Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Adu Kata



Di pagi hari Jio mengantarkan Chika ke rumah Nala. Menurut Chika akan lebih baik jika dia pulang ke rumah Nala dari pada di sambut beribu pertanyaan dan beribu pasang mata. Itu akan sangat melelahkan. Orangtua Nala juga tidak ada di rumah. Lucky time.


Disambut Nala dan Doni di depan pintu Chika sudah berpamitan dengan Jio. Senyuman di wajah Chika tak jua sirna bahkan sudah 10 menit Jio berlalu dari sisinya.


Dia ini kenapa sih? Apa dia masih waras?


Nala tak henti memperhatikan gerak gerik Chika yang sangat aneh baginya. Doni juga mulai memasang wajah masam melihatnya. Ya dia cemburu tapi tidak punya alasan untuk cemburu. Pagi tadi ketika mereka sedang jogging bersama Chika mengabari lewat email akan kedatangannya. Doni sangat senang mendengarnya, namun saat tahu alasan kunjungan Chika, hanya kekecewaan yang ada di hati Doni.


"Kau dari mana saja? Kenapa sampai pulang pagi begini?", tanya Doni sudah tidak sabar ingin tahu.


Chika duduk santai di depan televisi, mengambil beberapa kue dan melahapnya. "Aku sangat senang hari ini, Doni kenapa kau tidak memberitahuku ada tempat seru malam hari di kota ini? Ah aku sangat bahagia."


Mendengarjawaban Chika, Nala dan Doni saling berpandangan. Beberapa pikiran buruk terlintas di kepala mereka.


Kemana bajingan itu membawa Chika.


Nala sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Memangnya kau kemana saja, cepat katakan kepadaku!." Nala duduk di hadapan Chika selayaknya mengintrogasi.


Chika tetap santai. Kali ini dia bertopang dagu dan tersenyum mengingat semua kejadian tadi malam yang membuatnya begitu bahagia. Pasalnya memang dia tidak pernah ke tempat tempat seperti itu. Yang dia tahu hanya rumah dan toko roti ibunya saja.


Chika menceritakan semuanya perjalannya tadi malam. Mulai dari danau, wisata kuliner, pasar malam, semuanya. Melihat Chika yang sangat senang, Nala ikut ikutan bahagia mendengarnya, dia senang Jio membahagiakan Chika begitu. Sirna sudah semua pikiran buruknya. Kini wajah masam Doni berubah menjadi sangat kecut. Dia senang Chika bahagia tapi dia sedih bukan karena dirinya.


Tidak apa apa Chika, aku senang bedebah itu membuatmu terus tersenyum.


Doni akhirnya pamit pulang untuk mandi setelah cukup lama mereka bersenda gurau. Kini mereka sudah selesai mandi, sangkin bahagianya Chika tidak terasa mengantuk bahkan semalaman tidak tidur. Dia hanya berbaring saja di ranjang Nala. Nala sibuk menonton drama korea favoritnya.


Lanjut kedua gadis itu mulai saling bercerita perihal hidup mereka. Namun kali ini Chika lah yang lebih bersemangat bercerita. Awalnya dia ingin membagi kisah ciuman pertamanya, tapi di urungkannya. Biarlah jadi kenangan indah untuknya saja.


"Chika apa kalian sudah berciuman?", hampir saja Chika tersedak mendengar pertanyaan Nala yang tiba tiba. Terang saja dia sedang menonton adegan berciuman di film yang ditontonnya.


Sial apa dia baru saja membaca pikiranku?


Chika menutupi rasa terkejutnya dia tersenyum saja memilih tidak menjawabnya. Dia sibuk memilin milin ujung rambut panjangnya. "Rahasiaaa", ucap Chika pada akhirnya.


Nala melengos kesal. Bahkan melihat tingkah Chika saja pun semua orang bisa tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka. Menyebalkan


"Memangnya kau pandai melakukannya?"


Chika menatap Nala tak percaya. Bukan tidak percaya Nala tahu dia berciuman, tapi tak percaya dia menanyakannya tanpa basa basi.


Apa apaan gadis ini?


"Tentu saja aku pandai, mau mencoba?."


Sekarang giliran Nala menatap tidak percaya.


Hoeeeekkk.


Jio tidak ada kelas hari ini dan dia tidak ke kampus. Nala sangat bahagia jika Jio tidak ada karena dia bisa memonopoli Chika sesuka hatinya dan jika


ada Jio pasti ada Sean dan mereka harus berdebat sepanjang hari.


Betapa terkejutnya Chika ketika baru saja memasuki kelas. Seorang gadis yang tidak asing duduk di pojok ruangan melambaikan tangan pada Chika sambil tersenyum. Dia mengisyaratkan Chika untuk duduk di dekatnya. Chika mengerti dia mengangguk dan berjalan kearahnya, tidak lupa dia segera menutupi rasa terkejutnya.


Mari kita lihat apa yang kau inginkan.


Nala hanya mengekori Chika saja dia bahkan tidak menyadari kejadian apa yang sedang terjadi, baginya semuanya biasa biasa saja. Dasar Nala.


Sayangnya kelas itu tertunda 15 menit karena dosen pengajar akan datang terlambat. Hal ini sangat tidak menguntungkan bagi Chika karena akan memberikan banyak waktu bagi gadis tadi untuk mengutarakan maksud kehadirannya di kelas itu.


Sial.


"Aku senang dosen itu terlambat, maaf aku ikut kelas mu hari ini. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar", Lita memutar mutar pena di tangannya.


Chika duduk tersenyum di sebelah Lita. Dia menatap lurus ke wajah Lita tidak menjawab sepatah kata pun.


"Seharusnya kau sudah putus dengan Jio seperti pacarnya yang sudah sudah, gadis kampungan sepertimu tidak cocok untuk Jio. Sadar diri lah. Kapan kau akan putus dengan Jio, hari ini? Besok? atau sekarang saja, bagaimana?". Lita mendekatkan wajahnya sambil bertopang dagu.


Wah wah berani sekali kau? Apa kau pikircaku akan diam saja? Haha.


Chika tertawa mengejek. "Ah jadi begini caramu menyingkirkan gadis gadis disekitar Jio, bagaimana kalau kali ini kau saja yang menyingkir? Bukankah kau dan dia sudah lama selesai?."


Wajah Lita menggambarkan ekspresi terkejutnya karena Chika tahu tentangnya.


Ini tidak baik, gadis ini mendapatkan perhatian lebih dari Jio ku.


"Sepertinya kau tahu banyak, apa kau juga tahu kalau Jio akan melakukan apa saja untukku?", Lita mulai lagi memamerkan masalalunya.


Chika masih santai menanggapinya. Mahasiswa lain yang di kelas juga sibuk dengan urusannya masing masing, tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Nala? Nala sibuk bernafas dan main game. Dia juga mendengarkan musik melalui earphonenya.


"Cih, kalau begitu lalu kenapa kau merengek ingin kembali pun dia tidak perduli?."


"Dia hanya perlu waktu saja, suatu hari nanti dia akan kembali padaku dan kau akan dibuang begitu saja layaknya sampah."


Bukankah itu hanya khayalanmu saja gadia kota?.


Suara Lita sudah mulai mencolok. Beberapa orang memperhatikannya. Emosi Lita sudah tersulut karena kalah telak adu kata dengan Chika. Dia mengira Chika hanya gadis yang akan diam saja jika di tindas karena melihat latar belakangnya dari kampung.


Kali ini kau memberiku lawan yang sepadan Jio. Ini akan sangat seru.


"Aku tidak mau berdebat denganmu soal ini. Aku tidak tahu hubungan ini sampai kapan. Aku hanya akan terus menjalaninya selagi aku merasa bahagia. Saat ini Jio kekasihku, jika kau ingin mengantri, mengantri saja. Jangan menyerobot atau mendorong, semua orang tidak suka diperlakukan begitu, termasuk aku." Kali ini Chika yang mendekatkan wajahnya sambil tersenyum. "Kau mengerti?."


Lita masih tersenyum mengejek dengan apa yang dikatakan Chika walaupun itu benar baginya itu tetap salah. Jio hanya miliknya. Jika Lita tidak bisa di sisi Jio, tidak ada seorangpun yang berhak.