.
Chika hanya menggelengkan kepalanya, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Jio membalas setiap ciuman itu. Walau kesal Jio terus berusaha, dia sangat heran bagaimana Chika tidak bisa terhanyut dalam suasana mesra yang susah payah diciptakannya. Kesadarannya tetap saja ada.
Aku memang harus membuatmu tidak punya pilihan Chika.
Chika memberikan kecupan terakhirnya dan beranjak dari ranjang itu. Dia memunguti pakaiannya yang berserakan.
"Ayo bersiap, kita harus ke kampus, ujian akan segera dimulai", Chika menarik Jio yang bermalas malasan di ranjang. Kalau bukan karena ujian dia pasti tidak akan ke kampus hari ini.
Jio menceritakan rencana liburan dengan teman teman sekelas Jio selesai ujian nanti. Liburan yang sudah tertunda beberapa kali. Awalnya Jio tidak ingin ikut. Dia berubah pikiran sepertinya ini sudah menjadi bagian dari rencananya.
"Kau tidak mengajakku? aku belum mengatakan pada ibuku aku akan pulang", Chika berharap di ajak. Akan lebih menyenangkan pergi liburan daripada menjaga toko roti, lagi pula ini hanya sehari.
"Maaf Chika, mereka bilang hanya untuk orang orang di kelas saja."
Chika mengerti, lagi pula orang orang di kelas Jio tidak begitu menyukainya. Mereka sudah selesai bersiap siap. Segera bergegas ke kampus untuk mengikuti ujian terakhir hari ini.
Ujian akan berlangsung lima belas menit lagi. Chika bersama Jio dan teman temannya menunggu di kantin. Chika masih membuka buka buku catatannya mempelajari beberapa materi yang belum bisa di pahaminya. Berbeda dengan Sean dan Jio yang sibuk membicarakan Anrez.
"Kau tidak tahu? mereka sudah putus."
"Tentu saja aku sudah tahu Sean, kau pikir Eva itu teman siapa", Jio kesal.
"Aku sudah menerkanya saat Anrez membentaknya saat itu. Dia sungguh keterlaluan memperlakukan seorang wanita."
"Biarkan saja dia pasti punya alasan. Perasaan memang tidak bisa di paksakan. Tidak benar juga untuk memaksanya, tidak akan bahagia untuk keduanya", Jio sudah seperti pakar cinta sejati.
Chika tidak menanggapi apapun, walau sebenarnya dia sangat ingin memberikan sumpah serapahnya juga pada Anrez. Tapi jika di pikir pikir lagi semua bukan salah Anrez sepenuhnya. Chika menyibukan diri dengan buku bukunya agar tidak terpancing.
Sialnya di kamar mandi itu Chika harus bertemu seorang gadis yang sangat sangat tidak ingin di temuinya. Saat mereka bertatap muka Chika bersikap seolah tidak kenal walau Lita tersenyum padanya. Saat Chika mencuci tangan dan membenahi hijabnya Lita ikut ikutan berdiri di sebelahnya.
"Ah sayang sekali aku tidak bisa ikut liburan bersama karena ada sesi foto", mulai membuka mulut walau tidak diminta.
Baguslah, mereka juga pasti senang dengan ketidakhadiranmu.
Tidak ada jawaban, Lita terus mengoceh sambil membenahi make upnya
"Apa Jio mengajakmu?."
Chika berhenti sejenak mendengar pertanyaan itu. Menatap Lita dari kaca lalu menyematkan jarum di bawah dagunya. Merekatkan hijabnya.
"Aku bukan bagian dari kelas itu", jawab Chika singkat. "Satu hal yang pasti dia tidak akan mengajakmu", tambahnya dengan tersenyum manis.
Lita mencibir mendapat jawaban begitu, kesal dia selalu kalah dengan Chika.
"Teruslah bersikap angkuh begitu, lagi pula tidak lama lagi Jio pasti mencampakkanmu, tentu saja setelah mendapatkanmu."
Chika mendesah kesal. Gadis dihadapannya benar benar membuatnya muak. Sudah tidak ingin meladeninya tapi perkataannya tadi tidak bisa dibiarkan.
"Jio bahkan meninggalkanmu yang menawarkan diri padanya. Apa sekarang kau sedang mengakui aku lebih menarik darimu?", berbalik bersiap meninggalkan Lita yang emosinya sudah sampai keubun ubun.
Aku tidak tahan dengan gadis ini, kenapa dia terus mempermalukan dirinya begitu.
Langkah kaki Chika dipercepatnya agar pertengkaran itu tidak lagi berlanjut. Chika perlu pikiran yang tenang untuk menyelesaikan ujian hari ini.
Sejujurnya yang paling membuat kesal adalah dia harus terus mendongak karena Lita semakin tinggi dengan heelsnya sementara dia berjuang dengan sneakersnya. Sangat menyebalkan saat Lita menatapnya kebawah.
Bagaimana Jio menghadapi makhluk itu dulu ya?
Epilog.
"Kau tidak ingin menghabiskan waktu denganku besok? bagaimana kalau kita ke bioskop saja?."
Sejujurkan Chika sangat terganggu dengan apa yang dikatakan Lita tadi. Seperti sebuah kebetulan yang berhubungan. Bagaimana Lita bisa tahu Jio sangat gigih mendapatkan dirinya.
"Aku pulang besok malam, jadi."
"Maaf Chika nanti saja saat kau sudah kembali."
Jio berlalu begitu saja, tanpa ciuman perpisahan seperti biasanya.
Ya mungkin suasana hatinya sedang buruk.