Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Diari Berjalanmu.



Siang itu cukup terik, kemeja bahan katun yang di kenakan Chika membuatnya tetap nyaman bebas gerah, hanya heels di kaki yang membebaninya. Bagaimana tidak mereka harus naik tangga ke lantai 5 untuk mengikuti kelas.


Ini semua gara gara Jio. Jika saja dia tidak setinggi itu aku bisa pakai flat shoes sesukaku.


Chika masih saja menyalahkan Jio. Tidak sadar kesalahan ada pada tubuhnya. Sementara yang di salahkan tengah mengikuti kelas dengan Sean di lantai 2. Walaupun 1 jurusan dan di semester yang sama Jio dan Chika memilih konsentrasi jurusan yang berbeda. Tapi Doni memilih konsentrasi yang sama dengan Jio. Hal itu cukup membuat Chika bahagia karena ada Doni yang memata matai Jio, meski sebenarnya Doni sangat sangat keberatan. Walau hubungan mereka sudah sebulan berlalu Chika masih belum percaya pada Jio.


Chika dan Nala duduk tepat di bawah AC. Nala mengomel sejak tadi karena kepanasan. Mengapa kampus ini tidak punya lift?. Doni duduk di sebelah Nala. Wajahnya tidak bersahabat. Doni menatap Chika dengan wajah suramnya.


Kenapa dia sangat suka menyukai laki laki brengsek.


"Ada apa Don? Cemburu ya pacar Chika tampan?", Nala mulai memercikkan api di sekitaran Doni berharap Doni terbakar dan menyatakan perasaannya.


Ayo pecundang gondrong hina, nyatakan perasaanmu.


Bukannya pernyataan cinta, Doni malah mengomel seperti ibu ibu. Menurutnya orang bodoh pun tahu kalau Jio laki laki brengsek. Tampang playboy dan sok keren. Hanya mengandalkan wajahnya, lihat saja hanya akan baik di awalnya saja.


"Aku harap kau tidak terlalu jauh dengannya".


Cara Doni memperingati Chika terlihat sangat sangat menyebalkan. Dia hanya menilai tanpa bukti seolah dia sudah mengenal Jio luar dan dalam hanya dengan sekali tatap. Apa kau cenayang.


"Ya aku tahu dia terlihat brengsek, tapi dia sangat berbanding terbalik dengan Ofi. Kau tidak boleh menilai orang hanya dari luarnya saja".


Chika terlihat gusar. Mengapa semua orang mengatakan Jio brengsek.


"Lalu apa aku harus menggigitnya sedikit biar aku tahu? atau aku perlu memakan bagian tubuhnya, mata misalnya?", Doni menyadari Chika gusar mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan bodohnya.


"Jangan melewati batasmu Doni". Chika menyudahi percakapan mereka. Mulai sibuk membalas chat di ponselnya. Sepertinya dari Jio.


Nala hanya menjadi pendengar budiman sejak tadi. Dia menatap iba pada Doni yang sok sibuk dengan ponselnya. Bagaimanapun Doni adalah teman Nala sejak mereka kecil. Nala memahami Doni walau tanpa mengatakannya. Bukan, kali ini memang Doni memerlihatkan perasaannya terang terangan. Chika saja yang bodoh.


Awasi teman keras kepalamu itu, jangan merengek di kemudian hari.


Begitulah isi pesan Doni yang dia kirim ke ponsel Nala. Nala tidak habis fikir dengan Doni. Ada cara yang mudah mengapa harus begini.


Hah kenapa harus terjebak di antara orang bodoh ini.


Nyatakan saja perasaanmu kunyuk.


Jio sudah menunggu di parkiran sejak 1 jam yang lalu. Jam kuliahnya sudah selesai sejak tadi karena dosen berhalangan hadir. Sean masih menemani Jio menunggu Chika yang masih mengikuti kuliah. Bukan tanpa alasan dia bersedia menemani Jio. Sean juga sedang menunggu gadis incarannya. Jio melirik jam tangannya menunjukkan pukul 3 sore.


Penantian itu berakhir ketika Jio melihat sosok gadis mungil berjalan dengan wajah lelah ke arahnya. Senyuman Jio menyambut Chika yang berjalan malas.


"Hah hari ini sangat melelahkan, ayo pulang Jio aku mau mandi dan tidur."


"Hei tunggu lah sebentar 15 menit lagi", Sean mengiba karena gadis incarannya belum juga terlihat.


"Mungkin dia gak kuliah hari ini?".


"Tuh motornya", Sean menunjuk ke arah sepeda motor berwarna pink.


Chika tidak menghiraukan percakapan sengit dua orang itu. Dia duduk bersandar di kursi yang terletak di bawah pohon dekat sepeda motor Jio. Jio juga duduk di sebelahnya. Hanya Sean yang berdiri mondar mandir mirip setrika.


"Pantas aja kemaren chat gak di balas, ternyata gak mau sama cowok yang bawak motor bebek".


Rombongan laki laki itu berlalu dari hadapan Chika sambil tertawa. Sindiran itu jelas untuknya karena beberapa dari mata mereka memang menatap Chika sinis. Terutama Edgar.


Edgar cowok yang mendekati Chika sebelum kenal Jio. Tapi Chika hanya menganggapnya angin lalu. Sebab Edgar juniornya. Ah dia bahkan sangat kekanak kanakan.


"Gimana kalau dia tahu sekarang kamu bawa mobil Gar, wah nyesel tujuh turunan deh".


Edgar hanya diam saja, tapi tersenyum bahagia seperti berterimakasih kepada temannya yang sudah mewakilinya. Dia juga berusaha menutup mulut brengsek temannya itu. Entah itu hanya pura pura atau mereka memang sedang bermain drama.


Karena bukan Edgar yang menyindir nyindir Chika, dia membiarkannya saja. Aku tidak punya urusan dengan temannya, begitu batinnya. Chika hanya melengos membuang muka.


Rombongan itu berlalu karena tidak ada respon. Sean sebenarnya sangat ingin Chika marah karena akan memberinya banyak waktu untuk tetap di kampus.


"Bukankah sangat jelas mereka membicarakanmu? Hei kenapa diam saja kau tuli Jio?", Sean bermaksud meyalakan api walau sedikit terlambat.


"Aku lelah Sean. Biarkan saja. Akan selalu ada orang yang tidak suka dengan ku walau aku sudah sebaik malaikat, jadi biarkan saja dia berpikir picik dengan otak bodohnya. Lagi pula bukan Edgar yang mengatakannya."


"Bukankah mereka masih junior? Ternyata kau cukup populer". Akhirnya Jio buka suara setelah sekian lama mematung berlagak tidak perduli.


"Aku tidak populer, aku mengenalnya karena surprice party teman sekelasku waktu itu dia".


Jio memotong pembicaraan itu dia berdiri menaiki motornya ketika Chika mulai menjawab pertanyaannya. "Ayo pulang." Melihat raut wajah Jio yang kusut Chika bergegas naik tanpa bertanya apapun.


Sean kecewa dengan penantian sia sianya tidak bisa berkata apa apa, ya memang 15 menit yang dia minta juga sudah berlalu. Gadis itu fak kunjung datang. Mereka berpisah setelah keluar gerbang kampus. Rumah Sean berlawanan arah karena Jio harus mengantar Chika dulu.


Motor Jio berhenti di depan kosan Chika. Chika tidak bisa menebak suasana hati Jio dari raut wajahnya. Datar sekali.


Apa dia sedang marah? Kenapa wajahnya tanpa ekspresi begitu?.


Chika turun dan mematung di sebelah Jio. Tidak tahu harus berkata apa.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?". Masih dengan wajah tanpa ekspresi Jio menoleh ke Chika menatapa lurus ke matanya sambil berpangku tangan.


"Mengapa tidak bertanya apapun soal manusia yang kita temui hari ini?". Buang muka karena grogi.


Masih menatap Chika. "Bukankah kau juga tidak ingin membahasnya?."


Benar juga.


Chika diam tidak tahu harus membalas apa. Dia memeluk buku buku yang di bawanya.


"Aku tidak bisa mengubah masalalu mu Chika. Itu juga bukan sesuatu yang harus aku permasalahkan karena memang sudah berlalu. Aku hanya bisa menerimanya dan melakukan apapun agar itu tidak mengganggumu jika kau mengizinkanku."


Mendekat ke telinga Chika berbisik "Aku bukan Edgar yang kekanak kanakan".


Chika mundur selangkah di sambut tawa Jio. "Apa yang di katakan Edgar tadi mengganggumu emm soal motor?".


"Apa kau mau besok aku bawa mobil?".


Apa apaan kau ini, bukan begitu maksudku.


"Edgar bukan tandinganku, jadi biarkan saja". Jio memasang kembali helmnya dan mengenakan Jaketnya dengan benar.


"Chika jangan merasa tidak enak padaku karena para lelaki brengsek itu. Lupakan saja, tidak usah membahasnya jika tidak ingin. Lagi pula jika aku ingin tahu aku bisa bertanya pada diari berjalanmu."


Chika mencerna bagian akhir kalimat Jio. Berpikir sejenak. "Siapa diari berjalanku?".


Jio hanya tersenyum menghidupkan sepeda motornya dan menutup kaca helmnya. "Masuklah, aku pergi."


Siapa yang Jio maķsud?


Masih mematung di depan pagar kosan. Terfikir sebuah nama di kepalanya.


Nenek tuaaaaaa awas saja kalau bertemu.