
Chika menghampiri Jio dan Sean di meja itu. Chika sedang menunggu Nala yang tidak kunjung datang. Padahal sudah 1 jam berlalu dari jam janji bertemu.
Kemana nenek tua ini.
Chika terlihat sangat akrab dengan dengan Sean sehingga sangat tidak nyaman bagi Jio. Sean dan Chika bercerita banyak hal, mulai dari Nala, Nala dan Nala.
Ada apa dengan Sean? Apa hanya Nala isi kepalanya. Jio
Di tengah asyiknya mereka bercanda gurau dan makan, sepasang tangan menutup mata Chika dengan akrabnya. Tatapan Jio sudah seperti pedang yang baru saja di asah, sangat siap untuk membelah dua batang leher orang itu. Chika yang mengira itu Nala, menyentuh tangan itu untuk menyingkirkannya, tapi malah terdengar suara laki laki.
"Tebak dulu."
Suara ini. Beraninya dia.
"Ofi, sedang apa? lepaskan"
Suara Chika dibuatnya sangat tegas hingga Ofi dengan cepat melepaskan tangannya dari wajah Chika. Raut wajah Ofi juga berubah sebentar lalu kembali tersenyum melihat Jio yang emosi menatapnya. Chika sudah sangat muak dengan Ofi yang seujung kuku pun tidak merasa kalau perbuatannya itu sudah di luar nalar manusia.
"masih hafal suaraku? aku fikir kamu sudah melupakanku."
Kau pikir kau segalanya untukku?, siapa yang bisa melupakan suaramu yang beberapa bulan lalu setiap malam menelponku, menjijikkan.
"bagaimana bisa lupa kita kan teman, aku ingat semua suara teman temanku, suara kucing kucing di kosanku, juga suara burung burung di pagi hari di sekitar kosanku, ah daya ingatku memang luar biasa."
Chika berbicara sambil mendekat ke Jio dan menjauhi Ofi. Dia juga berdoa agar Ofi segera pergi dan ketegangan ini cepat berlalu. Di liriknya Jio yang sejak tadi sangat mengerikan. Sementara Sean twrlihat menyembunyikan tawanya di balik jari jemarinya.
Kenapa kau tertawa?
Ofi terlihat kesal dengan jawaban Chika yang memberi kesan bahwa dia tidaklah sepenting itu. Tapi dia tetap tersenyum sembari menarik kursi di sebelah Chika untuk duduk.
"Maaf kursi itu sudah ada yang punya."
Jio menjelaskan tanpa melihat Ofi. Sangat berharap agar laki laki itu menyadari kehadirannya yang sangat mangganggu. Ofi pun menarik kursi lainnya di sisi Chika.
"Itu juga ada pemiliknya, iyakan Sean?".
Di tatap tajam oleh Jio tidak ada alasan bagi Sean untuk tidak mengatakan iya.
"Baiklah, sepertinya teman teman Chika sangat banyak belakangan ini, tapi aku tetap spesial kan?", Ofi sungguh tidak tahu malu.
"Sebenarnya mereka bukan hanya teman temanku Fi, ini Jio pacarku".
Ofi melihat Jio. Pantas saja tatapannya begitu. Ponsel di saku celana Ofi berdering, seperti suara chat yang datang bertubi tubi.
"Fi duduk lah di ujung sana agar tidak terlihat olehku jangan membuatku tidak selera makan karenamu. Ah berhentilah berfikir kau spesial, hanya nasi goreng spesial atau mie goreng spesial tidak berlaku untukmu. Dan cobalah untuk setia, balaslah chat pacarmu dengan jujur, aku tidak akan mengatakan apapun pada pacarmu, sssttt. Ini rahasia kita kan. Tolong pergi dan berpura puralah tidak mengenalku itu jauh lebih baik ."
Tanpa menjawab Chika Ofi pergi berlalu sambil memainkan ponselnya. Mungkin untuk menutupi rasa malunya dia bersikap sok keren.
"Chika apa kau sering mencampakkan lelaki? sikapmu keren sekali, waaaaah".
Sean memuji Chika berkali kali. Jio tidak memberi komentar apapun hanya diam bersikap seolah olah Ofi tidak pernah berada disana.
Apa dia marah, kenapa diam saja, katakanlah sesuatu Jio.
"Apa aku terlihat keren Sean, ini pertama kali bagiku aku sangat muak dengannya bertingkah seperti dia sempurna dan sangat diinginkan, menjijikkan."
"Hebat, nasi goreng dan mie goreng spesial hahaha, tapi Jio spesial kan?"
"Tentu saja Jio spesial". Chika mengucapkannya dengan malu malu. Jio masih diam saja seolah olah tidak dengar.
"Ah Chika jika suatu hari kau ingin mencampakkan Jio seperti itu aku harap kau mengundangku, itu akan menjadi tontonan yang sangat bagus, karena tidak pernah ada perempuan yang mencampakkannya."
"Apa kau pikir aku akan melakukannya? Aku..."
"Stop, sudah."
"Berhenti membahas campak mencampakkan. makan saja dangan tenang, dan kau? apa kau sungguh ingin mencampakkanku?".
Chika bingung menjawabnya. Ini pertanyaan macam apa.
"Apa aku harus menjawabnya, bukankah kau menyuruh kami berhenti membahasnya?".
Jio menyadari kesalahannya hanya diam dan mulai makan. Diam beberapa saat. Lalu bertanya lagi.
"Jadi aku tidak berbeda dengan nasi goreng, spesial?".
Raut wajah Chika sedikit merah dia menunduk menutupinya.
"Dengar Chika, aku tidak mau di samakan dengan nasi goreng, atau mie goreng, aku ya aku, ok?".
Dia bodoh atau bagaimana. Harusnya aku pacari Sean saja kami lebih sepemikiran daripada dengan Jio.
"Chika lupakan si bodoh ini, ayo pacaran denganku saja, dia sangat bodohkan?".
Sean menatap Chika dengan serius berharap ajakannya disambut baik walau hanya untuk membuat Jio emosi. Chika terkejut dengan ucapan Sean. Terlihat bola matanya membesar sewaktu Sean mengatakannya.
"Kau bisa mendengar suara hatiku Sean?"
Mendengar itu, Sean tertawa terbahak bahak. Benar, Chika gadis yang cocok tidak bahkan sangat cocok untuk si bodoh Jio, dia bahkan tidak menutupi apapun, hanya menjadi dirinya sendiri. Aku harap kau bahagia Jio lupakan Lita.
Jio tidak tahan lagi melihat pacar dan sahabatnya bertingkah menyebalkan di matanya dia berlalu dengan alasan ke kamar mandi.
Kenapa mereka sangat cocok. Dia tidak berniat merebutnya kan.
Jio cepat cepat dari kamar mandi, pikirannya di penuhi Sean berniat merebut Chika darinya. Walaupun sebenarnya itu tidak mungkin. Sayangnya sebelum meninggalkan kamar mandi itu, Jio harus bertemu Ofi di pintu keluar. Jio bersikap tidak mengenal Ofi tapi Ofi malah sebaliknya.
"Jadi kau benar pacarnya? haha seleranya lumayan juga. Kau serius dengannya?"
Jio yang irit bicara hanya menatapnya dengan tatapan tajam. Sepertinya orang sepeti Ofi tidak akan diam jika hanya di tatap, tidak peduli seberapa menusuk tatapan itu.
"Ya aku hanya heran gadis biasa biasa saja sepertinya bisa menjadi pacarmu, lihatlah kau bisa mendapatkan gadis yang spesial."
"Sepertinya isi kepalamu hanya biasa saja atau spesial. Ucapan Chika tadi tidak kau mengerti sama sekali. Upgrade lah isi kepalamu ini, dan berhenti berpikir kau spesial dan orang di sekitarmu biasa saja, justru yang ku lihat adalah sebaliknya. Sadarlah kau menyedihkan".
"Kau sangat menyukainya ya? Ya ambillah dia yang tidak jadi menjadi selingkuhanku."
"Semakin menyedihkan. kau bahkan tidak bisa membedakan barang dengan manusia. Aku senang kau tidak mendapatkan Chika, karena kau memang tidak pantas untukknya. Dan mulai sekarang jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi, jangan membuatku muak."
Jio berlalu dan kembali ke Chika yang sedang sibuk melerai Nala dan Sean yang berkelahi. Nala sudah datang sewaktu Jio ke kamar mandi. Ada laki laki juga yang duduk di sebelah Nala, ya Dia Doni. Sepertinya dia datang bersama Nala. Jio kembali duduk di sebelah Chika di sambut tatapan bingung dari Doni.
"Doni ini Jio pacar Chika, tampan kan? Jio hari ini traktir aku lagi ya, ini pajak jadian kalian", Nala menagih dengan tak tahu malu."
Lagi? Memangnya kapan Jio mentraktir Nala.
Jio hanya menyuruh mereka memesan apapun yang mereka mau. Meski dia tidak nyaman dengan Doni, karena Doni bersikap biasa saja, dia juga berusaha demikian.
"Wah sudah pacaran saja Jio, kakak senang lho, kakak kan salah satu mak comblangnya", kak Lilis dengan hebohnya menghampiri meja mereka karena di panggil Doni.
Padahal dia gagal mendapatkan nomor Chika saat itu. Sean
"Jadi mau pesan apa?".
"Nasi Goreng Spesial". Doni
"Mie goreng Spesial". Nala
Sean dan Chika saling menatap dan menahan tawam, sementara Jio mengusap kasar wajahnya.
Memuakkan. Jio