
Siang itu sangat terik, Chika baru kembali dari kampus. Urusannya di selesaikannya secepat mungkin agar bisa siap siap untuk kencan. Chika membaca pesan di ponselnya dari Nala.
Goodluck ya, jangan lupa pajak jadiannya.
Siapa yang jadian sih, ini karena bosan aja.
Eva sudah naik kereta jam 1 siang tadi. Anak kosan yang lain juga sudah mudik semua. Chika makan siang ditemani televisi yang sebenarnya tidak di lihatnya, matanya terus menatap ponselnya.
Dandan yang cantik ya.
Tanpa sadar Chika senyum senyum sendiri membacanya. Apa aku memang suka dia, gausah pakai perasaan dulu lah, jalani aja, batinnya. Chika sedikit trauma Ofi, bagaimana jika Jio juga sama, apalagi dia cocok sekali jadi playboy.
Selesai makan Chika mulai berdandan lalu memilih-milih pakaian di lemarinya yang dinilai tidak ada yang cocok.
Harusnya aku beli baju kemarin, eh tapi ini cuma jalan jalan aja kan, gak perlu buat dia terkesan. Ok apa ada nya.
Kemeja polos dengan aksen asimetris di bawahnya, celana jeans dan jilbab bermotif bunga menjadi pilihan Chika, di tambah jam tangan dan tas selempang kecil tersangkut manis di bahunya. Karena tinggi Chika yang gak seberapa, heels setinggi 8 cm menjadi pilihannya. .
Chika berjalan ke kampus, kampus Chika tidak jauh dari kosan, 5 menit jalan kaki sampai.
Chika berjalan dengan santai menghampiri seseorang yang sedang duduk di sepeda motor tersenyum sambil menatapnya, mata itu sedang menelusuri lekuk wajah Chika. "sudah lama?", tanya Chika basa basi.
Jio tersenyum, "waktu ku menunggu terbalas dengan pemandangan ini", balasnya sembari terus menatap wajah Chika.
Ya ya ya dasar buaya bermulut manis, kuatkan hati Chika jangan terpedaya, siaga 1.
"jangan menatapku begitu, atau aku pulang ganti baju."
"cantik kok, kenapa tidak bertemu di kosan aja, kamu gak perlu jalan kaki, pake heels lagi."
"siapa tahu kamu orang jahat, aku gak mau di teror", balas Chika sambil tertawa.
Jio, membuang nafas kasar, "pikirkan sesukamu dan waspadalah ! karena aku memang niat mencuri, mencuri hatimu", balas Jio dengan terus menatap Chika.
Ok Chika, siaga II.
Wajah Chika memberikan ekspresi tidak jelas, lalu Jio mulai bertanya mau pergi kemana.
"aku ini sedang di culik kan? kok tanyak korbannya sih, memangnya ada ya penculik yang seperti itu?", tanyak Chika memasang wajah sok polos.
Ekspresi Chika yang seperti itu membuat Jio semakin gemas. "baiklah, ayo naik!."
Chika naik ke motor Jio, dan menjaga jaraknya di belakang Jio. "hei, mau jatuh ya, pegangan!", perintahnya. Mau tidak mau Chika menurut, tidak lucu jika penculikan ini berujung di rumah sakit. Jio yang di peluk tersenyum senang dan memacu motornya menuju bioskop.
Hari sudah berganti malam, tepat jam 9 sepeda motor Jio tiba di depan kosan Chika. Chika turun dan berpamitan. "terimakasih untuk hari ini, hati hati pulangnya."
Jio seperti mengabaikan perkatakaan Chika. Dia masih duduk di atas motor membuka helmnya lalu sibuk mengamati lingkungan kosan Chika, ada kosan lelaki di seberang kosan itu, terlihat di teras lantai 2 segerombolan anak kos laki laki sedang heboh bermain gitar. "apa mereka sering mengganggumu?", tanya Jio menunjuk para lelaki itu dengan ekor matanya.
"bagiku begitu", jawabnya tersenyum menatap Chika.
Chika dan Jio terus menatap satu sama lain, tersadar karena sebuah teriakan. "Chika sudah besar ya". Di sambut gelak tawa teman temannya, ya suara itu dari gerombolan anak laki laki itu. Jio terlihat sedikit tidak suka. Chika tidak membalasnya hanya tersenyum ke arah mereka. "pulanglah, sudah malam".
"tidak bisa pulang tanpa jawabanku."
Mendengar suara riuh dari kosan seberang, ibu kos membuka pintu pagar. "eh ada Chika, kok gak masuk?", tanyanya sambil melihat Jio di motor, menatap Jio lalu bertanya lagi. "lho ini siapa Chika, ibu belum pernah lihat, biasa yang antar Doni atau Ofi, ini pacarnya ya?".
siapa Doni dan Ofi, banyak juga lalat di sekitar dia.
Chika bingung menjawabnya, Jio tersenyum menatap Chika. Penasaran jawaban apa yang keluar dari mulut Chika.
"iya bu pacar Chika, namanya Jio", jawabnya malu malu.
Jio turun dari motor dan bersalaman dengan ibu kosan. Berbincang sebentar dan berpamitan pulang. Chika naik ke lantai atas, membuka kunci kamarnya, lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Chika memejamkan matanya. Dia tidak tidur hanya berpikir.
kenapa aku jawab begitu, dia pacarku? sejak kapan? aku pacarnya yang keberapa? aaaaaaa.
Chika mulai frustasi dengan keputusannya beberapa menit yang lalu, dia masih berbaring sembari memijat dahinya yang sebenarnya tidak sakit. pacaaaar??? aaaaa, batinnya lagi.
Chika meraih ponselnya yang bergetar dari tadi, mode silence sengaja di aktifkan Chika, karena Nala dan Eva yang super kepo terus membombardirnya dengan chat dari tadi.
gimana? jadian gak? jadian dong !. Nala
apa dia illfeel?. Eva.
Masih banyak lagi chat dari Eva dan Nala, Chika tersenyum membacanya, dasar kepo, batinnya. Chika membuat sebuah grup chat mereka bertiga dan mulai bercerita tentang kencannya.
Mulai dari mereka nonton film dan ada orang ciuman di samping mereka. Menceritakan bagian itu Chika sampai mengumpat karena kesal, kenapa orang seperti tidak malu berciuman di depan umum begitu. Jio yang juga melihatnya tertawa melihat wajah Chika yang merah. "mau?, tanya Jio. Di balas tatapan murka dari Chika tawa Jio lenyap dan kembali menonton film.
Lanjut makan di restoran, seorang ibu yang sedang sibuk bertengkar dengan seorang pria menitipkan anaknya ke Jio. Anak itu masih bayi berusia 1 tahun. Jio tampak sudah biasa dengan bayi dia bahkan tidak canggung menggendongnya.
"Jadi Jio itu sopan, baik, bisa jadi ayah yang baik, perhatian, itulah yang membuat Chika bertekuk lutut." seru Eva di chat mereka.
"Jio sweet Chik, happy kan kamu?", balas Nala.
"Entahlah, kalau dari sifatnya seperti yang kalian bilang, perempuan manapun pasti suka kan. Aku merasa aneh saja dia suka aku, dia seperti sempurna, kok gak cari yang sempurna juga. memang gak ada yang sempurna tapi kan ada yang hampir sempurna, kalau aku ya kalian tahu lah."
Eva dan Nala menasehati Chika yang merasa minder dengan Jio. Rasa nyaman itu lebih penting dari apapun. Tidak perduli seberapa cantik atau bahkan sempurna jika rasa nyaman itu tidak ada, pasti gak bahagia.
"kamu nyaman gak?", tanya Nala penasaran.
"nyaman gak nyaman dia pacarku sekarang, doain saja dia gak aneh aneh, aku lelah patah hati lagi", keluh Chika.
"selamat Chikaaaaaa".