Iskantasya Prachika

Iskantasya Prachika
Selamat Ulang Tahun



Berkali kali Chika membujuk Jio lewat telfon dan pesan barulah dia mau memberikan balasannya. Walaupun Jio masih membalasnya dengan acuh tak acuh, Chika sudah tersenyum sumbringah. Sikap Jio yang seperti ini malah membuatnya tertawa geli.


Sudah hampir 2 minggu berlalu sejak ibu pergi. Chika tidak yakin ibu akan menuruti permintaannya untuk kembali lebih cepat. Ulang tahun Jio hanya tinggal 1 hari lagi. Chika tidak bisa diam saja dan berharap pada ibunya yang bahkan tidak pernah mendengarkannya.


Dia berinisiatif membeli secara online saja hadiah untuk Jio. Jio bercerita kalau mereka akan mengadakan pesta barbeque untuk ulang tahun Jio, tentu saja Arif yang mengatur semuanya. Arif bahkan mengeluh pada Chika karena dia harus mengurus pacar Chika sementara Chika bersantai di kampung halamannya.


Pesta itu diadakan di rumah Anrez saja, Jio tidak mau di rumahnya. Akan sangat menyebalkan jika Ibu mengeluh karena mereka berisik.


"Maafkan aku Jio, sepertinya aku tidak bisa ada untukmu di pestamu nanti." Chika sangat sedih mengetik kalimat kalimat itu. Sejak tadi dia berkirim pesan dengan Jio sambil menjaga toko milik Ibunya.


Apa aku kabur saja ya? Untuk apa aku menjaga toko dan membuat kue kue begini, mereka saja tidak perduli padaku.


Berkali kali fikiran itu melintas dikepalanya namun tidak pernah benar benar dilakukannya. Tidak berani menanggung akibat jika itu dilakukannya. Sudah terbayang bagaimana ibu akan murka padanya.


"Tidak apa apa sayang, aku mengerti. Aku tidak ingin kau dapat masalah karenaku. Lagi pula itu bukan pesta hanya makan bersama saja."


"Walau begitu aku punya kejutan untukmu nanti, kau tunggu ya."


Jauh didasar hatinya Jio sangat ingin kejutannya adalah kehadiran Chika disisinya.


Ibu baru pulang siang ini. Sudah sangat terlambat untuk ikut di acara Jio malam ini. Chika harus menelan rasa kesalnya terhadap Ibu. Lagi lagi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menurut. Sepulangnya Ibu dia memeriksa semua pesanan yang diurus Chika, walau semuanya sudah sempurna, masih saja ada keluhan darinya.


Yayaya kapan sih yang kulakukan itu benar.


Sangkin kesalnya Chika melepas celemek kerjanya dan berniat meninggalkan toko. Tentu saja di sambut bentakan Ibunya.


"Kau mau kemana, apa kau mau bertemu bocah waktu itu lagi, selesaikan saja kuliahmu dengan benar, lalu fokus membantuku bekerja disini. Jangan menghabiskan waktumu meladeni laki laki itu. Mama sudah bosan melihat wajahnya sewaktu kau SMA, kenapa sekarang juga masih saja berkeliaran disekitarmu."


Chika melengos pergi meninggalkan toko, sudah tidak perduli ibunya akan melakukan apa padanya. Toh semua yang kulakukan tetap salah, sekalian saja aku berbuat yang tidak tidak begitu pikirnya.


Melihat Zyan saja dia begitu, bagaimana jika dia tahu aku punya pacar.


Chika sampai di rumah dengan menggunakan sepeda motornya. Toko roti hanya berjarak 5 menit saja dari rumah mereka. Chikaclangsung masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri. Bukannya tenang malah bertemu lagi seseorang yang mirip ibunya, kak Jihan.


"Aku hanya ingin meletakkan ini di kamarmu", Jihan meletakkan paper bag di ranjang Chika lalu berniat pergi.


"Ah ya, kau punya pacar ya? Sejak kapan?", Jihan diambang pintu, dia kembali lagi masuk.


Demi tuhan kau pergi saja aku sedang tidak ingin bicara denganmu.


Chika diam saja tidak menjawab. Dari wajahnya sangat jelas dia menginginkan Jihan pergi saja. Tidak ada jawaban, Jihan mencibir.


"Ya terserah kau saja kalau tidak mau cerita, tapi anak yang bernama Jio itu tampan juga", melenggang melewati pintu kamar Chika.


Deg. Darimana dia tahu soal Jio. Apa ibu sudah tahu kalau aku berpacaran di kota.


Sekarang giliran Chika yang panik, dia mengejar Jihan sampai ke kamarnya.


"Katakan darimana kau tahu soal Jio."


Jihan tersenyum mengejek. "Kenapa panik begitu, bagaimanapun kau saudaraku, aku perduli padamu, kau tidak ingin mengenalkannya padaku?."


"Jawab saja pertanyaanku."


"Tunggu, apa mama tahu?."


Jihan menoleh kembali. "Sssttt ini rahasia kan? Biar saja dia berfikir Zyan yang kekasihmu. Adikku ini sudah besar ya."


Chika kembali ke kamarnya dengan gelisah. Kalau ibu berfikir Zyan kekasihku, berarti tidak masalahkan aku berpacaran, begitu pikirnya. Tidak ada yang perlu ditakutkan kalau begitu.


Chika berbaring sambil memeriksa sosial medianya. Benar saja, Tia mengupload beberapa fotonya dengan Jio. Memberi tanda pada Chika. Chika merapikan kembali rambutnya yang berantakan, memandangi foto itu.


Aku merindukanmu Jio, selamat ulang tahun.


Chika turun ke lantai bawah untuk mengisi perutnya. Sejak pagi tadi dia belum makan apa apa. Di meja makan dia bertemu ayah yang sedang meminum obatnya. Ayah menderita diabetes sejak lama. Dia tidak bisa bertahan tanpa obat obatannya.


"Maaf ayah tidak bisa membujuk mamamu untuk kembali lebih cepat. Mama juga bertemu beberapa rekan bisnisnya kemarin, jadi tidak bisa pulang begitu saja."


"Chika mengerti ayah, Chika juga harus membantu pekerjaan mama kan, tidak apa apa."


Mereka mengobrol tentang apa saja, ayah menanyakan soal kuliah Chika dan bagainana hati hari Chika di kota orang. Setidaknya masih ada orang yang perduli padanya. Masih ada yang mengingatnya.


****


Jio sudah berkumpul bersama teman temannya. Tidak ada kue seperti perayaan ulang tahun biasanya. Jio tidak menginginkannya. Dia hanya menginginkan Chika, namun tidak bisa.


Chika sudah menitipkan hadiahnya pada Arif. Chika juga memaksa Arif menuliskan pesan di kartu ucapannya. Arif sangat jengkel melakukannya. Dia tetap menuruti Chika, tentu saja itu tidak gratis dia menuntut hadiah juga sebagai imbalannya.


"Nih hadiah dari Chika, dia mengirimkannya ke rumahku 3 hari yang lalu."


Jio menaikkan alisnya mendengar itu.


"Mengapa dia harus mengirimnya padamu?."


Arif tidak habis fikir dengan pertanyaan Jio. "Tentu saja agar kau senang ini menjadi kejutan disaat mengadakan acara seperti ini bodoh."


Jio kesal mendengarnya, kesal karena Chika bersekongkol dengan Arif untuknya. Kenapa harus Arif. Tapi segera dia membuka kotak hadiah itu. Dia menarik pita kecil di atasnya lalu membukanya. Sebuah jam tangan didapati Jio di dalam kotak itu, dan ada sebuah kartu ucapan juga.


Selamat ulang tahun sayang, maaf aku tidak bisa datang. Bersenang senanglah.


Bagaimana aku bisa bersenang senang tanpamu Chika. Cepatlah pulang aku sangat merindukanmu.


Epilog


Chika membuka paper bag yang ditaruh Jihan di ranjangnya tadi. Baru membukanya saja, dia sudah terkejut dengan warnanya yang sangat mencolok. Kuning terang. Chika mengeluarkannya dan rahangnya hampir saja terjatuh. Jihan memberinya pakaian renang two pieces.


Pakailah saat berenang bersama Jio, dia pasti semakin menyukaimu.


Chika tertawa tapi kesal. Dia melemparkan sembarangan baju renang itu.


Aku tidak akan pernah memakainya. Kak Jihaaaaaaan uhhhh.


Jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like jangan lupa like.